Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15.
"Aku iri padanya, aku sangat membencinya... Di sekolah, kenapa hanya dia yang selalu dipuji-puji dan dilihat semua orang?" Suara Maura terdengar bergetar.
"Aku ingin... ingin sekali saja menjadi lebih unggul darinya. Tapi aku sadar... aku nggak akan bisa mengalahkannya dengan cara yang benar."
"Jadi aku pilih cara lain... aku mencari celah untuk mengalahkannya. Dengan menjatuhkan reputasinya yang selama ini dikenal baik, maka orang akan menghujatnya dan menghakiminya."
"Jadi, berita yang menyebar itu, baik di media sosial maupun elektronik... Semua adalah rencanamu?"
Maura mengangguk sambil tersenyum tipis. "Ya... dan rencanaku berhasil."
"Tapi apa kamu sadar, bahwa tindakanmu ini salah juga merugikan orang lain?" tanya petugas itu tanpa ekspresi. "Apalagi jika apa yang kamu tuduhkan sama sekali tidak benar. Dan konsekuensinya kamu sekarang malah berakhir di sini."
"Padahal seharusnya kamu masih bisa bersenang-senang bersama teman-teman serta bersekolah. Dengan tindakanmu seperti ini sama saja kamu merugikan dirimu sendiri."
"Bukankah beberapa bulan lagi kalian akan mengikuti Ujian Nasional? Apakah kamu tidak berpikir sebelum bertindak?"
"Kamu tahu? Setelah keluar dari sini, kamu akan menyandang status baru menjadi mantan narapidana," pungkas sang petugas menatap Maura dengan pandangan miris.
Deg
Maura merasakan jantungnya berdegup kencang bukan karena jatuh cinta melainkan ada suatu dorongan kuat yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya.
"Sekarang tanda tangani pernyataan ini," perintah petugas itu seraya menyodorkan selembar berkas pada Maura.
Setelah urusan administrasi selesai, kemudian Maura digiring melewati lorong sepi. Hingga sampailah di depan jeruji besi. Lalu pintu dibuka.
"Masuklah!" perintah petugas singkat dan tegas.
Maura melangkah masuk dengan ragu. Detik berikutnya, pintu tertutup keras di belakangnya disusul bunyi kunci yang diputar.
Tubuh Maura langsung merosot ke lantai dingin, memeluk lututnya erat. Isak tangisnya akhirnya pecah memenuhi ruangan, sendirian hanya bertemankan dinginnya malam.
...
Daniel dan Zeya serta kedua utusan Pak Kades akhirnya sampai di stasiun pemberhentian tujuan mereka ketika hari menjelang senja. Setelah keluar dari sana, Daniel mengajak istri dan kedua orang tersebut untuk makan malam terlebih dahulu.
"Bagaimana kalau makanannya minta dibungkus saja, Nak Daniel. Supaya kita tidak kemalaman di jalan nanti," saran Pak Unang yang sejak tadi hanya diam jika tak diajak bicara.
"Benar, Nak. Kalau bisa, kita harus cepat dan sebelum malam kita sudah sampai di desa," timpal Pak Dadang.
"Bagaimana menurutmu, Ze?" tanya Daniel menoleh pada istrinya.
"Aku rasa saran mereka masuk akal, Nyel," cetus Zeya. "Sebaiknya kita ikuti saja."
"Baiklah kalau begitu," jawab Daniel.
Dia pun memesan empat bungkus nasi padang lengkap dengan lauk dan sayur. Sementara Zeya segera memesan taksi online untuk mengantar ke desa tempat tinggal mereka.
Tak sampai sepuluh menit kendaraan yang dipesan pun datang.
"Atas nama Mbak Zeya?" tanya pengemudi taksi tersebut, lalu keluar dari mobil.
Zeya mengangguk. "Benar, Pak."
"Mari, silakan masuk." Pak Sopir lantas membukakan pintu.
Daniel dan rombongan segera naik ke dalam kendaraan. Pak Dadang duduk di depan sebelah sopir, Zeya dan Daniel duduk di kursi tengah, sedangkan Pak Unang di kursi paling belakang. Pintu dikunci rapat dari dalam begitu semua sudah masuk.
Kendaraan melaju membelah jalanan yang perlahan mulai sepi, menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju jalan raya yang semakin gelap dan minim penerangan lampu jalan. Keheningan menyelimuti perjalanan, hanya terdengar suara deru mesin dan putaran roda yang membelah aspal dingin.
Tiba-tiba, laju kendaraan melambat hingga akhirnya berhenti total di tengah jalan yang sepi dan gelap, jauh dari pemukiman warga.
