Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_24
Adrian terkejut.
"Jadi Bu Ratih bukan musuh?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.
"Bukan." jawab Pak Hadi tegas. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Dia justru orang yang selama ini menjaga rahasia kalian."
Nathan mengerutkan kening.
"Lalu siapa yang menculik Rani?" tanyanya tajam. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
Pak Hadi belum sempat menjawab ketika terdengar suara tepuk tangan dari luar.
"Hebat." ucap seseorang dengan nada mengejek. Tepuk tangannya terdengar perlahan, sementara sosok itu mulai melangkah masuk dengan senyum tipis yang penuh kesan meremehkan.
Mereka semua langsung menoleh.
Pria berjubah hitam berdiri di ambang pintu.
Adrian maju selangkah. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Tatapannya tajam mengarah kepada pria itu.
"Di mana Rani?" bentaknya keras. Wajahnya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak terbendung.
Pria itu justru tersenyum tipis. Ia tampak sama sekali tidak gentar melihat kemarahan Adrian.
"Tenang." jawabnya santai. Wajahnya dipenuhi senyum mengejek. "Dia masih hidup."
Adrian menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. Namun, tatapannya semakin tajam.
"Kalau kau menyakitinya..." ancam Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
Pria itu tertawa kecil. Ia memiringkan kepalanya, lalu menatap Adrian dengan tatapan penuh kemenangan.
"Kau masih sama seperti dulu." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi kepuasan. "Selalu melindungi orang yang melindungimu."
Adrian membeku. Matanya melebar sesaat, seolah kalimat itu telah membangkitkan sebuah ingatan lama yang selama ini terkubur.
"Siapa kau?" tanya Adrian tajam. Wajahnya dipenuhi kecurigaan.
Pria itu melepas topinya.
"Aku anak yang dulu paling sering membully kamu." jawabnya tenang. Wajahnya dipenuhi senyum tipis.
Leonard terkejut.
"Jadi kau yang mengetahui semua ini?" tanyanya keras. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
"Ya." jawab pria itu. Wajahnya dipenuhi kepuasan.
Adrian mengepalkan tangan.
"Kenapa Rani?" tanyanya dingin. Wajahnya dipenuhi kebencian.
"Karena dia adalah satu-satunya orang yang membuatmu berani melawan kami." jawab pria itu. Wajahnya dipenuhi kebencian.
Adrian terdiam.
Pria itu melanjutkan.
"Setelah Rani pergi, kamu berubah. Kamu melupakan semuanya." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi senyum sinis. "Tapi sekarang ingatanmu kembali."
"Di mana dia?" bentak Adrian sekali lagi. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
Pria itu menunjuk sebuah bangunan tua di seberang desa.
"Di sekolah lama." jawabnya santai. Wajahnya dipenuhi senyum misterius. "Tempat terakhir kalian bersama."
Adrian langsung berbalik.
"Nathan!" panggil Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi tekad.
"Ya, Tuan!" jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi kesiapsiagaan.
"Kita selamatkan Rani sekarang." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi keberanian.
Leonard ikut berdiri.
"Saya ikut." jawab Leonard mantap. Wajahnya dipenuhi tekad.
Adrian menatap foto lama sekali lagi. Kini semuanya jelas.
Rani bukan orang asing. Rani bukan sekadar perempuan yang kebetulan datang ke hidupnya.
Rani adalah gadis kecil yang dulu selalu berdiri di depannya ketika semua orang merundungnya.
Gadis yang pernah menyelamatkan nyawanya. Gadis yang membuatnya percaya bahwa dirinya tidak sendirian.
Dan tanpa Adrian sadari, perasaan yang selama ini tumbuh di dalam hatinya bukanlah sesuatu yang baru. Perasaan itu telah ada sejak masa kecil. Hanya saja... ingatan tentangnya pernah terkubur.
Adrian mengepalkan tangan.
"Rani..." gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi tekad dan haru. "Kali ini aku yang akan menyelamatkanmu."
