Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Ketagihan
Chantika sedikit terkejut mendengar pertanyaan Enzo. Ia tak menyangka pria di hadapannya menyadari hal itu.
"Aku didiagnosis menderita galaktorea," jawab Chantika akhirnya.
"Galaktorea?" Enzo mengernyit. "Apa itu?"
"Galaktorea adalah kondisi yang menyebabkan seorang wanita bisa mengeluarkan ASI meski belum pernah hamil atau melahirkan."
Enzo mengangkat sebelah alis. "Ada kondisi seperti itu?"
Chantika mengangguk. "Benar. Kata dokter, penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena gangguan hormon."
"Begitu rupanya." Enzo terdiam sejenak sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. "Tapi... aku suka aroma dan rasanya."
Mata Chantika langsung membulat. "Kau... meminumnya?"
Enzo tidak menjawab. Namun, senyum tipis yang muncul di wajahnya sudah menjadi jawaban.
"Itu belum tentu aman dikonsumsi. Jangan sembarangan."
Bukannya menjauh, Enzo justru beringsut mendekat.
Jantung Chantika kembali berdegup lebih cepat.
"Aku baik-baik saja setelah meminumnya," bisik Enzo pelan.
"Kau... mesum."
Chantika mendorong dada Enzo dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Namun, pria itu malah terkekeh pelan. "Aku hanya mesum pada Nyonya Enzo."
"Aku belum menjadi istrimu."
"Belum."
Enzo mengangkat dagu Chantika perlahan menggunakan ibu jari dan telunjuknya hingga tatapan mereka bertemu.
"Tapi aku sudah menjadi milikmu."
Chantika terdiam.
Enzo menatapnya beberapa saat, lalu tanpa aba-aba pria itu melahap bibir Chantika agresif penuh gelora. Perempuan itu membulatkan matanya. Ia hendak mendorong Enzo, namun entah mengapa ciuman itu malah membuat darahnya mengalir deras. Bahkan ia tak sanggup menolaknya.
Saat bibir mereka terpisah, Enzo berbisik dengan suara rendah dan berat. "Kau harus bertanggung jawab..."
Tatapan Chantika bergetar.
Enzo melanjutkan, "...karena telah membuatku ketagihan."
"Enzo...."
Enzo kembali melum mat bibir Chantika. Kali ini lebih lembut tapi tetap saja menggebu-gebu. Ia mendorong tubuh wanita itu perlahan tanpa melepaskan ciumannya hingga Chantika berada di bawah kungkungannya.
"Apa yang terjadi?" batin Chantika. "Kenapa aku gak bisa menolaknya? Aku seolah tenggelam dalam gelora hasratnya."
Suara desahan lolos dari mulut Chantika kala Enzo mengecup dan menyesap lehernya. Jantungnya berlarian, tubuhnya seperti terbakar, gelisah dan nikmat bercampur menjadi satu saat pria itu menghisap sumber kehidupan anak mereka kelak.
"Enzo..."
Tanpa sadar ia mendesahkan nama itu. Menjambak rambut pria yang yang begitu serakah menghisap cairan putih darinya.
"Kau membuatku gila," bisik Enzo dengan suara serak dan dalam.
Chantika menggigit bibirnya agar suara laknat itu tak lolos dari bibirnya kala pria itu menghujamnya tanpa ampun.
"Keluarkan suaramu... Sayang. Aku ingin .. mendengarnya."
Suara pria itu tersendat-sendat karena terbakar api hasrat yang membakar tubuhnya.
"En-Enzo... Ahh..."
***
Sementara itu, di ruang kontrol CCTV, operator dan petugas keamanan telah berganti shift. Namun, Kepala Keamanan dan Manajer Hotel masih bertahan di ruangan itu.
Wajah keduanya tampak kuyu. Lingkaran hitam mulai menghiasi bawah mata mereka karena semalaman berjaga, terus mengawasi layar yang menampilkan pintu kamar Tuan Enzo.
"Masih belum ada yang keluar dari kamar Tuan Enzo?" tanya Manajer Hotel sambil menahan kuap.
"Belum, Pak," jawab operator.
Manajer Hotel mengembuskan napas pelan.
"Bagaimana dengan perempuan yang mengaku mencari kakaknya semalam?"
Petugas keamanan membuka rekaman dan laporan yang baru dibuat.
"Perempuan itu juga belum keluar, Pak."
"Masih di kamar Tuan Bryan?" tanya manager hotel.
"Benar, Pak."
Ruangan kembali hening.
