NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 – Slime Rakus Bernama Pochi

Angin sejuk berembus pelan, menyibakkan dedaunan hijau setinggi manusia yang berdesir lembut. Sinar matahari menembus celah dedaunan pohon raksasa, menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan di permukaan air danau yang tenang.

Haruto masih berdiri terpaku di tepian air, menatap makhluk biru bulat yang baru saja menggigit ujung jarinya. Ia mengibas-ngibaskan tangan sambil meniup bagian yang memerah.

"Aduh... sakit tahu! Kau ini tidak tahu terima kasih ya!"

Sementara itu, slime kecil itu justru memantul-pantul di atas batu datar seolah sedang menari riang.

"Pyoo! Pyoo!"

"Jangan cuma bilang 'pyoo-pyoo'! Kau yang duluan menggigitku tanpa alasan!"

Haruto mengambil sebatang ranting kering di dekat kakinya, lalu mengulurkannya perlahan.

"Nah, dengarkan baik-baik. Kalau kau mengangguk tanda minta maaf, kita damai saja. Tidak perlu bermusuhan."

Slime itu memiringkan tubuh bulatnya ke samping, kepala kecilnya condong bingung.

"Pyu?"

"Jangan pura-pura tidak mengerti!" Haruto menghela napas panjang hingga dadanya terasa lega. "Aku bahkan belum lima menit berada di dunia ini, sudah digigit monster. Benar-benar awal yang menyedihkan."

Ia membuang ranting itu ke semak, lalu duduk di atas batu pipih yang hangat terkena sinar matahari. Belum sempat ia beristirahat sejenak, perutnya kembali berbunyi nyaring meminta isi.

"Kruuuk..."

Haruto memegangi perutnya yang terasa kosong melompong.

"Astaga... lapar sekali rasanya."

Tangannya merogoh saku seragam sekolah yang masih ia kenakan. Jari-jarinya menyentuh bungkusan kertas yang agak kusut. Matanya seketika berbinar terang.

"Syukurlah! Masih ada sisa roti melon yang belum sempat kumakan saat istirahat tadi."

Ia mengangkat roti itu setinggi wajah, seolah memandang harta karun paling berharga di dunia.

"Inilah penyelamat hidupku. Makanan pertama di dunia fantasi."

Baru saja ia membuka bungkusnya dan aroma manis tercium ke hidung...

Blur!

Sesuatu berwarna biru melesat secepat kilat melewati lengannya.

"Hah?!"

Dalam sekejap, roti di tangannya lenyap begitu saja. Di hadapannya kini berdiri slime kecil dengan pipi yang menggembung besar, sisa bungkus roti melayang jatuh ke tanah.

"Mmph... pyoo..."

Haruto membeku. Mulutnya terbuka lebar tak percaya.

"...Kembalikan rotiku!"

"Pyoo!"

Slime itu langsung melompat kabur menuju balik semak-semak, membawa sisa roti berharganya.

"Hei! Berhenti! Itu milikku!"

Haruto tanpa pikir panjang langsung berlari mengejarnya masuk ke dalam hutan lebat.

Kejar-kejaran itu berlangsung cukup lama. Slime kecil itu ternyata jauh lebih lincah dari yang terlihat. Ia melompat tinggi melewati akar pohon yang menjulang, menyelinap cepat di balik rimbunnya tanaman merambat, lalu muncul kembali di batang kayu mati sambil mengunyah sisa rotinya dengan santai.

"Pyoo!"

"Itu makanan penyelamatku! Berikan sedikit saja!"

Haruto melompati batang pohon tumbang yang cukup tebal. Namun kakinya tak sengaja tersangkut akar yang menjulur keluar tanah.

"Whoaa!"

Ia kehilangan keseimbangan dan terguling beberapa meter di tanah berlumut, sebelum akhirnya menghantam semak berduri kecil.

"Aduh... aduh... aduh... lututku, sikuku, punggungku..."

Ia meringis kesakitan sambil perlahan duduk kembali.

Slime itu tiba-tiba berhenti memantul. Ia berbalik perlahan, lalu melompat mendekati Haruto dengan langkah pelan.

"Pyu?"

Haruto mengangkat kepalanya, menatap makhluk kecil itu dengan pandangan curiga.

"Kau datang mau mengejekku ya? Senang sekali melihatku jatuh kan?"

Namun slime itu tidak menjawab. Ia justru mengeluarkan sisa potongan roti terakhir yang masih tersimpan di dalam tubuh gelatinnya, lalu mendorongnya perlahan ke arah lutut Haruto.

Haruto menatap potongan roti itu. Hanya tersisa seukuran dua gigitan kecil.

"...Kau menyisakan ini untukku?"

"Pyoo," jawab slime itu lembut, seolah mengangguk pelan.

"Dasar rakus," gumam Haruto sambil tersenyum tipis. Rasa kesal di hatinya perlahan luntur berganti rasa hangat yang aneh. "Sudahlah. Setidaknya kau tidak pelan-pelan menghabiskannya semua."

Ia mengambil potongan roti itu dan memakannya perlahan. Rasa manis dan lembut di lidah membuat rasa laparnya sedikit berkurang, meski belum sepenuhnya hilang.

Slime itu masih berdiri di dekatnya, menatap dengan mata bulat berbinar. Haruto mengulurkan tangannya perlahan.

"Kita mulai dari awal ya. Namaku Haruto Kazehara."

Slime itu memantul satu kali pelan.

"Pyoo."

"Hmm..." Haruto menunduk berpikir sejenak. "Aku tidak tahu nama slime dalam bahasa monster di sini. Kalau begitu, aku beri nama baru ya."

