NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Harga Diri yang Terjual

Malam itu, hujan turun sangat deras di sudut ibu kota, seolah-olah langit sedang ikut menangis meratapi nasib sial yang menimpa Viona. Di dalam sebuah gang sempit yang gelap dan becek, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu berlari tanpa arah. Napasnya tersengal-sengal, sementara air hujan melarutkan air mata yang terus mengalir di pipinya yang pucat.

Di belakangnya, sayup-sayup terdengar suara langkah sepatu bot yang berat disertai teriakan kasar beberapa orang pria.

"Jangan lari kamu, jalang kecil! Bayar utang ayahmu!" teriak salah satu pria dengan suara serak yang mengerikan.

Viona mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa perih di kakinya yang lecet karena hanya mengenakan flat shoes murah. Pikiran gadis itu kacau balau. Ayahnya yang telah meninggal dunia ternyata meninggalkan warisan berupa utang judi sebesar ratusan juta kepada rentenir kelas kakap. Tadi sore, para penagih utang itu datang ke rumah petak mereka, mengacak-acak isinya, dan mengancam akan menghabisi nyawa ibunya yang sedang sakit keras jika utang itu tidak dilunasi malam ini juga. Demi melindungi ibunya, Viona sengaja memancing para preman itu untuk mengejarnya ke luar rumah. Namun sekarang, dia sendiri terjebak dalam keputusasaan yang teramat sangat.

Tuhan, tolong aku... Siapa saja, tolong aku,jerit Viona dalam hati.

Langkah Viona mendadak terhenti ketika dia keluar dari gang dan menembus jalanan raya utama. Di depannya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan sedang. Karena panik dan pandangan yang buram akibat air hujan, Viona tidak sempat menghindar. Dia justru merentangkan kedua tangannya di tengah jalan, mencoba menghentikan kendaraan tersebut sebagai harapan terakhirnya.

CIIIITTTTT!

Suara berdecit nyaring dari ban mobil yang bergesekan dengan aspal basah memecah keheningan malam. Mobil mewah bermerek Rolls-Royce itu berhenti tepat beberapa sentimeter di depan lutut Viona yang gemetar. Tubuh Viona yang lemas seketika limbung dan jatuh terduduk di atas aspal yang dingin.

Di dalam mobil, seorang pria yang duduk di kursi belakang mendengus kesal karena guncangan rem mendadak tersebut. Pria itu adalah Arkan Mahendra, seorang CEO muda berusia dua puluh sembilan tahun yang terkenal kejam, dingin, dan bertangan dingin di dunia bisnis. Wajahnya yang setampan dewa Yunani tampak mengeras, memancarkan aura dominan yang mengintimidasi siapa saja.

"Ada apa, Doni?" tanya Arkan dengan suara berat dan datar, tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya.

"Maaf, Tuan Arkan. Ada seorang wanita yang tiba-tiba menghadang mobil kita. Sepertinya dia hampir pingsan," jawab sang sopir pribadi dengan nada cemas.

Arkan menurunkan sedikit kaca mobilnya. Melalui celah sempit itu, tatapan matanya yang tajam dan sedingin es menangkap sosok seorang gadis yang basah kuyup di bawah guyuran hujan. Gadis itu berwajah oval, dengan rambut panjang yang menempel di lehernya, dan mata bulat yang memancarkan ketakutan yang mendalam. Di saat yang sama, Arkan melihat tiga orang pria berwajah sangar berlari keluar dari gang, bersiap untuk menyeret gadis itu.

Viona yang melihat ada celah harapan, merangkak mendekati pintu mobil belakang. Dia mengetuk kaca mobil dengan tangan yang gemetar hebat.

"Tolong... saya mohon, tolong saya," bisik Viona parau, berharap sang pemilik mobil bisa mendengarnya dari balik badai. "Mereka akan membunuh saya..."

Arkan memperhatikan jemari gadis itu yang memutih karena kedinginan. Biasanya, Arkan tidak pernah peduli dengan urusan orang lain. Baginya, manusia hanyalah bidak catur yang bergerak sesuai keuntungan bisnis. Namun, entah mengapa, ada sesuatu pada tatapan mata gadis itu—sebuah keputusasaan yang murni—yang tiba-tiba memicu rasa penasaran di benak Arkan yang mati rasa akibat pengkhianatan masa lalu.

"Buka pintunya," perintah Arkan singkat.

