Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sore Di Cafe ,Ramalan Tak Terduga
Setelah puas bersenang-senang, kami meluncur ke sebuah kafe tak jauh dari taman hiburan, persis di tepi jalan. Tempatnya terbuka, tenang, diapit bangunan berkaca yang berkilau terkena cahaya sore. Payung putih lebar membentang teduh di atas meja-meja halus, dikelilingi tanaman hijau yang terasa segar. Suasananya santai, bersih, dan terasa mewah tanpa berlebihan.
Aku duduk menikmati segelas jus jeruk dingin, menyeruput perlahan sambil melirik orang-orang lewat di jalan. Rasanya damai sekali, bebas dari segala beban. Tapi di balik ketenangan itu, pikiranku melayang ke sosok pemuda di balik kostum beruang tadi. Besok pasti aku harus mengembalikan hoodie itu, gumamku dalam hati, sambil terus minum sampai gelas itu kosong — rasanya terlalu segar sampai tak terasa habis.
Menoleh ke samping, teman-temanku sibuk dengan dunianya sendiri: Alina dan Liora asyik menatap layar ponsel, sementara Sarah menikmati kuenya sambil sesekali menggeser jari di layar. Aku mengerucutkan bibir sedikit, merasa agak ditinggalkan, lalu tiba-tiba teringat Fara — sudah lama tak melihatnya sejak pulang sekolah, hati mulai terasa gelisah.
Tak lama kemudian mereka berpamitan pulang, melambaikan tangan sambil masuk ke mobil jemputan. Saat aku meraih tas dan hendak berdiri, mataku tertuju ke seberang jalan. Di sana duduk seorang wanita berpakaian jubah cokelat yang sudah agak pudar, warnanya kusam terbakar sinar matahari.
Tanpa ragu aku menyuruh supir menunggu sebentar, lalu memesan sekotak makanan hangat dan air minum sebelum menyeberang. Aku mendekatinya pelan, suaraku lembut: “Bu, tolong terima ini ya.” Sambil menyerahkan makanan, aku juga menyelipkan sedikit uang. Saat dia mendongak, aku terkejut — wajahnya tampak tua, tapi rambutnya masih didominasi hitam, hanya sedikit uban yang terlihat.
Dia menerima dengan senyum tulus, lalu tiba-tiba meraih pergelangan tanganku dengan tangan keriput itu. “Nak, biar aku lihat telapak tanganmu. Aku bisa membaca jalan hidup seseorang.”
Aku mencoba menarik diri dengan sopan, tapi dia sudah memegang erat, matanya menyipit menatap telapak tanganku yang terbuka. Nadanya jadi berat dan serius: “Sebentar lagi ujian besar akan datang. Cobaan akan makin bertubi-tubi, dan kau akan sangat menderita — sumbernya nanti berasal dari laki-laki yang sudah menjadi suamimu.”
Jantungku berdegup kencang, bingung dan sedikit tak nyaman mendengarnya. Sebelum dia melanjutkan, aku menarik tanganku pelan sambil memaksakan senyum, lalu berjalan pergi. Di dalam hati sebenarnya aku tak terlalu percaya hal-hal begini, tapi entah kenapa rasanya mengganjal, membuat pikiran jadi agak kacau. Belum jauh berjalan, suaranya masih terdengar dari belakang: “Tapi jalani saja dengan tabah, nanti semuanya berbuah manis — itulah takdirmu.”
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar, pandanganku jatuh pada hoodie hitam yang masih tergantung rapi. Aku memegangnya, merasakan bahannya sebentar. Sebelum dikembalikan, harus dicuci dulu supaya bersih dan wangi, pikirku, lalu membawanya ke ruang cuci. Sambil menunggu mesin bekerja, aku membuka lemari dapur — ternyata persediaan makanan sudah habis. Tanpa berpikir panjang, aku mulai menyiapkan bahan dan memasak santap malam sendiri.
Baru selesai membereskan segalanya, Fara masuk lewat pintu depan. Aku hendak menyapa, tapi suaraku tertahan melihatnya. Langkahnya berat, bahu terkulai, wajahnya pucat dan lelah seolah menahan rasa sakit yang besar. Dia berjalan melewati ruang tamu tanpa melirik ke mana-mana, lalu langsung naik ke atas dan masuk ke kamarnya, menutup pintu rapat-rapat. Aku hanya memandang dengan bingung. Sudahlah, semoga dia baik-baik saja, mungkin hanya lelah, gumamku menenangkan diri sendiri.
