Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
Sisa malam itu berlalu dalam keheningan yang terasa berbeda. Tidak lagi dingin dan menakutkan, melainkan penuh sisa emosi yang belum tersalurkan. Arya mengantar Nayara hingga ke depan pintu kamar, namun keduanya berdiri terpaku cukup lama seolah masih ada sesuatu yang menggantung di antara mereka.
"Beristirahatlah," ucap Arya pelan, suaranya sedikit serak. "Malam ini aman. Tidak akan ada yang berani mendekat."
Nayara mengangguk, namun tangannya mencengkeram ujung baju pria itu sebelum ia sempat berbalik pergi. Gerakan itu begitu tiba-tiba hingga membuat keduanya tertegun. Arya menatap jemari halus yang memegang bajunya, lalu beralih menatap wajah gadis itu yang tampak ragu namun berusaha tegar.
"Bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanyanya lirih. "Sesuatu yang sudah lama ingin saya tanyakan, tapi takut mendengar jawabannya."
Arya menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Tanyakan. Aku akan menjawab sejauh yang aku bisa."
Nayara menarik napas dalam-dalam, memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan yang terus menghantuinya. "Siapa wanita yang Anda maksud dulu? Yang saya mirip dengannya... apakah dia orang yang Anda cintai? Dan kenapa dia tidak ada di sini sekarang?"
Keheningan seketika menyelimuti mereka. Tatapan Arya menggelap, seolah pertanyaan itu membuka luka yang baru saja berusaha ia biarkan menutup kembali. Ia melepaskan cengkeraman lembut Nayara perlahan, lalu berjalan mundur sedikit sambil memandang ke arah lorong yang gelap.
"Dia adalah adik sepupuku," jawabnya akhirnya, suaranya berat dan penuh penyesalan. "Satu-satunya orang yang dulu selalu ada untukku saat keluargaku hancur. Namanya Kirana. Dia sama sepertimu—polos, tulus, dan selalu percaya bahwa setiap orang masih memiliki sisi baik, sekalipun orang itu hidup di dunia gelap sepertiku."
Arya berhenti sejenak, menelan ludah seolah ada benda tersangkut di kerongkongannya. "Tujuh tahun lalu... musuh-musuhku mengira dia adalah kelemahanku. Mereka menculiknya untuk memaksaku menyerahkan seluruh kekuasaanku. Saat itu aku berpikir bisa menyelamatkannya dengan cara sendiri. Tapi aku salah. Aku terlambat. Dan sampai detik ini, aku tak pernah memaafkan diriku sendiri karena telah menyeretnya ke dalam kekacauan ini."
Nayara terbelalak, air mata seketika jatuh tanpa sadar. Ia tak menyangka ada kisah kehilangan yang begitu menyakitkan di balik sikap dingin Arya selama ini.
"Jadi... saat pertama kali melihat saya malam itu... Anda teringat padanya?"
Arya menoleh perlahan, menatap lekat mata Nayara yang basah. "Saat itu aku hampir saja memberi perintah untuk menyingkirmu. Tapi saat melihat ketakutanmu yang tulus... melihat matamu yang persis seperti miliknya... aku tak sanggup. Aku melihat Kirana di dalam dirimu, dan aku bersumpah tak akan membiarkan kesalahan yang sama terulang lagi. Bahkan jika caranya harus mengurungmu di sini."
Ia mendekat kembali, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih lembut namun penuh kepedihan. "Itulah sebabnya aku begitu keras menetapkan aturan. Itulah sebabnya aku melarangmu bergaul dengan siapa pun di luar sana. Aku takut... jika sesuatu terjadi padamu, aku tak akan sanggup bertahan hidup lagi."
Nayara tak kuasa menahan diri. Ia melangkah maju dan memeluk pinggang pria itu erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang yang kini bergetar halus. "Maafkan saya... saya tidak tahu Anda menyimpan rasa sakit seberat ini sendirian sepanjang waktu."
Arya kaku sejenak, lalu perlahan tangannya terangkat membalas pelukan itu—pelukan yang penuh rasa syukur sekaligus rasa takut yang mendalam. "Kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak tahu apa-apa. Dan sekarang... kau tahu mengapa aku begitu menjagamu. Bukan karena aku menganggapmu milikku... tapi karena aku ingin kau tetap hidup dan aman, walau aku harus menjadi penjara bagi dirimu sendiri."
Malam itu, pertanyaan yang tak berani diucapkan akhirnya terjawab. Namun jawaban itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari ikatan yang jauh lebih kuat. Ikatan yang dibangun di atas rasa sakit, rasa takut, dan perlahan mulai tumbuh menjadi rasa cinta yang tak terduga.
Ketika Arya akhirnya melepaskan pelukannya dan beranjak pergi, Nayara berdiri di ambang pintu menatap punggungnya yang menjauh. Ia tahu perjalanan mereka tak akan mudah. Ancaman masih mengintai di mana-mana, rahasia kelam masih tersembunyi, dan bahaya tak akan pernah berhenti mencari celah. Tapi satu hal yang kini ia yakini: Arya Satria bukanlah sekadar pemimpin mafia yang kejam. Ia hanyalah seorang pria yang terluka, yang berusaha sekuat tenaga melindungi apa yang tersisa baginya.
Lanjut ke Bab 9: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu? 😊