NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Terjatuh di Tangga

Senja kembali dari dapur membawa sebotol air suhu ruang. Ia tidak menyalakan lampu lorong karena takut cahaya masuk ke kamar Bintang. Satu tangan memegang botol, tangan lain meraba dinding ketika ia menaiki anak tangga terakhir.

Ketika kembali, suara laki-laki muncul dari gelap lantai atas.

"Apa yang kamu lakukan sembunyi-sembunyi tengah malam?"

Senja tersentak. Kakinya mundur satu langkah dan tidak menemukan pijakan.

Tubuhnya miring ke belakang.

Damar berdiri hanya satu lengan dari sana. Tangannya sempat terangkat. Ia bisa menarik Senja. Namun dalam sepersekian detik, prasangka tentang Reza, Rayhan, dan perempuan yang berkeliaran malam-malam menahan geraknya.

Senja jatuh.

Bahu menghantam anak tangga pertama. Punggungnya membentur tepi kayu, lalu lengan dan kaki terpelintir saat tubuhnya berguling sampai bawah.

Botol air terlepas dan menggelinding di sampingnya.

Suara benturan berhenti. Senja mencoba bergerak, lalu menjerit pelan.

"Mas..."

Damar menuruni beberapa anak tangga, tetapi masih diliputi keterkejutan. "Hanya beberapa anak tangga. Jangan berlebihan."

Senja menarik napas pendek. Nyeri tajam menembak dari pinggang sampai kedua kaki. Tangan kirinya terasa bukan bagian tubuhnya.

"Tolong panggil ambulans."

"Kamu bisa duduk?"

"Enggak." Air mata mengalir ke pelipis. "Mas, sakit."

Damar melihat botol air berhenti di kaki meja. Tidak ada tas, tidak ada ponsel, tidak ada apa pun yang menunjukkan Senja hendak menyelinap keluar. Perempuan itu benar-benar hanya mengambil minum untuk Bintang.

"Senja?"

Ia mendekat dan berjongkok. Wajah Senja sudah pucat, bibirnya gemetar, keringat dingin memenuhi dahi.

"Di mana yang sakit?"

"Pinggang... tangan..."

"Aku angkat."

"Jangan." Senja menangis ketika Damar menyentuh bahunya. "Panggil ambulans. Jangan gerakkan saya."

Refleks profesionalnya masih bekerja meski kesadaran mulai kabur. Damar meraih ponsel, tetapi sinyal di lorong buruk. Ia memanggil Bik Inah dengan suara keras.

Bik Inah berlari keluar kamar. "Ya Allah, Bu Senja!"

"Hubungi IGD. Bilang ada jatuh dari tangga, kemungkinan cedera tulang belakang."

Damar berlutut di lantai. Ia tidak berani mengangkat Senja setelah mendengar peringatannya. Tangannya menggantung beberapa sentimeter di atas tubuh perempuan itu, tidak tahu bagian mana yang aman disentuh.

"Tetap bangun. Lihat aku."

Senja berusaha membuka mata. "Bintang... airnya."

Bahkan dalam keadaan itu, ia masih mengingat putrinya.

"Bik Inah akan urus Bintang."

"Jangan bangunin dia."

Suara Senja melemah.

Damar akhirnya menyentuh pipinya. Dingin. Terlalu dingin. Rasa takut menjalar dari telapak tangannya ke dada.

"Senja, buka mata."

Tidak ada jawaban.

Ia melihat kembali jarak di antara tempatnya berdiri dan titik Senja kehilangan pijakan. Tangannya tadi sudah hampir mencapai pergelangan perempuan itu. Ia memilih tidak menarik.

Bukan karena terlambat. Bukan karena tidak mampu.

Karena ia tidak mau.

Suara sirene terdengar dari gerbang. Petugas masuk membawa papan spinal dan penyangga leher. Mereka memeriksa napas, denyut, serta respons Senja sebelum memindahkan tubuhnya dengan teknik log roll.

Damar berdiri menghalangi sampai petugas meminta ruang. Jas tidur tipisnya terkena air dari botol yang pecah, tetapi ia tidak merasakannya.

"Bapak ikut?" tanya petugas.

"Saya suaminya."

