NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014

Senyum Reza

Kiara menutup ponsel cepat, tetapi di layar yang gelap ia masih bisa melihat bayangan wajahnya sendiri yang tidak mampu berhenti tersenyum.

Keesokan sorenya, senyum itu hilang begitu Rayhan benar-benar berhenti di depan lobi Hotel Grand Hyatt.

Hotel itu bukan hanya tinggi dan mahal. Ia terasa seperti dunia yang punya aturan sendiri. Mobil mewah bergerak pelan di jalur masuk. Petugas valet membuka pintu dengan sarung tangan putih. Aroma bunga segar dan parfum mahal bahkan sudah tercium sebelum Kiara turun dari Fortuner.

Rayhan mematikan mesin.

"Aku bisa turun sendiri," kata Kiara cepat.

"Aku tahu."

Tetap saja ia turun lebih dulu dan membukakan pintu.

Kiara menatap tangannya yang terulur. "Kalau Galih lihat, dia akan tanya."

"Bilang saja aku tetangga yang kebetulan lewat."

"Di lobi hotel bintang lima?"

"Kebetulan mahal."

Kiara menahan tawa, tapi Rayhan tidak ikut tersenyum. Tatapannya menyapu lobi, pintu masuk, lift, dan dua pria berjas yang berdiri dekat pilar.

"Share live location tetap aktif. Jangan minum apa pun yang sudah terbuka sebelum kamu datang. Kalau wawancara pindah tempat, kabari aku."

"Kak Rayhan, aku wawancara artis, bukan masuk sarang mafia."

"Artis juga bisa punya sarang."

Kiara tidak bisa membantah karena briefing Bu Ratna sendiri menyebut rumor pesta privat.

Di dalam lobi, Galih sudah menunggu bersama Dewi. Galih menaikkan alis saat melihat Rayhan, tetapi cukup sopan untuk tidak bertanya. Dewi justru tersenyum kecil, mungkin karena sudah terbiasa memotret ekspresi orang yang berusaha terlihat biasa padahal tidak.

"Siap, Kiara?" tanya Galih.

"Siap."

Rayhan menatap Kiara satu kali lagi. "Selesai, telepon."

"Iya."

"Kiara."

Ia menoleh.

"Kerja. Jangan terpesona."

Kiara hampir tersedak. "Itu seharusnya nasihat Galih."

"Aku mengulang."

Dewi pura-pura melihat kamera, tapi bahunya bergerak menahan tawa.

Ruang wawancara berada di lounge privat lantai atas. Mbak Yuni menyambut mereka dengan senyum profesional dan tablet di tangan. Semua sudah diatur. Sofa krem, bunga putih, air mineral botol kaca, lampu tambahan yang membuat kulit siapa pun terlihat lebih mahal.

"Waktu kita tiga puluh menit," kata Mbak Yuni. "Pertanyaan soal rumor pesta privat mohon tetap dalam koridor kampanye anti-narkoba."

Galih tersenyum sopan. "Tentu."

Kiara menyalakan perekam dan membuka notes. Dewi mengecek angle kamera.

Lalu pintu samping terbuka.

Reza masuk tanpa terburu-buru.

Ia lebih tinggi daripada yang terlihat di layar. Kemeja putihnya sederhana, tetapi jelas bukan sederhana yang murah. Rambutnya ditata seolah tidak ditata. Senyumnya muncul tepat pada kadar yang membuat orang merasa diperhatikan.

"Maaf menunggu," katanya.

Suaranya lembut. Terlatih. Kamera menyukai suara seperti itu, pikir Kiara.

Galih memperkenalkan tim. Saat nama Kiara disebut, Reza menoleh lebih lama.

"Kiara," ulangnya. "Nama yang bagus."

Kiara tersenyum profesional. "Terima kasih, Mas Reza."

Mbak Yuni tampak puas mendengar panggilan sopan itu.

Wawancara dimulai lancar. Reza bicara tentang comeback solo, tekanan setelah STELLAR bubar, dan keinginannya menjadi contoh baik. Jawabannya rapi. Terlalu rapi. Ia tahu kapan harus menatap Galih, kapan harus memberi jeda untuk Dewi mengambil foto, kapan harus membuat kalimat terdengar seperti kutipan headline.

Kiara mencatat jeda.

Mencatat tangan Reza yang beberapa kali menyentuh cincin perak di jarinya.

