namaku seira Aurora artis ibu kota dengan imange seksi dan penuh dengan skandal.
ceritaku dimulai saat aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang Gus Hanif dan berciuman dengan dia.
sejak saat itu gus Hanif terus muncul dihadapan ku,mengikutiku.dengan alasan ingin mempertanggungjawabkan kejadian yang tanpa sengaja itu.
bahkan secara terang terangan ia mengatakan ingin menikahi ku, alasannya? membimbingku.
aku tertawa sumbang bagaimana mungkin artis dengan imange buruk sepertiku bisa menikah dengan anak seorang kiay.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaarumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Seira keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun stroberi yang tercium dari tubuhnya.
Dahinya mengernyit saat pandangannya tertuju kearah sofa, terlihat Gus Hanif sedang tertidur meringkuk disana.
Seira mencoba mendekat
" Gus.ini udah siang."
Tidak ada respon apapun dari Gus Hanif. Dia hanya mengeliat.
Seira merasa ada yang aneh dengan Gus Hanif, meletakkan punggung tangannya diatas dahi,seira reflek menarik tanganya saat rasa panas yang menjalar ke punggung tangannya.
" Astagfirullah Gus badan kamu panas banget."
Gus Hanif perlahan membuka matanya, diraihnya tangan seira.
" Seir,please kamu disini dulu ya temanin saya.rasanya badan saya sakit semua."
Dengan cepat seira menarik kembali tangannya.
" Maaf ya gus.hari ini saya ada syuting untuk iklan.gus tenang aja disini ada mami kok."
" Tapi saya butuhnya kamu seir."
Seira menghelai nafasnya.
" Maaf ya gus,saya sibuk hari ini."
Seira menjauh dari Gus Hanif,ia melangkah untuk mengambil pakaian yang ia akan kenakan untuk hari ini.
Saat hendak pergi seira kembali menjatuhkan pandangannya kearah Gus Hanif,ada sedikit perasaan tidak tega terbersit dihatinya tapi dengan cepat ia menepisnya.
" Mi, sepertinya Gus itu lagi sakit."
" Sakit."
Seira mengangguk setelah itu ia mulai memakan sarapannya dengan santai.
" Lalu kamu mau pergi saat kamu tahu suami kamu sakit?"
" Kan ada mami,lagipula hari ini aku sedang sibuk."
" Seir,Gus Hanif itu suami kamu."
Karna tidak ingin menghancurkan moodnya dipagi hari,seira segera berdiri sebelum meminum susunya.
" Udah ya mi seira berangkat."
" Dasar kamu seira."
Didalam kamar mata Gus Hanif kembali terpejam rasa berat dikepalanya membuatnya sulit untuk membuka mata.
Jlekkk
Pintu kamar terbuka,Risma menatap iba menantunya yang tertidur disofa.
" Gus kok tidur disini sih."
"Mata Gus Hanif terbuka,samar samar ia melihat wajah Risma.
" Mami antar kamu kedokter ya.?"
" Ngak usah bu.saya tidak apa apa."
" Saya hanya perlu sedikit istirahat."
" Tapi paling tidak kamu jangan tidur disofa."
Gus Hanif hanya mengangguk.dengan dibantu Risma Gus Hanif pindah kekasur.
" Gus makan dulu sarapannya, setelah itu tidur."
Gus Hanif menurut.lalu kembali tidur.bau seira tertinggal dibantal dan itu cukup membuat Gus Hanif merasa nyaman.
Kamera tertuju pada seira.sudah beberapa kali seira mengambil gambar tapi sutradara merasa kurang.
Hingga membuat seira mendesah kesal.
Ratih mengambil sebotol air mineral untuk seira.
" Minum dulu seira, sebenarnya kamu tuh hari ini kenapa sih.?"
" Memangnya aku kenapa?"
" Kamu seperti tidak fokus."
" Aku hanya sedang mikirin sigus."
Hana dan Ratih saling pandang.
" Wah kemajuan nih."
" Kemajuan apa?"
" Dalam hubungan kalian.lo mulai mikirin Gus Hanif. Itu suatu kemajuan yang baik."
" Kalian jangan terlalu berlebihan. Gus itu sedang sakit.kalau dia kenapa Napa aku juga kan yang repot."
" Seir..kamu khawatir."?
" Tidak."
Seira mengeleng keras.
" Jangan berbohong,kamu sampai take beberapa kali karna khawatir kan."?
" Capekk ngomong sama kalian.aku tidak khawatir aku hanya takut segala sesuatu tentang Gus itu akan berimbas pada karir aku.kami kan baru menikah.kalau sampai dia mati diumur pernikahan kita yang baru seumur jagung ini.tentu semuanya akan berimbas keaku."
" Kamu mikirnya terlalu kejauhan seir."
" Saran aku kamu fokus aja dulu dengan syutingnya, setelah itu kamu boleh pulang."