Doni terkejut, namun segera menekan tombol pembuka kunci. Viona tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia membuka pintu mobil dan menyusup masuk ke dalam kabin mobil yang hangat dan beraroma parfum maskulin yang sangat mahal. Begitu pintu tertutup rapat, mobil itu langsung melesat membelah jalanan, meninggalkan para rentenir yang memaki di belakang.

Viona duduk meringkuk di lantai mobil, tidak berani duduk di atas jok kulit yang mewah karena tubuhnya yang kotor dan basah kuyup. Dia menangis sesenggukan, memeluk lututnya sendiri, mencoba menetralisir rasa takut yang masih tersisa.

"Sudah aman. Sekarang, keluar dari mobilku," suara dingin Arkan memecah keheningan di dalam kabin.

Viona mendongak. Untuk pertama kalinya, matanya bertemu dengan manik mata hitam kelam milik Arkan. Detak jantung Viona seakan berhenti sedetik. Pria di hadapannya ini begitu tampan, namun tatapannya sangat tidak bersahabat.

"T-Tuan... tolong saya. Saya tidak bisa turun di sini. Mereka pasti masih mencari saya dan ibu saya," ratap Viona dengan suara bergetar. "Saya akan melakukan apa saja, asal Anda menyelamatkan saya dan ibu saya dari rentenir itu. Tolong..."

Arkan menatap Viona dari atas ke bawah. Meskipun tertutup pakaian basah yang melekat di tubuhnya, Arkan bisa melihat lekuk tubuh gadis itu yang indah dan proporsional. Wajah polos Viona yang tanpa riasan justru memancarkan kecantikan alami yang langka. Sebuah seringai tipis yang sarat akan niat tersembunyi muncul di sudut bibir Arkan.

Pria itu mematikan tabletnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Viona. Jarak mereka begitu dekat hingga Viona bisa merasakan embusan napas hangat Arkan yang kontras dengan tubuhnya yang kedinginan.

"Melakukan apa saja, katamu?" tanya Arkan dengan nada meremehkan. "Kamu tahu siapa aku? Aku tidak memberikan tumpangan gratis, apalagi perlindungan cuma-cuma."

"Saya tahu... tapi saya tidak punya apa-apa lagi sekarang," tangis Viona pecah. "Hanya nyawa dan... diri saya."

Arkan terkekeh sinis. Suaranya terdengar seksi namun mematikan. "Dirimu? Baik. Kebetulan sekali, aku sedang membutuhkan sesuatu untuk memuaskan obsesiku, sebuah mainan yang bisa mendengarkan semua perintahku tanpa bantahan. Aku tawarkan sebuah kesepakatan gila padamu."

Viona menahan napasnya. "Kesepakatan... apa, Tuan?"

Arkan mengulurkan jari telunjuknya, mengangkat dagu Viona agar gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang dominan.

"Jadilah wanita simpananku. Tanda tangani kontrak eksklusif denganku. Aku akan melunasi semua utang keluarga itumu, membiayai pengobatan ibumu di rumah sakit terbaik, dan menjamin keselamatan kalian ." Arkan menjeda kalimatnya, tatapannya menggelap dipenuhi gairah yang terpendam. "Tapi imbalannya, tubuhmu, waktumu, dan kebebasanmu adalah milikku sepenuhnya. Kamu harus siap melayaniku kapan pun aku menginginkannya di apartemenku."

Bagai disambar petir di siang bolong, Viona tertegun. Menjadi wanita simpanan? Menjual harga dirinya kepada seorang pria asing demi uang? Hati nurani Viona menjerit menolak. Namun, bayangan wajah ibunya yang pucat dan todongan senjata tajam para rentenir kembali berputar di otaknya. Jika dia menolak, besok mungkin dia hanya akan melihat jasad ibunya.

Dunia ini kejam, dan Viona dipaksa untuk menjadi lebih kejam pada dirinya sendiri.

Dengan air mata yang mengalir semakin deras, Viona memejamkan mata erat-erat. Dia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, mengubur dalam-dalam harga diri yang selama ini dia jaga dengan baik.

"Baik... saya menerima kesepakatan itu, Tuan," bisik Viona lirih, menerima takdir kelam yang baru saja dia pilih.

Arkan tersenyum puas. Dia melepaskan cengkeramannya pada dagu Viona. "Pilihan yang cerdas. Mulai malam ini, kamu adalah milikku, Viona."

Mobil Rolls-Royce itu pun berbelok, membelokkan arah menuju ke sebuah gedung pent-house mewah di pusat kota, tempat di mana malam pertama yang penuh gairah terlarang dan air mata akan segera dimulai.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!