Sementara itu, di bangunan sekolah tua...
Rani membuka matanya perlahan.
"Adrian..." panggilnya lirih. Wajahnya dipenuhi ketakutan, tetapi di dalam sorot matanya masih tersimpan harapan.
Seseorang berdiri di balik pintu. Sosok pria itu tampak tenang, seolah kedatangan seseorang memang sudah ia nantikan sejak tadi.
"Dia pasti datang." ucap pria itu pelan. Wajahnya dihiasi senyum misterius.
Rani menatapnya tajam.
"Kau salah." bantah Rani tegas. Wajahnya dipenuhi keberanian. "Adrian tidak akan datang sendirian."
Pria itu mengerutkan kening.
"Maksudmu?" tanyanya. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Rani menarik napas panjang.
"Adrian yang kukenal bukan orang yang akan bertindak gegabah." jawab Rani yakin. Wajahnya menunjukkan kepercayaan yang besar. "Dia selalu berhati-hati."
Pria itu justru tersenyum semakin lebar.
"Kau benar-benar tidak tahu, siapa sebenarnya Adrian." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi misteri.
Rani terdiam.
"Apa maksudmu?" tanya Rani bingung. Kedua alisnya berkerut, sementara tatapannya penuh kecurigaan.
Pria itu tidak langsung menjawab.
"Sebentar lagi kau akan tahu." katanya dingin. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Rani mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tidak peduli siapa Adrian sebenarnya." balas Rani tegas. Wajahnya menunjukkan keberanian yang semakin kuat. "Yang kutahu, dia sudah banyak membantuku."
Pria itu terkekeh pelan.
"Benarkah?" tanyanya. Wajahnya dipenuhi senyum mengejek.
Rani mengangguk.
"Ya." jawabnya mantap. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Adrian adalah orang yang selalu melindungiku."
Namun, Rani sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang selama ini ia panggil Adrian adalah anak laki-laki yang pernah menjadi sahabat masa kecilnya.
Anak laki-laki kurus yang dahulu sering ia temui sendirian.
Anak laki-laki yang pernah ia lindungi ketika semua orang menjauhinya.
Anak laki-laki yang selama bertahun-tahun telah hilang dari ingatannya.
Rani tidak pernah menyangka bahwa sosok itu kini telah kembali ke dalam hidupnya. Bahkan, selama ini mereka tinggal di bawah satu atap.
Rani hanya mengenal Adrian sebagai pria kaya yang telah memberinya tempat tinggal dan perlindungan. Ia tidak pernah menghubungkan Adrian dengan anak laki-laki dari masa lalunya.
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti dari kejauhan.
Rani langsung menoleh. Tubuhnya menegang, sementara napasnya tertahan ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat dari balik pintu. Jantung Rani berdegup kencang, seolah memberikan harapan bahwa seseorang akhirnya datang untuk menyelamatkannya.
Kemudian, suara yang sangat dikenalnya terdengar dari luar.
"Rani!" panggil Adrian keras. Suaranya terdengar penuh kekhawatiran dan kepanikan, seolah ia sedang mencari Rani di setiap sudut ruangan.
Mata Rani langsung berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, sementara dadanya terasa sesak karena campuran rasa lega dan haru.
"Adrian..." bisiknya lirih. Suaranya nyaris tak terdengar, sementara air mata perlahan menggenang di sudut matanya. Wajahnya dipenuhi haru, dan untuk pertama kalinya sejak berada di tempat itu, Rani merasa sedikit lebih tenang.
Tanpa Rani sadari, pria yang baru saja datang untuk menyelamatkannya adalah sosok yang selama bertahun-tahun ia cari tanpa pernah menyadarinya.
Sementara itu, pria misterius di balik pintu hanya tersenyum.
Karena sebentar lagi...
Rani akan mengetahui bahwa Adrian bukan sekadar pria yang telah menolongnya.
Adrian adalah anak laki-laki dari masa lalunya. Sahabat kecil yang selama ini telah ia lupakan.