Siti terpaksa menggantikan saudari kembarnya, Lila, untuk menikahi putra sulung keluarga mafia Hartono di Indonesia, Aris yang buta. Beredar rumor bahwa tuan muda ini buta, penyendiri, berhati dingin, dan sulit didekati, tidak lain adalah “orang asing” dalam keluarga. Namun dibandingkan dengan mantan pacarnya yang brengsek, Andy—yang membawa kabur uang pengobatan ayahnya dan ingin memanfaatkan dirinya demi koneksi—Siti merasa pernikahan ini tidak seburuk itu.
Awalnya ia mengira menikah hanya sekadar formalitas dan sandiwara belaka. Siapa sangka setelah tinggal di vila, ia bukan hanya harus menghadapi sikap dingin Aris dan tekanan sang Kakek yang terus-menerus mendesak ingin punya cucu, tetapi juga harus membereskan kekacauan adiknya yang menghamili anak orang di luar nikah serta bersembunyi dari mantan pacar yang terus mencarinya.
Siti pun memutuskan bekerja di Grup Hartono demi mandiri. Dengan kemampuan memasaknya, ia meluluhkan hati sang tuan muda yang dingin, dan lewat suaranya, ia menyentuh sisi lembut Aris. Barulah ia menyadari—bos buta ini sama sekali bukan orang lemah! Pendengarannya tajam, pikirannya cerdas, jaringan relasinya luas, dan kekuatannya luar biasa. Bahkan perebutan hak waris keluarga pun dapat ia kendalikan dengan mudah!
Namun kebohongan tentang pengantin pengganti tak mungkin selamanya tersembunyi. Rahasia keluarga mafia pun mulai terkuak. Setelah hatinya diluluhkan oleh Siti, akankah Aris membiarkan orang lain menyakiti gadis yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Siti membuka mata perlahan, tubuhnya masih terasa lelah setelah malam yang penuh ketegangan. Pikirannya otomatis tertuju pada Aris, yang tadi malam mengalami muntah darah akibat suplemen yang diminumnya. Ia menahan napas, menarik selimut, dan menatap Aris yang masih tertidur di sisi tempat tidur. Matanya menatap wajah datar itu, tetapi hatinya dipenuhi kekhawatiran. Ia tahu, meskipun Aris biasanya terlihat tenang dan kuat, kejadian tadi malam bisa memberikan efek jangka panjang bagi kesehatannya.
Ia bangkit dengan hati-hati, bergerak perlahan agar tidak membangunkan Aris. Tubuhnya gemetar sedikit, tangan menempel di dinding sebagai penopang saat melangkah menuju ruang tamu. Di sana, kakek Aris sudah duduk di sofa, membaca dokumen dengan serius. Wajahnya menegang saat melihat Siti muncul.
“Siti… kau harus memberitahuku, apa benar Aris muntah darah tadi malam?” tanyanya dengan nada khawatir.
Siti mengangguk pelan, suaranya lembut namun tegas. “Ya, kakek. Aku sudah menolongnya, dan ia sudah menetralkan sendiri. Tapi aku pikir kakek harus tahu agar lebih berhati-hati ke depannya.”
Kakek Aris menundukkan kepala, wajahnya menegang. Ia menarik napas panjang, terlihat takut Aris akan marah jika mengetahui bahwa Siti memberitahunya. Tubuhnya sedikit gemetar, dan tangannya meremas dokumen. “Ah… ini… aku hanya khawatir… ia akan marah padaku jika tahu kau memberitahuku,” ucapnya pelan.
Siti tersenyum tipis, menepuk bahu kakek dengan lembut. “Jangan khawatir, kakek. Aku yang memberitahu, bukan untuk membuat masalah, tapi untuk memastikan semua aman. Aris akan mengerti.”
Setelah memastikan kakek tenang, Siti segera bersiap untuk berangkat ke Grup Hartono. Ia mengambil tas kerja, menata dokumen dan catatan pribadinya, lalu menuruni tangga dengan langkah cepat. Rio sudah menunggu di luar vila, mobilnya siap membawa Siti ke kantor pusat Grup Hartono.