Itu pertama kalinya Damar mengucapkan status tersebut kepada orang luar.

Ketika tandu didorong keluar, tangan Senja jatuh sedikit dari sisi papan. Damar meraihnya. Jemarinya lemas dan dingin dalam genggaman.

Sebelum pintu ambulans ditutup, pemimpin tim menanyakan tinggi jatuh, titik benturan, dan keluhan pertama Senja. Damar menjawab seakurat mungkin: punggung, lengan, kaki, lalu kesadaran menurun. Ia tidak mencoba mengecilkan kejadian seperti beberapa menit sebelumnya.

"Ada riwayat penyakit atau obat rutin?"

Damar terdiam. "Saya tidak tahu."

Jawaban itu terasa memalukan. Mereka sah menikah dan tinggal satu rumah, tetapi ia bahkan tidak mengetahui kondisi kesehatan dasar istrinya.

Petugas memeriksa sirkulasi pada ujung jari dan kaki Senja. Tubuhnya bereaksi lemah ketika bagian tertentu disentuh. Oksigen dipasang, tekanan darah diukur ulang, dan seluruh tali papan spinal dikencangkan agar tidak ada gerakan tambahan selama perjalanan.

"Pak, duduk di depan atau ikut mobil lain," ujar petugas.

"Saya suaminya. Saya ikut di dalam."

Nada Damar membuat orang biasa mundur, tetapi petugas tetap tegas. "Boleh di kursi ujung. Jangan menyentuh alat dan ikuti instruksi kami."

Damar menurut tanpa membantah.

Di lantai atas, lampu kamar Bintang menyala. Anak itu muncul dalam pelukan penjaga rumah, rambutnya berantakan dan mata masih mengantuk.

"Papa? Mama kenapa?"

Damar turun dari pijakan ambulans dan berdiri agar tubuh Senja tidak terlihat jelas.

"Mama jatuh. Papa bawa ke dokter."

"Bintang ikut."

"Tidak. Kamu sama Bik Inah."

Bintang mulai meronta. "Mau Mama! Mama janji enggak pergi!"

Tangis itu menghantam dada Damar. Untuk pertama kali, dua orang yang paling penting baginya membutuhkan pertolongan pada saat bersamaan, dan salah satu kebutuhan tersebut muncul karena kesalahannya.

Bik Inah memeluk Bintang. "Kita tunggu kabar di rumah. Mama Senja sebentar lagi sembuh."

"Papa harus bawa Mama pulang."

Damar mengangguk meski tenggorokannya kaku. "Papa bawa pulang."

Janji tersebut keluar sebelum dokter menjelaskan cedera. Ia hanya tahu tidak ada pilihan lain yang sanggup diterima.

Pintu ambulans menutup. Sirene kembali menyala dan kendaraan bergerak keluar kompleks.

Damar duduk di kursi sempit dekat kaki Senja. Salah satu petugas memantau monitor, sementara yang lain mencoba memanggil namanya.

"Bu Senja, buka mata. Bisa dengar saya?"

Kelopak mata Senja bergerak sedikit, tetapi tidak terbuka. Tangannya yang tadi jatuh dari sisi papan kini berada di bawah selimut darurat.

Damar menyentuh ujung jarinya setelah meminta izin. Dingin itu masih sama.

"Senja, aku di sini."

Tidak ada jawaban.

Ia memandang buku-buku jarinya sendiri. Tangan itu menandatangani kontrak, memecat orang, dan mengubah jadwal rumah sakit dengan satu perintah. Namun ketika hanya perlu bergerak beberapa sentimeter untuk menarik istrinya, tangan tersebut memilih berhenti.

Damar dapat mengatakan semuanya terjadi terlalu cepat. Tidak ada kamera di lorong untuk membuktikan berapa lama keraguannya. Senja mungkin bahkan tidak sempat melihat.

Tetapi ia sendiri tahu.

Ia sempat memikirkan Reza. Sempat teringat uang Rayhan. Sempat menilai apakah perempuan di depannya pantas ditolong sebelum tubuh itu jatuh.

Satu detik cukup untuk memperlihatkan bagian dirinya yang paling buruk.

"Tekanan turun sedikit," kata petugas.

