NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Setelah menempuh perjalanan panjang dari terminal bus, taksi yang membawa Arka dan Sari akhirnya memasuki kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan.

Mobil berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi menjulang tinggi.

Begitu gerbang terbuka, tampak sebuah rumah mewah bergaya kolonial yang berdiri megah dengan halaman rumput yang sangat luas.

Arka mendadak merasa ciut. Ia melirik hoodie kusut dan tas ransel kumalnya, lalu beralih menatap Sari yang menggenggam erat jemari tangannya seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam dada pria itu.

"Tenang, Mas. Ada aku," bisik Sari lembut.

Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu yang luas, seorang wanita lansia berambut sanggul putih dengan gurat wibawa yang kental sedang duduk di sofa beludru.

Di sampingnya, tampak Nanda yang langsung berdiri dengan wajah lega sekaligus tegang.

Nenek menatap tajam ke arah pintu. Namun, pandangannya langsung tertuju pada sosok pria tegap bersahaja yang berjalan di sebelah cucunya.

"Nenek," panggil Sari, melangkah mendekat lalu mencium punggung tangan sang nenek, diikuti oleh Arka yang membungkuk hormat.

"Nenek... kenalkan, ini Arka."

Nenek Maheswara menatap Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang dingin.

"Arka? Lelaki penjual kue yang kamu ceritakan itu?" tanya Nenek, suaranya terdengar datar namun sarat akan penekanan.

"Iya, Nenek. Mas Arka yang sudah menemani dan merawat Sari dengan tulus selama Sari jatuh sakit di rumah sakit kemarin," tegas Sari, pasang badan membela pria yang dicintainya.

Nenek tampak terkejut mendengar pengakuan jujur cucunya.

Keheningan sempat mencekam ruangan itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya Nenek mengetukkan tongkatnya ke lantai sekali.

"Nanda, suruh pelayan siapkan meja makan. Kita bicarakan ini semua sambil makan malam."

Suasana makan malam di kediaman Maheswara terasa begitu formal.

Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar selaras.

Arka berusaha menjaga tata kramanya dengan sebaik mungkin, meskipun ia tahu status sosial mereka bak langit dan bumi.

Setelah hidangan utama selesai disantap, Nenek Maheswara menyeka bibirnya dengan serbet kain, lalu melayangkan pandangan lurus ke arah Arka yang duduk di seberangnya.

"Arka," panggil Nenek tegas. "Aku tidak suka basa-basi. Jawab dengan jujur... apakah kamu benar-benar mencintai cucuku?"

Arka meletakkan sendoknya. Ia menarik napas panjang, menegakkan bahunya, lalu menatap balik sepasang mata tua yang tajam itu dengan pandangan mata yang bersih dan penuh keyakinan.

"Saya sangat mencintai Sari, Nenek," jawab Arka mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Saya tahu siapa diri saya, hanya seorang duda penjual kue sederhana. Tapi kelak, saya berjanji akan menjaga, menghormati, dan membahagiakan Sari dengan seluruh jiwa dan raga saya sendiri."

Sari yang duduk di samping Arka tersenyum haru, jemarinya di bawah meja meremas pelan lutut Arka sebagai bentuk dukungan penuh.

Nenek Maheswara terdiam cukup lama, menakar ketulusan yang terpancar dari rahang tegas dan tatapan mata Arka.

Sebagai wanita yang kenyang makan asam garam kehidupan, ia tahu mana lelaki yang mengincar harta dan mana lelaki yang benar-benar tulus.

"Baik," ucap Nenek akhirnya, membuat atmosfer ketegangan di ruangan itu seketika mencair.

"Aku akan merestui hubungan kalian berdua. Aku sendiri yang akan mengurus dan menikahkan kalian secepatnya."

Sari dan Arka saling berpandangan dengan binar bahagia yang tak terbendung. Namun, kalimat Nenek belum selesai.

"Tapi, ada syaratnya," lanjut Nenek, kembali memasang wajah seriusnya.

"Sari harus tetap menjadi CEO di Maheswara Group. Aku tidak mau bakat bisnisnya hilang begitu saja setelah menikah. Dan untukmu, Arka, setelah menikah nanti, kamu tidak boleh lagi tinggal di kontrakan sempitmu itu. Kamu harus pindah ke rumah baru yang sudah Nenek siapkan untuk kalian berdua di Jakarta."