Selama perjalanan, Siti menatap jendela, pikirannya sibuk memikirkan hari pertamanya bekerja. Ia merasa canggung, tetapi juga bersemangat. Bekerja di Grup Hartono bukan sekadar pekerjaan, tapi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, mandiri, dan tidak mengandalkan statusnya sebagai “istri Aris.”
Sesampainya di gedung tinggi Grup Hartono, Siti turun dari mobil, langkahnya mantap. Ia menyerahkan kartu identitas ke petugas keamanan, yang langsung memeriksa data dan mengizinkannya masuk. Tangannya sedikit gemetar, namun ia berusaha tetap tenang.
Di departemen sumber daya manusia, ia disambut oleh Pak Joni, manajer yang terlihat ramah namun profesional. Pak Joni mengulurkan tangan, tersenyum hangat. “Selamat datang, Siti. Dedi sudah memberitahuku. Silakan duduk, kita akan menyelesaikan proses administrasi dan orientasi awal.”
Siti mengangguk, duduk di kursi yang disediakan. Ia menata dokumen, menyerahkan CV, surat pengalaman kerja, dan beberapa dokumen penting lainnya. Pak Joni memeriksa semuanya dengan cepat, menandatangani beberapa formulir, dan menyelesaikan pendaftaran.
“Baik, semua selesai. Sekarang aku akan menghubungi Dedi untuk memastikan departemen perencanaan siap menampungmu,” ucap Pak Joni sambil menekan tombol telepon.
Beberapa menit kemudian, telepon di tangan Siti bergetar. Nama Dedi muncul di layar. Siti mengangkatnya dengan sigap.
“Siti, aku dengar kau baru saja mendaftar di Grup Hartono. Aku ingin menawarkan posisi sebagai sekretarisku. Departemen perencanaan memang penting, tapi juga sibuk dan melelahkan. Sebagai sekretariku, kau bisa belajar banyak, tapi tetap dekat denganku,” suara Dedi terdengar lembut namun mengandung nada optimis.
Siti menatap telepon, pikirannya cepat bekerja. Ia tersenyum tipis, menahan rasa canggung. “Terima kasih, Dedi. Aku sangat menghargai tawaranmu. Tapi aku ingin mencoba di departemen perencanaan. Aku ingin bekerja dengan kemampuanku sendiri, tanpa mendapatkan perlakuan khusus. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri.”
Dedi terdiam sesaat, terdengar suara napasnya di ujung telepon. “Kau… benar-benar ingin menanggung sendiri? Kau tahu departemen itu sangat menuntut. Tapi jika itu yang kau pilih, aku hormati keputusanmu. Aku akan memberitahukan atasanmu dan menyiapkan semua keperluan.”
Siti mengangguk pelan. “Terima kasih, Dedi. Aku siap belajar dan bekerja keras.”
Setelah menutup telepon, Siti menatap sekeliling ruangan HR. Tubuhnya sedikit tegang, tapi hatinya berdebar dengan campuran antusiasme dan gugup. Ia tahu hari ini adalah langkah pertama dari perjalanan barunya di Grup Hartono.
Pak Joni menyapanya kembali, memandu Siti melalui lorong-lorong gedung, menunjukkan ruang kerja, fasilitas, dan peraturan internal. Siti mengikuti dengan seksama, mencatat setiap informasi, dan mengingat setiap nama yang diperkenalkan kepadanya. Setiap langkah ia lakukan dengan penuh perhatian, sadar bahwa kesan pertama ini penting bagi rekan-rekannya dan juga bagi keluarga Hartono jika mereka mendengar tentangnya.
Akhirnya, mereka tiba di departemen perencanaan. Ruang itu luas, dipenuhi meja, komputer, dan dokumen proyek. Beberapa pegawai menatap Siti, beberapa tersenyum, beberapa menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Siti menunduk sopan, mengangguk kepada setiap orang, mencoba menunjukkan sikap profesional dan rendah hati.
