Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021
Webtoon Misterius
Nathanael tidak menjawab sampai Jason akhirnya menghela napas dan bersandar di kursi.
"Oke," kata Jason pelan, tidak lagi berteriak. "Kalau belum bisa bilang semuanya, minimal jangan bikin dia merasa sendirian di pernikahan ini."
Nathanael menatap gelas di tangannya.
"Aku tahu."
"Lo selalu bilang tahu."
Jason berdiri, merapikan kemejanya yang sejak tadi kusut karena terlalu banyak menunjuk dan terlalu banyak menahan emosi. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar.
"Nath."
Nathanael mengangkat mata.
"Kali ini jangan cuma jaga dari jauh."
Pintu tertutup setelah Jason keluar.
Kalimat itu tinggal di ruangan lebih lama daripada suara langkahnya.
Sore hari di apartemen SCBD, Louisa duduk di lantai kamar dengan tiga kardus kecil terbuka di sekelilingnya. Ia sudah memindahkan mug jeruk ke meja kerja, menggantung dua kemeja kantor di ujung lemari, lalu mengeluarkan buku catatan yang dulu selalu ia bawa ke Tanuwijaya Group.
Halaman pertamanya penuh dengan daftar meeting Kevin.
Jam sembilan, call dengan vendor.
Jam sebelas, revisi deck.
Jam dua, jemput Yvonne di lobby.
Louisa memandangi tulisan tangannya sendiri lama sekali. Aneh, bagaimana hidup seseorang bisa terlihat begitu penuh ketika dibaca dari jadwal orang lain.
Ia merobek halaman itu.
Suaranya kecil. Bersih. Tidak sedramatis yang ia bayangkan, tetapi cukup untuk membuat dadanya sedikit lebih lapang.
Di luar kamar, apartemen terlalu tenang. Nathanael belum pulang. Bu Sari meninggalkan bubur ikan dan tumis brokoli di meja makan sebelum sore, lalu pulang setelah memastikan Louisa benar-benar makan beberapa suap. Tidak ada telepon dari HR. Tidak ada panggilan dari Kevin. Tidak ada Jessica yang mengetik terlalu cepat di meja sebelah.
Untuk pertama kalinya, waktunya seperti kosong.
Louisa tidak tahu harus mengisinya dengan apa.
Ia mengambil ponsel dan membuka Instagram. Akun @jerukmanis.art sudah lama tidak ia isi dengan apa pun selain beberapa sketsa lama. Notifikasi direct message menumpuk, sebagian dari pengikut yang menanyakan komisi gambar, sebagian lagi dari akun seni yang mengirim undangan kecil. Ia menggulir tanpa fokus, hanya ingin tangannya melakukan sesuatu.
Lalu sebuah unggahan muncul di explore.
Sebuah panel Webtoon bergaya cat air digital. Warnanya lembut, tidak terlalu manis. Ada seorang anak laki-laki berdiri di pinggir lapangan sekolah, tangan kirinya memegang botol minum, sementara di kejauhan seorang gadis tertawa di bawah matahari siang. Wajah gadis itu tidak digambar jelas, hanya rambut yang bergerak tertiup angin dan pita kecil di ujung tas.
Caption akun repost itu pendek.
Kalau cinta paling sabar punya gambar, mungkin bentuknya seperti karya Anon.
Louisa berhenti menggulir.
Anon.
Nama itu tidak punya foto profil. Hanya lingkaran abu-abu, judul karya, dan tautan menuju LINE Webtoon. Di bawahnya tertulis, Seri: Sebelum Menikah.
Louisa mengetuk gambar itu.
Instagram membuka halaman unggahan lengkap. Komentarnya ramai.
Aku baca ini pas putus, nangis sampai pagi.
Anon siapa sih? Kok bisa gambar orang nunggu sehalus ini?
Tokoh cowoknya green flag tapi nyesek banget.
Louisa membaca beberapa komentar sambil menahan napas tanpa sadar. Ia bukan tipe yang mudah ikut tren bacaan. Selama bertahun-tahun, waktu luangnya habis untuk pekerjaan, keluarga, dan kebiasaan lama menunggu Kevin melihatnya. Tetapi gambar itu membuat jarinya tidak langsung bergerak pergi.
Ia membuka WhatsApp dan mengirim pesan pada Stella.
Louisa:
Stel, kamu tahu author Webtoon namanya Anon?
Balasan datang cepat, seolah Stella memang tinggal di dalam ponsel.
Stella:
Ci Lou baca Webtoon juga?!
Louisa tersenyum kecil.
Louisa:
Baru lihat di Instagram. Gambarnya bagus.
Stella:
Anon itu lumayan misterius. Jarang posting wajah, nggak pernah live, tapi pembacanya loyal banget. Ceritanya pelan, tapi sekali kena, susah lepas.
Louisa:
Kamu baca?
Stella:
Aku pernah baca beberapa episode. Terlalu baper buat jam kantor. Kenapa, Ci?
Louisa menatap panel anak laki-laki di pinggir lapangan itu lagi.
Louisa:
Nggak apa-apa. Cuma penasaran.
Stella mengirim stiker wajah menahan senyum, lalu menulis:
Stella:
Kalau penasaran, baca dari awal. Jangan lompat. Anon suka sembunyiin detail kecil.
Detail kecil.
Louisa memikirkan kata itu sambil membuka tautan LINE Webtoon. Aplikasi berpindah ke halaman karya dengan sampul sederhana. Tidak ada wajah, hanya dua bayangan berdiri berjauhan di bawah pohon trembesi. Judulnya berwarna putih di atas latar biru pucat.
Sebelum Menikah.
Oleh Anon.
Di bawah judul, ada ringkasan singkat.
Tentang seseorang yang jatuh cinta terlalu awal, menunggu terlalu lama, dan tidak pernah tahu kapan harus berhenti.
Louisa membaca kalimat itu dua kali.
Entah kenapa, dadanya terasa pelan-pelan ditekan jari yang hangat.
Pintu apartemen terbuka saat ia masih menatap layar. Louisa spontan menoleh. Nathanael masuk dengan jas di lengan, dasi sudah dilepas, wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.
"Kamu sudah makan?" tanyanya.
Pertanyaan pertama itu selalu tentang hal kecil yang sama.
"Sedikit," jawab Louisa. "Bu Sari tadi ninggalin bubur."
Nathanael mengangguk. Matanya turun sebentar ke ponsel di tangan Louisa.
"Baca sesuatu?"
"Webtoon." Louisa mengangkat layar sedikit. "Author-nya namanya Anon. Kamu tahu?"
Gerakan Nathanael berhenti sangat singkat.
Kalau Louisa tidak sedang menatapnya, ia mungkin akan melewatkannya.
"Pernah dengar," jawab Nathanael.
"Stella bilang bagus."
"Kalau Stella bilang begitu, mungkin benar."
Jawaban itu terdengar biasa. Terlalu biasa. Nathanael menggantung jas di sandaran kursi, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air. Louisa menatap punggungnya sesaat, tetapi tidak menemukan alasan untuk bertanya lebih jauh.
Mungkin ia hanya lelah.
Mungkin semua CEO memang menjawab begitu kalau ditanya tentang Webtoon.
Louisa kembali ke layar.
Episode pertama terbuka.
Panel pembukanya menampilkan lapangan sekolah yang ramai, garis putih di tanah, suara sorak yang digambar dengan huruf kecil di udara. Di pinggir lapangan, seorang anak laki-laki memegang botol air mineral yang tidak pernah ia berikan.
Di bawah gambar itu, ada satu kalimat.
Aku jatuh cinta pada hari yang bahkan dia tidak ingat.