Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: KEBENARAN YANG TERBUKA SENDIRI
Malam semakin larut di ruang rawat rumah sakit yang sunyi. Lampu ruangan diredupkan, menyisakan cahaya lembut dari lampu tidur di sudut ruangan. Rian terbaring diam, namun matanya tak kunjung terpejam. Tatapannya terus tertuju pada sosok Nadia yang sedang duduk bersandar di kursi tak jauh dari tempat tidurnya, tampak mulai terlelap dalam kelelahan namun tangannya masih menggenggam ujung selimut Rian seolah takut kehilangan.
Pemandangan itu mengingatkannya pada ribuan malam yang lalu—saat mereka masih tinggal di rumah kecil yang sederhana, saat Nadia selalu menunggunya pulang meski larut malam, saat ia merawatnya saat sakit tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Dulu Rian menganggap semua itu adalah hal yang wajar, sesuatu yang memang seharusnya dilakukan seorang istri. Namun kini ia sadar, kesetiaan dan perhatian tulus seperti itu adalah anugerah yang tak ternilai harganya, yang tak bisa dibeli dengan harta, jabatan, maupun kesuksesan sebesar apapun.
Perlahan Rian menggerakkan tangannya yang terasa berat, menyentuh jari-jemari Nadia yang terkulai lemah di tepi tempat tidur. Sentuhan itu membuat Nadia terbangun perlahan. Ia menatap Rian dengan mata yang masih sedikit kabur, namun segera menyadari posisinya.
"Kau belum tidur?" tanyanya pelan, berusaha duduk tegak kembali.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Rian lirih. "Terlalu banyak hal yang berputar di kepalaku. Terlalu banyak penyesalan yang menghantui."
Nadia terdiam, menarik tangannya perlahan namun tidak menjauh sepenuhnya. "Jangan paksakan diri bicara jika kau masih lelah. Dokter bilang kau butuh istirahat."
"Aku harus bicara sekarang," potong Rian lembut namun tegas. "Sebelum aku kehilangan keberanian lagi, atau sebelum kesempatan ini diambil kembali oleh takdir. Nad... sejak kejadian longsor tadi, aku sadar bahwa tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Tak ada lagi alasan untuk berpura-pura tidak tahu, atau membiarkan orang lain menebak-nebak hubungan kita."
Nadia menatapnya lekat, merasakan getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari tatapan Rian. "Apa maksudmu?"
"Maksudku... besok, atau secepatnya... kita harus memberitahu semuanya," ucap Rian dengan napas yang teratur namun penuh keyakinan. "Kita harus memberitahu siapa kau sebenarnya, dan siapa aku dulu bagimu. Biarkan semua orang tahu bahwa aku pernah membuang wanita hebat sepertimu karena kebodohanku sendiri. Biarkan mereka tahu bahwa semua kesalahpahaman, semua fitnah yang disebar orang-orang seperti Aldo, itu tidak benar. Dan yang paling penting... biarkan kau tidak perlu lagi menyembunyikan siapa dirimu demi menjaga harga diriku yang sudah hancur berkeping-keping karena perbuatanku sendiri."
Air mata perlahan menetes di pipi Nadia. Selama ini ia menyembunyikan identitasnya bukan karena takut, tapi karena ia masih berharap—bahkan tanpa sadar—bahwa Rian akan menyadari keberadaannya dengan cara yang benar, bukan karena paksaan atau tekanan keadaan. Namun kini mendengar Rian sendiri yang meminta agar kebenaran itu terungkap, hatinya terasa begitu terharu sekaligus lega.
"Kau yakin?" tanyanya dengan suara bergetar. "Jika kebenaran itu terbuka, kau akan menjadi bahan pembicaraan semua orang. Mereka akan melihatmu sebagai pria yang tak tahu diri yang membuang permata berharga. Apakah kau siap menghadapi itu semua?"
Rian mengangguk mantap, meski wajahnya masih terlihat pucat karena sakit. "Aku siap. Aku sudah siap menanggung segala rasa malu, segala tatapan merendahkan, dan segala kata-kata pedas yang akan diarahkan padaku. Itu adalah harga yang pantas kubayar atas semua kesalahanku. Asalkan... asalkan kau tahu bahwa aku tidak lagi malu pernah menjadi suamimu. Aku justru malu karena baru menyadari betapa beruntungnya aku dulu saat semuanya sudah terlambat."
Di saat yang sama, di luar pintu kamar yang sedikit terbuka, sosok Diana berdiri diam mendengarkan setiap kata yang terucap. Tubuhnya terasa lemas seketika. Semua keraguan yang selama ini ia simpan kini terbukti benar. Hati Rian sepenuhnya milik Nadia, bahkan saat ia sedang terluka dan dalam keadaan lemah sekalipun. Ia sadar, perjuangannya selama ini sia-sia belaka, karena ia tak pernah bisa menggantikan posisi wanita yang dulu diabaikan namun kini menjadi segalanya bagi Rian.
Malam itu, di dalam ruangan rumah sakit yang sunyi, benang kusut yang selama ini mengikat nasib mereka perlahan mulai terurai. Kebenaran yang selama ini tertutup rapat oleh rasa sakit, ambisi, dan kesombongan, kini siap untuk diungkapkan sepenuhnya. Dan meskipun rasa sakit itu pasti akan kembali terasa saat semuanya terungkap, setidaknya mereka tak lagi perlu berpura-pura menjadi orang asing di hadapan satu sama lain.