Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pagi hari di Pondok Pesantren Al Ikhlas dimulai dengan riuh rendah suara ribuan santri yang bersiap untuk setoran hafalan dan kegiatan madrasah.
Namun, kesibukan di luar sana terasa sangat kontras dengan atmosfer dingin yang masih membekukan bagian dalam ndalem.
Diaz membuka kelopak matanya perlahan. Pancaran sinar matahari pagi yang bersih menembus kaca jendela, menyiram kamar utama dengan kehangatan.
Ia mendudukkan diri di tepi ranjang. Kali ini, kepalanya tidak lagi seberat kemarin, dan rasa lemas di tubuhnya berangsur runtuh.
Kondisi fisiknya terasa jauh lebih segar, selaras dengan keberanian di dalam dadanya yang kian solid.
Diaz tahu, ia tidak bisa terus bersembunyi di balik pintu ini.
Di sudut ruangan, Ganda rupanya sudah terjaga lebih awal.
Pria itu tampak sangat rapi dan berwibawa mengenakan kemeja formal yang dibalut jas semi-kasual gelap.
Begitu melihat Diaz bangkit, Ganda melangkah mendekat dengan sepasang mata yang menyiratkan ketegasan.
"Ayo bersiap, Diaz. Kita pergi sekarang," ajak Ganda, suaranya terdengar berat dan penuh keyakinan.
Diaz mengernyitkan dahi pelan. "Ke mana?"
Ganda menatap lurus ke dalam manik mata istri pertamanya.
"Hari ini kita ke Malang Kota. Kita menuju rumah masa kecilmu. Aku akan bersamamu menyelesaikan semua teror dari ibu tirimu dan membereskan urusan utang-piutang peninggalan almarhum ayahmu. Semuanya harus selesai hari ini."
Diaz tertegun sejenak. Ada desiran aneh yang menyergap dadanya melihat bagaimana pria di hadapannya ini begitu siap menjadi tameng untuk badai hidupnya.
Tanpa banyak bicara, Diaz mengangguk patuh dan segera bersiap.
Setengah jam kemudian, Ganda menuntun Diaz keluar menuju halaman ndalem, tempat mobil hitam miliknya sudah terparkir rapi.
Diaz berjalan dengan kepala tegak, menolak terlihat lemah di lingkungan asing itu.
Namun, langkah mereka mendadak terhenti tepat di samping pintu kemudi.
Laura rupanya sudah berdiri di sana, menghadang jalan mereka.
Perempuan itu sudah berdandan sangat rapi dengan gamis modern yang anggun dan riasan wajah penuh, seolah-olah bersiap untuk pergi jauh.
Dengan raut wajah yang sengaja dibuat manja sekaligus menuntut, Laura langsung menggelayuti lengan Ganda sekilas sebelum dilepaskan secara halus oleh suaminya.
"Mas Ganda mau ke kota, kan? Aku ikut! Pokoknya aku harus ikut hari ini. Aku kan juga istrimu, Mas! Enggak adil kalau aku terus yang ditinggal di pondok!" cerocos Laura dengan nada merengek yang dipaksakan.
Diaz yang berdiri di sisi lain hanya bersedekap dada, menatap Laura dengan pandangan sedingin es, enggan mengeluarkan energi untuk meladeni madunya.
Tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya, Ganda langsung menepis harapan Laura.
Ia menatap istri keduanya itu dengan pandangan yang teramat dingin dan datar.
"Tidak bisa, Laura. Ini urusan keluarga Diaz, bukan urusanmu. Kamu tinggal di pondok saja hari ini," larang Ganda dengan kalimat yang pendek namun mutlak, memutus kalimat bantahan yang hendak keluar dari bibir Laura.
Ganda berbalik, membukakan pintu penumpang depan untuk Diaz dengan sopan, memastikan istri pertamanya masuk dengan aman sebelum ia sendiri berputar ke kursi kemudi.
Laura yang ditinggalkan begitu saja di sisi mobil seketika mematung.
Wajahnya yang penuh riasan berubah menjadi merah padam karena menahan malu dan dongkol yang luar biasa di depan beberapa santri yang kebetulan lewat.
Ia menghentakkan kakinya dengan keras ke tanah, tangannya mengepal kuat menatap kaca mobil yang tertutup rapat.
Brmmm!
Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam dari Laura yang tertinggal di halaman pondok, Ganda langsung menginjak pedal gas.
Mobil hitam itu bergerak mulus, melaju membelah jalanan raya menuju arah Malang Kota, membawa Diaz kembali untuk menghadapi neraka masa lalunya—kali ini, dengan seorang anak kiai di samping kemudinya.
Mobil SUV hitam milik Ganda akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah megah di kawasan elit Malang Kota.
Rumah itu berarsitektur mewah, namun kini suasananya terasa suram dan gersang—mencerminkan kekacauan yang terjadi di dalamnya.
Begitu Diaz membuka pintu dan turun dari mobil, pintu utama rumah megah itu mendadak terbuka dengan kasar hingga membentur dinding.
Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat.
Ibu tiri Diaz langsung keluar dari dalam rumah dengan wajah berang, matanya melotot tajam bak kesetanan begitu melihat sosok anak tirinya berdiri di sana.
Tanpa basa-basi dan tanpa memedulikan keberadaan Ganda, perempuan itu langsung memaki dengan suara melengking tinggi, memecah keheningan kompleks.
"Dasar anak kurang ajar! Kamu sengaja mau bikin Mama mati jantungan, hah?! Kabur dari pernikahan dan bikin keluarga Bramasta ngamuk! Kamu mau kita semua jadi gelandangan?!"
Kemarahan yang memuncak membuat perempuan itu kehilangan akal sehat.
Dengan penuh kebencian, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara dan melayangkannya dengan kecepatan penuh, siap menampar wajah Diaz dengan sangat keras.
Plak!
Suara hantaman kulit terdengar, namun bukan mengenai pipi mulus Diaz.
Di detik terakhir, sebuah tangan yang kokoh bergerak secepat kilat memotong jalur tamparan itu.
Tangan ibu tiri Diaz dicengkeram dengan sangat kuat tepat di udara oleh Ganda.
Pria itu berdiri pasang badan di depan Diaz, menjadikannya tameng hidup.
Ganda menatap perempuan paruh baya itu dengan tatapan mata yang teramat tajam dan dingin—sorot mata seorang suami yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menyentuh istrinya.
Suasana di halaman rumah itu mendadak membeku.
Ibu tiri Diaz tertegun, urat-urat tangannya yang terkunci dalam cengkeraman Ganda terasa linu.
Dengan gerakan yang tenang namun sarat akan penekanan kekuatan, Ganda perlahan melepaskan tangan ibu tiri Diaz hingga terhempas ke samping.
Pria dengan setelan jas formal itu langsung mengambil alih seluruh pembicaraan, menegakkan punggungnya, lalu menjatuhkan bom informasi yang seketika mengubah arah angin.
"Cukup, Nyonya," ucap Ganda, suaranya berat, rendah, dan berwibawa, menggema di halaman rumah yang sepi.
"Saya adalah suami sah Diaz sekarang. Kami sudah menikah secara sah."
Ibu tiri Diaz terbelalak, mulutnya menganga setengah tak percaya.
Sebelum perempuan itu sempat memotong atau mencaci lebih jauh, Ganda langsung melayangkan pukulan finansial yang mematikan.
"Mulai detik ini, saya yang akan mengurus, menebus dari bank, dan membereskan semua aset serta utang-utang perusahaan peninggalan mendiang ayah Diaz. Semua beban keuangan yang Anda takuti, akan saya selesaikan seluruhnya," tegas Ganda, matanya mengunci pandangan perempuan di hadapannya.
"Tapi syaratnya hanya satu: jangan pernah Anda berani mendatangi, mengancam, atau mengganggu kehidupan Diaz lagi sepeser pun. Jika Anda melanggarnya, seluruh bantuan finansial ini akan saya hentikan dan saya pastikan Anda keluar dari rumah ini tanpa membawa apa-apa."
Mendengar rentetan kalimat Ganda, ibu tiri Diaz seketika terbungkam seribu bahasa.
Tubuhnya kaku, antara syok karena pernikahan rahasia ini, sekaligus mendadak tergiur dan silau dengan jaminan finansial luar biasa yang ditawarkan oleh pria asing berwibawa di hadapannya.
Rasa serakah dan kelegaan karena terbebas dari jerat utang seketika berperang di dalam matanya yang licik.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