NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — BAYANGAN MASA LALU

BAB 13 — BAYANGAN MASA LALU

Malam mulai menyelimuti Kota Ardhana.

Angin dingin berembus pelan melewati taman kediaman keluarga Axlarta.

Mahendra dan Eiri masih duduk berdampingan di bangku taman. Lolipop rasa stroberi yang tadi diberikan Mahendra kini hampir habis di tangan Eiri.

Eiri memandang langit yang dipenuhi bintang.

"Sudah lama sekali aku tidak melihat langit seindah ini..."

Mahendra menoleh sekilas.

"Dulu kamu juga suka melihat bintang."

Eiri tersenyum kecil.

"Benarkah?"

Mahendra terdiam.

Ia hampir saja mengatakan terlalu banyak.

"Hanya... firasatku saja."

Eiri mengangguk pelan.

Namun entah mengapa, setiap Mahendra berbicara tentang masa lalu, hatinya selalu terasa berdebar.

Di balik semak-semak.

Seseorang masih memperhatikan mereka.

"Wah..."

"Hubungan mereka berkembang lebih cepat dari yang kuduga."

Suara itu terdengar pelan.

Orang tersebut mengeluarkan ponsel lalu mengambil satu foto Mahendra dan Eiri yang sedang duduk bersama.

Klik.

Setelah itu, ia segera pergi sebelum para pengawal menyadarinya.

Keesokan paginya.

Mahendra sudah bersiap berangkat ke kantor.

"Eiri."

"Iya?"

"Hari ini aku akan pulang agak malam."

"Baik."

"Kalau ingin keluar rumah, bilang kepada pengawal."

Eiri mengangguk.

"Aku mengerti."

Mahendra menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya pergi.

Entah kenapa...

Ia selalu merasa khawatir meninggalkan Eiri sendirian.

Satu jam kemudian.

Melveri menghampiri Eiri yang sedang membaca buku resep di ruang keluarga.

"Eiri."

"Iya, Kak?"

"Mau ikut denganku?"

"Ke mana?"

"Belanja."

Mata Eiri langsung berbinar.

"Boleh."

Tak lama kemudian mereka berangkat ditemani dua orang pengawal.

Sebuah pusat perbelanjaan.

Tempat itu ramai dipenuhi pengunjung.

Melveri dan Eiri berjalan sambil berbincang santai.

"Eiri."

"Hm?"

"Kalau nanti kamu membuka kafe lagi..."

"Aku ingin menjadi pelanggan pertamamu."

Eiri tersenyum lebar.

"Tentu."

"Tapi nanti Kakak harus bayar."

Melveri tertawa.

"Dasar."

Keduanya tertawa bersama.

Pemandangan itu membuat para pengawal ikut tersenyum.

Mereka terlihat seperti kakak-adik sungguhan.

Padahal...

Mereka memang kakak-adik kandung.

Hanya saja belum mengetahuinya.

Di sisi lain pusat perbelanjaan.

Marchel baru saja selesai menghadiri rapat dengan klien.

Saat hendak pulang...

Ia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya.

"Eiri?"

"Dan... Kak Melveri?"

Marchel menghampiri mereka.

"Wah, ternyata benar."

Eiri tersenyum.

"Marchel!"

"Kebetulan sekali."

Melveri ikut tersenyum.

"Kau juga di sini?"

"Iya."

Marchel kemudian menawarkan.

"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"

Melveri menoleh kepada Eiri.

"Bagaimana?"

Eiri mengangguk.

"Boleh."

Sementara itu.

Di kantor Axlarta Group.

Mahendra sedang memimpin rapat.

Namun pikirannya tidak fokus.

"Tuan?"

Suara salah satu direktur membuyarkan lamunannya.

"Maaf."

"Lanjutkan."

Saat itulah Asisten 01 masuk dengan tergesa-gesa.

"Tuan."

Mahendra langsung berdiri.

"Ada apa?"

"Asisten baru menerima laporan."

"Nona Eiri sedang berada di pusat perbelanjaan bersama Nona Melveri."

"Itu tidak masalah."

"Asisten belum selesai."

Mahendra mengernyit.

"Tuan Marchel juga berada di sana."

Ruangan mendadak hening.

Para direktur saling berpandangan.

Mahendra menghela napas panjang.

"Rapat selesai."

"Tuan?"

"Aku ada urusan."

Tanpa menunggu jawaban, Mahendra langsung keluar.

Di restoran.

Marchel sedang bercerita tentang masa kecilnya.

"Aku sebenarnya tidak ingat banyak."

"Ehh?"

Eiri menatapnya.

"Maksudmu?"

Marchel tersenyum tipis.

"Aku kehilangan sebagian ingatan waktu kecil."

"Katanya karena kecelakaan."

Eiri merasa kasihan.

"Maaf..."

"Tidak apa-apa."

Melveri yang sedari tadi diam mulai memperhatikan Marchel.

"Aneh..."

gumamnya.

"Kenapa?"

tanya Marchel.

"Tidak tahu."

"Aku merasa wajahmu juga tidak asing."

Marchel tertawa kecil.

"Mungkin karena kita sering bertemu."

"Ya... mungkin."

Tetapi hati Melveri mengatakan ada sesuatu yang berbeda.

Tiba-tiba...

Brak!

Suara benturan keras terdengar dari luar restoran.

Semua orang menoleh.

Seorang anak kecil hampir tertabrak sepeda motor.

Tanpa berpikir panjang...

Eiri langsung berlari.

"Awas!"

Ia menarik tubuh anak kecil itu hingga keduanya terjatuh di trotoar.

Anak itu selamat.

Namun siku Eiri terluka.

"Ah..."

"Eiri!"

Marchel langsung menghampiri.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja."

Saat itulah...

Sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan restoran.

Mahendra turun dengan wajah panik.

"EIRI!"

Ia berlari menghampiri istrinya.

Melihat darah di siku Eiri...

Wajah Mahendra langsung berubah dingin.

"Siapa yang melakukan ini?"

"Tuan..."

"Aku tidak apa-apa."

Mahendra sama sekali tidak mendengarnya.

"Asisten!"

"Iya, Tuan."

"Cari pengendara motor tadi."

"Asisten mengerti."

Eiri segera memegang tangan Mahendra.

"Tolong jangan marah..."

"Aku benar-benar baik-baik saja."

Mahendra menatap luka kecil di tangan Eiri.

Perlahan...

Raut wajahnya melunak.

Tanpa berkata apa pun, ia mengeluarkan sapu tangan dan membalut luka itu dengan hati-hati.

Melihat pemandangan tersebut...

Marchel hanya tersenyum tipis.

"Dia benar-benar mencintainya..."

gumamnya pelan.

Namun di dalam hatinya...

Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Bukan karena cemburu.

Melainkan karena melihat Eiri terluka membuat dadanya ikut terasa sakit.

Seolah-olah...

Ia sedang melihat seseorang yang sangat berharga baginya.

Di kejauhan...

Rivan memperhatikan mereka dari dalam mobil.

"Ingatan itu..."

"Mulai memanggil mereka satu per satu."

Rivan menggenggam sebuah map tua.

"Sebentar lagi..."

"Rahasia keluarga Aldrick tidak akan bisa disembunyikan lagi."

Bersambung ke BAB 14 — Jejak Kenangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!