NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Komedi
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"

Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.

Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.

Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.

Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Mata di Balik Hutan Pinus

Musim gugur mulai turun menyelimuti Pegunungan Barat. Angin yang berhembus melintasi tebing-tebing cadas kini membawa hawa dingin yang lebih tajam, merontokkan dedaunan pohon jingga kemerahan di sepanjang jalan setapak menuju Sekte Lembah Bambu Biru.

Di dalam lingkungan pelataran utama sekte, semangat latihan para murid sedang berada di puncaknya. Kemenangan yang diraih oleh Wei Changqing dan Chen Wu telah mengubah wajah sekte terpencil itu. Setiap pagi, suara dentingan pedang kayu dan teriakan latihan bergema dua kali lipat lebih keras. Guru Zhao Wuji bahkan mulai menerima kunjungan rutin dari para saudagar kota yang menawarkan pasokan besi dan herbal berkualitas tinggi.

Namun, terlepas dari terkenalnya namanya, Wei Changqing tetap memilih tinggal di pondok sederhana Taman Obat Luar di lereng bukit barat.

Pagi itu, kabut putih tipis masih mengambang di atas kebun herbal saat Changqing melangkah keluar dari pondoknya. Jubah abu-abunya terikat rapi oleh sabuk kain sederhana. Di pinggang kirinya, tergantung pedang besi hitam kusam yang selalu menemaninya.

Di petak kebun bawah, Baii Ling sedang berlatih mengayunkan pedang kayu nya. Gadis kecil itu kini bisa bergerak dengan kelincahan seperti seekor burung walet. Setiap tusukan pedang kayunya menghasilkan desiran angin dingin yang membekukan tetesan embun di dedaunan herbal sekitarnya tanpa merusak tangkai daun tersebut.

"Kuda-kudamu sedikit terlalu condong ke depan pada hitungan ketujuh, Ling-er," tegur Changqing lembut dari atas. "Tarik tumit kirimu setengah inci ke belakang agar bobot tubuhmu tetap seimbang saat menghadapi serangan balasan dari sudut bawah."

"Baik, Kakak Guru!" sahut Baii Ling dengan patuh, langsung memperbaiki postur kakinya dengan akurasi yang mengagumkan.

Changqing tersenyum puas. Ia mengambil keranjang bambu kosong dari beranda pondok, lalu menoleh pada muridnya. "Aku akan pergi ke hutan pinus perbatasan barat sekte untuk mencari beberapa akar Ginseng Emas Liar dan jamur gunung untuk pasokan musim dingin kita. Jaga taman obat selama aku pergi."

"Hati-hati di hutan liar, Kakak Guru!" seru Baii Ling melambaikan tangan kecilnya.

Changqing melangkah menuruni jalan setapak bukit, meninggalkan area kebun herbal terawat dan memasuki rimbunnya hutan pinus perbatasan barat yang liar, lebat, dan jarang dijamah oleh murid-murid sekte luar.

Di kedalaman hutan pinus perbatasan barat yang sunyi, dahan-dahan pohon yang tinggi menjulang menciptakan langit langit gelap yang menghalangi sebagian besar sinar matahari pagi.

Pada salah satu dahan pohon pinus tertua berjarak tiga ratus meter di luar batas batu Sekte Lembah Bambu Biru, seorang gadis berjubah sutra hitam duduk bersandar dengan tenang.

Seorang gadis berusia sembilan belas tahun dari Klan Teratai Darah itu telah berada di hutan liar perbatasan ini selama empat hari empat malam. Tanpa membuat api unggun, tanpa mendirikan tenda, dan hanya bertahan hidup dengan memakan buah-buahan hutan liar serta minum air embun daun pinus.

Sejak konspirasi surat palsu di Lembah Anggrek berhasil dibongkar dan Ketua Klannya memerintahkan penarikan pasukan ke utara, Qingxue tidak kembali ke markas utama klannya. Ia meminta izin khusus pada ayah angkatnya, Grandmaster Mu Tianchou, untuk mengembara sendirian ke wilayah barat.

Alasan resminya adalah melacak sisa-sisa jaringan Bayangan Gerhana. Namun di dalam lubuk hati Qingxue yang paling dalam, ada satu alasan lain yang jauh lebih kuat dan mengusik seluruh ketenangan pikirannya, rasa penasaran yang tak terbendung terhadap pemuda bernama Wei Changqing.

Selama empat hari duduk di dahan pinus, mata tajam Qingxue yang berada di tingkat Pendekar Tinggi Tahap 3—terus mengamati kehidupan harian pemuda itu dari kejauhan.

