Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi di Balik Hujan
Pagi itu, langit Jakarta dibungkus awan mendung tebal yang menggantung rendah. Bau tanah basah menusuk hingga ke ruang kerja CEO di lantai atas gedung Al-Maktoum Group. Di dalam ruangan kedap suara itu, suasana terasa begitu kontras dengan cuaca di luar.
Shanum duduk di balik meja kerjanya seraya menopang dagu, menatap pria bertubuh tegap yang sedang berdiri kaku di hadapannya.
"Coba ulang lagi huruf yang ini, Aran," ujar Shanum tegas, menunjuk sebuah karakter berbentuk bulan sabit dengan satu titik di bawahnya pada lembar buku Iqro yang terbuka di atas meja.
Aran berdehem pelan. Pria itu merapikan kerah kemeja abu-abu gelapnya, berusaha mempertahankan raut wajah netral meski rasa canggung menggerogoti wibawanya.
"Huruf Ba, Mbak Shanum," jawab Aran teratur.
"Bagus. Kalau yang ada dua titik di atasnya?"
"Ta."
"Kalau titiknya tiga di atas?"
"Tsa." Aran menjawabnya dengan nada yang begitu datar dan presisi, persis seperti saat ia menyebutkan koordinat taktis militer.
Shanum tak bisa menahan senyum tipisnya. Sungguh pemandangan yang unik melihat seorang mantan operator bertempur berdarah dingin mengeja huruf-huruf Hijaiyah dengan kepatuhan kaku khas prajurit. Dalam dua hari terakhir, sesi belajar membaca Al-Qur'an singkat di sela-sela jam istirahat ini telah menjadi rutinitas baru di antara mereka.
"Pelafalannya jangan terlalu kaku seperti menyebutkan sandi radio,dong" goda Shanum seraya tertawa kecil. "Keluarkan suaranya dari pangkal lidah dengan lembut. Kalau Ning Layla yang mengajarimu, beliau pasti jauh lebih sabar daripada saya."
Aran mendelik tipis, raut mukanya canggung seketika. "Proses pembelajaran bersama Anda sudah sangat efektif, Mbak Shanum. Tidak perlu melibatkan variabel tambahan."
"Variabel tambahan kamu bilang?" Shanum tertawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Awas saja kalau nanti kita berkunjung lagi ke pesantren dan kamu berpura-pura tidak kenal Ning Layla!"
Aran menutup buku kecil itu dengan hati-hati, menyimpannya kembali ke saku dalam jasnya. Di balik candaan santai itu, mata kelam Aran sesekali melirik ke arah jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan kota Jakarta.
Di balik ketenangan ruang kerja ini, Aran tahu betul bahwa badai yang sesungguhnya sedang bergerak mendekat.
Pesan terenkripsi dari faksi liar Viper-4 yang disitanya kemarin malam menegaskan bahwa "Eksekusi Tahap Dua" akan dilancarkan malam ini. Aran sengaja tidak menceritakan ancaman spesifik ini kepada Shanum. Ia tidak ingin melihat raut ketakutan kembali membayangi mata wanita itu. Sebagai gantinya, Aran telah bergerak secara senyap sejak subuh tadi.
Ia telah berkoordinasi langsung dengan Rasyid Al-Maktoum dan memodelkan ulang jalur evakuasi darurat. Seluruh kamera pengawas di jalur B1 dan B2 telah dihubungkan langsung ke terminal pemantau genggam milik Aran.
"Mbak Shanum," panggil Aran pelan, memutus lamunan Shanum yang sedang memeriksa dokumen.
"Ya?"
"Nanti malam, saat jadwal kepulangan pukul tujuh, saya minta Anda tidak menggunakan akses lift utama," tutur Aran, suaranya kembali dipenuhi ketenangan taktis yang menyejukkan. "Kita akan keluar melalui jalur evakuasi internal di samping ruang arsip."
Shanum memiringkan kepalanya, menatap Aran dengan pandangan selidik. Sebagai wanita yang cerdas, ia menangkap perubahan arus di sekitar pengawalnya.
"Ada hal yang disembunyikan dari saya, Aran?" tanya Shanum datar.
Aran menatap balik mata Shanum, tidak menghindari pandangannya. "Ini hanya prosedur pengamanan standar untuk mengantisipasi potensi risiko, Mbak Shanum. Bukankah tugas saya adalah memastikan Anda tiba di rumah tanpa ada satu goresan pun?"
