NovelToon NovelToon
The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:976k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ms. Violin

{Season 1} Bagaimana nasibmu... ketika kau tiba-tiba harus menjadi istri dari Duke yang kejam hanya karena kematian yang disebabkan oleh sebuah gigi?

Takdir seperti itulah yang dialami oleh gadis lajang berusia 23 tahun bernama Cassandra.

Seorang aktris yang mengurung diri dari dunia dikarenakan skandal buruk yang menimpanya sat ia masih menjadi seorang aktris yang tengah naik daun.

Tanpa mengetahui seluruh isi alur cerita dan keburukan maupun kebaikan masing-masing karakter, ia terdampar di sebuah dunia yang masih minim akan pengetahuan teknologi.

Apa dia... bisa kembali ke kehidupan tenang dan membosankannya?

{Season 2} Sungguh menyakitkan ketika takdir sangat bersikeras memisahkan dirimu dengan orang yang kau kasihi.

Namun tak disangka, ternyata ada sebuah keajaiban yang membawa seorang gadis untuk kembali mengulang kehidupannya entah untuk ke berapa kalinya.

Dirinya yang awalnya lemah, kini berjuang untuk menjadi kepribadian yang kuat. Demi untuk akhir yang bahagia dalam cerita kehidupannya yang amat tragis.

Dengan seluruhnya rencana licik dan sandiwara yang menusuk, akankah ia bisa mendapatkan akhir yang bahagia dalam kisah hidupnya?

Status: End.

Cover by : Pinterest.

Note: Paling benci sama orang yang spam promosi atau spam komentar copy paste. Promosi boleh, boleh banget, asalkan jangan spam, secukupnya saja.

Jika kalian meminta feedback, tentu saya akan kasih asalkan kalian melakukan hal yang sama terhadap karya saya.

Sekali lagi, dilarang spam promosi maupun komentar copypaste! Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dan saya tidak akan diam saja ketika anda tidak menghargai saya sebagai pemilik lapak ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Violin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 : Sebuah Tawa

KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.

"Pasukan Nephorine menyerang wilayah bagian barat kita?" tanya seorang pria yang berjulukan sebagai putra mahkota, pangeran pertama, Pangeran Yari.

"Ya, mata-mata kita yang berada di wilayah barat habis tak tersisa," jawab sang pemimpin kerajaan Erosphire, Raja Hamilton Erosphire.

"Bagaimana bisa? Bukankah kita tidak ada masalah dengan Kerajaan mereka?" sahut sang pangeran kedua, pangeran Darren.

"Aku juga tak tahu, tapi ini tak bisa di biarkan, pasukan mereka lebih dari 800.000 orang, kita kalah jumlah."

"800.000 orang?!" Semua yang ada di ruangan itu terperangah, tapi tidak untuk pria bersurai pirang ini.

"Tapi, pasukan kita hanya 300.000 orang, Yang Mulia!" sela Marquess Houbatten.

Raja Hamilton mendengus kasar. "Bagaimana pendapatmu, Duke Floniouse? Sebagai pahlawan yang membawa kemenangan pada perang tahun lalu, apa kau punya solusi?"

Arlen melirik sejenak. "Menurut saya sebaiknya kita jangan bertindak gegabah terlebih dahulu. Kita harus mengetahui kelemahan mereka terlebih dahulu agar bisa mengalahkan 800.000 pasukan itu. Untuk sekarang, lebih baik kita memikirkan solusi yang paling tepat," papar nya.

"Namun bagaimana solusinya? Kita hanya memiliki 300.000 pasukan, sedangkan mereka 800.000 pasukan, pasukan mereka hampir tiga kali jauh lebih banyak. Mengetahui kelemahan mereka juga tidak ada gunanya jika kita kalau jumlah," protes Pangeran Darren.

Mendengar pernyataan Pangeran Darren, semua bangsawan-bangsawan yang ada di ruangan itu langsung bergumam dan saling berbisik.

"Tentu hal itu bisa," tegas Arlen. "Apa kau pernah mendengar bahwa semut bisa mengalahkan seekor gajah?"

"Apa maksudmu sebenarnya, Duke Floniouse?" tanya Pangeran Yari yang tampak tenang sedari tadi.

Pria bersurai pirang ini memasang tampang tegas. "Sebelum saya menjawab, saya ingin bertanya pada semua yang ada di dalam ruangan ini. Menurut kalian bagaimana semut dapat mengalahkan gajah yang memiliki badan besar dan kulit yang keras?"

