NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Pukul dua lewat empat puluh, ruang interogasi Kantor Polisi Kota S berbau kopi pahit, antiseptik, dan kertas laporan yang terlalu lama disentuh orang lelah.

Keira duduk di belakang kaca satu arah dengan selimut tipis di bahu. Selimut itu milik kantor polisi, warnanya abu-abu, teksturnya kasar, dan sejak tadi mengeluh pelan.

"Aku biasa dipakai orang mabuk. Baru kali ini dipakai nona muda yang habis pecahin botol di kepala cowok. Hidupku naik kelas."

Keira menatap ruang di seberang kaca.

Zeno Tjandra duduk di kursi logam. Tangannya bersih. Kemejanya masih rapi. Bahkan setelah dibawa dari Grand Orchid, ia tetap terlihat seperti seseorang yang hanya datang untuk memberi keterangan, bukan sebagai tersangka.

Ko Kevin duduk di depannya, lencana di meja, berkas di tangan.

"Sidik jarimu cocok dengan sidik jari yang ditemukan di kamar kos Wulan Puspitasari," kata Kevin.

Zeno mengangkat alis. "Itu hanya membuktikan aku pernah ke sana."

"Kamu mengaku pernah ke sana?"

"Jovan adikku. Wulan pacar Jovan. Aku pernah mengantar barang. Apa itu tindak pidana?"

Di samping Keira, Wulan Puspitasari memeluk lutut. Gadis itu baru datang setengah jam lalu dengan hoodie kebesaran, wajah pucat, dan mata yang mencoba keras tidak menangis.

Ia tidak bisa mengenali wajah Zeno.

Itu bagian paling kejam.

Tubuhnya ingat punggung, suara, cara seseorang berdiri di ambang pintu kosnya. Tetapi wajah di balik kaca terasa seperti kabut. Dekat, tetapi tidak pernah bisa ditangkap.

Zeno menoleh ke arah kaca satu arah, seolah tahu Wulan ada di baliknya.

"Wulan," katanya, suaranya melembut. "Aku tahu kamu bisa dengar. Aku benar-benar mencintaimu."

Jari Wulan mencengkeram ujung hoodie.

"Aku mau menikahimu. Aku sudah bicara dengan keluargaku. Kamu bisa masuk perusahaan perhiasan keluarga Tjandra, desainmu bagus. Selama dua minggu itu aku tidak pernah main-main."

Keira menatap Wulan.

Dua minggu.

Bagi orang luar, dua minggu terdengar pendek. Bagi seorang perempuan yang sedang didekati dengan suara orang yang ia tunggu, dengan perhatian yang sengaja dibuat lebih lembut, dua minggu cukup untuk menanam banyak pisau kecil.

Wulan tertawa sekali, tipis dan patah. "Dia... memang lebih baik dari Jovan asli."

Keira meletakkan tangan di atas meja kecil di depan mereka.

"Identitasnya saja palsu," katanya tenang. "Cintanya bisa asli?"

Wulan membeku.

Kalimat itu seperti lampu yang dinyalakan mendadak.

Di balik kaca, Zeno masih bicara, "Aku cuma salah cara. Tapi perasaanku..."

Wulan berdiri.

"Salah cara?" Suaranya pecah, lalu mengeras. "Lo nyamar jadi pacar gue. Lo masuk ke kamar gue pakai nama orang lain. Lo bikin gue percaya suara, kebiasaan, semua hal yang gue pikir aman."

Zeno diam.

"Pergi ke penjara sana, dasar brengsek!"

Selimut di bahu Keira berbisik kagum, "Nah. Ini baru hangat."

Ko Kevin mengetuk meja dua kali, menghentikan usaha Zeno menjawab. "Saudaramu sudah dipanggil."

Pintu ruang interogasi dibuka tidak lama kemudian.

Jovan Tjandra masuk dengan wajah kusut yang dibuat-buat. Begitu melihat Zeno, ia langsung maju dan mencengkeram kerah kakaknya.

"Lu gila, Zen? Lu apain Wulan?"

Drama itu rapi.

Terlalu rapi.

Kursi logam Zeno berdecit, "Aduh, akting keluarga kaya. Berat di pantat, ringan di moral."

Keira hampir tersenyum, tetapi ponsel Zeno di atas meja bukti bergetar pelan.

"Kak, mereka berdua taruhan, lho," bisik ponsel itu malas. "Si adik yang buang Wulan ke kakaknya. Rekamannya ada di aku. Folder namanya 'project dua minggu'. Norak banget, kan?"

Keira menoleh ke Kevin yang masih di ruang interogasi.

Ia tidak bisa berteriak.

Ia mengambil ponselnya sendiri dan mengetik cepat.

`HP Zeno. Folder project dua minggu. Ada rekaman taruhan. Password?`

Ponsel Zeno langsung menjawab dengan bangga, meski hanya Keira yang bisa mendengar.

"Tanggal lahir dia ditambah 00. Anak malas ganti password. 170400."

Keira mengetik lagi.

`170400.`

Di ruang interogasi, Kevin melirik layar ponselnya. Wajahnya tidak berubah, tetapi jarinya mengetuk meja sekali.

