"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"
Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni Merah di Altar Perayaan
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai bambu di kamar pengantin Istana Bai Long, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya dinding batu pualam.
Elena melenguh pelan. Kelopak matanya terasa sangat berat, dan kepalanya berdenyut hebat seolah dihantam benda tumpul. Perlahan, kesadaran manusianya kembali pulih seutuhnya. Efek dari sihir hipnotis Segel Jiwa Musim Semi yang ditanamkan oleh Bai Yuanjun tadi malam akhirnya memudar seiring tenggelamnya bulan.
Ketika Elena membuka mata dan menatap sekeliling, jantungnya langsung berdegup kencang. Ia masih berada di kamar yang sama. Kamar megah serba merah dengan ornamen drama kolosal China kuno, tempat di mana ia pertama kali terbangun setelah diculik dari hutan.
Elena mencoba menggerakkan badannya, namun seluruh persendiannya terasa kaku dan pegal. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya saat ini hanya menggunakan selembar selimut sutra tebal berwarna merah marun sebagai penutup badan tubuhnya yang polos. Kamar itu sunyi, tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya. Bai Yuanjun telah tiada dari ranjang.
Dengan tangan gemetar, Elena memberanikan diri mengintip ke dalam selimut. Detik itu juga, napasnya seolah terhenti. Di atas seprai sutra putih yang menjadi alas ranjang, terdapat bercak noda darah merah yang telah mengering. Pikiran Elena mendadak kosong. Sebagai seorang wanita dewasa, ia tahu persis apa arti dari noda tersebut. Kesuciannya, mahkota kehormatan yang selama ini ia jaga dengan baik, telah hilang. Ia telah disatukan secara paksa dengan sesosok raja siluman ular dalam keadaan tidak sadar.
Air mata Elena tumpah seketika. Ia membekap mulutnya sendiri agar jeritan tangisnya tidak terdengar keluar. Rasa hancur, terhina, dan marah bercampur menjadi satu, membakar dadanya dengan rasa sesak yang luar biasa.
Di sudut-sudut lain Pulau Bai She, ketiga sahabat Elena Keisha, Aldara, dan Amanda juga terbangun dengan perasaan yang tidak kalah hancur. Bedanya, mereka melewati malam laknat itu dalam keadaan sadar seutuhnya. Rasa perih secara fisik dan batin yang mereka rasakan pagi ini menjadi bukti mutlak bahwa mereka tidak lagi memiliki jalan untuk kembali menjadi gadis manusia yang biasa.
Namun, para penguasa siluman tidak memberikan mereka waktu untuk meratapi nasib lebih lama. Hari ini adalah hari besar yang telah dinantikan oleh seluruh penghuni Pulau Bai She. Jika di dunia manusia acara ini disebut sebagai resepsi pernikahan, maka di dunia siluman, hari ini adalah Hari Perayaan Agung. Sebuah tradisi kuno di mana seluruh klan siluman Ular, Rubah, Buaya, dan Serigala akan berkumpul di satu tempat netral yang menjadi pusat pusaran energi pulau untuk merayakan bersatunya para raja mereka dengan pasangan abadi pilihan langit.
"Yang Mulia, Anda harus segera bersiap. Kereta kencana sudah menunggu di pelataran," ucap Xiao Cui yang masuk ke kamar Elena bersama beberapa pelayan lain, membawa nampan berisi pakaian baru.
Hal yang sama terjadi pada Keisha di Istana Hu Xian, Aldara di Istana Hei Shui, dan Amanda di Istana Tian Lang. Meskipun mereka menolak, menangis, bahkan memaki, para pelayan pribadi mereka tetap melaksanakan tugas dengan patuh dan cekatan. Tubuh keempat gadis itu dimandikan dengan air bunga tujuh rupa, diberi wewangian yang pekat, dan didandani dengan sangat megah.
