"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21 Dokter Adrian
Karena luka di kaki Nadia tidak kunjung membaik akibat dia yang keras kepala menolak berdiam diri, Nenek Lusi melalui telepon memaksa agar Nadia pergi melakukan pemeriksaan intensif ke rumah sakit besar milik salah satu relasi keluarga Wijaya.
"Nadia, Kamu harus segera periksakan kaki kamu itu ke dokter, Nenek tidak mau kaki kamu nanti tambah parah," ucap Nenek Lusi khawatir pada kondisi kaki Nadia yang tak kunjung sembuh.
"Tidak apa-apa Nenek, Tuan Daren kemaren sudah memberi obat buat kaki Nadia ini," Nadia menolak dengan suara sopan.
"Obat dari Daren itu saja tidak cukup, Kamu harus segera periksakan kaki kamu itu ke rumah sakit Medika, Di sana ada dokter keluarga Wijaya yang akan segera menangani luka di kaki kamu itu," Nenek Lusi memerintahkan dengan tegas pada Nadia dan kali ini Nadia tidak bisa mengelak lagi, dia harus menuruti perintah Nenek Lusi walaupun sebenarnya Dia masih bisa bertahan dengan luka itu.
"Baik Nek, saya akan segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kaki saya ini," ucap Nadia lembut membuat Nenek Lusi tersenyum tenang.
Nenek Lusi tidak berhenti di situ saja, Setelah selesai menelpon Nadia, Nenek Lusi langsung menghubungi Daren dengan wajah penuh kekesalan.
Daren yang sedang mengerjakan sesuatu di lap top nya tiba-tiba di kejutkan oleh handphonenya yang berdering, Daren menoleh sekilas pada layar handphonenya itu dan dengan sigap Dia langsung menerima panggilan telepon itu karena yang sedang menelpon dirinya adalah Nenek Lusi.
"Ya Nek, ada apa?" tanya Daren pada Nenek Lusi saat sudah mengangkat telepon dari Neneknya itu.
"Daren, Kenapa kamu tidak bilang pada Nenek kalau Nadia mengalami kecelakaan di kakinya dan kenapa kamu tidak segera membawa Nadia pergi ke rumah sakit Medika untuk segera di obati," Nenek Lusi berkata dengan kesal pada Daren karena tidak memperhatikan luka kaki Nadia dengan serius.
Daren mengambil napas sejenak setelah mendengar Neneknya nyerocos panjang lebar menyalahkan dirinya, Daren sadar kalau semua ini memang salahnya dan Nenek Lusi memang berhak untuk menyalahkan dirinya.
"Nek, Bukannya aku tidak mau membawa Nadia ke rumah sakit, Tapi Nadia tidak mau Nek," ucap Daren.
"Kamu itu kan suaminya Daren....kenapa gak perhatian sama istri."
"Iya Nek maafkan aku Aku yang salah, Nanti aku akan bawa Nadia ke rumah sakit untuk memeriksakan kakinya," ucap Daren mencoba menenangkan Nenek Lusi.
"Sudah terlambat, Nenek sudah menelpon Nadia tadi untuk segera berangkat ke rumah sakit Medika," ucap Nenek Lusi dengan ketus.
"Apa, Nenek sudah menyuruh Nadia pergi ke rumah sakit?" tanya Daren kaget.
"Ya, Dia akan berangkat sebentar lagi," ucap Nenek Lusi sambil menutup teleponnya.
Dengan segera Daren turun dari kamarnya yang ada di lantai dua untuk menemui Nadia.
Daren yang mengetahui hal itu langsung menawarkan diri dengan sangat antusias untuk mengantar Nadia. Namun, Nadia menolak dengan halus namun dingin, "Tuan Daren sibuk dengan urusan kantor. Saya bisa pergi sendiri menggunakan taksi online." Daren hanya bisa menahan dongkol dan rasa bersalahnya saat melihat Nadia pergi sendirian.
Di rumah sakit, Nadia ditangani oleh seorang dokter spesialis ortopedi muda yang sangat tampan, cerdas, dan ramah bernama Dokter Adrian.
Berbeda dengan Daren yang selalu membentak dan ketus, Dokter Adrian memperlakukan Nadia dengan sangat lembut, penuh perhatian, dan bahkan sesekali melemparkan humor kecil yang membuat Nadia merasa nyaman. Dokter Adrian memuji ketegaran Nadia yang menahan sakit tanpa mengeluh, dan diam-diam dokter muda ini mulai tertarik dengan kepribadian Nadia yang anggun dan mandiri.
"Permisi Dokter," ucap Nadia saat akan masuk ke dalam ruangan periksa.