Ia berdiri, mengambil ponsel Zeno dari kotak bukti dengan sarung tangan, lalu memasukkan angka.

Layar terbuka.

Zeno yang sejak tadi tenang akhirnya berubah pucat.

"Itu tanpa izin," katanya.

Kevin menatapnya. "Kamu sudah memberi ponselmu sebagai barang bukti dalam kasus yang sedang berjalan. Sekarang diam."

Jovan melepas kerah Zeno. "Apa itu?"

Ko Kevin membuka folder.

Ada file audio.

Ruang itu hening ketika rekaman diputar.

Suara Jovan terdengar lebih dulu, santai dan bosan. "Gue udah capek sama Wulan. Dia terlalu serius. Kalau lu bisa bikin dia percaya lu dalam dua minggu, gue traktir mobil."

Suara Zeno menjawab, tenang. "Mudah. Dia tidak bisa bedakan wajah. Yang penting suara, parfum, kebiasaan."

Jovan tertawa. "Kalau sampai tidur sama dia, gue tambah jam tangan."

Wulan tidak menangis pada detik pertama.

Ia hanya berdiri sangat diam, seperti tubuhnya lupa cara bergerak.

Lalu air matanya jatuh.

Bukan air mata lemah.

Air mata itu panas, marah, dan penuh jijik.

"Lo..." Wulan menatap Jovan, bukan pada wajahnya, tetapi pada arah suaranya. "Lo yang nyerahin gue?"

Jovan mundur selangkah. "Wul, itu bercanda. Itu rekaman lama. Gue cuma..."

"Diam."

Satu kata itu keluar dari mulut Wulan seperti batu.

Jovan benar-benar diam.

Zeno menutup mata. Semua perhitungan di wajahnya runtuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kecil, ketakutan seorang pria yang akhirnya sadar benda mati pun bisa menjadi saksi.

Kevin mematikan rekaman. "Zeno Tjandra, Jovan Tjandra, kalian ditahan atas dugaan penyerangan seksual berencana, penyamaran identitas untuk tujuan seksual, dan konspirasi. Pengacara kalian bisa datang, tetapi kalian tidak akan meninggalkan gedung ini pagi ini."

Pintu ruang interogasi terbuka. Dua polisi masuk.

Jovan masih mencoba bicara. Zeno sudah tidak.

Di koridor terpisah, Gilbert Hartanto, Rio Sudargo, dan Kelvin Liem ditahan untuk pemeriksaan kasus pelecehan di Grand Orchid. Rio harus mendapat jahitan di pelipis. Kelvin di dahi. Gilbert, menurut petugas yang lewat, terus mengulang kalimat bahwa ia tidak melakukan apa-apa.

Keira mendengar berita itu dan hanya merasa lelah.

Tidak melakukan apa-apa memang masalahnya.

Menjelang subuh, setelah tanda tangan laporan dan pemeriksaan awal selesai, Wulan duduk di bangku koridor bersama Keira. Lampu neon di atas mereka berdengung.

"Aku pernah percaya gosip tentang lo," kata Wulan tiba-tiba. Suaranya serak. "Di kampus. Katanya lo nyuri desain, cari perhatian, numpang hidup di keluarga kaya. Aku nggak ikut nyebarin, tapi aku percaya."

Keira menoleh.

Wulan mengusap wajahnya kasar. "Maaf."

"Tidak apa-apa."

"Harusnya lo marah."

"Aku terlalu kurang tidur untuk mengelola daftar orang yang harus kumarahi."

Wulan tertawa. Kali ini benar-benar tertawa, meski pendek.

Keira menambahkan, "Yang penting sekarang kamu aman."

Wulan menatapnya lama, seolah meski wajah Keira kelak bisa kabur dari ingatannya, suara dan kalimat itu akan tetap tinggal.

"Kei," katanya pelan. "Makasih."

Keira tidak menjawab dengan kata besar. Ia hanya mengangguk.

Ketika langit Kota S mulai memucat, Ko Kevin mengantar Keira kembali ke Mansion Tanuwijaya. Di mobil, ia tidak bertanya bagaimana Keira tahu password. Ia hanya berkata, "Kamu boleh tidur setelah ini."

Keira menatap jendela. "Itu terdengar seperti doa, bukan rencana."

Benar saja.

Setelah mandi cepat dan masuk ke kamar, tubuh Keira rasanya hampir runtuh. Tetapi begitu kepalanya menyentuh bantal, seluruh Mansion kembali bicara.

Lemari mengeluh pintunya belum rapat.

AC mengomel suhu terlalu rendah.

Gelas di meja rias membahas bekas lipstik.

Obat di laci berdebat siapa yang paling pahit.

Keira menatap plafon dengan mata terbuka lebar.

Kasus Wulan selesai.

Zeno dan Jovan tertahan.

Rio, Kelvin, dan Gilbert mendapat akibat yang pantas untuk permulaan.

Tetapi di dalam kepala Keira, malam belum selesai.

Ia mengangkat tangan, melihat punggung tangannya sendiri.

Satu sentuhan singkat.

Satu pria berkacamata hitam.

Satu detik keheningan total.

Di tengah ribuan suara benda yang kembali mengepung, Keira akhirnya memejamkan mata tanpa tidur.

Siapa pria itu?

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!