Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Kayla terdiam cukup lama. Jemarinya saling menggenggam di atas selimut rumah sakit. Kini ia tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi. Semua kenyataan telah terbuka. Namun, yang membuatnya bimbang bukan lagi soal kehamilan itu, melainkan tentang dirinya dan Adrian Wijaya yang berasal dari dua dunia yang begitu berbeda.
"Pak Adrian..." ucap Kayla pelan. "Sebenarnya... aku tidak berniat melahirkan anak-anak ini."
Dahi Adrian langsung berkerut. Ia menatap Kayla dengan sorot mata penuh kebingungan.
"Kenapa?" tanyanya lembut.
Kayla menundukkan kepala. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya mulai bercerita.
"Bapak sudah tahu seperti apa keluargaku." Suaranya terdengar lirih. "Mereka kejam, hanya memikirkan uang, dan tidak pernah benar-benar menganggapku sebagai keluarga. Aku juga cuma karyawan biasa. Kalau anak-anak ini lahir, aku tidak akan sanggup membesarkan mereka. Aku takut mereka akan menjalani hidup yang sama pahitnya seperti yang pernah aku alami."
Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti menusuk dadanya sendiri. Jauh di lubuk hati, ia sama sekali tidak ingin kehilangan kedua bayi itu.
"Mereka juga anakku."
Suara Adrian terdengar tegas, tetapi tidak keras. Ada kekecewaan yang samar di balik tatapannya.
"Kamu tidak perlu membesarkan mereka sendirian. Aku dan keluarga Wijaya akan menjaga mereka. Kalau yang kamu khawatirkan adalah masa depanmu... atau kamu takut tidak ada laki-laki yang mau menikahimu karena kehamilan ini..."
Adrian menarik napas pelan sebelum melanjutkan kalimatnya.
"...biar aku yang menikahimu."
"Menikah... denganku?" gumam Kayla. Matanya membulat karena benar-benar tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.
Adrian menganggukkan kepala.
"Nenekku sudah lama ingin melihatku menikah dan memiliki anak. Beliau bahkan sudah beberapa kali menjodohkanku dengan perempuan dari keluarga terpandang. Tapi sekarang semuanya berubah. Ada kamu... dan ada anak-anak kita."
Ia menatap Kayla dengan penuh kesungguhan.
"Jadi... menikahlah denganku."
"Pak Adrian... aku tidak bisa."
Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Adrian sedikit terkejut.
"Kenapa?" tanyanya. Lalu ia tersenyum tipis untuk mencairkan suasana. "Apa kamu tidak menyukaiku? Atau... aku terlalu membosankan? Terlalu jelek? Atau aku memang kurang pandai membuat perempuan nyaman?"
"Bukan!" Kayla buru-buru menggeleng. "Bukan karena itu."
Ia menggigit bibirnya pelan sebelum kembali berbicara.
"Keluargaku sangat mata duitan. Mereka hanya melihat uang dan keuntungan. Kalau mereka tahu aku menikah dengan laki-laki sekaya Bapak..." Kayla mengembuskan napas panjang. "Aku takut mereka akan terus memanfaatkan Bapak. Lagi pula... kita juga tidak saling mencintai."
Adrian terdiam beberapa saat. Ia memahami kekhawatiran Kayla. Setelah melihat sendiri bagaimana perlakuan keluarganya, ia tidak bisa menyalahkan wanita itu.
"Kalau yang membuatmu ragu hanya perasaan..." ucap Adrian perlahan. "Kita bisa menikah kontrak dulu."
"Menikah kontrak?" ulang Kayla pelan.
Adrian menganggukkan kepala.
"Kita daftarkan pernikahan kita secara resmi di kantor catatan sipil. Mulai hari ini semua kebutuhanmu menjadi tanggung jawabku. Kamu tidak perlu lagi memikirkan biaya kehamilan, persalinan, ataupun kehidupan anak-anak kita."
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Kalau soal keluargamu... percayalah. Aku tidak khawatir dimanfaatkan. Justru aku lebih pandai menghadapi orang-orang seperti mereka."
Kayla kembali terdiam. Ia mulai mempertimbangkan semua kemungkinan yang ada. Andai keluarganya adalah keluarga yang penuh kasih sayang, mungkin lamaran ini akan menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Namun kenyataannya berbeda. Keluarganya justru bisa menjadi sumber petaka bagi Adrian.
