Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017
Tidak untuk Dijual
Pulang malam ini. Papa tidak akan mengulang perintah.
Seraphina menunjukkan pesan itu kepada Natasha.
Natasha membaca, lalu mendecak. "Nada ayahmu seperti surat pajak yang marah."
Jessica hampir tertawa, tetapi Michelle menatap Seraphina dengan lebih serius. "Kau mau pulang?"
"Bukan pulang," jawab Seraphina. "Datang."
Natasha menyilangkan tangan. "Aku ikut."
"Tidak."
"Aku tidak tanya izin."
"Justru karena itu aku bilang tidak." Seraphina memasukkan ponsel ke tas. "Kalau kau ikut, dia akan membuat ini tentang sikap temanku. Kalau aku datang sendiri, dia harus bicara denganku."
Natasha tidak suka jawaban itu, tetapi ia tahu Seraphina benar.
Malam itu, Seraphina tiba di rumah Lim pukul delapan lewat sedikit. Pintu besar dibuka oleh pelayan yang sama seperti malam pertamanya. Bedanya, kali ini Seraphina tidak membawa koper. Ia membawa map tipis berisi salinan dokumen proyek Astoria dan satu ponsel dengan rekaman suara aktif di dalam tas.
Bukan karena ingin menjebak keluarga sendiri.
Karena ia sudah belajar bahwa di rumah ini, kata-kata bisa diubah bentuk setelah keluar dari ruangan.
Hendrawan menunggu di ruang kerja.
Meilin duduk di sofa dekat jendela, wajahnya pucat. Darren berdiri di sisi rak buku, kedua tangan masuk ke saku, matanya langsung turun ketika Seraphina masuk. Yolanda tidak ada. Mungkin sengaja. Mungkin tidak diperlukan untuk rapat yang lebih keras.
"Duduk," kata Hendrawan.
Seraphina tetap berdiri. "Papa ingin bicara soal proyekku."
Alis Hendrawan bergerak. "Kau mulai sangat formal."
"Proyek pemerintah memang formal."
Hendrawan menatapnya beberapa detik, lalu meletakkan selembar koran bisnis di meja. Foto Seraphina saat presentasi ada di halaman dalam. Judulnya masih sama: pendiri muda, proyek DKI, sorotan publik.
"Kau membuat nama Lim muncul lagi," katanya.
"Saya membuat nama Astoria muncul."
"Astoria tidak lahir dari ruang kosong. Orang tahu kau Lim."
"Mereka tahu karena Papa memanggil saya pulang saat butuh."
Meilin menunduk.
Darren bergerak sedikit, tetapi tidak bicara.
Hendrawan menahan napas. "Jangan mulai."
"Papa yang memanggil saya malam ini."
Keheningan jatuh.
Hendrawan membuka laci meja, mengeluarkan folder lain. Di dalamnya ada proposal ringkas dari sebuah konsorsium logistik yang Seraphina kenali. Perusahaan itu terkait lingkaran Wijaya.
"Proyek pilotmu akan membutuhkan mitra lapangan," kata Hendrawan. "Keluarga Wijaya punya akses. Kevin bisa membantu membuka pintu yang kau butuhkan."
Seraphina menatap folder itu, lalu menatap ayah biologisnya.
"Jadi ini bukan tentang proyekku. Ini tentang Kevin."
"Ini tentang masa depan keluarga."
"Keluarga siapa?"
Suara Hendrawan mengeras. "Seraphina."
"Saya tidak akan menjadikan Astoria jalan belakang untuk Wijaya."
"Kau terlalu idealis."
"Tidak. Saya terlalu sering melihat orang memakai kata keluarga untuk menyembunyikan kepentingan."
Darren akhirnya berkata pelan, "Sera, mungkin Papa hanya ingin memastikan proyekmu aman."
Seraphina menoleh kepadanya. "Proyekku lebih aman sebelum keluarga Lim ikut bicara."
Darren terdiam.
Hendrawan berdiri. "Dengar baik-baik. Jakarta tidak bergerak dengan kepintaran saja. Kau menang satu pilot, lalu berpikir bisa melawan semua orang? Izin, relasi, akses, semua itu bisa tertutup kalau kau salah langkah."
"Apakah itu nasihat atau ancaman?"
"Itu realitas."
"Realitas yang Papa ingin ciptakan untuk menakutiku."
Meilin berdiri tiba-tiba. "Hendrawan, jangan seperti ini."
Hendrawan menoleh tajam. "Duduk."
Meilin membeku.
