"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Darah di Balik Pepohonan
Suara angin yang berhembus melalui celah dahan pohon besar membawa aroma asam yang sangat dikenal oleh Wei Changqing, aroma darah segar manusia yang baru saja ditumpahkan.
Kuda penarik gerobak mulai meringis gelisah, menghentakkan kakinya ke tanah berbatu.
"Hao," kata Changqing dengan suara rendah namun tajam, memotong ocehan Zhou Hao tentang pahlawan persilatan. "Kau tinggal di sini bersama Paman Kusir. Jaga gerobak obat ini dan jangan ke mana-mana."
Zhou Hao terkejut, menatap Changqing dengan bingung. "Eh? Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba wajahmu jadi serius begitu?"
"Kudanya mencium aroma predator atau darah. Mungkin ada macan gunung atau perampok yang sedang menghadang karavan di depan," jawab Changqing masuk akal. "Aku akan maju ke balik tikungan bukit untuk memeriksa keadaan. Kalau dalam lima belas menit aku tidak kembali atau kau mendengar suara siulan sandi sekte kita, segera putar balik gerobak ini menuju pos pengaman terdekat."
"Tunggu, Changqing! Bahaya kalau kau sendirian! Biar aku ikut..."
"Tugas utama kita adalah melindungi pasokan obat medis ini untuk penduduk Kota Lembah Hitam," potong Changqing dengan tatapan mata yang begitu dalam dan dingin hingga membuat Zhou Hao tercekat tak bisa membantah. "Kau murid tingkat Pendekar Menengah Tahap 3, tenaga dalammu cukup untuk melindungi Paman Kusir jika ada musuh yang menyelinap dari belakang. Percayalah padaku."
Tanpa menunggu balasan sahabatnya, tubuh Changqing berkelebat tipis. Ia melompat meninggalkan jalan tanah, menyusup ke dalam semak-semak lebat di sisi lereng bukit dengan gerakan yang sepi dan tanpa suara—seakan-akan ia menyatu dengan bayangan pepohonan.
Melihat kecepatan gerak Changqing yang begitu mulus, Zhou Hao menganga. "Sejak kapan ilmu meringankan tubuh si Changqing jadi selincah hantu begitu?!" gumamnya bingung sambil segera mencabut pedangnya dan berdiri siaga di depan gerobak.
Di balik tikungan bukit, sekitar empat ratus meter dari posisi gerobak, pemandangan kejam terhampar di sebuah jalan pintas yang dikelilingi tebing batu.
Sebuah kereta dagang kecil telah hancur terguling. Dua mayat pengawal karavan tergeletak bersimbah darah dengan luka sabetan golok yang bergerigi. Di tengah jalan raya berdebu itu, berdiri lima orang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam kusam dan tato berbentuk bulan sabit gerhana di leher mereka—tanda pengenal dari komplotan penculik anak Bayangan Gerhana.
Empat anak buah komplotan itu berada di tingkat Pendekar Menengah Tahap 4, sementara pemimpin mereka, seorang pria bermata satu dengan bekas luka bakar di wajahnya, menembus tingkat Pendekar Tinggi Tahap 1. Arah aliran Qi di tubuh mereka berdenyut kotor dan liar, pertanda mereka sering berlatih ilmu hitam dengan menyerap darah atau energi vital korban.
Di dekat kaki pemimpin bermata satu itu, sebuah karung goni tampak bergerak-gerak liar.
Srrk! Robek!
Kain karung itu robek dari dalam. Seorang bocah perempuan berusia sekitar sebelas tahun berguling keluar. Pakaiannya lusuh penuh lumpur, rambutnya kusut, namun sepasang matanya memancarkan kilatan kebencian dan keberanian yang sangat buas seperti anak serigala yang terpojok.
Melihat bocah perempuan itu, jantung Changqing yang mengintip dari atas dahan pohon berdetak lebih cepat.
Itu dia. Baii Ling.
Di kehidupanku yang dulu, batin Changqing miris, bocah yatim piatu ini berhasil diculik dan dibawa ke markas rahasia Bayangan Gerhana. Selama delapan tahun, ia disiksa, dipaksa membunuh sesama anak penculikan, dan dijadikan alat pembantai tanpa emosi.
Ketika ia berhasil memberontak dan membunuh para penculiknya, jiwanya sudah terlanjur gelap. Baii Ling tumbuh menjadi Iblis Wanita Darah Dingin yang membantai tiga sekte lurus hanya karena masalah sepele, memicu perang balas dendam yang menjadi Akar Perang Ketiga.
"Bocah sialan!" geram pemimpin bermata satu sambil menendang perut Baii Ling hingga bocah itu terpental dan batuk darah. "Berani sekali kau menggigit tangan anak buahku sampai putus jarinya! Kalau bukan karena Tuan Muda di markas membutuhkan tubuh bermeridian murni sepertimu untuk ritual pengorbanan bulan depan, sudah kukecup lehermu sekarang juga!"