Semakin lama ia mengamati, semakin dalam kebingungan yang melanda pikirannya.

‘Siapa sebenarnya pemuda itu?’ batin Qingxue sambil menatap dedaunan pinus yang gugur. ‘Dia baru berusia sembilan belas tahun, sama sepertiku. Tapi kenapa saat dia berjalan menyiram tanaman, memotong kayu bakar, atau mengajari anak kecil itu... seluruh postur tubuhnya memancarkan ketenangan yang hanya dimiliki oleh para pertapa suci yang telah hidup seratus tahun?’

Qingxue meraba dadanya sendiri tepat di bawah tulang selangka kiri.

Titik meridian jantung yang dulu selama sepuluh tahun selalu terasa berdenyut perih dan terbakar oleh racun balik Jurus Teratai Darah, kini terasa begitu sejuk, dan berdetak teratur. Empat tusukan jarum perak dan aliran energi hangat yang disalurkan Changqing di dalam penggilingan air tua malam itu telah menyembuhkan penyakit kronis yang bahkan tabib terbaik di klannya pun menyerah.

‘Dia mengalahkanku tanpa membunuhku. Dia menyembuhkanku tanpa meminta imbalan apa pun. Dan dia menyelamatkan ribuan nyawa dari perang...’ gumam Qingxue pelan, rasa hormat yang sangat dalam bergetar di matanya yang biasanya kelam dan dingin.

Tiba-tiba, telinga Qingxue menangkap suara gemerisik dedaunan kering yang terinjak dari arah jalan setapak hutan di bawah pohonnya.

Qingxue segera menahan napasnya, menekan seluruh pancaran auranya hingga menyatu sempurna dengan batang pohon pinus.

Sosok Wei Changqing berjalan santai menyusuri jalan setapak di bawah dahan pinus tempat Qingxue bersembunyi. Tangan kiri pemuda itu menyimpan keranjang bambu, sementara tangan kanannya memegang sebuah bungkusan daun teratai hangat dan sebuah tabung bambu tertutup rapat.

Langkah Changqing berhenti tepat empat kaki di bawah dahan pohon pinus tempat Qingxue bertengger.

Changqing tidak mendongak ke atas pohon. Ia membungkuk santai, membersihkan permukaan sebuah batu lumut datar di dekat akar pohon pinus, lalu meletakkan bungkusan daun teratai yang masih mengepulkan uap hangat serta tabung bambu itu ke atas batu.

"Angin pegunungan barat di awal musim gugur jauh lebih menusuk tulang daripada angin Lembah Anggrek, Nona Mu," suara Changqing begitu lembut, tenang, dan akrab di tengah keheningan hutan pinus. "Berdiam diri di atas dahan pohon selama empat hari empat malam tanpa memakan hidangan hangat hanya akan membuat meridian jantungmu yang baru saja pulih kembali mengalami kontraksi hawa dingin."

Mendengar suara itu langsung menembus pertahanan penyamarannya, pupil mata Mu Qingxue sedikit membesar.

Namun ia tidak terkejut karena takut. Ia justru merasakan kekaguman yang semakin tinggi. Penyamaran pembunuhan tingkat Pendekar Tinggi Tahap 3 miliknya yang mampu mengelabui patroli sekte besar, ternyata sudah diketahui oleh Changqing sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di hutan ini!

Wesh...

Jubah sutra hitam berkibar halus di udara saat Mu Qingxue melompat turun dari dahan pohon setinggi delapan meter. Tubuh langsingnya mendarat di atas hamparan daun kering tanpa menimbulkan suara benturan sedikit pun.

Gadis berwajah pucat nan menawan itu berdiri berhadapan dengan Changqing berjarak tiga langkah. Tahi lalat kecil di sudut bibir merahnya membuat wajah dinginnya terlihat begitu memesona di bawah cahaya matahari hutan yang remang.

Qingxue menatap bungkusan daun teratai di atas batu lumut. Aroma harum bakpao kukus isi daging ayam hutan dan teh hangat tercium hangat menusuk hidungnya yang kelaparan.

"Kau... kau sudah tahu aku bersembunyi di dahan pohon ini sejak kapan?" tanya Qingxue dengan suara merdu yang berusaha terdengar dingin, meskipun tatapan matanya menyiratkan kehangatan.

"Sejak burung-burung merpati hutan di lereng barat tidak ada lagi yang berani hinggap di pohon pinus nomor sembilan ini tiga hari yang lalu," jawab Changqing santai dengan senyuman ramah. "Makanlah dulu selagi hangat. Teh itu kuracik dengan campuran akar ginseng salju untuk menjaga kestabilan sirkulasi Yin di dalam Dantian-mu."

