Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kabut tipis masih menggantung rendah di antara batang-batang pohon jati, sementara butiran embun membasahi rerumputan.
Di hadapannya, Jangkrik telah bersiap dengan kuda-kuda kokoh. Gelang Baja Wulung masih melingkar erat di kedua pergelangan tangannya. Berat logam itu memang membuat setiap pergerakannya terasa lamban, namun perlahan tubuh bocah itu mulai terbiasa menanggung beban ekstrem tersebut.
Warok melemparkan sepotong kayu sebesar kepalan tangan ke udara. "Tangkap."
Jangkrik menangkapnya dengan mudah tanpa kehilangan keseimbangan.
"Lempar kembali padaku."
Wus! Kayu itu meluncur deras ke arah Warok.
Pria bertubuh besar itu sama sekali tidak berniat menangkapnya. Ia hanya menggerakkan sedikit pergelangan tangannya, menghentakkan ujung cambuk Samandiman.
Pletar
Kayu itu seketika pecah menjadi dua bagian yang jatuh persis di sisi kanan dan kiri tubuh Warok.
"Lagi."
Jangkrik memungut sebongkah kayu lain yang kali ini ukurannya jauh lebih besar. Ia melemparnya sekuat tenaga hingga mendesing di udara.
Pletar
Kayu besar itu kembali terbelah dengan rapi.
Namun, Warok justru menggelengkan kepala kecewa. "Terlalu lambat."
"Lambat?" protes Jangkrik tak terima.
"Kalau itu adalah kepala musuh, mereka sudah memiliki lebih dari cukup waktu untuk menghindar." Warok kemudian memungut lima buah batu sebesar telur ayam dari tanah dan menyerahkan semuanya kepada Jangkrik. "Lempar sekaligus."
Jangkrik menatap gurunya dengan dahi berkerut. "Sekaligus?"
"Ya. Sekarang."
Tanpa banyak bertanya lagi, Jangkrik mengumpulkan tenaga lalu melemparkan kelima batu itu secara bersamaan ke arah Warok.
Wus! Wus! Wus! Wus! Wus!
Warok menghela napas pendek. Sebelum batu-batu itu sempat mendekat, lengan kekarnya menyentak maju.
PLETARRR!
Suara ledakan dahsyat memekakkan telinga, memenuhi halaman gubuk. Kelima batu yang melesat tadi seketika hancur di udara, berubah menjadi serpihan debu dan kerikil kecil yang berjatuhan ke tanah.
Jangkrik membelalakkan mata. Ia bahkan tidak mampu menangkap lintasan gerak cambuk gurunya. Yang tertangkap oleh indranya hanyalah suara ledakan tunggal dan batu-batu yang mendadak hancur berantakan.
"Kau... kau berhasil menyentuh kelima batu itu sekaligus?" tanya Jangkrik takjub.
Warok menggulung kembali cambuknya dengan tenang. "Bukan."
"Lalu?"
"Aku hanya menyentuh satu titik getaran di udara."
Jangkrik semakin bingung mendengarnya.
Warok kemudian memungut satu batu lagi lalu menunjuk ke bawah pohon jati. "Duduk."
Mereka berdua duduk bersila. Warok meletakkan batu itu di atas sebuah tunggul kayu mati yang menjadi meja mereka. "Lihat dan perhatikan baik-baik," perintah Warok sambil mengangkat jari telunjuknya.
"Kelemahan dari setiap benda keras bukan terletak pada permukaan luarnya, tapi pada getaran yang tersembunyi di dalamnya." Warok mengetukkan kuku telunjuknya ke permukaan batu.
Tik. Batu itu tetap utuh. "Itu kalau tidak ada tenaga yang disalurkan."
Warok menarik napas dalam-dalam, memusatkan fokusnya. Kemudian, ia mengetuk batu itu sekali lagi dengan gerakan yang sama.
Tak. Sebuah retakan rambut yang halus mendadak muncul dan menjalar di sepanjang permukaan batu.
Jangkrik mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat. Warok tersenyum tipis melihat antusiasme muridnya. "Kau ingat saat aku menyuruhmu memukul pohon jati?"
Jangkrik mengangguk cepat. "Getaran."
"Tepat. Jika getaran yang kau salurkan berada pada saat yang tepat, kau bahkan tidak memerlukan tenaga yang besar untuk menghancurkan sesuatu."
