Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liontin Naga
Mata merahnya menyorot tajam ke arah bangunan besar itu. Seolah dalam sekejap, rumah megah tersebut bisa ia ratakan hingga tak bersisa. Perlahan, dia mulai bergerak, berusaha mendekat. Namun, saat jaraknya semakin dekat, langkahnya mendadak terhenti.
Tanpa peringatan, pria itu berbalik arah."Kita kembali," perintahnya. Suaranya terdengar dingin, setajam angin malam yang berembus.
Ketiga vampir yang mengikutinya sontak terkejut. Mereka saling melempar tatapan bingung. Pemimpin mereka justru memerintahkan mundur sebelum pertempuran dimulai.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, pria itu melesat menembus pekatnya malam secepat embusan angin. Dia masih belum bisa merasakan keberadaan gadis terberkati itu. Ternyata benar perkataan para penyihir tua yang beberapa hari lalu telah ia habisi. Gadis pemilik darah istimewa itu dilindungi oleh sihir yang sangat kuat, sehingga indra penciumannya tak mampu melacak keberadaannya.
Dia harus menunggu hingga bulan purnama tiba beberapa hari lagi. Pada malam itulah sihir pelindung tersebut akan lenyap. Jadi, menyerang malam ini hanyalah tindakan yang sia-sia. Selain membuang tenaga, hasilnya tidak akan berbeda. Dia harus menunggu, hanya itu yang bisa dia lakukan.
Beberapa hari lagi. Setelah penantian yang terasa seperti berlangsung selama berabad-abad. Selama ini, ternyata gadis itu memang berada di balik perlindungan sihir terkutuk. Pantas saja dia begitu kesulitan menemukan keberadaan gadis yang telah ditakdirkan memiliki nasib paling buruk itu.
Sementara itu, ketiga vampir yang terus mengikuti di belakang hanya bisa mematuhi perintah pemimpin mereka."Yuno, menurutmu kenapa Pangeran menyuruh kita mundur?" tanya pria berambut sedikit panjang dengan garis wajah yang tegas.
"Entahlah, padahal aku sudah merindukan wajah seksi Elleanor," jawab Yuno sambil menyunggingkan seringai jahil.
"Kau memang tidak pernah jera. Apa kau sudah lupa apa yang terjadi saat terakhir kali bertemu Elle?" ejek Greg.
"Tentu saja aku masih ingat." Yuno terkekeh pelan."Dia menghadiahiku cakaran dan sobekan di sekujur tubuh. Si manis yang buas."
"Hentikan ocehan bodoh kalian." Suara dingin Victoria, satu-satunya wanita di kelompok itu, langsung memotong percakapan mereka.
***
Tatapan tajam Alea masih tertuju pada gadis yang sedang terlelap itu. Selama ini ia mengira manusia hanya tidur pada malam hari. Ternyata, di siang bolong pun mereka bisa terbuai dalam mimpi dengan begitu nyenyak. Kenapa manusia begitu menyukai tidur? Bagaimana rasanya tidur? Dia sama sekali tidak tahu jawabannya.
Pandangannya tetap terpaku pada wajah Sonja. Tiba-tiba gadis itu tampak gelisah. Keningnya berkerut, napasnya memburu, sementara butiran keringat mulai mengalir di dahinya.
Alea mengernyit. Apa dia sedang bermimpi buruk?
"Ibuuuuu...!" teriak Sonja tiba-tiba.
Refleks Alea melangkah mendekat."Kau bermimpi buruk?" Suara dingin Alea membuat Sonja tersentak.
"Kau sedang apa di sini?"
"Menunggumu bangun," jawab Alea singkat.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau bermimpi buruk?"
Sonja terdiam beberapa saat. Tatapannya menghindar, seolah tak ingin membahas mimpi yang baru saja dialaminya."Tidak," jawabnya akhirnya. Untuk apa ia menceritakan mimpi buruknya kepada wanita asing yang baru dikenalnya?
Alea tahu Sonja sedang berbohong. Namun, itu bukan urusannya. Dia pun tidak berniat memaksa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alea melangkah mendekati Sonja."Ulurkan tanganmu."
"Untuk apa?"
"Lakukan saja perintahku, Sonja."
Sonja berdecak pelan. Meski wajahnya masih menunjukkan rasa enggan, ia tetap mengulurkan tangan. Alea kemudian meletakkan sebuah kalung di telapak tangan Sonja. Liontin berbentuk naga itu memancarkan cahaya merah menyala yang begitu indah.
"Kalung," gumam Sonja takjub. Matanya terpaku pada liontin itu.
"Ini adalah Liontin Naga," jelas Alea. "Pakailah. Selama kalung itu melekat di tubuhmu, Pangeran Kegelapan tidak akan bisa menyentuhmu."
Sonja membeku.
Perlahan ia mengangkat wajah dan menatap Alea."Apa Pangeran Kegelapan benar-benar akan membunuhku?" tanyanya lirih.
"Iya, jika kau adalah gadis terpilih. Aku berharap bukan kau orangnya."Tatapan Alea tetap teguh."Tapi, jika itu kau, aku akan berusaha melindungimu darinya. Aku berjanji."
Mata Sonja melebar.
Entah mengapa, ucapan itu membuat dadanya terasa sedikit lebih lega. Seolah ada secercah harapan yang menyelinap di tengah ketakutan yang selama ini menguasainya."Kenapa kau mau melindungiku?" bisiknya pelan.
"Karena kau pernah menyelamatkan nyawaku. Waktu itu kupikir aku akan mati. Anggap saja ini caraku membalas budi."
Sonja kembali terdiam.Tanpa banyak bicara, ia segera mengenakan Liontin Naga itu di lehernya.
"Jangan pernah melepaskannya, apa pun yang terjadi," pesan Alea.
Sonja mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Aku pergi dulu."
Alea baru saja berbalik menuju pintu ketika suara Sonja kembali menghentikannya."Tunggu."
Alea menghentikan langkahnya, tetapi tidak berbalik.
"Terimakasih Alea."
Vampir cantik itu hanya mengangguk, kemudian dia kembali melangkah dan meninggalkan kamar, sementara Sonja masih memandangi sosoknya hingga pintu tertutup rapat.