Arka tertegun sejenak mendengar syarat tersebut.

Menjadi suami dari seorang CEO sukses dan harus tinggal di rumah pemberian tentu merupakan tanggung jawab sekaligus ujian harga diri yang besar baginya. Namun, ia melirik Sari yang menatapnya dengan pandangan penuh harap dan cinta.

Arka mengangguk takzim. "Baik, Nenek. Saya menerima semua keputusan dan syarat dari Nenek, asalkan saya tetap diizinkan untuk mendampingi dan menjaga Sari."

Mendengar jawaban bijak Arka, Nenek Maheswara akhirnya mengulas senyum tipis kelonggaran.

Malam itu, di balik dinding rumah mewah yang megah, sebuah babak baru yang penuh dengan perjuangan dan kebahagiaan resmi dimulai untuk Arka dan Sari.

Setelah perbincangan panjang yang menguras emosi namun berakhir dengan kebahagiaan, jam dinding besar di ruang makan Maheswara telah menunjukkan pukul sembilan malam.

Arka bangkit dari duduknya dengan sopan, merapikan letak pakaiannya, lalu menundukkan kepala takzim di hadapan wanita sepuh yang kini telah membuka pintu restu untuknya.

"Nenek, Nanda... karena hari sudah semakin malam, saya mohon pamit untuk kembali ke rumah kontrakan dulu," pamit Arka dengan nada suara yang sangat santun.

Sari langsung ikut berdiri, mengantarkan langkah kaki Arka menuju ke area teras depan rumah yang berudara sejuk.

Di bawah pendar lampu taman yang temaram, Arka membalikkan badannya, menatap lekat-lekat wajah Sari yang kini tampak jauh lebih segar dan bahagia.

"Sari, besok aku akan kembali ke sini lagi. Kita urus semua berkas dan keperluan pernikahan kita ke KUA," ucap Arka lembut, mengusap sekilas puncak kepala wanita yang paling dicintainya itu.

Mendengar hal itu, Sari tidak bisa menyembunyikan binar tidak sabar di matanya.

Tanpa memedulikan pandangan para penjaga keamanan di depan gerbang, ia melangkah maju dan langsung memeluk erat tubuh tegap Arka.

"Tapi aku ingin ikut sekarang, Mas. Aku mau kita mengurus semuanya berdua," ucap Sari manja, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arka yang hangat.

Arka terkekeh pelan, membalas pelukan itu dengan usapan lembut di punggung Sari untuk menenangkannya.

"Iya, Sayang, kamu pasti ikut. Besok pagi-pagi sekali aku akan ke sini lagi dan tentu saja sambil membawa kue klepon hangat kesukaan kamu untuk sarapan."

Mendengar janji manis itu, Sari mendongak dan mengangguk dengan senyuman paling menawan yang ia miliki.

Setelah kecupan sekilas mendarat di keningnya sebagai tanda perpisahan untuk malam ini, Arka akhirnya melangkah keluar gerbang, membiarkan taksi yang dipesannya membawanya pulang dengan hati yang dipenuhi bunga-bunga asmara.

Sari memandangi kepergian taksi Arka hingga mobil itu benar-benar menghilang di balik tikungan jalan kompleks.

Dengan perasaan yang membuncah oleh rasa syukur, ia membalikkan badan dan melangkah kembali ke dalam rumah mewah tersebut.

Di ruang tengah, Nenek Maheswara masih duduk tenang sambil memandangi cucu kesayangannya yang berjalan masuk dengan langkah riang.

Tanpa aba-aba, Sari langsung berlari kecil dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan sang nenek.

Ia memeluk tubuh ringkih namun berwibawa itu dengan sangat erat, menumpahkan seluruh rasa haru yang membuncah di dadanya.

"Terima kasih, Nenek. Terima kasih banyak sudah mau menerima Mas Arka," bisik Sari dengan suara yang kembali bergetar karena menahan tangis bahagia.

Nenek Maheswara mengusap rambut cucunya dengan penuh kasih sayang, sebuah gurat kelembutan seorang ibu yang jarang ia perlihatkan di depan publik kini terpancar jelas.

