Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: BOCIL BUKAN SEMBARANG BOCIL
Saat Naya melangkah masuk ke dalam kelas 11 IPA 1, di bangku pojok sudah ada Arina yang duduk manis sembari memegang ponsel pintar di tangan kanannya.
“Arinaaaa!” teriak Naya melengking, langsung melambaikan tangannya dengan sangat heboh dari ambang pintu.
“Sini, Cil!” balas Arina ikut melambaikan tangan, memberi kode agar teman sebangku barunya itu segera merapat.Naya berjalan cepat dengan langkah melompat kecil yang khas, lalu menurunkan tas ransel kelincinya di atas kursi.
“Arina sedang apa?” tanya Naya penasaran, matanya bulat menatap layar ponsel Arina yang menampilkan wajah mereka sendiri.
“Ini? Gue lagi selfie, Cil. Ayo sini, selfie bareng gue!” ajak Arina menarik pundak Naya agar masuk ke dalam bingkai kamera ponselnya.
Melihat adiknya sudah mendapatkan teman dan tampak aman, Arka yang sejak tadi berdiri di dekat pintu pun bersuara.
“Abang ke kelas dulu ya, Dek,” pamit Arka sebelum berbalik menuju lantai atas tempat kelas dua belas berada.
“Hu’um, Abang!” jawab Naya singkat dengan senyuman cerah, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel Arina.
Skip beberapa menit kemudian.
Bel masuk berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran pertama dimulai.
Hari ini, mata pelajaran pembuka adalah matematika. Bagi murid lain, matematika mungkin adalah pelajaran yang membosankan dan mengiras pikiran paling menakutkan, tetapi tidak bagi Anaya.
Di kehidupan lamanya, berhitung dan matematika adalah salah satu pelajaran yang paling ia gemari karena baginya itu sangat seru.
Seorang guru wanita paruh baya tampak selesai menuliskan barisan rumus panjang di papan tulis, lalu membalikkan badannya menatap seisi kelas.
“Baik, anak-anak. Dari materi yang baru saja Ibu jelaskan, apa ada yang belum paham?” tanya guru matematika itu dengan nada ramah.
Suasana kelas mendadak hening. Sebagian besar murid memilih menunduk agar tidak ditunjuk ke depan kelas. Namun, di barisan tengah, sebuah tangan mungil mendadak terangkat tinggi ke udara dengan sangat bersemangat.
“Ibu Guru!” seru Naya lantang.Sang guru tersenyum melihat keaktifan murid barunya.
“Iya, Anaya. Apa ada bagian rumus yang belum kamu pahami?”Bukannya mengutarakan ketidakpahaman seperti dugaan guru dan teman-temannya, Naya justru melontarkan sebuah pertanyaan polos yang seketika membuat seisi kelas melenguh malas berjamaah.
“Ibu Guru, kapan kita akan mengadakan ulangan matematika?” tanya Naya super polos dengan mata jernih yang berkedip-kedip penuh harap.
Pertanyaan itu sukses membuat atmosfer kelas yang tadinya tegang berubah menjadi pasrah. Beberapa murid di barisan belakang bahkan langsung menepuk jidat mereka sendiri mendengar hobi aneh anak baru ini.
Sang guru matematika tertegun sejenak sebelum akhirnya terkekeh geli. “Pertanyaan yang bagus. Memangnya Naya mau kalau kita mengadakan ujian sekarang juga?” tanya guru itu sengaja memancing.
“Mauuu, Ibu Guru! Naya suka banyak-banyak!” jawab Naya girang setengah mati, hampir saja melompat dari kursinya karena saking senangnya.
Gadis mungil itu sama sekali tidak menyadari puluhan tatapan lelah dan pasrah yang kini sedang dilayangkan oleh teman sekelasnya. Mereka semua membatin frustrasi, bisa-bisanya ada makhluk seimut boneka tapi hobi meminta ulangan dadakan.
Dari barisan bangku seberang, Reno yang menyaksikan tingkah ajaib Anaya itu tidak bisa lagi menahan tawa ringannya. Ia menyenggol lengan Devan yang sejak tadi diam memperhatikan, lalu berbisik cukup keras.
“Bocil bukan sembarang bocil nih! Kulkas seribu pintu saja dilawan, sekarang satu kelas diajak perang matematika,” celetuk Reno terkekeh geli, membuat Gavin di sebelahnya ikut tersenyum menggelengkan kepala melihat kelakuan ajaib sang Princess.
***
Berkat permintaan Anaya yang sangat di luar prediksi BMKG itu, sang guru matematika akhirnya menyetujui keinginan si bocil imut untuk mengadakan ulangan hari ini.
“Baiklah anak-anak, karena teman kalian menginginkan ulangan, maka hari ini kita ulangan bab yang sudah kita bahas kemarin,” ucap guru itu dengan penuh semangat, langsung bersiap membagikan kertas soal.
“Yahhh, Ibuuu...!” protes murid-murid lain dengan nada pasrah. Respons mereka benar-benar berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan ekspresi Anaya.
“Yeayyy, ulangan!” sorak Naya riang sembari bertepuk tangan kecil.
