Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab5. Cangkul Bergerak Sendiri
Bulu kuduk meremang seketika disertai kulit yang merinding dingin, isi perut seolah mencelos, memicu rasa mual yang mendesak. Bejo menjadi hiper waspada terhadap sekitar-bahkan detak jantungnya semakin kencang, desiran angin memberikan suasana semakin mencekam.
Jarot dan Dirga sama-sama saling pandang, perasaan sama dengan wajah pucatnya.
Bau busuk menyengat bersamaan desiran angin.
"Jo, bau apaan ini?. Bikin mual bener," ucap Jarot.
"Iya nih Jo," imbuh Dirga.
"Sudah ayo kita balik aja, jangan disini," balas Bejo.
Kemudian Bejo dan teman-temannya kembali berjalan meninggalkan tempat yang membuat mual dan rasa takut.
Setelah kepergian Bejo dan teman-temannya, sebuah sosok sama-samar menampakkan diri. Entah apa yang di inginkan dan apa yang di maksud oleh sosok itu menganggu Bejo bersama teman-temannya.
"Jo, bubuk kopimu dimana?," seru Dirga.
"Di tempat biasanya Dir," ucap Bejo.
"Astaga.. nih orang emang buta Jo, bubuk sama gula sudah di samping termos aja gak tau," imbuh Jarot.
"Hhehe, maaf."
Dirga membuat kopi tiga di bantu oleh Jarot.
Bejo sendiri berganti pakaian.
Mereka duduk di teras rumah bersama menikmati seduan kopi pahit dengan biskuit.
"Kok aneh sih Jo!!, kenapa Sinta tiba-tiba gak ada juga!!"
"Aku juga bingung, kemarin saat pak Kusumo gak ada dia ikut ke makam dengan kondisi baik-baik saja tapi kenapa tiba-tiba dia meninggal!!,"
"Aneh banget sih itu Jo!!,"
"Sudahlah, gak baik ngomongin orang yang sudah tiada,"
Jarot dan Dirga berpamitan pulang, kini Bejo di dalam rumah sendiri. Dia melihat layar ponselnya, menikmati istirahat sejenak dalam rebahan lembut kasur usang lamanya.
"Maaf Din, aku gak bisa datang tadi."
"Iya gak apa Jo,"
"Besok kesekolah berangkat sama siapa kamu,Din?."
"Hmm.. sendiri Jo. Kenapa emangnya?,"
"Kalau kamu mau besok berangkat bareng aja,"
Dinda yang sedang bermain ponsel sambil rebahan, ia senyum-senyum sendiri ketika membaca pesan dari Bejo, hingga ia tertidur pulas.
"Lah cuman di read doang!!," gumam Bejo.
Bejo meletakkan ponselnya, ia kebelakang karena kebelet.
Setelah selesai buang air kecil ia kembali berjalan masuk kedalam.
"Suttss..suttss..sutss..!!"
Bejo berhenti, bulu kuduknya meremang seketika disertai kulit yang merinding dingin. Desiran angin tipis menyentuh telinga belakangnya, Bejo ingin membalikkan badan akan tetapi perasaannya berkata lain.
Dengan langkah kaki berat Bejo berjalan masuk, meninggalkan rasa takutnya.
Setelah menutup pintu Bejo kembali berjalan namun langkahnya terhenti.
Tang... Tang.. Klang...
"Panggilan alam lagi inimah, semoga besok gak ada apa-apa!!."
Rasa penasaran Bejo semakin tinggi sehingga ia mengintip dalam lubang kunci. Bejo terdiam ketika melihat cangkul yang biasanya di pakai bergerak sendiri tanpa sebab, ia kebingungan walaupun sudah terbiasa namun ini pertama kalinya Bejo melihat.
Bejo kembali masuk kedalam kamar, ia menghempaskan tubuhnya. Lalu ia memejamkan mata, menunggu esok pagi akan berjalan dengan hal baik atau sapaan buruk dari takdir.
Keesokan harinya, Bejo telah siap berangkat kesekolah ia duduk di teras bersama mbak Mala yang baru dari pasar. Bejo merasakan ada sesuatu yang aneh ada di rumahnya, saat bangun rumah bersih entah siapa yang melakukannya.
"Kok belum berangkat Jo?,"
"Bentar lagi mbak. Lagi nungguin Dinda,"
"Hmm.. yasudah, mbak masuk dulu ya!!."
Bejo menyalakan motornya, ia sudah tak sabar untuk berangkat karena takut terlambat. Tak berselang lama Dinda datang dengan memakai helm.