Seraphina melihatnya, dan sesuatu di dadanya kembali dingin. Perempuan itu bisa mengirim sup, bisa menatap dengan mata basah, tetapi di depan Hendrawan, ia masih seperti seseorang yang tidak berhak mempertahankan anaknya.
"Saya tidak akan bekerja sama dengan Kevin Wijaya," kata Seraphina jelas. "Tidak secara bisnis, tidak secara pribadi."
"Kau tidak punya kemewahan untuk memilih."
"Saya punya. Namanya tanda tangan saya."
Hendrawan tertawa pendek. "Kau tinggal di apartemen yang Papa sediakan."
"Saya bisa pindah."
"Nama Lim masih melindungimu."
"Nama itu lebih sering dipakai untuk melukaiku."
"Kau pikir Hartono akan melindungimu selamanya?"
Seraphina diam sesaat.
Nama Reynard keluar dari mulut Hendrawan seperti kartu yang akhirnya diletakkan di meja.
"Ini bukan tentang Reynard."
"Tentu ini tentang dia. Semua orang melihat. Kau terlalu dekat dengannya, terlalu cepat. Kalau kau tidak berhati-hati, orang akan mengira kemenangan Astoria dibeli dengan hubunganmu."
"Orang yang mau merendahkan akan selalu mencari alasan."
"Papa sedang menyelamatkan reputasimu."
"Tidak. Papa sedang menjualnya dengan harga yang menurut Papa menguntungkan."
Wajah Hendrawan berubah gelap.
Darren memanggil pelan, "Sera..."
Seraphina mengambil folder Wijaya dari meja, menutupnya, lalu mendorong kembali ke arah Hendrawan.
"Saya bukan proposal. Saya bukan jembatan. Saya bukan anak yang bisa dipakai untuk memperbaiki hubungan politik atau bisnis Papa. Kalau keluarga Wijaya membutuhkan kerja sama, mereka bisa mengikuti proses resmi. Kalau Kevin ingin mendekat, jawabannya tetap tidak."
Hendrawan menatapnya lama. "Kau akan menyesali sikap ini."
"Mungkin." Seraphina mengambil tasnya. "Tapi setidaknya itu penyesalan milik saya sendiri."
Ia berbalik.
Meilin memanggil, suaranya hampir pecah. "Sera, tunggu..."
Seraphina berhenti di pintu, tetapi tidak menoleh. "Bu Meilin, kalau suatu hari Anda ingin bicara tanpa ada orang yang menyuruh Anda diam, saya akan mendengar."
Setelah itu ia keluar dari ruang kerja.
Darren mengejarnya sampai lorong.
"Sera."
Seraphina berhenti di dekat foto keluarga yang dulu membuatnya sadar dirinya tidak pernah ada di rumah itu. Foto Yolanda dengan gaun ulang tahun masih tergantung di sana, tersenyum di bawah bingkai emas.
"Apa lagi, Ko Darren?"
Panggilan itu membuat wajah Darren berubah. Bukan karena hangat, melainkan karena ia tahu ia belum pantas menerimanya dengan mudah.
"Aku tidak setuju dengan cara Papa bicara."
"Tapi kau tetap berdiri di ruangan itu."
"Aku sedang mencari waktu yang tepat."
Seraphina menatapnya. "Kau selalu mencari waktu yang tepat. Saat aku dihina, saat aku dijebak makan malam, saat Papa menyuruh Bu Meilin diam. Waktu yang tepat itu kapan?"
Darren tidak bisa menjawab.
"Aku tidak butuh kau menjadi pahlawan," lanjut Seraphina. "Aku hanya butuh kau berhenti menjadi dinding yang membuat suara orang lain memantul kembali padaku."
Wajah Darren pucat. "Maaf."
"Jangan minta maaf kalau besok kau masih diam."
Ia berjalan melewatinya.
Di halaman rumah Lim, udara malam terasa berat. Seraphina baru menyalakan ponsel ketika pesan dari Reynard masuk.
Sebelum membukanya, ia menghentikan rekaman suara di dalam tas. File itu tersimpan otomatis dengan durasi empat puluh menit lebih. Ia tidak tahu apakah suatu hari perlu memakainya. Ia hanya tahu, mulai malam ini, ia tidak akan lagi membiarkan orang lain mengubah kata-katanya menjadi versi yang lebih nyaman bagi mereka.
Makan malam besok?
Seraphina menatap layar. Tangannya masih dingin karena percakapan tadi.
Ia mengetik:
Membahas proyek?
Balasan Reynard datang hampir segera.
Tidak. Aku sudah selesai bersembunyi di balik kata kerja sama.