NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontak Baru dan Debaran yang Tertinggal

Setelah puas basah-basahan, rasa dingin mulai menyergap kulit. Sebelum benar-benar menyudahi sesi main air, Karin tiba-tiba teringat sesuatu.

"Eh, fotoin Tante dulu dong!" seru Karin sambil menoleh ke arah keponakannya.

Reza yang baru naik ke daratan langsung menyahut, "Pake HP Arvin aja, Tan. Kamera HP-nya bagus banget, sering buat foto-foto estetik gitu."

"Oh, ya?" Karin beralih menatap Arvin dengan mata berbinar.

Arvin mengangguk pelan. "Iya, Tan. Pake HP gue aja."

"Ya udah, sana ambil terus fotoin Tante, ya," pinta Karin riang.

Arvin pun beranjak menuju batu besar tempat tas mereka diletakkan untuk mengambil ponselnya. Tak butuh waktu lama, cowok itu sudah kembali dan mulai mengarahkan kamera ke arah Karin. Cekrek. Cekrek. Arvin mengambil beberapa foto Karin dengan berbagai pose. Lewat kamera ponselnya, Arvin bisa melihat bagaimana senyum lepas Karin berpadu sempurna dengan latar belakang air terjun yang megah.

"Udah, ayo makan! Biar gak masuk angin," ajak Reza setelah sesi foto selesai.

Mereka akhirnya naik kembali ke area warung-warung kecil di pinggir curug. Dengan pakaian yang masih basah kuyup, mereka duduk di bangku kayu panjang. Hampir semuanya memesan mi instan rebus untuk menghangatkan tubuh. Namun, saat memesan minuman, Karin memilih susu jahe hangat, pilihan yang ternyata sama persis dengan yang dipesan oleh Arvin.

Karin kemudian menggeser duduknya, mengambil posisi tepat di sebelah Arvin. "Gimana fotonya? Bagus gak?" tanya Karin penasaran.

"Bagus," jawab Arvin singkat sambil menyalakan layar ponselnya dan memperlihatkan hasil jepretannya tadi.

Karin mendekat, ikut melihat layar ponsel Arvin. Jarak yang tipis membuat Arvin bisa mencium sisa wangi sampo dari rambut basah Karin. Karin menggeser beberapa foto dan tersenyum puas. "Wah, keren banget hasilnya! Puas deh. Kirim ke nomor Tante, ya."

Mendengar kalimat itu, Arvin sempat terpaku beberapa saat. Kirim ke nomornya? Berarti gue bakal punya nomor WhatsApp Karin?

Mencoba bersikap biasa saja, Arvin mengangguk lalu menyerahkan ponselnya agar Karin bisa mengetikkan nomor teleponnya sendiri. Setelah kontak baru dengan nama 'Tante Karin' itu tersimpan, Arvin langsung mengirimkan semua foto tadi lewat aplikasi pesan.

Sementara Karin dan Arvin sibuk dengan ponsel, di sudut bangku yang lain, Bima menyenggol lengan Reza sambil berbisik penuh selidik. "Ja, mungkin gak sih kalau si Arvin ini suka sama tante lo?"

Reza langsung mendengus geli. "Gak mungkin lah! Dia kan anti cewek banget di sekolah. Gak pernah mau nanggepin cewek."

"Eh, tapi tante lo beda, Ja," sahut Bima lagi, matanya mencuri pandang ke arah Karin. "Tubuhnya udah bukan tubuh anak sekolahan yang masih kecil. Matang banget. Gue aja mau punya cewek modelan kayak tante lo."

"Lo-nya aja yang mesum!" potong Fino cepat, yang langsung diangguki setuju oleh Dito. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu.

Di sisi lain, Arvin sama sekali tidak mendengar bisikan teman-temannya karena fokus oleh hal lain. Posisi duduk Karin yang agak condong ke arahnya membuat belahan dada wanita itu sedikit mengintip dari balik tank top hitamnya yang basah. Pemandangan sedekat itu seketika membuat Arvin menelan ludah dengan susah payah, dadanya bergemuruh hebat hingga dia buru-buru mengalihkan pandangan ke layar ponsel.

"Udah semua terkirim. Kamu bisa hapus foto-fotonya dari HP kamu," ucap Karin membuyarkan lamunan Arvin.

Arvin hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Tepat setelah itu, Karin tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengacak-ngacak rambut Arvin dengan gemas.

"Makasih ya, Arvin," ucap Karin manis, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan melangkah menuju pemilik warung untuk membeli camilan tambahan.

Sentuhan ringan di rambutnya itu seperti menyengat tubuh Arvin. Jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada biasanya. Arvin kembali menatap layar ponselnya yang masih menampilkan galeri foto Karin. Jarinya bergerak lambat, menggeser beberapa foto wajah Karin yang sedang tersenyum lebar di curug tadi.

Alih-alih menuruti ucapan Karin untuk menghapusnya, Arvin justru memencet tombol home dan mengunci ponselnya. Sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk menghapus satu pun foto wanita itu dari sana.

Di tengah kepulan asap mi instan yang hangat, Dito membuka obrolan baru sambil menatap Karin dengan penasaran. "Tante, kalau boleh tahu... kerjanya apa sih?"