"Yuk berangkat Jo,"
"Bagus sudah pakai helm juga, naik Din,"
Dinda naik motor milik Bejo, mereka kini berangkat kesekolah bersama. Saat di tengah perjalanan mereka bertemu Jarot dan Dirga yang berangkat bersama, lalu mereka menyapa Bejo dan Dinda.
"Tumben berangkat berdua sekarang!! Apa sudah.."
"Sudah apa?, jangan aneh-aneh lu Rot,"
"Hhehe.. bercanda Jo,"
"Din, kamu ikut bareng kita sekarang apa nungguin Salsa sama Clara disini?,"
"Hmm.. ikut aja lah Jo, berangkat pagi begini enak juga,"
"Ya udah yok berangkat sekarang."
Bejo berjalan terlebih dahulu, di ikuti Dinda dan temannya. Mereka berjalan bersama, namun pandangan semua orang kini melihat kearah Dinda yang bergabung dalam kelompok Bejo.
"Sialan.. kok bisa Dinda deket sama bau tanah tuh!!."
Doni bersama dua temannya memandang Dinda yang berjalan bersama kelompok Bejo. Wajah Doni sangat tidak senang melihat orang yang di kejar sejak setahun ini dekat dengan Bejo.
Dinda yang menyadari ketidaksukaan Doni melihatnya dekat dengan Bejo.
"Kamu ngapain pegang tanganku?,"
"Udah Jo diem aja."
Bejo memutarkan matanya, ia sangat bingung kenapa Dinda akhir-akhir ini sangat dekat dengannya. Apalagi mereka sudah kenal lama tapi baru kali ini Dinda lebih aktif mendekati Bejo.
Jarot dan Dirga saling pandang, mata mereka berdua penuh akan pertanyaan tentang hubungan apa yang sebenarnya di jalani Bejo dan Dinda sekarang.
"Bajingan.. udah bau tanah basah mau ambil cewek yang aku kejar selama ini!!,"
"Sabar Don, mungkin mereka ada kegiatan dari kelas,"
"Bener tuh Don, santai aja."
Rahang Doni mengeras, ia memandang Bejo penuh kebencian. Lalu Doni bersama dua temannya kembali masuk kekelasnya.
Bejo meletakkan tasnya, ia kemudian duduk di ikuti Dinda yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu duduk disini?,"
"Boleh ya Jo?,"
Dinda memandang Bejo, ia meminta izin memasang wajah keinginan untuk duduk di samping Bejo. Jarot dan Dirga kebingungan kenapa tiba-tiba berubah seperti ini.
"Terserah kamulah,"
Bejo menghela napasnya, ia tak bisa menolak keinginan Dinda walaupun sedikit aneh kenapa satu cewek ini tiba-tiba mendekati dirinya.
"Makasih Jo,"
"Terus gua duduk dimana ini Jo?,"
"Lu duduk sama Dirga aja sana,"
"Dih ogah gua sama nih bocah!!,"
"Gua juga ogah Jo duduk sama musang,"
"Bukannya kalian berdua itu musang?,"
Bejo tertawa di ikuti Dinda yang ikut tertawa juga, tidak berselang lama Salsa dan Clara datang. Namun mereka terdiam ketika melihat Dinda sudah berangkat dan duduk bersama Bejo.
"Bukannya tadi kamu ke kamar mandi?," tanya Salsa.
"Aku sudah disini sejak tadi," jawab Dinda.
"Terus yang kita jemput di depan rumah Bejo siapa!!,"
Salsa dan Clara terdiam saling pandang, bulu kuduknya meramang ketika mengingat wajah Dinda yang di temuinya sedikit pucat.
Bejo, Dinda, Jarot dan Dirga saling pandang, mereka kebingungan kenapa bisa seperti itu.
"Duh.. kok jadi serem gini sih!!,"
"Sudahlah Sal, kamu duduk sini aja, tenangin dirimu dulu."
Salsa duduk di samping Jarot, sedangkan Clara duduk bersama Dirga. Wajah mereka berdua pucat dengan kebingungan nyata, sedangkan Dinda mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Insting tajam Bejo menangkap samar-samar bayangan seseorang dari balik jendela kaca, ia melihat sosok tipis di ujung lorong belakang ruang kelasnya.
Bejo menyipitkan matanya memandang penuh fokus, memastikan sosok apa yang menyerupai Dinda. Mata Bejo terbelalak penuh keterkejutan, ia melihat sosok yang sama seperti sosok yang ada dirumahnya.
Wajah mirip dengan Sinta, namun mata sendu akan pertanyaan entah apa yang membuat Bejo menangkap sesuatu dalam pandangan mata sayu sosok yang menyerupai Dinda.