Pak Joni memperkenalkan Siti secara singkat kepada tim, menjelaskan latar belakangnya, dan menekankan bahwa Siti adalah tambahan baru yang diharapkan bisa berkontribusi dengan ide-ide segar. Siti mengangguk, menyapa setiap anggota tim dengan lembut tapi tegas.
Saat Pak Joni pergi, Siti duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai menata dokumen-dokumen yang akan menjadi tugas pertamanya. Tangannya bergerak cepat, mengetik, membuka file, memeriksa rencana proyek sebelumnya, dan mencatat hal-hal penting. Ia merasakan adrenalin bekerja, kepuasan kecil muncul setiap kali menemukan kesalahan minor atau hal yang bisa diperbaiki.
Beberapa menit kemudian, telepon Siti bergetar lagi. Kali ini pesan dari Dedi: “Aku sudah memberitahukan atasanmu. Mereka menunggu kehadiranmu di rapat tim. Jangan khawatir, kau pasti bisa menyesuaikan diri.”
Siti menarik napas panjang. Ia menutup laptop sementara, merapikan dokumen di meja, dan bersiap menghadapi rapat pertamanya. Tubuhnya tegang, tetapi rasa percaya diri mulai muncul. Ia tahu, di departemen ini, ia tidak hanya bekerja untuk membuktikan diri kepada keluarga Hartono, tetapi juga membuktikan kemampuannya kepada dirinya sendiri.
Rapat dimulai. Kepala departemen membuka presentasi, membahas proyek yang sedang berjalan, dan mendiskusikan target yang harus dicapai. Siti mendengarkan dengan seksama, mencatat poin penting, dan sesekali mengajukan pertanyaan yang relevan. Setiap pertanyaan ia ajukan dengan hati-hati, memastikan bahwa ia tidak menyinggung siapa pun, tetapi tetap menunjukkan kemampuan analitis dan pemahamannya.
Beberapa anggota tim awalnya menatapnya skeptis, mungkin karena Siti dikenal sebagai istri Aris. Namun seiring waktu, cara ia berinteraksi, menyusun ide, dan memberikan masukan yang tepat mulai mengubah pandangan mereka. Perlahan, mereka mulai menghargai kehadirannya, beberapa bahkan menoleh dan tersenyum ketika ia memberikan masukan yang berguna.
Selesai rapat, Siti kembali ke mejanya, menata catatan, dan mulai menyusun strategi kerja. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya puas. Ia tahu, hari ini hanyalah awal dari perjalanan panjang, dan setiap langkah kecil yang ia lakukan akan menjadi dasar bagi kepercayaan dirinya di Grup Hartono.
Sore harinya, setelah rapat kedua dan beberapa koordinasi internal, Siti duduk sejenak di mejanya. Napasnya berat, tubuhnya lelah, tapi hatinya hangat. Ia menatap jendela, memikirkan malam sebelumnya, kejadian muntah darah Aris, perhatian kakek, dan langkah pertamanya di departemen perencanaan. Semua itu membentuk pengalaman baru yang membuatnya sadar akan tanggung jawab, ketekunan, dan kemandirian.
Ia menepuk bahu sendiri dengan lembut, tersenyum tipis. “Aku bisa melakukannya. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri, bekerja keras, dan tetap menjaga hubungan dengan semua orang di sekitarku,” gumamnya pelan.
Sore itu, ketika Rio menjemputnya untuk kembali ke vila gunung, Siti merasa lega. Tubuhnya lelah, tapi jiwanya merasa ringan. Ia tahu, hari ini adalah awal dari perjalanan panjang, tetapi ia siap menghadapi setiap tantangan yang akan datang. Dengan kepala tegak, tangan memegang tas kerja, dan hati yang mantap, Siti kembali ke vila, siap menghadapi kehidupan baru—sebagai istri Aris, anggota keluarga Hartono, dan wanita yang bertekad membuktikan kemampuannya sendiri.