"Ada apa, Pak? Kenapa berhenti di sini?" tanya Daniel, tangannya langsung mencengkeram sandaran kursi di depannya dengan waspada.
Sopir menoleh ke belakang dengan wajah pucat. "Sepertinya ada yang sengaja menghalangi jalan, Mas..." jawabnya dengan ketakutan.
"Ada balok kayu besar melintang di tengah jalan, Nak Daniel," tambah Pak Dadang.
Belum sempat Daniel merespons, tiba-tiba dari kegelapan pinggir jalan muncul lima sosok pria berbadan besar langsung mengepung kendaraan. Mereka membawa tongkat serta senjata tajam lalu mengetuk kaca jendela dengan keras.
"Keluar semuanya! Serahkan mobil ini dan semua barang berharga yang kalian punya! Jangan macam-macam kalau nggak mau celaka!" bentak salah satu dari mereka dengan suara kasar.
Dada Zeya berdebar kencang, tetapi segera menenangkan diri. Ia menoleh sekilas ke arah Daniel, menatapnya dengan pandangan yang seolah bertanya; Siap...? Daniel mengangguk mantap.
Pintu mobil ditarik paksa hingga terbuka. Begal itu hendak menyambar lengan Zeya, tetapi Daniel lebih cepat menendang perutnya hingga terlempar ke rumput. Dua begal lain langsung menerjang bersamaan. Daniel segera keluar dari mobil, menangkis pukulan tangan kanan lalu memberikan tendangan keras ke arah kaki lawan yang lain hingga terjatuh.
Salah satu begal menyelinap ke samping hendak mengayunkan kayu ke arah bahu Daniel.
Hap!
Zeya langsung melompat turun dengan gerakan ringan dan cepat. Tepat sebelum kayu itu menyentuh kulit suaminya, ia menepis lengan begal itu dengan satu gerakan presisi, lalu memutar tubuh lawan hingga punggungnya membentur keras ke bodi mobil.
"Siapa kalian! Kenapa mengganggu perjalanan kami?!" teriak Zeya saat melihat seorang begal yang memegang parang maju dengan nekat.
Zeya tak mundur selangkah pun. Ketika mata senjata itu melesat ke arahnya, ia menunduk secepat kilat, memegang pergelangan tangan begal, lalu memutarnya dengan kekuatan penuh, hingga parang itu terlepas dan jatuh ke tanah. Satu tendangan melayang tepat ke dada, membuat orang itu terguling jauh sambil terbatuk-batuk.
Sementara itu, Daniel tak tinggal diam. Pemuda itu mengunci pergerakan dua begal yang tersisa, memanfaatkan celah yang ada saat mereka berusaha menyerang Zeya. Dengan gerakan lincah dan penuh tenaga, dia menjatuhkan mereka satu per satu ke tanah. Kedua utusan Pak Kades membantu menahan begal yang berniat bangkit kembali.
Hanya dalam hitungan menit, kelima begal itu sudah terkapar di aspal, merintih kesakitan dengan wajah babak belur.
Zeya mengibaskan debu di lengan bajunya, napasnya teratur tanpa kelelahan berlebih.
Daniel segera menghampirinya, memeriksa seluruh tubuh Zeya dengan cemas. "Kamu nggak terluka, Sayang?" tanyanya lembut lalu memeluk istrinya erat.
Zeya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja."
"Syukurlah," jawab Daniel sambil tersenyum lega.
Dia lantas menoleh ke arah sopir yang masih terpaku kaget di sisi mobilnya. "Pak, tolong hubungi kantor polisi terdekat. Kita serahkan mereka pada yang berwajib."
Sopir segera mengangguk gemetar, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi polisi terdekat dengan lokasi tersebut.
Beberapa menit kemudian petugas polisi datang, lalu meringkus kelima begal tersebut, membawa mereka naik ke mobil patroli.
Salah seorang petugas menghampiri Daniel dan Zeya. "Mereka adalah komplotan begal yang selama ini menjadi buron. Terima kasih atas bantuan kalian," ucapnya sambil mengangguk hormat.
"Sama-sama, Pak," jawab Daniel dengan hormat pula.
Setelah mobil petugas itu pergi, Pak Unang dan Pak Dadang serentak bertanya, "Sebenarnya kalian berdua ini siapa?"
Daniel dan Zeya saling pandang lalu tersenyum. "Kami bukan siapa-siapa, Pak," jawab keduanya kompak.
Lalu mereka masuk ke dalam mobil, menyisakan dua pria paruh baya yang masih diliputi rasa penasaran. Namun, sesaat kemudian keduanya seolah baru tersadar.
"Tunggu...! Jangan tinggalkan kami...!"
.emaknya datang😁