Seluruh umat manusia yang ada di dalam ruangan itu tampak kembali riuh dan saling berdiskusi.

Namun, tak ada satu pun yang dapat menemukan jawabannya.

"Cepat katakan saja apa yang ingin anda sampaikan, Duke Floniouse," ucap Pangeran Darren dengan penekanan.

Arlen mengulas senyum miring. "Ada apa dengan mu, Pangeran Kedua? Sepertinya kau telah menyerah sebelum mencoba di peperangan kali ini," sindir pria itu mengundang decak kesal yang dilontarkan oleh Pangeran Darren.

"Lalu, apa jawabannya, Duke Floniouse?"

tanya sang Raja masih tenang dan berwibawa.

"Saya rasa saya tahu jawabannya, Yang Mulia," sahut Pangeran Yari. "Semut itu akan menyerang bagian dalam gajah yang lembut, seperti bagian dalam dari belalai nya yang panjang, apakah itu benar, Duke Floniouse?"

"Ya, tepat sekali, Yang Mulia. Oleh karena itu, sedikit apa pun pasukan kita, asal kita menemukan titik lemah mereka, mereka tak bisa berkutik."

Suasana kembali di isi dengan bisikan-bisikan, hingga akhirnya suara dari pemimpin mereka mengakhiri gumaman-gumaman tersebut.

"Pendapatmu cukup masuk akal, Duke Floniouse. Namun untuk sekarang, seperti yang kau bilang, lebih baik kita jangan bertindak gegabah terlebih dahulu. Jika kondisi memang sudah mendesak, baru lah kita akan mengambil langkah selanjutnya."

Pernyataan sang Raja menjadi keputusan akhir yang membubarkan rapat tersebut pada hari itu.

...🥀...

Hari telah berganti demi hari, hingga tak terasa hampir dua bulan terlewat sejak Cassandra berada di tempat ini.

Untuk sekarang, setidaknya keadaan wanita bersurai coklat itu tidak seburuk dan semiris saat beberapa hari sejak kejadian yang berhasil mengguncang jiwanya waktu itu.

Saat ini, diri nya sudah tidak terlalu takut jika berhadapan dengan seorang pria. Sambil berbaring, dia pun menceritakan bagaimana ciri-ciri yang ia alami waktu itu setelah meminum Wine pemberian Anastasia.

Namun dirinya tidak memberitahu bahwa Wine yang membuat dirinya seperti ini adalah Wine pemberian Anastasia, karena dia ingin membalas perbuatan wanita ular itu dengan caranya sendiri.

Lagipula, dirinya tidak mempunyai bukti untuk mengatakan bahwa Anastasia lah dalang di balik ini.

Karena di dunia ini belum ada yang namanya kamera pengawas atau bisa di sebut CCTV.

Jadi, jika dirinya menuduh Anastasia tanpa bukti yang kuat, sudah pasti siapa pun tidak percaya, karena semua orang tertipu oleh penampilan imut dan lugu wanita itu.

"Apa yang kau rasakan setelah meminum Wine itu?" tanya tabib yang Arlen panggil untuk memeriksa keadaan Cassandra.

Sambil menyenderkan punggungnya di kepala dipan, Cassandra menarik nafas menghembuskan nya pelan.

"Santai saja, ceritakan apa yang ingin kau ingat saja. Jika kau paksakan, mungkin mentalmu akan terguncang lagi," ucap tabib itu lembut dan Cassandra pun mengangguk pelan.

"Setelah saat saya meminum Wine itu, saya mulai merasa pandangan saya terasa kabur, wajah saya pun memerah persis seperti orang yang baru saja mabuk."

Arlen yang tengah berdiri seraya bersandar di dinding, menyilangkan kedua tangannya lalu fokus menyimak setiap kalimat yang terlontar dari bibir wanita itu.

"Apa hanya gejala tersebut yang kau alami?"

Cassandra tampak mengingat-ingat. "Saya juga merasakan seluruh badan saya mati rasa. Saya tidak bisa merasakan apa-apa waktu itu, dan saya pun tak bisa mengeluarkan tenaga saya," jelas Cassandra sambil tertunduk membuat tabib itu tampak berpikir.

"Jadi, apa penyebab semua ini?" tanya Arlen yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka.

"Sepertinya, ini adalah efek dari tanaman Kanna, Tuan," ujar tabib itu membuat Arlen mengernyit bingung.

"Kanna, tanaman apa itu?"