Ia menunjuk makhluk kecil itu dengan jari telunjuknya.

"Mulai sekarang namamu Pochi. Cocok kan dengan tubuhmu yang bulat gemuk?"

Slime itu diam beberapa detik, seolah merenungi nama itu. Lalu tiba-tiba melompat sangat tinggi hingga menyentuh daun rendah di atasnya.

"Pyoooo! Pyoo!"

"Wah, sepertinya kau suka ya," Haruto tertawa lepas. "Mulai sekarang kita teman seperjalanan."

Begitu kata "teman" keluar dari mulutnya, Pochi langsung melesat naik dan mendarat tepat di atas kepala Haruto.

"Hei! Apa-apaan ini!"

Tubuh lunak Pochi menutupi seluruh wajahnya, membuat pandangannya gelap gulita.

"Aku tidak bisa melihat! Turunlah dulu!"

Haruto panik sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Untungnya Pochi segera melompat turun dan mendarat di bahu kanannya dengan santai.

"Pyoo."

"Kau memang makhluk paling aneh yang pernah kutemui," keluh Haruto sambil tersenyum pasrah.

Mereka pun melanjutkan perjalanan perlahan menembus hutan lebat. Belum berjalan jauh, telinga Haruto tiba-tiba menangkap suara geraman rendah yang berat.

Grrrr...

Haruto langsung berhenti melangkah. Jantungnya seketika berdegup kencang.

"Pochi... kau dengar itu?"

Pochi juga berhenti memantul, tubuhnya menegang sejenak di bahu Haruto.

Suasana hutan yang tadi hidup dan riuh berubah seketika menjadi sunyi senyap. Burung-burung yang tadi berkicau riang kini terbang menjauh dengan sayap yang berdesir cepat. Daun-daun bergoyang pelan seolah menahan napas. Angin yang tadi sejuk kini terasa dingin menusuk tulang.

Lalu...

Dari balik rimbunnya semak berduri dan pohon besar, muncul sesosok makhluk raksasa.

Itu adalah seekor serigala hitam sebesar sapi dewasa. Bulu-bulannya tampak kasar dan hitam pekat seperti malam tanpa bintang. Matanya menyala merah menyala penuh amarah, taringnya panjang dan tajam berkilauan di bawah cahaya matahari. Di sekujur tubuhnya, terdapat garis-garis bercahaya berwarna ungu gelap yang berdenyut perlahan seperti denyut nadi.

Haruto menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa lemas seketika.

"Itu... itu apa..."

Serigala itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, lalu menggeram keras mengguncang tanah di bawah kaki mereka.

"GRAAAARRR!"

Haruto langsung berbalik badan tanpa berpikir dua kali.

"Lariiiii!"

Ia berlari sekuat tenaga memacu kakinya yang masih terasa lelah. Pochi melompat turun dari bahunya dan berlari memantul-pantul tepat di sampingnya.

"Hari pertamaku di dunia ini sudah dikejar monster buas! Ini sama sekali bukan isekai impian yang kubaca di novel!"

Serigala itu mengejar dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap kali kakinya menghentak tanah, terdengar suara berat yang mendekat. Dalam hitungan detik, jarak antara mereka tinggal beberapa meter saja. Bau anyir dan napas panas makhluk itu sudah mulai tercium di belakang lehernya.

Haruto melirik ke samping dan melihat sebuah pohon besar dengan dahan yang cukup rendah.

"Aku harus memanjatnya! Itu satu-satunya jalan!"

Ia melompat setinggi mungkin dan tangannya berhasil mencengkeram dahan kayu itu dengan kuat. Namun...

Krek!

Suara kayu retak terdengar jelas. Dahan itu ternyata sudah lapuk dimakan usia.

"Aaaaaaaaa!"

Haruto jatuh telentang ke tanah yang keras. Punggungnya terasa nyeri hebat.

Serigala hitam itu sudah berdiri tepat di hadapannya, membuka mulut lebar siap menerkam. Haruto memejamkan mata erat, pasrah pada nasibnya.

"Selesai sudah hidupku di dunia baru ini..."

Namun tiba-tiba...

"PYOOOO!"

Sebuah suara melengking terdengar di udara. Pochi melompat setinggi-tingginya dan mendarat tepat di wajah serigala itu.

Plak!

Serigala itu panik seketika. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan liar, mengaum bingung karena tubuh lunak Pochi menempel erat tepat di hidung dan matanya, menutup seluruh pandangannya.

Haruto melongo tak percaya.

"Pochi?!"

"Pyoooo! Pyoo!"

Pochi terus bergerak lincah di wajah makhluk raksasa itu, membuat serigala itu makin bingung dan marah namun tak bisa berbuat apa-apa.

Kesempatan emas itu tidak disia-siakan Haruto. Ia segera bangkit berdiri, meraih tubuh Pochi dengan cepat, lalu berlari kembali sekuat tenaga.

"Ayo kabur sekarang juga!"

Mereka berdua kembali berlari menembus belantara hutan yang tak berujung. Di belakang mereka, raungan kemarahan serigala hitam itu terus menggema, memecah keheningan hutan.

Petualangan Haruto di dunia sihir ternyata baru saja dimulai, dan hari pertamanya sudah dipenuhi kekacauan yang bahkan jauh lebih gila daripada semua cerita isekai yang pernah ia baca. Namun ia belum tahu, di balik pepohonan gelap yang semakin lebat itu, sepasang mata lain sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan penuh rasa ingin tahu—dan bukan sekadar satu pasang mata.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!