Mu Qingxue menatap Changqing selama beberapa detik. Perlahan, ia melangkah mendekati batu lumut, mengambil bungkusan bakpao hangat itu, dan menggigitnya sedikit. Kehangatan gurih daging ayam yang matang sempurna langsung mengalir menghangatkan perut dan dadanya yang kedinginan setelah empat malam di hutan liar.

"Terima kasih," bisik Qingxue jujur, menundukkan pandangannya sesaat sebelum meneguk teh dari tabung bambu.

Setelah menikmati hidangan sederhana itu, Qingxue menghapus sisa uap teh di bibirnya, lalu menatap Changqing dengan sorot mata yang berubah serius dan tajam.

"Aku datang ke wilayah barat ini bukan hanya karena rasa penasaranku padamu," kata Qingxue dengan suara seperti seorang penegak hukum klan. "Setelah konspirasi Wakil Ketua Gao Tianhao berhasil kita bongkar di Lembah Anggrek, ayah angkatku mengutus jaringan rahasia untuk menyisir seluruh pos perbatasan klan kami."

Qingxue melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Changqing.

"Kami menemukan bahwa komplotan Bayangan Gerhana tidak cuman ada di Lembah Anggrek," ungkap Qingxue dengan wajah serius. "Saat surat palsu utama di turnamen gagal meledakkan perang, dalang di markas besar Bayangan Gerhana langsung mengaktifkan Rencana Gelombang Kedua."

"Gelombang kedua?" Changqing mengerutkan kening, intuisi perang masa lalunya mulai berputar cepat.

"Benar," jawab Qingxue mantap. "Mereka telah menyebar empat anggota pembunuh bayangan yang membawa salinan Surat Palsu Cabang menuju empat pos perbatasan regional tempat markas cabang Klan Teratai Darah dan pos patroli Sekte Pedang Langit bersinggungan di wilayah barat ini. Salah satu anggota pembunuh itu... saat ini sedang bergerak menuju Pos Lembah Kabut Merah berjarak empat puluh mil di utara sektemu."

Qingxue menatap lurus ke dalam mata hitam pemuda 19 tahun di depannya.

"Jika surat palsu cabang itu sampai ke tangan pimpinan pos perbatasan yang berwatak keras, perang kecil di perbatasan barat tetap akan meledak dan menjalar menjadi kebakaran besar di seluruh benua," kata Qingxue. "Aku... aku tidak memiliki pasukan yang bisa kupercaya di wilayah barat ini tanpa menarik perhatian pengintai musuh. Dan di seluruh dunia persilatan saat ini... kau adalah satu-satunya orang yang memiliki ketenangan dan kekuatan yang bisa kupercaya."

Mendengar ajakan aliansi yang begitu tulus dan genting itu, Wei Changqing menatap dedaunan pinus berguguran ditiup angin gugur.

Di kehidupannya yang dulu, Mu Qingxue bertarung sendirian melawan kegelapan hingga pedangnya patah dan hatinya membeku. Di kehidupan yang baru ini, sang pembunuh jenius itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Changqing berdiri berdampingan memotong jaringan konspirasi sebelum api perang berkobar di tanah barat.

Changqing tersenyum, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan.

"Jika ada api yang hendak membakar perbatasan tempat rumah sekteku dan klanmu berdiri, maka tanggung jawab kita untuk memadamkannya sebelum sempat menyala," ucap Changqing tegas dengan wibawa yang membuat jiwa Qingxue bergetar tenang. "Kita bergerak ke Pos Lembah Kabut Merah malam ini juga."

Mu Qingxue menatap telapak tangan Changqing yang terulur hangat. Tanpa ragu, gadis pembunuh itu mengulurkan tangan putihnya dan menggenggam erat telapak tangan Changqing.

1
Arman Jaya
alur ceritanya bagus..
lanjutkan Thor.....👍👍🙏
Jhon
mantap thor👍
Suhartini Wahono
suka jg.....😍👍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Jimmi
Aku sangat menyukai cerita ini😍😍😍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fatih Al
lanjut lagi🙏🙏
Fatih Al
mantap thor💪
Budi Xiao
Lanjut, semangat thor👍
Celestial Quill
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, vote supaya novel ini semakin dikenal dan semangat author untuk update juga semakin besar. Terimakasih sudah membaca🙏
Fatih Al
Cerita bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!