"Ya, Silahkan masuk," ucap dokter muda itu sambil menatap Nadia yang berjalan dengan kaki pincang.
Nadia menarik kursi yang ada di depan meja dokter muda itu, Lalu dia pun duduk di hadapan dokter muda yang bernama Adrian itu.
"Nona Nadia?" tanya Dokter Adrian pada Nadia sambil membaca selembar kertas yang isinya catatan tentang kondisi kaki Nadia yang di tulis oleh perawat asisten Dokter Adrian tadi sebelum Nadia masuk ke ruangan periksa itu.
"Ya Dok," jawab Nadia.
"Kalau di liat dari catatan di sini, luka di kakimu sudah lebih dari tiga hari ini," Dokter Adrian mengerutkan kedua alisnya menatap Nadia lagi.
"Betul Dok."
"Kenapa tidak langsung pada saat setelah kejadian di bawa ke rumah sakit?" tanya Dokter Adrian lagi.
"Waktu itu saya masih kuat Dok dan sebenarnya sampai saat ini juga saya masih bisa tahan karena sudah di olesi obat luar juga," ucap Nadia.
Dokter Adrian mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Nadia "Tapi ini tidak boleh di biarkan terlalu lama juga dan harus cepat di tangani takutnya nanti malah jadi infeksi di kakinya."
"Iya Dokter,"
"Tapi ngomong-ngomong kamu bisa kuat juga ya bertahan sampai berhari-hari kalau orang lain mungkin sudah demam itu," seloroh dokter Adrian sambil tersenyum pada Nadia.
"Dokter bisa saja, Saya bisa kuat karena saya sudah terbiasa dan terlatih untuk tidak manja Dok," Nadia tersenyum pada Dokter Adrian.
"Saya suka wanita yang mandiri kayak kamu, Tidak mudah merengek dan manja," Dokter Adrian kembali berseloroh membuat Nadia tersenyum lagi.
"Oh ya silahkan naik ke atas tempat tidur," perintah Dokter Adrian kemudian pada Nadia.
Nadia berjalan ke arah tempat tidur pasien yang ada di samping kanan meja Dokter Adrian.
Kemudian dengan cekatan Dokter muda itupun memeriksa kaki Nadia yang terluka dan mulai melakukan tindakan pertama dengan membersihkan luka di kaki Nadia itu.
"Sebentar ini agak sakit dan perih, Aku akan bersihkan lukanya dulu dan kalau nanti kamu merasa kesakitan kamu bilang saja," Dokter Adrian mulai menuangkan alkohol di atas selembar kapas lalu dia mulai mengusapkannya ke kaki Nadia yang terluka.
Nadia cuma meringis saja menahan sakit dan perih saat Dokter Adrian mulai membersihkan lukanya itu.
...----------------...
Daren yang di kantornya terus-menerus merasa tidak tenang akhirnya memutuskan untuk menyusul Nadia ke rumah sakit. Dia ingin memberikan kejutan dengan menjemput Nadia pulang.
Namun, begitu tiba di koridor klinik rumah sakit, pemandangan di depannya langsung membuat darah Daren mendidih. Dia melihat Dokter Adrian sedang membantu memapah Nadia keluar dari ruang periksa dengan sangat hati-hati. Jarak mereka cukup dekat, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Daren melihat Nadia tersenyum tulus senyuman yang tidak pernah Nadia berikan lagi padanya.
Daren yang terbakar cemburu langsung melangkah lebar dan menyela di antara mereka. Dengan protektif, Daren menarik pelan lengan Nadia dan merangkul pinggang istrinya itu di depan Dokter Adrian. "Terima kasih, Dokter. Tapi biar saya yang menjaga istri saya sendiri," ucap Daren dengan nada suara yang sengaja ditekankan pada kata 'istri'.
Dokter Adrian tidak gentar. Dia tersenyum profesional namun menatap Daren dengan pandangan yang menantang, "Ah, Anda suami Nona Nadia? Sebagai dokter, saya hanya menyarankan agar Anda lebih memperhatikan istri Anda, Tuan. Luka fisiknya bisa sembuh dengan obat, tapi dia butuh lingkungan yang tidak membuatnya stres agar pemulihannya cepat."
Daren yang terbungkam seketika oleh sindiran Dokter Adrian. Di dalam mobil saat perjalanan pulang, suasana menjadi sangat tegang. Daren cemburu setengah mati tapi tidak punya hak untuk marah, sementara Nadia hanya menatap keluar jendela dengan ekspresi datar, sama sekali tidak memedulikan kegundahan hati Daren.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang