Kisah ini bermula saat si jomblo ngenes, sebut saja Anya Arelista. Di nikahkan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas kepada lelaki yang tak pernah ia kenal.
Setelah pernikahan berlangsung, Anya pun menyadari jika lelaki yang menikahinya adalah
senior yang berada dalam satu fakultas yang sama.
Dialah Yuaga Archie bule blasteran jerman jepang yang suka bertindak semaunya.
Archie adalah sosok sempurna pemuda masa kini. Konglomerat generasi ke 2, keturunan bangsawan jerman, pewaris tunggal, bakat yang menonjol, tubuh atletis, wajah rupan, namun punya kepribadian yang buruk.
Keseharian Anya dan Archie dalam membina rumah tangga banyak di temui halangan dan rintangan.
Anya yang selalu labil dan sensitif dengan cinta tak kan semudah itu menerima Archie sebagai suaminya.
Sedangkan Archie yang terkesan buru-buru dan selalu mementingkan diri nya sendiri, selalu ingin memiliki Anya.
Lah begimana?
Akankah Anya mengetahui alasan kenapa mereka menikah?
cekidot ges..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diqa alisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Want Your First Kiss
"Itu aja hari ini. Silahkan kalian berdua briefing dengan kelompok masing-masing, karena pertemuan selanjutnya bakalan di adakan 2 hari berikutnya dengan semua anggota lengkap. Kalau ada yang kurang jelas atau ada yang pengen kalian tanyain, kalian boleh kirim pesan di grup chat." Ujar Archie mengakhiri pertemuan pertama antar kolaborasi jurusan.
"Dan buat lu.." Ucapnya sambil menunjuk kearah ku.
"Gua ada perlu sama lu, yang gak berkepentingan boleh keluar." Perintahnya dengan pandangan tak nyaman menatap ku dan mengintimidasi Dimas yang dari tadi selalu di cecarnya dengan pertanyaan soal kemampuannya di bidang arsitek.
"Ooh, oke." Ujar Dimas sambil memandangi ku dan bergerak ragu-ragu untuk keluar."Gua duluan ya, entar aku chat, nomor kamu masih yang lama kan!?" Tanya nya.
Duh bodoh, kau ingin cari mati. Kenapa dia tak mengerti juga setelah beberapa kali di berikan sinyal oleh tatapan Archie agar tidak terlalu dekat dengan ku.
"I-iya, masih yang lama kok." Jawabku dengan mimik muka gak banget sambil melirik Archie yang memandangku dengan tatapan membunuh.
"Ok, tar gua chat duluan!!" Ujar nya melambaikan tangan sambil pergi keluar dari pintu masuk.
Saat Dimas keluar, dan hanya tinggal kami berdua. Dia mendekat ke arahku dengan aura kelam yang berkibar-kibar dan duduk menyilang di atas meja.
"Hhufftt.." Ujar ku menghela nafas panjang sambil memijat kepalaku.
Ternyata begini rasanya jika di tatap oleh mahkluk dari dasar jurang neraka jahanam.
"Kalian ada hubungan apa?" Tanya nya tanpa basa basi.
"Gak ada hubungan apa-apa, kita cuman temenan dari SMA!!" Jawab ku berhati-hati jangan sampai salah bicara.
"Kok deket banget." Dia sudah mulai mencurigai. "Gua merasakan sesuatu di antara kalian berdua."
"Ya i-itu kan cuman perasaan kamu aja." Jawabku gugup.
"Beneran!?"
Aku mengangguk cepat.
"Kalau lu bilang cuman temenan doang, manggilnya biasa aja dong, gak usah mesra gitu, Najis gua!" Gertak nya.
"Mesra gimana, cuman manggil nama doang. Nama dia kan emang Di-ma-s!"
"Yah, tapi gua gak suka lu manggil nama cowok lain di depan gua dengan pandangan dalam kayak gitu."
"Astaga, masa iya sih aku melotot kayak lagi ngajakin gelut!" Balasku emosi.
"Lu suka kan sama dia?"
Aku terdiam cukup lama. Bagaimana bisa dia menyadari nya secepat itu.
"Jawab yang jujur, sebelum gua cari tau sendiri kebenarannya!"
"Dulu!" Jawab ku spontan.
Sontak Archie langsung menatap tajam padaku.
"Tapi, sekarang gak lagi, karena aku udah punya kamu!" Sambung ku Cepat-cepat mengkonfirmasi jawabanku sebelum terjadi bencana yang lebih besar lagi.
"Jangan pakai alasan status pernikahan kita," Archie membungkukan tubuhnya sehingga wajah kami sejajar. "Gua nanya perasaan lu yang sekarang!?"
Aku bungkam di hadapan wajahnya. Bagaimana aku mengatakannya jika ternyata seseorang yang begitu mempesona sedang terpampang di hadapanku.
"A-kau ga tau!!" Ujarku memalingkan wajahku.
"Bohong!!" Ucapnya mendepak ku.
"A-aku beneran ga tau!!" Aku kalap.
"Anya, udah gua bilang kan. Kalau lu ga mau ngomong, biar gua sendiri yang cari tau kebenarannya." Dia mengintimidasiku.
"Aku udah bareng Dimas dari 4 tahun yang lalu." Ucapku, "dulu aku ama dia emang deket banget, saking deketnya orang-orang ngira kami berdua pacaran. Tapi, setelah Dimas lulus SMA dan sibuk dengan urusan masing-masing, kita berdua uda ga dekat lagi dan jarang kontakan." Aku sudah bersiap dengan kemungkinan Archie akan menyerangku dengan rentetan pertanyaan menyebalkannya.
"Jadi sekarang, lu udah ga punya rasa karena kalian udah ga dekat lagi kayak dulu?!" Tanyanya.
"Iya, sepertinya begitu!!" Balasku.
"Tapi seandainya, kalian berdua udah jadi dekat dan udah mulai kontakan lagi gimana. Ada harapan ga kalau lu bisa suka lagi ama dia!?" Pancingnya.
"Itu, ga mungkin!!"
"Kenapa, ga mungkin!?"
"Karena, di hidupku sudah ada kamu!"
Suasana langsung berubah menjadi hening. Sesekali Archie mendengus pelan seperti sedang memikirkan sesuatu yang pelik.
Saat aku mengangkat pandanganku ke atas. Tatapan kami beradu.
"Bohong!!" Ucapnya lagi. "Lu bohong kan!!"
Dia beranjak dari atas meja, dan langsung berlutut di hadapanku, kedua lengannya memeluk pinggangku, dan hembusan napasnya menderu di seputar leherku.
"Archie, apa yang kau lakukan!!" Aku panik karena merasa khawatir jika saja ada anak-anak yang melihat kami berdua sedang melakukan ini, apalagi Ayanah Yona sedang berada di luar.
"Jangan kayak gini, nanti ada anak-anak yang liat!!" Ucapku berusaha melepaskannya.
Dia tak mengidahkan, malah mangkin mendekat bahkan tubuhnya menyusup masuk di antara kedua pahaku, padahal saat itu aku sedang memakai dress selutut.
"I-ini, tapi ini dikampus, kau tak boleh berbuat seenaknya!!" Aku gugup karena bau napasnya yang tercium permen mint memenuhi kepalaku.
Melihat reaksi wajahku yang memerah di ikuti suara gemetar, dia kembali tersenyum smirk.
"Gua dari dulu penasaran, apa yang ada di pikiran lu kalau kita lagi sedekat ini." Tanyanya sambil mengusap lembut tulang pipiku.
Belaian tangannya sangat menghanyutkan, aku bingung kenapa setiap sentuhan yang dia daratkan ketubuhku selalu membuatku candu.
"Aku cuman mikir kita gak pantas ngelakuin hal kayak gini di lingkungan kampus." Jawabku mencari alasan untuk kabur.
"Emangnya kita ngapain, ga dosa juga. Lu ama gua kan muhrim!!"
"Ahh..itu!!" Aku kehabisan kata-kata.
"Kenapa lu terus ngomongin hal omong kosong ga berdasar kayak gini!!"
"Omong kosong!?"
"Lu bilang kalau lu ga bakalan balikan lagi ama Dimas karena sekarang udah ada gua, tapi sebenarnya lu cuman lagi nyari alasan buat menghindar!!" Jelasnya mengintimidasiku.
"Aku tidak mencari alasan untuk menghindar, itu.." aku diam sejenak sembari memalingkan wajah. "Aku berbicara dengan sungguh-sungguh!!"
"Kalau gitu buktiin!!" Balasnya.
"Apa?"
"Gua bilang buktiin kalau lu benar sungguh-sungguh!!" Dia menantangku.
Kami berdua kembali saling berpandangan dalam satu irama napas yang sama.
"Baik, apa yang kau inginkan dariku!?" Aku menjawab tantangannya.
Archie mengangkat tangannya, lalu mengusap lembut bibirku.
"Your first kiss!!" Ujarnya setengah berbisik. "I want..."
Tanpa ku perintah, dia sudah duluan memejamkan matanya.
Dan saat itu juga, ku rasakan detak jantungku semangkin bertalu-talu menggetarkan seluruh tubuhku.
Aku menghembuskan napas panjang, dan dengan gemetar, ku sentuh rahangnya menggunakan kedua tanganku.
Mungkin ini adalah sensasi yang tak kan pernah ku lupakan sepanjang hidupku, yaitu melihat wajahnya yang terpejam menunggu ciuman dari ku.
Dia mirip seseorang yang tertidur dalam kematian dan akan selamat setelah ku berikan ciuman. Seperti dongeng putri salju dalam versi kebalikan.
Ku penjamkan mataku saat dengan berlahan bibirku berhasil menyentuh bibirnya.
Sesaat ku dengar suara lenguhan berat keluar dari mulutnya, tapi langsung terhenti saat aku menautkan bibirku memeluk bibir bawahnya.
Suara napasnya menderu kuat seakan sedang menahan sesuatu yang berat, dan dia berusaha mencoba menopangnya dengan kekuatannya yang masih tersisa. Mungkinkah dia sedang menahan diri agar tak membalas ciuman ku, dan berusaha menikmati setiap prosesi yang aku berikan tanpa ternodai oleh tehnik liar nya.
Sampai ciuman itu berakhir, aku masih menutup kedua mataku karena takut tumbang akan perasaan ku sendiri saat melihatnya.
"Thanks." Ucapnya dengan suara berbisik, lalu pergi begitu saja dari ruangan itu.
Saat dia pergi, aku langsung membuka kedua mataku dengan napas tersengal.
"Hhhhhh...aku benar-benar melakukannya!!" Gumamku memegangi dadaku sendiri.
kirain mau hiatus lg
penasaran apa penyebab sofa sampe terguling.
kasih saran dong,😩😩😩
pot kembang aja ya, gua gak punya kupi🤗
Yuaga makin gawaras ya ...
btw, ini mangsudnya si Archie lu kawinin sama selain Anya?
Anya jadi apa?! Jasa penyedia obatkuat?!
yang bener aja, Begge! /Hammer/