Damar langsung mengangkat kepala. "Apa yang harus dilakukan?"

"Kami tangani. Bapak tetap duduk."

Cairan infus diatur, selimut dirapatkan, dan jalur komunikasi dengan UGD dibuka. Petugas menyebut kemungkinan cedera multipel serta meminta tim trauma siap di pintu masuk.

Damar mendengar istilah-istilah tersebut seperti bunyi dari tempat jauh. Ia hanya melihat wajah Senja yang kehilangan warna.

Beberapa jam sebelumnya, perempuan itu berdiri melawan Vania demi Bintang. Ia menyimpan bukti, memeriksa pupil anak, dan menerima ancaman diusir tanpa membantah. Damar melihat semua tanda ketulusan itu, tetapi tetap membiarkan cerita orang lain menguasai pikirannya.

Ia teringat Senja menolak Rp 30 juta, mencatat setiap rupiah dari Rayhan, mencuci dasi lama, dan tidak membawa Hana ke rumah karena takut merepotkan. Bukti tentang siapa Senja sudah berulang kali diletakkan di depan mata.

Damar hanya memilih bukti yang mendukung kecurigaannya.

"Maaf," bisiknya. "Aku salah."

Sirene memotong udara malam. Senja tidak sadar untuk mendengar permintaan maaf pertama itu.

Ponsel Damar bergetar. Bik Inah mengirim pesan bahwa Bintang masih menangis, tetapi sudah kembali ke tempat tidur. Di bawahnya ada foto botol air yang diambil dari lantai. Tutupnya masih rapat. Senja benar-benar turun hanya untuk memenuhi permintaan anak.

Damar menutup mata sebentar. Botol sederhana itu menjadi saksi yang lebih jujur daripada seluruh dugaan di kepalanya.

Ambulans memasuki halaman UGD. Pintu dibuka dan udara malam masuk. Tim trauma sudah menunggu dengan tandu rumah sakit.

"Bapak tunggu di luar garis," perintah perawat.

Damar turun, lalu mengikuti sejauh diizinkan. Ia melihat tubuh Senja dipindahkan dengan teknik terkoordinasi, kepala tetap stabil, monitor tetap terpasang.

"Saya ikut."

"Setelah registrasi. Kami tangani dulu."

Untuk pertama kalinya malam itu, Damar berhenti karena orang lain menyuruhnya. Ia berdiri di bawah lampu UGD dengan pakaian basah dan tangan kosong.

Petugas registrasi meminta kartu identitas Senja, buku nikah jika diperlukan untuk persetujuan, dan nomor keluarga yang dapat dihubungi. Bik Inah telah memasukkan semuanya ke tas dokumen. Damar menemukan buku nikah mereka di antara kertas-kertas itu.

Foto kecil Senja menatap lurus dari halaman resmi. Damar tidak pernah membuka buku tersebut sejak akad. Kini dokumen yang selama ini hanya dianggap formalitas menjadi bukti bahwa perempuan di balik pintu trauma bukan orang yang menumpang di rumahnya.

Ia adalah istrinya.

Seorang perawat meminta hubungan dengan pasien. Damar menjawab lebih keras daripada di ambulans, "Suami."

Kata itu membuat beberapa staf mengenalinya dan saling memandang. Rahasia pernikahan dapat terancam, tetapi Damar tidak peduli. Ia meminta identitas Senja dilindungi dan akses catatan dibatasi, bukan statusnya disangkal.

Pintu ruang trauma terbuka sesaat. Damar melihat gunting medis memotong sebagian lengan pakaian Senja agar cedera dapat diperiksa. Wajahnya tidak terlihat, hanya ujung kaki yang diam.

"Pak, tunggu di sini."

Damar berdiri tepat di luar garis merah. Biasanya semua pintu terbuka ketika ia datang ke rumah sakit miliknya sendiri. Malam itu, satu pintu tertutup dan seluruh kekuasaannya tidak dapat mempercepat tangan dokter tanpa membahayakan Senja.

Ia hanya bisa menunggu, sesuatu yang paling tidak dikuasainya.

Di anak tangga teratas, bayangan tangannya yang terlambat masih menggantung di udara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!