Keesokan harinya di sekolah, saat jam istirahat, Sarah, Alina, dan Liora sibuk bermain bulu tangkis di halaman. Aku duduk menonton sebentar, lalu tanpa berkata apa-apa berjalan pelan meninggalkan mereka. Masuk ke kelas, mengambil hoodie itu dari dalam tasku, lalu berjalan menuju lapangan basket. Benar dugaanku, dia ada di sana , masih bermain sendirian dengan gerakan yang lincah dan tenang.
Aku mendekat, mengulurkan baju itu ke arahnya. Dia berhenti sejenak, menerimanya dengan anggukan kecil. Aku pun berjalan ke pinggir lapangan, duduk di bangku kayu sambil menatapnya kembali bermain, pikiranku melayang ke mana-mana.
Tak lama kemudian dia berhenti, menghampiriku dan berdiri tepat di hadapanku sambil memegang bola basket. “Terima kasih sudah mengembalikannya,” katanya, lalu mengulurkan tangan dengan senyum tipis yang jarang terlihat. “Namaku Fernando. Siapa namamu?”
Aku tertegun sejenak — benar juga, selama ini aku belum sempat bertanya namanya. “Zara,” jawabku pelan sambil menjabat tangannya. Pandangan kami bertemu, saling menatap dalam diam yang terasa lama namun tak canggung.
Namun momen itu tak luput dari mata teman-temanku yang melihat dari kejauhan. Liora menggigit bibir, meremas roknya erat-erat, matanya memancarkan rasa cemburu yang jelas. Alina hanya memandang dengan tatapan iri, sementara wajah Sarah jadi agak muram. Tapi mereka hanya diam, pura-pura tak melihat apa-apa dan kembali melanjutkan permainan, meski hati penuh rasa penasaran.
Saat jam pelajaran kembali dimulai, Liora melirik ke arah Sarah dan Alina, memberi kode mata seolah ingin membicarakan sesuatu. Padahal sebenarnya mereka hanya bertanya-tanya dalam hati: Apa hubungan Zara dengan Fernando ? Tapi tak ada satu pun yang berani bertanya langsung.
Pulang sekolah, saat aku turun dari mobil dan hendak masuk ke rumah, mataku menangkap dua sosok di depan pintu utama: sekretaris Nyonya Elina berdiri di samping Fara. Aku terkejut sedikit, lalu berjalan mendekat. Tapi sebelum sempat bertanya, sekretaris itu sudah berpamitan pergi.
“Ada apa, Kak Fara?” tanyaku dengan penasaran.
Fara menjawab dengan nada datar, seolah tak ada beban: “Bukan masalah besar. Hanya Nyonya Elina mengundangku untuk hadir ke pesta malam ini, katanya aku harus mendampingi Adrian.”
Aku mengangguk lega, baru merasa puas. Dan tepat saat itu, Adrian muncul dari arah tangga — turun dengan langkah tegas, membawa setumpuk dokumen di tangannya, lalu melangkah keluar masuk ke mobilnya tanpa menoleh ke siapa pun. Sudah lama aku tak melihatnya sejak kejadian di mana dia marah besar pada Fara. Sejak itu dia selalu pergi pagi pulang malam, bahkan sering menginap di luar rumah. Baru hari ini dia terlihat kembali singgah sebentar.
Adrian masuk ke dalam mobil, lalu melirik sekilas jam di pergelangan tangannya. Suaranya tenang, wajahnya tetap datar dan dingin seperti biasa.
Yamal yang duduk di kursi pengemudi menoleh sedikit, bicara dengan nada hormat tapi mengingatkan: “Tuan, malam ini jadwalnya harus hadir di pesta bersama Nyonya Fara.”
Adrian hanya mengangguk pelan, tak banyak bicara. Matanya menatap lurus ke luar jendela, seolah pikirannya melayang ke tempat lain — dingin, jauh, tak ada ekspresi yang bisa dibaca siapa pun.
Di tempat lain, Fara baru masuk ke kamarnya. Jantungnya berdegup kencang, rasa cemas, takut, sampai bayangan buruk itu masih terngiang jelas di kepalanya. Dia berdiri terpaku memandang ujung tempat tidur — di sana tergeletak sebuah kotak berisi pakaian yang dikirim langsung oleh Nyonya Elina.
Perlahan dia melangkah mendekat, tangan gemetar sedikit saat membuka tutup kotaknya. Begitu melihat isinya, wajahnya langsung memucat, napasnya tertahan seolah ada yang mencekik pelan di dadanya. Entah kenapa, hanya melihatnya saja sudah membuat rasa trauma itu kembali menjalar ke seluruh tubuhnya.