Seira berusaha fokus pada kamera,mencoba menepis bayangan Gus Hanif yang menahan pergelangan tangannya.
" Ok cut,bagus seira."
Seira bernafas lega dengan buru buru ia menyambar tasnya.lalu melangkah dengan langkah yang terasa ringan.
" Han,Ratih aku balik dulu."
Hana dan Ratih hanya tersenyum.
"Hati hati Seira."
Langkah kaki seira terhenti saat ia tidak sengaja berpapasan dengan Kevin.
Seira mencoba mencari gcelah untuk kembali melangkah dan mengabaikan Kevin.
Tapi laki laki didepanya ini seperti menghalangi langkahnya.
Dengan kesal seira mendongak menatap manik Kevin yang dulu sangat memujanya.
" Permisi pak, saya sedang buru buru."
" Secepat itu seira."
Jantung seira berdetak tak karuan,ia masih menatap manik coklat milik Kevin.
" Secepat itu kamu menghapus aku dihidupmu."
Rahang seira mengeras,tanganya mengempal.tentu ini tentang pernikahannya dengan Gus Hanif.
" lalu anda mau saya bagaimana? Saya tetap stay ditempat sedangkan anda sendiri sudah memulai mencobanya dengan perempuan lain."?
Tidak ada jawaban...
Seira tersenyum pahit,lalu kemudian kembali melangkah.
" Seira,aku masih mencintaimu dan akan selalu mencintaimu.mungkin kita tidak bisa bersama tapi dihati ini nama kamu selalu ada..."
Langkah seira terhenti,ia mengerjap satu tetes air matanya terjatuh.
" Kamu pun sama kevin.kamu akan selalu ada di hatiku." Kalimat itu begitu tidak mampu lolos dari mulut seira.
Seira kembali melanjutkan langkahnya,meninggalkan sunyi yang semakin membelegu hati seorang Kevin nander.
Seira sampai dirumahnya dengan keadaan nafas yang tidak beraturan.
" Mi, bagaimana keadaan Gus..."
" Ngapain nanya mami. Lihat aja sendiri."
" Cudes amat mi."
" Sudah sana lihat suami kamu,sebelum mami sembur kamu dengan teh ini saking kesalnya mami sama kamu."
Jlekkk
Suara pintu terbuka, terlihat Gus Hanif tidak lagi merikuk diatas sofa tapi diatas kasur.
Seira perlahan mendekat, dengan pelan ia mencoba meletakkan punggung tangannya diatas dahi Gus Hanif.
" Masih panas." Gumanya.
Dengan cepat ia mengambil Baskon yang berisi air hangat dan handuk kecil lalu mengopres Gus Hanif.
Mata Gus Hanif terbuka saat melihat wajah seira berada sangat dekat dengan wajahnya.
Mungkin seira biasa saja saat ini.tapi tidak dengan Gus Hanif dengub jantungnya sangatlah tidak stabil.
Dengan lembut ia memegang tangan seira, untuk kali ini seira terlihat melunak, tidak menepis atau menolak.
" Sudah seir,aku hanya minta kamu tidur dismaping aku."
Mata seira membulat tapi ada sebagian dari dirinya yang melunak dan akhirnya menuruti permintaan Gus Hanif.
Untuk pertama kalinya semenjak menikah mereka tidur diranjang yang sama.
Gus Hanif tersenyum lalu perlahan mengeser tubuhnya agar lebih dekat dengan seira.
Seira melotot tapi hanya bisa pasrah,entah kenapa saat ini ia tidak bisa menolak.
Tanpa ragu Gus Hanif melingkar kan tangannya memeluk seira.
Seira sudah hampir ingin marah tapi melihat mata Gus Hanif yang sayu.ia pasrah.
Gus Hanif merasakan sensasi yang begitu membahagiakan untuknya saat berada diposisi yang seperti ini.sedangkan seira sangat tidak nyaman.
" Seira bisa kamu peluk saya juga."!
" Jangan macam macam Gus,syukur saya tidak mematahkan tangan Gus yang berada di pinggang saya."
Gus Hanif terkekeh geli.
" Terimakasih seir,."
" Kok terimakasih."
" Karna sudah mau dipeluk sama saya."
Seira memutar bola matanya
" Tidur Gus."
" Wangi kamu harum banget seir,kayak bau surga."
" Gus tidur."
" Saya nyaman."
" Gus tidur."
" Besok pasti saya akan sembuh dan segar kembali."
" Gus ngomong sekali lagi saya patahkan tangan Gus."
" Ia sayang saya tidur."
" Jangan panggil saya sayang."
" Baik baby."
" Ya robby.itu apa lagi."
.......
Tidak ada lagi suara,seira menoleh kearah Gus Hanif yang mulai berdengkur halus.
Tanpa seira sadari garis bibirnya sedikit terangkat keatas.