NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:64
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Orang yang Mengintai

Gibran selalu datang ke sekolah lebih pagi dari yang lain kebiasaan lama yang tidak pernah berubah sejak SMP, katanya karena ia tidak suka terburu-buru, meski rumahnya sebenarnya paling dekat di antara mereka semua dan ia bisa saja santai berangkat belakangan. Pagi itu, seperti biasa, ia berjalan santai menyusuri trotoar menuju gerbang sekolah sambil menyeruput minuman kotak dari warung dekat rumahnya, pikirannya sedikit melayang memikirkan percakapan singkat dengan Naya kemarin.

Gadis itu terasa berbeda dari murid pindahan pada umumnya, lebih waspada, lebih banyak menyimpan rahasia di balik senyum ramahnya. Namun sesuatu membuatnya berhenti di tengah jalan. Sebuah mobil sedan hitam terparkir di seberang sekolah, di tempat yang biasanya kosong karena bukan area parkir resmi. Kaca jendelanya sedikit terbuka, dan dari celah itu, Gibran bisa melihat sekelebat lensa kamera mengarah ke halaman sekolah tepat ke arah gerbang tempat murid-murid biasa berkumpul menunggu bel masuk.

Ia mengamati sejenak dari kejauhan, berpura-pura sibuk dengan ponselnya, sebelum akhirnya memutuskan mendekat perlahan, menyusuri sisi jalan agar tidak terlalu mencolok. Semakin dekat, ia bisa melihat sosok pria berjaket abu-abu duduk di kursi kemudi, kamera profesional tergantung di lehernya, terus memotret ke arah gerbang setiap kali ada murid yang lewat.

"Woy!"

teriak Gibran tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri karena reaksi spontannya.

"Ngapain lo motret-motret orang di sini?!"

Pria itu tersentak, buru-buru menurunkan kameranya dan menyalakan mesin mobil. Gibran berlari mendekat, mencoba melihat lebih jelas wajah pria itu, tapi mobil sudah keburu melaju kencang meninggalkan tempat parkir, membelok tajam di persimpangan sebelum menghilang dari pandangan. Namun sesuatu jatuh dari jendela mobil yang setengah terbuka itu sebuah kartu kecil, terlempar begitu saja tanpa disengaja saat mobil melaju cepat.

Gibran memungutnya dari trotoar. Sebuah kartu identitas perusahaan, dengan logo minimalis berwarna biru tua dan tulisan tegas di bagian tengahnya: *PT WIRAWAN BIOTEK Divisi Riset & Pengembangan* Di bawahnya tertera nama: *Ferdi Anggara, Staf Lapangan.*

Gibran menatap kartu itu cukup lama, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit dibaca bukan sekadar kebingungan seorang remaja yang baru saja memergoki orang asing mencurigakan, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih tenang, seolah nama itu bukanlah hal yang benar-benar baru baginya. Ia memasukkan kartu itu ke saku celananya, lalu melanjutkan langkah menuju sekolah dengan wajah yang kembali datar seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

...****************...

"Serius lo liat orangnya motret-motret ke arah gerbang?"

tanya Josh begitu Gibran menceritakan kejadian itu saat istirahat, menunjukkan kartu identitas yang tadi ia temukan.

"Iya, serius. Gue sampe teriakin dia, eh dia malah kabur,"

jawab Gibran, memberikan kartu itu pada Josh untuk diperiksa lebih dekat. Veron mengambil alih kartu itu dari tangan Josh, membolak-baliknya dengan wajah serius.

"PT Wirawan Biotek... gue belum pernah denger nama ini sebelumnya."

"Mungkin cuma perusahaan riset biasa yang lagi survei lokasi buat proyek apa gitu,"

kata Brandon, meski nada suaranya sendiri terdengar tidak yakin dengan penjelasannya sendiri.

"Ngapain riset survei lokasi harus motret diam-diam kayak mata-mata?"

sanggah Veron.

"Kalau emang legal, biasanya mereka izin dulu ke sekolah."

Josh mengambil kembali kartu itu, menatap logo birunya lama-lama. Ada sesuatu yang terasa familiar, meski ia tidak bisa menjelaskan dengan tepat kenapa nama itu membuat perutnya terasa mual.

"Coba kita cari tahu soal perusahaan ini,"

usul Josh akhirnya.

"Kalau emang nggak ada hubungannya sama kejadian-kejadian belakangan ini, ya udah, kita anggap kebetulan aja."

"Dan kalau ada hubungannya?" tanya Brandon.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.

...****************...

Sepulang sekolah, mereka berlima termasuk Naya yang tanpa diduga ikut bergabung setelah mendengar sedikit obrolan mereka di kelas duduk di perpustakaan sekolah, mencoba mencari informasi soal PT Wirawan Biotek lewat komputer umum yang tersedia.

"Kenapa lo ikutan?" tanya Brandon pada Naya, sedikit curiga.

"Gue penasaran aja," jawab Naya santai, duduk di kursi kosong tanpa diminta.

"Lagian anak baru kayak gue kan butuh temen."

Josh memperhatikan bagaimana Naya mengetik nama perusahaan itu di kolom pencarian dengan cepat, seolah sudah tahu persis apa yang ia cari, bukan sekadar penasaran biasa. Hasil pencarian menampilkan situs resmi perusahaan yang terlihat profesional bergerak di bidang riset neurosains dan teknologi energi, berdiri sejak lima belas tahun lalu, dengan direktur utama bernama Dr. Hartono Wirawan. Fotonya menampilkan seorang pria paruh baya berkacamata, tersenyum ramah dalam balutan jas rapi terlihat seperti pengusaha biasa pada umumnya, tidak ada yang mencurigakan sama sekali dari penampilannya.

"Nggak ada yang aneh sih dari websitenya," gumam Brandon.

"Coba scroll ke bawah,"

kata Naya tiba-tiba, menunjuk ke arah bagian sejarah perusahaan.

Josh membaca dengan saksama. Perusahaan itu didirikan oleh kakek Dr. Hartono, seorang ilmuwan bernama *Prof. Wirawan Sudarsono*, yang disebut pernah

"melakukan penelitian perintis di bidang anomali energi biologis pada tahun 1990-an, sebelum akhirnya beralih fokus ke riset komersial modern." Josh merasakan tengkuknya dingin membaca kalimat itu. Tahun 1990-an. Tiga puluh tahun lalu.

"Ini..."

Veron menatap layar dengan mata membelalak. "Ini persis waktu kejadian Raka dan Pak Ian dulu."

Josh membaca ulang kalimat itu sekali lagi, mencoba mencerna setiap kata dengan lebih saksama. Sebuah perusahaan riset modern, dikelola cucu dari ilmuwan yang dulu melakukan eksperimen di laboratorium sekolah mereka sendiri, kini tiba-tiba muncul mengawasi mereka tanpa alasan yang jelas kebetulan semacam itu terasa terlalu rapi untuk benar-benar disebut kebetulan.

Gibran, yang duduk agak menjauh dari layar sambil berpura-pura sibuk dengan buku di rak terdekat, tidak berkata apa-apa. Namun tangannya, yang sejak tadi bersembunyi di saku celana, meremas kartu identitas Ferdi Anggara yang masih tersimpan di sana benda yang seharusnya sudah ia serahkan sepenuhnya pada Josh, tapi diam-diam ia simpan salinan fotonya sendiri di ponsel sebelum tadi memberikan kartu aslinya.

"Kita harus cari tahu lebih jauh soal ini,"

kata Josh pelan, menutup laman itu dengan tangan sedikit gemetar.

"Kalau perusahaan ini emang ada hubungannya sama Proyek dulu, kita nggak boleh diam aja."

Naya mengangguk setuju, meski ia sendiri tampak lebih tenang dari yang seharusnya untuk seseorang yang baru pertama kali mendengar nama Proyek Cakrawala.

Josh sempat memperhatikan hal itu sekilas, namun buru-buru mengabaikannya, terlalu sibuk memikirkan implikasi dari apa yang baru saja mereka temukan.

"Gue duluan pulang,"

kata Brandon akhirnya, memeriksa jam di ponselnya.

"Emak gue udah nelepon dua kali."

Mereka membubarkan diri satu per satu, meninggalkan perpustakaan yang mulai sepi menjelang petang. Josh berjalan pulang sendirian, pikirannya masih dipenuhi nama Dr. Hartono Wirawan dan kemungkinan hubungan gelap antara perusahaannya dengan tragedi yang menimpa Raka dan Pak Ian tiga puluh tahun silam. Tidak seorang pun di ruangan itu menyadari, jauh di balik jendela perpustakaan yang menghadap parkiran sekolah, mobil sedan hitam yang sama sudah kembali terparkir di sana kali ini lebih jauh, lebih hati-hati, tapi tetap mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari kejauhan.

Josh menutup laptop perpustakaan itu perlahan, pikirannya dipenuhi rentetan pertanyaan baru yang belum bisa ia jawab. Ia menatap Veron dan Brandon bergantian, menyadari dari wajah mereka bahwa kekhawatiran yang sama juga mulai tumbuh di benak masing-masing bahwa apa pun yang sedang terjadi ini, baru saja dimulai, dan kemungkinan besar akan jauh lebih rumit dari yang bisa mereka bayangkan sekarang.

...****************...

1
CRZ CREW
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!