"Kita jalani pernikahan ini sampai anak-anak kita lahir," lanjut Adrian menenangkan. "Setelah mereka lahir, kamu bebas menentukan pilihan. Kalau kamu ingin mengakhiri pernikahan ini, aku tidak akan memaksamu. Yang terpenting sekarang adalah memastikan anak-anak kita memiliki status yang jelas dan masa depan yang baik."
Dalam hati Adrian sendiri muncul rasa heran. Begitu banyak perempuan mendekatinya karena harta dan nama besar keluarga Wijaya. Namun Kayla justru berkali-kali menolak. Bukannya memikirkan kekayaan yang akan diperoleh, wanita itu malah terus mengkhawatirkan keselamatannya. Sikap itulah yang membuat Adrian semakin yakin bahwa Kayla adalah perempuan yang pantas diperjuangkan. Meski begitu, ia tetap tidak ingin memaksakan keputusan kepada wanita di hadapannya.
"Hari ini kamu rela mempertaruhkan nyawamu demi melindungi anak-anak kita," ucap Adrian pelan. "Apa kamu benar-benar sanggup kehilangan mereka?"
Refleks Kayla kembali mengusap perutnya. Air matanya hampir jatuh. Jawabannya sebenarnya sudah ada jauh di dalam hati. Ia tidak pernah rela kehilangan kedua bayi itu.
"Tapi..." bisiknya. "Kalau nanti kita bercerai, bagaimana dengan anak-anak ini?"
"Mereka tetap akan menjadi bagian dari keluarga Wijaya," jawab Adrian mantap. "Aku akan bertanggung jawab penuh. Mereka akan tumbuh dengan kasih sayang, pendidikan terbaik, dan kehidupan yang layak. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masa depan mereka."
Kayla kembali terdiam. Kali ini ia benar-benar tidak menemukan alasan lagi untuk menolak.
"Apa masih ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Adrian lembut. "Kalau ada, katakan saja."
Kayla menggeleng pelan.
"Sepertinya... sudah tidak ada."
Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Adrian. Dengan hati-hati ia menggenggam tangan Kayla. Genggamannya hangat dan penuh ketulusan.
"Kalau begitu..." katanya pelan. "Mari kita menikah."
"Menikah..." gumam Kayla sekali lagi.
"Kenapa?" Adrian tersenyum tipis. "Masih ada yang mengganggu pikiranmu?"
Kayla menggigit bibir bawahnya pelan sebelum mengumpulkan keberanian.
"Pak Adrian... bolehkah aku mengajukan satu syarat?"
Adrian menatap wajah Kayla cukup lama. Dalam hati ia hampir terkekeh. Perempuan ini benar-benar banyak pertimbangannya, batinnya. Namun anehnya, justru sikap itu membuatnya semakin menghargai Kayla.
"Katakan saja," ujarnya lembut.
Kayla menarik napas panjang.
"Bisakah... untuk sementara waktu kita merahasiakan dulu pernikahan kita?"
“tentu saja” jawab Adrian
Berkat perawatan yang intensif dan penanganan terbaik dari tim dokter, kondisi Kayla berangsur-angsur pulih. Luka-luka di tubuhnya mulai mengering, sementara memar yang sempat memenuhi wajahnya perlahan menghilang. Meski rasa sakit di hatinya belum benar-benar sembuh, setidaknya tubuhnya kini kembali memperoleh kekuatan.
Beberapa hari kemudian, dengan bantuan koneksi dan seluruh persyaratan yang telah dipenuhi, Adrian Wijaya dan Kayla akhirnya resmi mendaftarkan pernikahan mereka di kantor catatan sipil. Tidak ada pesta mewah, tidak ada tamu undangan, bahkan tidak ada keluarga yang ikut menyaksikan. Hanya ada mereka berdua, beberapa petugas, dan saksi yang menyaksikan lahirnya sebuah ikatan yang berawal dari keadaan yang sama sekali tidak mereka rencanakan.
Kini Adrian dan Kayla duduk berdampingan di dalam mobil mewah yang melaju meninggalkan kantor catatan sipil. Di tangan masing-masing tergenggam buku nikah yang baru saja mereka terima. Sesekali keduanya membuka kembali halaman pertama, seolah masih belum percaya bahwa status mereka telah berubah hanya dalam hitungan hari.
Adrian menoleh ke arah Kayla. Melihat wanita itu terus memandangi buku nikahnya membuat sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyum tipis