Karin menelan kunyahan mi instan di mulutnya lalu menjawab santai, "Tante nulis cerita, sama kerja freelance di web gitu."

"Oh, berarti kerjanya dari rumah dong, Tan?" timpal Fino yang duduk di ujung bangku. Karin mengangguk mengiyakan sambil meraih sepotong roti bakar yang baru dihidangkan pemilik warung.

"Kalau... pacar Tante gimana?"

Pertanyaan random dari Bima itu seketika membuat suasana meja makan mendadak hening. Semua anak cowok di sana langsung menoleh serentak ke arah Bima dengan tatapan horor. Merasa dipandangi seperti itu, Bima langsung gelagapan membela diri, "Ya... ya kan ini weekend. Tante malah main sama anak-anak SMA kayak kita, siapa tahu pacar Tante nanti marah, kan?"

Reza yang duduk tepat di samping Bima langsung menyenggol keras lengan temannya itu dengan tatapan tajam. “Ngapain sih lo nanya-nanya privasi tante gue?” bisiknya.

Bukannya marah, Karin justru terkekeh geli melihat kepanikan anak-anak remaja di depannya. "Gak ada pacar, kok. Makanya Tante bebas bisa main sama kalian hari ini."

"Padahal Tante cantik banget, lho," sahut Dito polos, jujur dari lubuk hatinya.

Mendengar pujian itu, Karin tiba-tiba membuka kamera depan ponselnya. “Ah…” Dia mendadak menutup kedua matanya dengan tangan, berlagak terkejut dan syok yang membuat anak-anak itu sempat panik.

Namun sedetik kemudian, Karin membuka pelan telapak tangannya sambil menatap layar ponsel, lalu bergumam kagum pada dirinya sendiri, "Ah... iya, ternyata cantik banget aku ini."

Uhuk!

Fino, Dito, dan Bima seketika terkekeh melihat tingkat kepedean Karin yang di luar dugaan. Sementara itu, Arvin yang duduk di sebelahnya hanya menyunggingkan senyum tipis, merasa terhibur dengan sisi humoris dan narsis wanita dewasa tersebut.

Reza langsung menepuk jidatnya sendiri, malu dengan kelakuan tantenya. "Dih, narsis banget jadi orang!"

Karin mengerucutkan bibirnya sambil merapikan rambutnya yang setengah basah dengan jemari tangan. "Apaan? Bener kata temenmu, Tante ini emang cantik."

"Dah ah, lain kali gue gak mau ajak lo lagi. Malu-maluin!" gerutu Reza ketus.

Karin langsung mencubit pelan lengan keponakannya itu. "Eh, kok gitu sih ngomongnya ke Tante sendiri?" protes Karin yang disambut tawa renyah dari teman-teman Reza, termasuk Arvin yang diam-diam makin terpesona dengan sifat Karin yang apa adanya.

Setelah puas mengisi perut dan mengeringkan badan sebentar, matahari di langit curug mulai bergerak naik. Anak-anak remaja itu mulai berkemas untuk bersiap pulang.

Saat berjalan menuju tempat parkir motor, Karin mendadak menghentikan langkahnya dan meregangkan kedua tangannya ke atas. Efek berkendara pagi tadi ditambah main air seharian ternyata langsung membuat otot-ototnya terasa kaku.

"Ja, bawain motor Tante dong. Tante males nyetir, nih, pegel," pinta Karin sambil menyodorkan kunci motor matic-nya ke arah sang keponakan.

Reza yang sedang memakai jaket langsung menggelengkan kepala cepat. "Gak ah! Gak mau nyetir. Males."

"Gue aja, Tan, yang bawa motornya," sahut Fino tiba-tiba, menawarkan diri dengan semangat.

"Nah, iya! Lo aja yang bawa motor Tante gue, No," potong Reza cepat, langsung menyusun strategi posisi pulang agar dia bisa bersantai. "Jadi biar gue boncengan sama Bima aja ya. Tante sama si Arvin aja tuh, pegel juga kalau gue musti duduk di belakang Arvin terus."

Karin hanya bisa menghela napas pasrah melihat keponakannya yang tidak mau direpotkan itu. "Ya udah deh, iya," jawab Karin mengiyakan.

Arvin yang sejak tadi diam langsung berjalan mendekati motor sport-nya. Dia menaiki motor tersebut, menyalakan mesin yang langsung menderu halus, lalu menoleh ke arah Karin yang sedang bersiap untuk naik ke jok belakang.

Karena model jok belakang motor sport Arvin cukup tinggi dan menungging, Karin agak kesulitan untuk menyeimbangkan badannya. Kedua telapak tangan Karin langsung bertumpu dan memegang erat kedua bahu tegap Arvin sebagai pegangan.

Merasakan sentuhan tiba-tiba di bahunya, tubuh Arvin sempat menegang sedetik. Dia mencengkeram stang motornya lebih kuat, mencoba menahan debaran dadanya yang kembali berulah.

Arvin sedikit melirik dari kaca spion, memastikan Karin sudah duduk dengan posisi yang nyaman di belakangnya.

"Hati-hati, Tan," ucap Arvin lembut dengan suara ngebasnya, memperingatkan sebelum dia mulai menarik gas motornya perlahan membelah jalanan pulang.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!