Melihat binar bahagia di mata jernih Naya, murid-murid lain yang tadinya ingin mengomel langsung mengurungkan niat. Mereka hanya bisa menghela napas panjang sembari menahan gemas melihat tingkah ajaib gadis mungil tersebut.
Skip tiga puluh menit kemudian.
Anaya ternyata sudah selesai mengerjakan seluruh soal ujiannya jauh lebih dulu daripada teman-temannya.
Namun, karena menyadari murid yang lain masih sibuk memeras otak dan berhitung, Naya memilih untuk duduk tenang menunggu di kursinya tanpa menyerahkan lembar jawabannya terlebih dahulu.
Karena suasana kelas yang begitu sunyi dan angin sepoi-sepoi berembus dari arah jendela, mata bulat Naya perlahan mulai memberat hingga akhirnya ia tertidur pulas dengan kepala bertumpu di atas lipatan tangannya.
Guru matematika yang sejak tadi mengawasi kelas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat tingkah ajaib murid barunya itu.
Beberapa menit yang lalu ia begitu menggebu-gebu meminta ulangan, tapi setelah selesai malah enak-enakan tidur di meja.
“Anaya, kamu sudah selesai mengerjakan soalmu?” tanya guru itu memecah keheningan dengan suara lembut agar tidak mengejutkannya.
Anaya yang mendengar namanya disebut langsung terbangun. Ia menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke depan kelas.
“Sudah, Ibu Guru. Ibu Guru mau lihat?” tanyanya sembari mengerjapkan mata bulatnya yang jernih dengan sangat lucu.
“Boleh, sini Ibu lihat,” jawab sang guru tersenyum hangat.
Anaya pun bangkit dari kursi dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan, lalu berjalan ke depan untuk menyerahkan lembar jawabannya kepada sang guru.
Begitu netranya membaca deretan angka di atas kertas tersebut, guru matematika itu seketika dibuat tertegun.
Mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. Semua jawaban yang ditulis oleh Anaya benar seratus persen tanpa ada kesalahan atau coretan sedikit pun! Setelah menguasai keterkejutannya, sang guru hanya bisa tersenyum penuh rasa bangga menatap murid ajaibnya itu.
Sementara itu, Arina yang sejak awal memang sangat membenci pelajaran matematika tampak setengah mati kesulitan saat menjawab soal-soal di kertasnya.
Kepalanya serasa ingin pecah melihat deretan rumus rumit di depannya.
Anaya yang baru saja kembali ke bangkunya langsung menopang dagu, menatap teman sebangkunya yang sedang stres.
“Semangat, Arina!” ucap Naya menyemangati dengan nada suara yang lucu.
Bukannya merasa termotivasi, Arina justru membalas semangat itu dengan sebuah dengusan sebal. Ia melirik Naya dengan tatapan pura-pura galak.
“Gara-gara lo nih, Cil!” ucap Arina kesal namun setengah menahan gemas, membuat Naya hanya bisa memiringkan kepalanya polos karena tidak merasa bersalah.
Skipp
***
Kriinggg!
Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran pertama telah usai dan waktu istirahat yang dinantikan akhirnya tiba.
Semua murid yang ada di kelas 11 IPA 1 mau tidak mau harus menyudahi kerutan di dahi mereka dan segera menyerahkan lembar jawaban matematika ke meja depan.
Arina yang sejak tadi memeras otak dan merasa nilainya akan jelek langsung mengumpulkan kertasnya dengan wajah cemberut maksimal.
“Baiklah anak-anak, jam pelajaran selesai dan silakan beristirahat. Dan ingat, sering-seringlah meminta ulangan seperti Anaya, ya,” ucap sang guru matematika sembari terkekeh geli melihat wajah masam nan pasrah yang ditunjukkan oleh hampir seluruh murid di kelas tersebut.
Begitu langkah guru matematika itu keluar dari pintu kelas, keheningan ruangan langsung pecah oleh riuh keluhan para siswa.
“Wah, si dedek gemas ini benar-benar berbahaya!”
“Iya, sumpah! Tiba-tiba banget pakai minta ulangan dadakan segala, bikin otak gue langsung ngebul!”
“Mana pas minta mukanya polos bener lagi. Mau marah juga rasanya enggak tega kita,” sahut siswa lain frustrasi.
Celotehan dan keluhan teman sekelas Naya terus bersahutan di udara, meratapi nasib kertas ujian mereka yang baru saja dikumpul.
“Fix, nilai gue jelek pasti!”
“Arghhhh, Degemmmmmm!” pekik salah satu siswi gemas setengah mati, menatap ke arah bangku Naya yang masih menampilkan wajah tanpa dosa.
Sementara itu, Anaya yang menjadi pusat kehebohan hanya bisa mengerjapkan mata bulatnya yang jernih.
Anaya sama sekali tidak paham kenapa teman-teman barunya ini tampak begitu tersiksa hanya karena selembar kertas penuh angka.
...****************...
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB 21..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP PAGI DAN MALAM JAM 08.00-09.00 dan 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 08.00-09.00 dan 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
udah bikin satu kelas mikir berjamaah dianya malah anteng anteng aja🤭
Jangan lupa like, komen dan klik favorit yaa🥰
HAPPY READING & HOPE YOU ENJOY GUYSSS💜