Shanum diam sejenak, mengamati kejujuran dan keteguhan di dalam mata Aran. Tidak ada lagi dingin yang hampa seperti pertama kali mereka bertemu. Yang ada kini adalah komitmen seorang pelindung yang siap mempertaruhkan segalanya.
Shanum menghembuskan napas panjang, mengalah. "Baik. Saya ikuti aturan mainmu kali ini. Tapi ingat, jangan melanggar batasan keselamatanmu sendiri."
"Diterima, Mbak Shanum."
Malam pun tiba. Hujan deras mengguyur Jakarta tanpa ampun, menyulap jalanan protokol menjadi lautan cahaya merah dari lampu-lampu rem kendaraan yang terjebak kemacetan. Suara gemuruh petir sesekali menyambar, memantul di antara gedung-gedung pencakar langit.
Pukul 19.15 WIB. Suasana gedung Al-Maktoum Group mulai sepi. Sebagian besar staf kantor telah pulang, menyisakan lampu-lampu koridor yang redup dan petugas keamanan piket malam.
Aran mendampingi Shanum menyusuri lorong sempit di samping ruang arsip lantai atas. Langkah kaki mereka teratur, diiringi derak halus sepatu di atas lantai granit.
Aran memegang ponsel khususnya di tangan kiri, menampilkan denah digital gedung. Tiba-tiba, tiga titik merah berkedip kencang di area pelataran parkir luar dan pintu masuk belakang B1.
Sinyal transmisi dari alat komunikasi penyusup yang disita Aran bergetar singkat di dalam sakunya.
"TIM A DAN B SUDAH DI POSISI. POTONG JALUR KELUAR UTAMA. TARGET DIBUNUH DI TEMPAT."
Aran berhenti melangkah. Tangannya terangkat, memberi isyarat agar Shanum ikut berhenti.
"Aran?" bisik Shanum, menyadari perubahan drastis pada tubuh Aran yang kembali tegang sempurna.
"Mereka sudah di dalam gedung," ujar Aran tenang namun dingin. Ia menunjuk sebuah pintu besi tebal berkode digital di sebelah kiri mereka—ruang aman yang dirancang khusus untuk situasi darurat. "Mbak Shanum, masuk ke dalam ruangan ini. Kunci dari dalam dan jangan buka untuk siapa pun kecuali suara saya."
Wajah Shanum memucat. "Bagaimana dengan kamu?"
"Saya akan membersihkan jalur di bawah," sahut Aran datar seraya mengetikkan kode akses pada panel pintu. Pintu besi itu terbuka dengan bunyi klik halus.
Shanum menahan lengan jas Aran. Cengkeramannya erat, menunjukkan kecemasan yang luar biasa. "Aran... jangan bertindak konyol. Kita bisa menunggu bantuan kepolisian di dalam sini bersama-sama!"
Aran menatap tangan Shanum di lengannya, lalu beralih menatap mata wanita itu. Untuk pertama kalinya, Aran mengikis sekat jarak dua meter di antara mereka, mengikis keraguan yang selama ini membelenggu jiwanya.
"Kepolisian butuh waktu dua belas menit untuk menembus kemacetan di luar," tutur Aran, suaranya teramat lembut dan hangat di tengah deru hujan yang menghantam jendela koridor. "Dua belas menit adalah waktu yang terlalu lama untuk membiarkan ancaman mendekati pintu ini."
Aran tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang memancarkan ketenangan tiada tara.
"Dulu, saya bertempur untuk bertahan hidup karena tidak punya pilihan. Tapi malam ini... saya bertempur untuk melindungi tempat dan orang-orang yang mengajari saya arti menjadi manusia," lanjut Aran. "Percayalah pada saya, Mbak Shanum. Saya akan kembali."
Shanum tertegun. Kata-kata itu meresap dalam ke dadanya, meruntuhkan sisa-sisa kepanikan di hatinya. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya, mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Janji sama saya, Aran," bisik Shanum seraya melangkah masuk ke dalam ruang aman. "Kamu harus selamat."
"Janji," jawab Aran singkat.
Pintu besi tebal itu tertutup rapat, mengunci Shanum di tempat yang paling aman di dalam gedung.
Aran berbalik. Aura sejuk dan ramah yang menyelimutinya sepanjang hari lenyap seketika. Tatapan matanya kembali berubah menjadi kilatan es yang mematikan. Pria itu menarik napas panjang, menetralkan detak jantungnya, lalu melangkah mantap menuju tangga darurat menuju B1.
Di luar, suara petir menyambar kencang, menyalakan bayangan Aran di sepanjang dinding lorong yang gelap. Pertempuran di balik hujan telah dimulai.
saling support sabi kali thor🤭