Jangkrik segera mengambil sebutir batu lain untuk mencoba. Tok. Tidak terjadi apa-apa. Ia mencobanya lagi dengan mengerahkan tenaga. Tok. Batu itu tetap utuh tanpa goresan.
Warok tidak mengejek kegagalan itu. Ia hanya memberikan petunjuk dengan suara berat, "Jangan gunakan kekuatan tanganmu. Pakai ulu hatimu untuk merasakan batunya."
Jangkrik memejamkan mata. Ia mengatur napasnya, membuang semua pikiran egois, dan mencoba mengingat kembali rasa panas yang menjalar di tubuhnya saat pertama kali berhasil meretakkan batang pohon jati waktu itu. Perlahan dan tanpa paksaan, ia mengetukkan jarinya ke atas batu.
Tak.
Sebuah retakan kecil seketika muncul di permukaan batu. Jangkrik tersentak kaget dan membuka matanya, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Warok tersenyum puas melihat perkembangan itu. "Itu dia. Jangan berhenti, ulangi lagi."
Hari itu pun dihabiskan Jangkrik untuk menjalani latihan yang tampak sederhana namun menguras fokus mental. Bukan latihan memukul dengan brutal, bukan pula latihan mencambuk, tapi belajar untuk merasakan dan mengalirkan getaran tubuh.
Menjelang senja, Jangkrik akhirnya berhasil membelah sebuah batu sebesar kepalan tangan murni dengan satu ketukan jari yang presisi. Ia mengembuskan napas panjang, peluh membasahi seluruh tubuhnya.
Warok mengangguk pelan, memberikan apresiasi yang jarang ia tunjukkan. "Kau belajar jauh lebih cepat dari dugaanku."
Jangkrik menyeringai tipis, menyeka keringat di dahinya. "Aku memang harus cepat."
"Kenapa?"
"Supaya aku bisa secepatnya membunuhmu."
Tawa keras Warok kembali menggelegar memecah kesunyian sore. "Hahaha! Bagus! Jaga tekad itu!"
Namun, tawa pria bertubuh kekar itu mendadak terhenti. Pandangannya langsung beralih tajam ke arah kegelapan hutan di sekeliling halaman gubuk. Sorot matanya berubah menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.
"Keluar," desis Warok.
Suasana mendadak hening senyap. Tidak ada jawaban, hanya suara gesekan daun yang ditiup angin sore.
Warok kembali berujar dengan nada mengancam, "Kalau kau datang sebagai tamu, keluarlah secara baik-baik. Tapi jika kau datang sebagai musuh... aku akan menghitung sampai tiga sebelum cambuk ini mencabik lehermu."
Beberapa detik berlalu dalam ketegangan, hingga akhirnya semak-semak berdesik. Seorang lelaki tua melangkah keluar dari balik rimbunnya pepohonan. Pakaiannya tampak lusuh dan rambutnya sudah memutih sepenuhnya. Di punggung orang tua itu tergantung sebuah keranjang anyaman yang penuh dengan berbagai jenis tanaman obat. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tiinggi ke udara, memberi isyarat bahwa ia tidak berniat menyerang.
"Aku hanya seorang tabib keliling," ujar lelaki tua itu dengan suara parau namun tenang.
Warok tidak sedikit pun menurunkan kewaspadaannya. "Tabib?"
Lelaki tua itu mengangguk pelan. "Aku mencium bau darah yang pekat dan aroma belerang dari kejauhan. Kupikir, mungkin ada seseorang di sini yang membutuhkan obat-obatan."
Jangkrik memperhatikan penampilan lelaki tua itu dari atas ke bawah. Entah mengapa, ada sesuatu pada sorot mata orang tua tersebut yang terasa sangat teduh, namun menyimpan kedalaman yang misterius.
Warok melangkah maju satu tindak. "Apa bayaran yang kau inginkan untuk obatmu?"
Lelaki tua itu tersenyum ramah, kerutan di wajahnya tampak jelas. "Aku tidak meminta emas. Aku hanya ingin menukar obat ini dengan semangkuk air hangat untuk melepas dahaga."
Warok dan Jangkrik saling melempar pandangan penuh curiga. Mereka berdua belum menyadari bahwa kedatangan tabib tua misterius itu akan menjadi kunci pembuka bagi lembaran rahasia kelam dari masa lalu Sang Warok yang selama ini terkubur rapat.