Kegelapan dan Cinta sangat cocok untuk menggambarkan cerita ini. Karakter utamanya adalah seorang pemuda bernama Hayakawa Yugioh.
Ia bertemu dengan tiga gadis cantik di tempat yang berbeda-beda. Kuroyuki Yukino (Stasiun Kereta), Minazuki Reina (Klub Voli), dan Hanamori Airi (Hujan Badai).
Yugioh membantu semuanya untuk menyelesaikan masalah hidup masing-masing. Seiring berjalannya waktu, ketiganya mulai jatuh cinta padanya.
Dimulai dengan mengancamnya menggunakan benda tajam, menguntitnya ke manapun ia pergi, dan paling parah mengajaknya mati bersama.
Diakhir... Mereka mengajukan pertanyaan yang intinya: 'Siapa yang akan ia pilih untuk menjadi istrinya?.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.2: Pilihan
Begitu sampai di atas, ia menghirup udara segar di sore hari yang tampak gelap ini. matahari mulai terbenam dan cahaya meredup perlahan.
“I do good to do good. The main focus today is to go home. My children should not be ignored.”
“Taxi!”
Ia mengangkat tangan kanannya ke atas dan taxi pun tiba di depannya. Supirnya terlihat agak menakutkan, karena banyak bekas cakar kucing di seluruh kepalanya. Untungnya kedua matanya baik-baik saja.
“Please enter, Dear Mr!”
“O-okay.”
Ethan ingin ketawa karena suara yang dihasilkan oleh supir ini lucu kayak anak kecil usia 6 tahun-an.
Untungnya ia bisa menahannya dan masuk ke dalam tanpa merusak suasana menegangkan ini.
Begitu berada di dalam, supir mengatakan: “Where do you want to go tonight, Mr?”
Suaranya makin membuat mulutnya menahan tawa. “H-home. Ra-radio City Apartments.”
“Okay. 15 dollar, please!”
“H-here.”
Ethan mengasihkan sejumlah uang tersebut dari saku kirinya dan begitu diterima olehnya, supir ini langsung memasukkanya ke dalam celengan babinya.
Ia nampak bersemangat dan suasana hatinya tiba-tiba menjadi begitu menggebu-gebu. Mobil pun berjalan cepat sampai membuat Ethan hanya bisa berpikir dengan otaknya terus memproses banyak kejadian aneh di depan kedua matanya.
He is to fast! What is this!? Who’s person can get through many vechiles in this jam! Apart from his voice, he could not be underestimated.
A-after now, i-i really respect for him.
“Die man moet gedood worden.”
Sosok bertopeng lewat dari taxi yang dinaiki Ethan dan membuatnya melirik ke arahnya untuk beberapa saat saja.
Hal tersebut membuatnya merinding ketakutan sampai bulu kuduknya berdiri dan suasana hatinya mencekam.
What’s? H-how he can so fast?
Alasan ia berpikir demikian adalah sosok ini benar-benar cepat. Menghilang entah ke mana, padahal sebelumnya ada di dekatnya waktu mengucapkan kata-kata terakhirnya.
Kata yang sama dan suasana sangat mengerikan. “I need to invistigate that strange person to put my heart at ease. Maybe, once i get home, i’ll realy focus on him.”
“I-i’m sorry, can you get out of here, Mr.?”
“O-oh... forgive me! S-sure.”
Ia turun dari mobil dan menginjakkan kakinya ke aspal. “Thank you for bringing me here. Be careful on the road, sir!”
“Okay.”
Supir taxi menundukkan kepalanya padanya dan pergi begitu saja dengan kecepatan tinggi.
“Home always same.”
The middle second floor with the balcony is where we all live.
Di sebelah kiri, adalah bar pasta. Pertengahan merupakan awal masuk ke apartemen, dan kanan merupakan pizza berada.
Apartemen ini memiliki 10 lantai dan terlihat cukup modern. Begitu sampai di depan pintu tempat tinggalnya, ia membuka pintu serta langsung disambut hangat oleh ketiga anaknya.
“DADYYY!!!”
Mereka semua tampak bahagia dan Ethan hanya bisa tersenyum santai sambil memeluk erat ketiganya.
“Dady’s home, Clayra, Ruben, and...”