Kepala Keamanan menyandarkan tubuhnya di kursi. "Semalam ada dua wanita datang bersama. Sekarang masing-masing berada di dua kamar yang berbeda, dan keduanya belum juga keluar."
"Menurut kalian, apa ada yang tidak beres?" tanya Manajer Hotel.
Operator saling berpandangan dengan petugas keamanan sebelum menjawab hati-hati.
"Kalau melihat rekaman CCTV, perempuan yang masuk ke kamar Tuan Bryan keluar dalam keadaan sempoyongan. Setelah itu dia masuk ke kamar Tuan Enzo."
"Sedangkan perempuan satunya..." lanjut petugas keamanan, "...masuk sendiri ke kamar Tuan Bryan dan sampai sekarang belum keluar."
Manajer Hotel mengusap dagunya. "Jangan membuat kesimpulan dulu."
"Baik, Pak."
"Tapi satu hal yang membuatku heran..." gumamnya pelan. "Selama bertahun-tahun, belum pernah ada wanita yang bermalam di kamar Tuan Enzo."
Kepala Keamanan mengangguk. "Itu juga yang membuat kami tidak berani bertindak gegabah."
Manajer Hotel kembali menatap monitor. "Kita tunggu saja. Begitu salah satu pintu itu terbuka, segera laporkan kepadaku."
"Baik, Pak."
***
Di kamar Enzo...
"Su-sudah... aku harus pulang," ucap Chantika dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur sambil mendorong dada Enzo yang hendak kembali mendekatinya.
"Sekali lagi," bujuk Enzo.
"Tidak," tolak Chantika cepat. Wajahnya kembali memerah. "Kau hampir meremukkan tulang-tulangku. Apa kau mau membuatku gak bisa bangun dari ranjang?"
Enzo tersenyum tipis, lalu mengecup bibir Chantika sekilas. "Baiklah." Ia akhirnya beranjak duduk. "Kita mandi bareng."
"Tidak." Chantika memalingkan wajahnya yang memerah.
Ia membayangkan Enzo kembali mencumbunya di dalam bathtub atau... di bawah guyuran air shower.
"Tenang saja, aku gak akan mengganggumu lagi. Kita beneran mandi," kata Enzo seolah bisa membaca pikiran Chantika.
Ia membungkuk hendak menggendong Chantika.
"Aku bisa sendiri," kata Chantika buru-buru.
Namun Enzo mengabaikannya. Pria itu mengangkat tubuh Chantika dengan mudah.
"Enzo!"
Refleks Chantika melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu agar tidak terjatuh. Wajahnya memanas karena malu karena tubuh polosnya terekspos.
Enzo berbisik. "Jangan malu. Kita sudah sama-sama saling melihat tanpa sensor bukan?"
"Kau..." Chantika memukul ringan dada pria itu.
Setelah masuk ke kamar mandi, Enzo benar-benar menepati janjinya. Ia menurunkan Chantika ke dalam bathtub berisi air hangat, sedangkan dirinya mandi di bawah pancuran shower tanpa malu sedikit pun.
Meski berusaha tidak menatap pria itu, mata Chantika sulit dikontrol. Beberapa kali ia melihat tubuh proporsional Enzo. Dada bidang dengan otot padat, lengan kokoh, dan perut delapan pak yang tercetak jelas. Dan pinggang rampingnya...
"Dia terlihat makin seksi saat berada di bawah pancuran." Chantika menggigit bibirnya.
Pagi ini ia sudah meraba dan merasakan dada serta perut yang dipenuhi otot itu. Tapi entah kenapa ia masih menginginkannya, ingin merasakan kulit hangat pria itu.
"Astaga, apa yang kupikirkan?" Chantika menggeleng cepat berusaha membuang pikiran kotornya.
Beberapa saat kemudian, Enzo telah selesai mandi dan mengenakan bathrobe. Rambutnya yang masih sedikit basah membuat penampilannya tampak lebih segar.
"Dia semakin tampan dan seksi jika seperti itu." Lagi-lagi Chantika tak bisa mengontrol mata dan pikirannya. "Kenapa aku jadi musum begini? Ya Tuhan..."
"Jangan lama-lama mandinya," kata Enzo sebelum keluar dari kamar mandi.
"Hm," jawab Chantika singkat.
Setelah Enzo menghilang di balik pintu kamar mandi, Chantika bermaksud keluar dari bathtub. Tapi—
"Auwh..."
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua pertemuan direncanakan. Ada yang lahir dari kekacauan, tetapi justru menjadi awal kebahagiaan."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.