Meskipun sudut bibirnya berdarah dan tubuhnya gemetar menahan sakit, Baii Ling kecil tidak menangis. Ia malah meludah tepat ke sepatu boot pemimpin penjahat itu.
"Cuih! Biar saja aku mati jadi hantu, aku akan mencekik lehermu saat kau tidur, anjing cacat!" maki Baii Ling dengan suara serak yang penuh amarah murni.
"Bocah cari mati!" Pemimpin bermata satu itu mencabut golok besarnya yang berlumuran darah, mengayunkannya ke arah lengan kiri Baii Ling. "Biar kupotong satu lenganmu supaya kau diam!"
Baii Ling memejamkan matanya, bersiap menerima rasa sakit itu.
Namun, rasa sakit itu tak kunjung datang.
Wesh...
Sehelai daun kering melesat turun dari atas pohon dengan kecepatan yang tak masuk akal. Daun rapuh yang memuat ketajaman Niat Pedang itu tidak mengeluarkan suara gemuruh, namun saat memotong udara, ia setajam pisau lipat.
Tik!
Daun kering itu membentur tepat di pergelangan tangan pemimpin bermata satu—tepat di titik saraf meridian yang mengatur aliran tenaga dalam ke telapak tangan.
"Aaargh!" Pemimpin bermata satu itu menjerit kaget. Seluruh lengan kanannya mendadak mati rasa seperti disengat petir. Golok besarnya terlepas dari genggaman dan jatuh berdenting ke atas batu.
"Siapa di sana?!" teriak salah satu anak buah penjahat itu sambil menghunus pedangnya, menatap liar ke sekeliling pepohonan. "Keluar! Jangan jadi pengecut yang sembunyi di balik pohon!"
Dari balik bayangan dahan pohon besar yang rimbun, sesosok pemuda berjubah abu-abu sederhana melompat turun. Ia mendarat di atas tanah tanpa menimbulkan kepulan debu sedikit pun—sebuah tanda kendali berat badan yang sangat sempurna.
Baii Ling kecil membuka matanya. Melalui pandangannya yang kabur oleh darah, ia melihat punggung seorang pemuda berusia 19 tahun berdiri di depannya. Pemuda itu tidak berbadan besar, pedang di pinggangnya pun terlihat kusam dan murahan. Namun entah mengapa, punggung itu terasa seluas gunung yang mampu menahan runtuhnya langit.
Changqing menatap kelima penjahat itu dengan wajah datar yang teramat tenang. Tangan kanannya bertumpu santai di atas gagang pedang besi hitamnya.
" Lima orang pria dewasa, dengan tenaga dalam tingkat Pendekar Menengah dan Tinggi," kata Changqing dengan suara yang dingin dan bergema, seolah datang dari jurang waktu yang dalam. "Mengeroyok dan menyiksa seorang bocah perempuan yang tak bersenjata di tengah jalan perbukitan..."
Changqing melangkah maju satu langkah. Udara di sekelilingnya mendadak terasa sesak dan berat.
"...Apakah ajaran aliran kalian begitu miskin kehormatan, hingga kalian harus memungut sampah di jalanan untuk merasa kuat?"
Pemimpin bermata satu memegangi pergelangan tangannya yang lumpuh sementara, matanya menatap Changqing dengan campuran amarah dan kewaspadaan. Ia mencoba merasakan tingkat kekuatan Changqing.
"Cih! Cuma bocah ingusan dari tingkat Pendekar Menengah Tahap 3!" ludah pemimpin penjahat itu setelah merasakan batas aura fisik Changqing. Ia langsung tertawa meremehkan. "Bunuh bocah sekte sombong ini! Cincang tubuhnya dan buang ke jurang!"
Keempat anak buah penjahat itu mengaum dan menerjang maju serentak dari empat arah mata angin, mengunci seluruh jalur penghindaran Wei Changqing.
Di belakang Changqing, Baii Ling berteriak serak, "Awas! Mereka licik!"
Namun Changqing tidak mundur sesenti pun. Di dalam sepasang matanya yang tenang, setitik cahaya hijau zamrud menyala begitu redup hingga tak ada yang bisa melihatnya selain dirinya sendiri. Aliran waktu di matanya melambat. Garis-garis lintasan serangan keempat musuhnya terlihat jelas—penuh celah, kaku, dan lambat.
"Empat tarikan napas," batin Changqing sambil menghunus pedang hitamnya yang kusam. "Itu waktu maksimal yang kubutuhkan untuk membereskan sampah seperti kalian."
lanjutkan Thor.....👍👍🙏