Anak perempuan berambut coklat sama seperti ayahnya. Pita di belakang rambutnya begitu mencolok serta tampak cantik bagi gadis seusianya.
Namanya Clayra dan usianya 8 tahun, anak tertua. Lalu dari kiri ke tengah ada Ruben, setahun lebih muda dari Clayra.
Pakaian kasualnya terlihat menarik dan sandalnya tak dipakai, sedangkan dua lagi memakainya.
Terakhir ada...
“My little son, Garrinson. Fufufu, do you miss your beloved dady?”
“Y-yessss...!!!”
Anak paling kecil bernama Garrinson. Usianya baru 1 tahun dan sudah bisa berjalan dengan baik bahkan bicara lumayan fasih.
Salah satu bakat terpendamnya sudah ada di dalam dirinya di usianya yang masih kebanyakan anak baru belajar hal-hal kecil.
“Hahaha, nice.”
“Where’s momy, Garrinson?”
“Bathroom.”
“Okay.”
Ia mengacak-acak rambut Garrinson sampai membuatnya makin bahagia. Ethan selesai bermain sejenak dengan anak-anaknya di depan pintu, memutuskan berjalan menuju kamar mandi.
Anak-anaknya hanya bisa mengikutinya serta berjalan terus lurus menuju ruang tamu berada, sedangkan Ethan berhenti tepat di depan ruangan kamar mandi berada.
Ia mengetuk-ngetuk pintunya terlebih dahulu dan suara lembut berkata: “Come inside honey!”
“Alright.”
Ethan membuka pintu dan melihat istrinya menutup tubuh telanjangnya menggunakan handuk putih tebal.
Dia lebih rendah 3 cm dari Ethan. Wajahnya sangat cantik dan rambut pirang panjangnya sangat menggoda.
Aroma baru mandinya tercium sampai membuat hidung Ethan tergelitik serta hawa nafsunya sedikit tak tertahankan untuk berkomentar.
Biasanya, situasi seperti ini akan membuat para pasangan bahagia melakukan hal-hal berbau 18+, namun tidak untuk keduanya.
“Fufufu! You’re getting great to tease me, Scarlet! I admit it and it doesn’t mean our agreement yesterday made me lose.”
“Even though just say you’ve lost! Later i will be Ethan’s hair honey 10 times you know!”
Tawaran tersebut membuat jantungnya berdegup sangat kencang hingga mau pingsan. Daripada kalah telak, Ethan memutuskan keluar sampai Scarlet cuman bisa memandangnya bahagia.
“Hehehe. I’m win again.”
Scarlet mengikutinya dari belakang. Istri bahagia, suami terpuruk. Benar-benar kekalahan yang sudah terduga.
Begitu sampai di ruang tamu, ketiga anak mereka lagi duduk santai di atas karpet bermotif hewan-hewan lucu.
Ethan tampak senang melihat anak-anaknya keasikkan sendiri menonton kartun atraksi lumba-lumba.
Di sofa panjang yang cukup untuk empat orang duduk, Ethan dan Scarlet memutuskan duduk di situ.
Mereka berduaan dan tampak senang untuk mengobrol tentang kehidupan sehari-hari atau mungkin pembahasan lainnya yang berhubungan dengan keluarga, masalah kerja, sebagainya.
“Where’s my gift, honey?”
“They backed their time and chose about three more days to give it to you.”
Well... I’m little disappointed, but what else can anymore. Okay, it’s a little teasing it. Eemm... The ordinary, because... There are children.
“Your body is more beautiful. The clothes i bought seemed to be useless for you. I’ll buy it again later!”
“No need honey! Don’t waste your money for something useless!”
Istri yang baik sekali. Ethan beruntung sekali sebagai seorang pria yang suka berbagi barang-barang mahal di jalanan untuk orang lain.
“Take it easy! I will still buy even though you say no need.”
Scarlet tampak agak cemberut dan langsung memalingkan wajahnya. Ia menaruh kedua tangannya di dagu.
“Let’s just discuss, Ethan’s Choice!”
Ethan ikutan memalingkan wajahnya serta pura-pura ngambek, padahal di lubuk hatinya, dia menganggap ini candaan lucu.
Ketiga anak mereka masih terus menonton acara tv tanpa memperhatikan kedua orang tua mereka yang lagi ribut ala-ala pasutri pada umumnya.