Kali ini, mereka tidak lagi mengenakan gaun pengantin merah yang seragam seperti kemarin. Mereka didandani menggunakan hanfu pakaian tradisional China kolosal yang disesuaikan dengan ciri khas, warna, dan lambang kerajaan suami siluman mereka masing-masing.
Beberapa jam kemudian, di Aula Pusat Tirta Kencana sebuah kompleks bangunan kuno raksasa yang terletak di titik tengah Pulau Bai She suasana begitu riuh. Ratusan makhluk dari berbagai klan siluman berkumpul, menciptakan pemandangan yang luar biasa megah sekaligus ganjil.
Dari empat arah mata angin yang berbeda, empat kereta kencana yang ditarik oleh hewan-hewan mistis berhenti secara bersamaan di depan tangga aula utama. Pintu kereta terbuka, dan tirai sutranya disingkap oleh para pelayan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka terpisah di hutan dan pantai, keempat wanita itu akhirnya bertemu kembali di tempat tersebut. Namun, penampilan mereka kini telah berubah drastis, merefleksikan identitas baru mereka sebagai para permaisuri siluman.
Elena melangkah turun terlebih dahulu. Ia mengenakan hanfu mewah berwarna putih pualam berlapis kain kasa sutra perak transparan. Di sepanjang keliman kainnya, terdapat sulaman benang perak berbentuk sisik-sisik ular yang berkilauan indah, melambangkan klan Istana Bai Long. Wajahnya yang pucat dihiasi cadar sutra tipis, membuat sepasang matanya yang sembap terlihat misterius.
Dari arah kanan, Keisha turun dari kereta kencana klan Rubah. Keisha mengenakan hanfu dengan warna merah muda pastel dan ungu muda yang sangat anggun. Kain sutranya begitu ringan, berkibar lembut ditiup angin seolah membentuk bayangan ekor-ekor rubah yang indah di sekeliling tubuhnya. Riasan wajahnya dibuat sangat menawan khas gaya Istana Hu Xian, menonjolkan kecantikannya yang memikat.
Di sisi lain, Aldara melangkah dengan hentakan kaki yang kesal. Ia mengenakan hanfu berbahan kain tebal berwarna hijau tua zamrud berlapis hitam, dengan aksen lempengan perak berbentuk riak air di bagian pinggang dan dadanya, mencerminkan ketangguhan Istana Hei Shui milik klan Buaya. Rambutnya diikat tinggi dengan hiasan giok hitam yang kokoh.
Terakhir, Amanda turun dengan pembawaan yang paling dingin. Sebagai Permaisuri Istana Tian Lang, ia dibalut hanfu berwarna biru tua malam dengan jubah luar berbahan bulu serigala putih yang halus di bagian bahu. Desain pakaiannya tampak paling tegas di antara yang lain. Dan yang paling mencolok, di pundak kiri Amanda yang sedikit terekspos oleh potongan kerah hanfu nya, samar-samar terlihat tanda lahir gaib berbentuk bulan sabit perak yang bersinar lembut.
Begitu mata keempat gadis itu saling bertubrukan di pelataran aula, waktu seolah berhenti.
"Elena...?" bisik Keisha, suaranya bergetar hebat menahan tangis saat melihat sahabatnya berjalan mendekat.
"Keisha... Amanda... Aldara..." Elena tidak bisa membendung air matanya lagi. Di bawah cadar sutranya, ia menangis sejadi-jadinya.
Keempatnya langsung berlari kecil dan saling berpelukan erat di tengah-tengah pelataran, tidak mempedulikan pandangan ratusan pasang mata siluman yang menatap mereka dengan takjub. Di dalam pelukan kelompok itu, mereka saling menyalurkan rasa sakit, kehancuran, dan ketakutan yang sama. Mereka akhirnya menyadari kebenaran kejam yang dikatakan oleh Raja Serigala pada Amanda kemarin mereka berempat tidak ada yang selamat. Mereka semua telah terjerat dalam lingkaran pernikahan paksa yang sama dengan para penguasa kegelapan pulau ini.