Mencatat Mbak Yuni yang sedikit menegang setiap kali kata pesta privat mendekati meja.

"Mas Reza sekarang ikut kampanye anti-narkoba," kata Kiara ketika Galih memberi isyarat padanya untuk bertanya. "Apa alasan personal di balik kampanye itu?"

Reza menoleh penuh padanya.

Untuk pertama kalinya, jawaban rapi itu terlambat setengah detik.

"Karena saya melihat banyak teman kehilangan arah," katanya kemudian. "Dunia hiburan terlihat terang, tapi tidak semua orang kuat berdiri di bawah lampu."

"Teman di industri?"

Mbak Yuni mengangkat wajah dari tablet.

Reza tersenyum. "Di mana-mana, Mbak Kiara. Anak muda mana pun bisa tersesat kalau merasa sendirian."

Jawaban bagus.

Terlalu bagus.

Kiara menulis: menghindar.

Galih melanjutkan dengan pertanyaan aman tentang album. Reza menjawab lebih santai. Ia tertawa pada waktu yang tepat, bercerita tentang latihan vokal, lalu menyebut penggemar sebagai alasan ia tetap bertahan. Semua terdengar hangat, tetapi Kiara melihat jari Reza kembali menyentuh cincin perak setiap kali Mbak Yuni menunduk membaca tablet.

Ada aroma parfum mahal di ruangan itu, kayu manis dan citrus. Namun ketika Reza sedikit condong untuk mengambil air mineral, Kiara menangkap bau lain yang lebih tajam, samar, seperti asap yang ditutup permen mint.

Ia tidak menulis itu sebagai fakta.

Ia menulisnya sebagai catatan kecil: aroma tidak konsisten.

"Mbak Kiara serius sekali," kata Reza tiba-tiba.

Semua orang menoleh.

Kiara mengangkat wajah dari notes. "Saya sedang bekerja, Mas."

"Saya suka orang yang bekerja dengan mata seperti itu."

Mbak Yuni tertawa ringan, terlalu cepat. "Reza memang suka menggoda wartawan. Jangan dimasukkan ke artikel, ya."

Galih ikut tertawa sopan, tetapi matanya sekilas bertemu dengan Kiara. Ia juga menangkap sesuatu. Bukan skandal, belum. Hanya retakan kecil di permukaan yang terlalu mengilap.

Dewi mengambil beberapa foto lagi. Dalam salah satu jepretan, Reza menatap kamera. Dalam jepretan berikutnya, ia menatap Kiara.

Setelah wawancara selesai, Dewi mengambil beberapa foto. Reza berganti dari senyum formal ke senyum yang lebih santai. Ia meminta melihat hasil foto di kamera, lalu berdiri di sebelah Kiara saat Dewi menunjukkan layar.

"Kamu tidak banyak bicara," kata Reza pelan.

Kiara menjaga jarak setengah langkah. "Saya pendamping. Galih yang menulis profil utama."

"Tapi pertanyaanmu paling berbahaya."

"Saya hanya membaca briefing."

"Tidak." Reza menatapnya dengan senyum kecil. "Kamu membaca orang."

Kiara tidak menjawab. Pujian itu terdengar manis, tapi ada sesuatu yang terlalu sadar dalam cara Reza mengatakannya. Seperti ia tahu kalimat mana yang bisa membuat orang merasa istimewa.

Mbak Yuni datang membawa beberapa foto promosi bertanda tangan. "Untuk tim Kota Barat Post."

Reza mengambil satu foto paling atas. "Boleh saya tulis khusus?"

Mbak Yuni tertawa kecil. "Tentu."

Ia menulis dengan spidol hitam. Lalu menyerahkan foto itu langsung kepada Kiara, bukan Galih.

Untuk Kiara,

yang matanya terlalu jujur.

Jangan terlalu cepat menilai saya.

Reza

Kiara membaca tulisan itu dua kali.

Ia menyelipkannya ke map liputan.

Galih bersiul pelan. Dewi menahan senyum di balik kamera.

"Mas Reza," kata Kiara hati-hati, "ini untuk dokumen kantor?"

"Untukmu." Reza tersenyum. "Reporter juga boleh punya souvenir, kan?"

Ponsel Kiara bergetar di tas.

Rayhan:

Selesai?

Kiara menatap foto bertanda tangan di tangannya, lalu ke pesan Rayhan di layar.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa wawancara ini akan jauh lebih sulit dijelaskan daripada isi artikelnya.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!