"Kanna adalah sejenis tanaman yang dapat membuat orang merasa tenang dan mengantuk, Tuan. Tapi, jika digunakan secara berlebihan, tanaman itu dapat membuat penggunanya berhalusinasi sampai badan mereka mati rasa," jelas tabib itu.

"Jadi kemungkinan, orang yang menaruh tanaman itu bukanlah orang biasa, karena tanaman Kanna bukanlah tanaman yang mudah di dapatkan," lanjutnya mengutarakan opininya.

"Bukan orang biasa?" gumam Arlen.

Tak lama dari itu, suasana menjadi hening. Namun dengan cepat, Cassandra memecah keheningan tersebut.

"Kalau begitu, apa saya bisa mengalami halusinasi itu lagi?" tanyanya seraya meremas selimut yang membalut hingga dari kaki hingga pinggangnya.

Terdapat keresahan dan ketakutan di balik iris coklat gelap yang membaur dengan pupil nya.

Tabib itu mengulas senyum di wajah nya yang mulai berkerut. "Tenang saja, jika kau tidak mengkonsumsi nya lagi, kau tidak akan berhalusinasi lagi," jawabnya berusaha menenangkan.

Wanita bersurai coklat tua bergelombang itu tampak menghembuskan nafas pelan, kemudian mencoba tersenyum. "Baiklah, terimakasih," ucapnya tersenyum lemah.

Tabib itu kembali tersenyum, kemudian bangkit berdiri dan hormat secara sopan pada Arlen.

"Kalau begitu, hamba pamit undur diri, Tuan. Nyonya pasti akan baik-baik saja, usahakan untuk tidak melakukan sesuatu yang mengundang trauma nya, atau Nyonya akan kembali tertekan." Nasihat tabib itu, kemudian pergi.

Kini tinggal mereka berdua yang berada di dalam ruangan itu, awalnya mereka hanya diam saja, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Namun tak lama dari itu, Arlen pun mulai melangkah kan kaki jenjang nya untuk pergi dari kamar itu. Lantas, Cassandra dengan sigap memanggilnya hingga langkah pria itu terhenti.

"Uhm... bisa kau kemari sebentar?" tanya wanita yang tengah duduk di atas permukaan dipan itu ragu-ragu.

Arlen dengan segera melangkahkan kaki nya mendekat ke arah wanita itu sesuai dengan permintaannya.

Sambil menunggu wanita itu bicara, dirinya hanya diam dengan raut wajahnya yang datar.

"I-itu... aku hanya ingin... b-berterimakasih padamu telah menyadarkan ku waktu itu," ucap wanita itu tergagap.

"Asal kau tahu, aku tak akan puas hanya dengan rasa terimakasih," sela nya seraya memalingkan wajah.

"Lalu apa yang kau inginkan? Aku mungkin bisa mengabulkan nya."

"Yang kuinginkan, hm?" Pria itu mulai menundukkan kepalanya mendekati Cassandra lalu berbisik. "Entahlah, aku perlu memikirkannya."

Cassandra merasakan rasa panas menjalar ketika pria itu menghembuskan nafasnya di daun telinganya.

Aneh, entah kenapa dia tidak takut ataupun terganggu sama sekali.

Dengan perlahan tapi pasti, Cassandra menjauhkan tubuh pria itu yang terlalu dekatnya.

"Kalau begitu, ketika kau sudah memikirkannya, kau bisa mencariku."

Cassandra kembali memasang wajah tenang seraya mengambil sebuah buku yang berada di sebelahnya.

"Buku apa itu?" tanya Arlen terusik sekaligus sedikit penasaran.

Cassandra melirik sejenak, dan tanpa sadar, kini pria itu telah duduk di sampingnya sambil mendekatkan wajah tampannya.

"Hei, menjauhlah!" sergah nya tapi tak berhasil membuat Arlen tak bergeming.

"Apa yang sedang kau baca?" tanyanya kembali.

Cassandra mendengus pasrah. "Hanya novel romantis biasa," jawabnya lalu netra nya pun kembali fokus pada setiap huruf yang tertulis rapi di buku yang lumayan usang tersebut.

Entah bagaimana mereka berdua malah menjadi membaca secara berjamaah, karena Arlen yang ikut-ikutan membaca novel yang biasanya di baca oleh para kaum hawa.

Tak lama kemudian, raut jijik terpatri di wajah tampan pria bersurai pirang itu di karenakan kata-kata romantis yang ada di dalam novel itu.

"Apa ini? Pemeran pria nya sangat berlebihan, bahkan menggunakan kata-kata romantis murahan yang menjijikkan seperti itu," celoteh nya membuat Cassandra hanya memutarkan bola matanya jengah.

"Itu tidaklah menjijikkan, itu romantis," protes wanita itu tak terima.

Tak lama dari itu, Cassandra terkesiap karena buku nya di tutup begitu saja. Netranya menyalang tajam menatap sang pelaku.

"Daripada kau membaca buku membosankan seperti ini, lebih baik kau ikut denganku," ujar pria itu bangkit dari duduknya.

"Ikut denganmu? Kemana?" tanya Cassandra ingin tahu.

"Ke sebuah desa kecil, akan ada festival di sana."

"Festival?!" Seketika bola mata wanita itu berpendar-pendar. "Aku ikut denganmu!"

"Persiapkanlah dirimu, kita akan pergi saat petang nanti," ujar pria itu lalu pergi.

Seusai Arlen pergi, entah kenapa Cassandra kembali bersemangat, dengan cepat dia berdiri untuk membersihkan dirinya sambil menjerit memanggil pelayan setianya.

"Elise! Cepat kemari dan bantu majikanmu yang cantik ini berpakaian!"

...🥀...

"Kau sudah selesai?"

Cassandra mengangguk, lalu Arlen pun melangkah dan dirinya pun mengikuti langkah pria itu.

Tapi, suara dari belakang menginterupsi niat mereka.

"Arlen, Cassandra, kalian mau kemana?" Suara imut dan menggemaskan itu menusuk-nusuk pendengaran Cassandra membuat empu nya mendengus pelan.

"Desa Priviillage," jawab Arlen singkat.

"Desa yang mengadakan festival perang tomat itu?! Apa aku boleh ikut dengan kalian?" tanya Anastasia ber antusias.

Cassandra berusaha tersenyum untuk menutupi kekesalannya, padahal dia ingin bersenang-senang, namun wanita ular itu malah menggangu nya.

Pria bersurai pirang yang berada di sebelahnya melirik dirinya sejenak.

Seakan tahu bahwa istri pertamanya tersebut merasa tak senang, dia pun membuka suara.

"Aku dan Cassandra bukan pergi untuk menghadiri festival itu, kami hanya ingin menemui tabib di sana."

Cassandra langsung mengedarkan pandangan nya untuk melirik pria itu, tapi dengan cepat ia kembali mengalihkan pandangannya.

"Kalau begitu, aku akan ikut--"

"Selagi kami pergi, bisakah kau menetap di sini untuk berjaga?" potong Arlen sebelum Anastasia menyelesaikan perkataannya.

Diam-diam, wanita itu mengepalkan telapak tangannya di belakang rok gaunnya yang mengembang.

"Baiklah, kalau begitu kalian pergilah. Aku akan menetap di sini," ucapnya sambil tersenyum manis.

Setelah itu, mereka berdua pun menaikkan kereta yang akan mengantarkan mereka menuju desa yang menjadi tujuan mereka.

Cassandra Pov

"Kenapa kau tak mengajak Anastasia?" tanyaku sedikit ketus, yah walaupun aku senang bahwa wanita itu tidak ikut dengan kami.

"Karena ada yang cemburu, jadi aku tidak mengajaknya," ucapnya santai sambil melipat kedua tangannya.

"Aku tidak cemburu!" sergah ku dengan cepat.

Lagipula siapa yang cemburu pada pria meyebalkan sepertinya?!

"Apa aku bilang bahwa itu kau?"

Skakmat!

Ujarnya membuat bungkam sekaligus merutuki diriku sendiri karena malu.

Stupid Cassandra!

"Ekhem!" Aku pun berdehem seperti orang berwibawa untuk menutupi rasa malu yang menghampiri ku.

Ku kepalkan tanganku dan ku posisi kan di depan bibirku lalu duduk dengan tegap berusaha untuk menghindari tatapannya.

Tak lama dari kami menempuh perjalanan, akhirnya kami pun sampai.

Terdapat banyak warna merah dan tomat berserakan di mana-mana, bahkan banyak orang saling melempar tomat dari sama lain.

Kurasakan ada sesuatu yang hangat dan besar menggengam telapak tanganku, sontak aku pun langsung melihat apa itu.

"Ayo." Ajak pria bersurai pirang yang ternyata pelaku yang menggenggam telapak tanganku.

Di duniaku dulu, aku sangat membenci pria yang secara lancang menyentuh bagian tubuhku. Kecuali untuk pekerjaan.

Namun, berbeda dengan sekarang. Justru aku malah merasa nyaman. Apa ini bawaan dari tubuh Cassandra la Devoline?

Entahlah, aku tak akan pernah mengetahuinya.

Untuk sekarang, diri ku hanya ingin mengikuti kemana dirinya akan pergi membawa ku.

Beberapa langkah kami berjalan, kini terdapat sebuah toko yang menjual banyak buah tomat.

Kami pun langsung menghampiri nya, dan Arlen membelinya dalam jumlah yang tak sedikit.

Sultan mah bebas.

Dia memberi ku setengah dari yang dia beli, dan dengan senang hati aku menerimanya.

Ceprak!

Belum sampai satu menit, kini ada sebuh tomat yang terlempar hingga pecah mengenai bagian belakang kepalanya.

Dia menunjukkan ekspresi terkejut seperti anak kecil yang baru saja menjatuhkan es krimnya sambil memegang kepalanya, dan aku benar-benar tak bisa menahan tawa ku melihat wajahnya.

"Hahaha!" Aku mengusap secercah air yang mengalir dari pelupuk mataku karena perutku yang sakit karena tertawa.

"Selucu itu kah menurutmu?" Dia bertanya sambil memandangku dengan wajah merajuk nya.

Tapi tak lama, kini malah aku yang menunjukkan raut wajah terkejut karena dia melempar tomat yang ada di genggamannya persis di wajahku.

Aku mengembangkan pipi ku kesal. "Sini kau!" teriak ku ingin membalas perbuatannya, tetapi dia malah melarikan diri sehingga kami berkejar-kejaran seperti kucing dan anjing.

Saat kami sibuk melempar tomat satu sama lain, tawa lepas menghiasi wajah tampannya yang biasanya di hiasi raut dingin dan datar.

Sudut bibirnya terangkat, lesung pipinya tercetak jelas, alisnya mengernyit dengan kelopak matanya yang tertutup saat dia berhasil melempar tomat tepat ke wajahku untuk kedua kalinya.

Aku... sangat menyukai tawa tulus itu.

^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^

^^^17 November 2020^^^

1
Awind Widayanti
ah oon
Sandiska Yunita
gak seru pemeran wanita nya bodoh lebih ke terlalu naif padahal transmigrasi dri abad 21 tapi ttp aj bodoh
Erlina Ibrik
Luar biasa
Nayla Ujji ...
ya.. udah. sekalian aku mampir.. thor.
salken.. dari ku.
sehat selalu buat dirimu..
Asmi Pandansari
jangan salahkan Anastasya yang licik tapi salahkan Casandra yang tidak cerdik
Asmi Pandansari
benar benar tidak berguna
Asmi Pandansari
itu gunanya seorang suami harus bisa melindungi istrinya kalau dia tidak bisa melindungi istrinya sendiri untuk apa jadi suami?????
Anonim
keren
Dede Mila
masih nyimak...
Mary 1283
Duke kek bodoh amat ya kalo dia melakukan hal itu pada Anastasia kok dia gak bisa merasakan tubuh nya sendiri seperti apa selepas melakukan itu????kok juga dia gak melihat apa tubuh Anastasia merah bekas melakukan atau kosong melompong....
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Dede Mila
aku udah geregetan banget...😬😬😬
Dede Mila
ya kan buat jaga jaga neng...🤣🤣🤣
Emmy Taylor
hahahaha
Baronsenk
apa km nggak bisa pura pura meminum nya
Renata Maharani
salah jodoh
amalia gati subagio
yach kan kemaren madu 1, menjebak dirinya sendiri pd pesona hitam si songong, melegalkan kejalimannya dgn konsep kewajaran & keharusan menerima?! hm pemikiran wanita moderen mandiri yg berkarier di dunia halu, terbiasa terpapar konsep kesetaraan, gegerbudayanya gak ngeganggu hidupnya? sexsualitas dimuka?? hmmm
amalia gati subagio
yach ratu drama gocengan nyasar gak mau rugi lah, menderita fisik & dipermalukan...masih hitung2 untung rugi, so....11 12 laki songong dgn madu pelakon, Ratu drama meski gocengan, tentu aksis utk pembuktian & juga kesenangan, ya kannnn 😜🙏
Anita Yuniar
tujuan arlen nikahin anastasya tuh apa ya
Yustika PAMBUDI
Thor nasib Cassandra yg keselek cincin gmn ? ga bangun lagi ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!