"Nenek hanya menginginkan yang terbaik untuk kehidupanmu, Sari," ucap Nenek dengan suara yang dalam dan tenang.

"Nenek sudah melihat banyak jenis manusia di dunia bisnis. Dan malam ini, nenek tahu... Arka adalah lelaki terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk menjagamu. Dia memiliki ketulusan yang tidak bisa dibeli dengan lembaran uang."

Sari mempererat pelukannya, merasa beruntung karena di balik ketegasan neneknya selama ini, ada hati yang begitu besar yang selalu memikirkan kebahagiaannya.

Badai kesalahpahaman telah sepenuhnya berlalu, kini lembaran baru pernikahan yang manis berselimut aroma kue subuh telah siap mereka jelajahi bersama.

Sementara kebahagiaan tengah menyelimuti kediaman Maheswara, di sebuah kafe mewah di pusat kota Jakarta, atmosfer ketegangan yang kontras justru sedang mendidih.

Di sudut ruangan yang agak remang, Marta dan Diana duduk berhadapan dengan wajah yang dipenuhi guratan kekesalan dan kecemasan yang mendalam.

Mereka baru saja menerima kabar dari orang suruhan mereka bahwa Sari telah kembali ke Jakarta dalam keadaan sehat, dan yang lebih mengejutkan, jabatan CEO Maheswara Group masih kokoh berada di tangan wanita itu.

Rencana mereka untuk mendepak Sari saat wanita itu tumbang di rumah sakit tempo hari telah gagal total.

Marta menggebrak meja kaca dengan pelan namun sarat akan kemarahan, membuat cangkir kopi di atasnya sedikit terguncang. "Sial! Perempuan itu benar-benar keras kepala. Aku pikir penyakit tipesnya kemarin bisa membuatnya mundur atau setidaknya dicopot oleh Nenek!"

Diana, yang duduk di hadapannya, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum sinis yang beracun. Sorot matanya memancarkan kedengkian yang amat besar.

"Bukan cuma itu yang harus kita khawatirkan, Marta," ucap Diana, merendahkan volume suaranya namun terdengar sangat tajam. "Informan kita di rumah Nenek bilang, Sari membawa pulang duda miskin penjual kue itu ke Jakarta. Bahkan, Nenek sudah memberikan restu dan mereka akan segera menikah dalam waktu dekat!"

Mendengar hal itu, mata Marta terbelalak tidak percaya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa panik.

Jika Sari menikah dengan Arka dan tetap memegang kendali atas Maheswara Group, maka posisi dan ambisi mereka untuk menguasai aset keluarga besar akan musnah selamanya.

Arka yang tulus dan protektif pasti akan menjadi perisai kuat yang melindungi Sari dari segala trik kotor mereka.

"Kurang ajar! Ini tidak bisa dibiarkan!" bisik Marta dengan gigi yang menggeretak geram.

Ia menatap Diana dengan pandangan mata yang penuh dengan sekongkolan jahat.

"Kita harus melakukan sesuatu agar Sari tidak pernah menikah dengan duda miskin itu!"

Diana mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat ke arah Marta dengan kilat kelicikan yang benderang di matanya.

"Pernikahan mereka belum terjadi. Masih ada waktu untuk menciptakan badai baru. Kita harus mencari cara untuk menghancurkan mereka berdua,"

Di bawah pendar lampu kafe yang temaram, dua wanita yang buta oleh harta dan kekuasaan itu mulai merajut rencana busuk yang baru.

Mereka bersiap menebarkan duri-duri tajam di sepanjang jalan menuju pelaminan yang sedang dirajut oleh Arka dan Sari.

1
Heriyani Lawi
arka kok terkesan TDK tau diri. istrinya seharian kerja, eh bukannya kasian malah minta jatah pdhl tgn dan kaki masih digibs, terkesan sekali egoisnya
my name is pho: namanya lelaki 🤭. kalau sudah ingin tidak bisa di tahan.
😄
total 1 replies
Diah Anggraini
lanjut ya Ka
Eli herlina
sumpah bagus bangets ceritanya👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Diah Anggraini
lamjut ya Ka
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!