"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Jarum jam dinding di ruang tamu mewah itu baru saja bergeser melewati angka empat.
Keheningan subuh di kawasan rumah elite di salah satu kawasan Jakarta itu mendadak terusik oleh suara klik halus dari gagang pintu utama yang diputar dengan sangat hati-hati.
Tsabita Azzahra—atau yang lebih akrab dipanggil Bita oleh teman dan keluarganya—melangkah masuk ke dalam rumah dengan gerakan super lambat. Sepasang heels yang malam ini terasa sangat menyiksa, sudah berpindah ke tangan kirinya agar tidak menimbulkan suara ketukan di atas lantai marmer. Tubuhnya yang dibalut kardigan hitam di atas crop top beraroma campuran parfum mahal dan sisa-sisa alkohol itu bergerak agak limbung. Kepalanya terasa benar-benar berputar, efek dari beberapa sloki minuman yang ia habiskan di salah satu lounge eksklusif di kawasan Senopati beberapa jam lalu.
Bita mengembuskan napas lega saat berhasil melewati koridor depan. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan kasur king size-nya yang empuk untuk menuntaskan rasa pening yang luar biasa ini. Namun, harapannya hancur berkeping-keping begitu ia melangkah ke ruang tengah.
Seketika, lampu gantung kristal yang megah di ruangan itu dinyalakan, membuat mata Bita yang kuyu refleks menyipit karena silau. Di sana, tiga orang telah duduk menantinya dengan formasi lengkap. Aura di ruangan itu mendadak berubah menjadi lebih mencekam daripada interogasi kepolisian.
Papa berdiri bersedekap di samping saklar lampu dengan wajah kaku, rahangnya mengeras menahan amarah yang sudah diubun-ubun. Mama duduk di sofa panjang. Sementara di sudut lain, Safira—kakak perempuan Bita yang selalu tampil anggun, rapi, dan tanpa cela—duduk dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bagus. Pulang jam empat pagi, jalan sempoyongan, bau alkohol. Mau jadi apa kamu sebenarnya, Tsabita?!" suara Papa menggelegar, memecah keheningan subuh dengan nada yang bergetar karena emosi.
Bita menghela napas panjang. Bukannya takut, gadis itu malah memutar bola matanya malas. Ia menegakkan tubuhnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang tersisa setengah akibat pengaruh alkohol.
"Papa, please, jangan teriak-teriak. Ini masih subuh, nanti kedengeran tetangga," sahut Bita dengan nada santai, tipikal gaya bicaranya yang acuh tak acuh. "Bita cuma hangout bentar sama anak-anak, chill aja kali."
"Kamu bilang chill?!" Papa melangkah maju dengan tatapan mata yang berkilat marah. "Dua minggu lalu tagihan kartu kredit kamu bengkak puluhan juta cuma buat open table! Dan sekarang kamu pulang subuh dalam keadaan mabuk seperti ini?! Kamu itu perempuan, Tsabita!"
Mama terisak mendengar rincian kenakalan putrinya. "Astagfirullah, Bita... Mama udah gak tahu lagi harus pakai cara apa buat kasih tahu kamu. Kenapa kamu gak bisa meniru Mbakmu sedikit saja? Kalem, penurut, gak pernah bikin orang tua pusing."
Mendengar nama kakaknya dibawa-bawa, ego Bita langsung tersentil. Ini adalah alasan utama mengapa ia memilih menjadi anak pemberontak di keluarga ini. Sejak kecil, ia selalu hidup di bawah bayang-bayang Safira yang sempurna. Safira yang lulusan terbaik, Safira yang menutup aurat dengan sempurna, Safira yang selalu bertutur kata lembut. Karena merasa tidak akan pernah bisa menyamai standar emas itu, Bita memilih jalan sebaliknya: menjadi seberantakan mungkin agar orang tuanya tahu bahwa ia lelah dibanding-bandingkan.
"Ya udah, kalau emang Bita selalu salah dan Mbak Safira selalu benar, kenapa Papa gak buang Bita aja dari dulu? Lagian Bita udah gede, Bita tahu batasan Bita sendiri," balas Bita sinis, membalas tatapan tajam Papanya tanpa rasa gentar.
"Kamu tidak tahu batasan, Tsabita! Kamu sudah kehilangan arah!" potong Papa dengan suara yang mendadak merendah, namun justru terdengar jauh lebih berbahaya dan mutlak. "Papa dan Mama sudah habis kesabaran. Kami sudah tidak mampu lagi mendidik kamu dengan kata-kata atau materi. Jadi, Papa sudah mengambil keputusan final."
Bita menaikkan sebelah alisnya, menaruh kedua sepatunya di lantai lalu bersedekap. "Keputusan apa lagi? Mau sita mobil Bita? Atau mau blokir semua credit card Bita? Silakan."
Papa tersenyum tipis, jenis senyum dingin yang seketika membuat bulu kuduk Bita meremang.
"Tidak semudah itu. Kali ini Papa tidak akan menyita barang-barangmu," kata Papa, menjeda kalimatnya sejenak untuk memberikan efek penekanan yang fatal. "Kamu akan Papa nikahkan. Bulan depan."
Kata-kata itu bagai bom yang meledak tepat di depan wajah Bita. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya rasanya menguap seketika. Matanya yang tadinya sayu langsung membelalak lebar.
"Nikah?! Papa bercanda, kan?! Like, seriously, hari gini masih ada jodoh-jodohan? Bita baru umur dua puluh satu, Pa! Masih kuliah! Siapa juga yang mau nikah muda?!" rentetan protes keluar dari bibir Bita dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Papa tidak main-main. Papa sudah membicarakan hal ini dengan sahabat lama Papa, pemilik sebuah Pesantren di Jakarta sini. Beliau punya anak laki-laki yang sangat luar biasa. Namanya Ibra. Gus Ibra Al Zayn. Dia sosok yang sangat tenang, lembut." jelas Papa panjang lebar tanpa memberikan celah bagi Bita untuk mengelak.
Mendengar nama itu, Bita hanya mendengus dalam hati. Ibra Al Zayn. Nama yang terdengar sangat religius dan kaku, pikirnya sinis.
"Kalau itu cowok emang sesempurna yang Papa bilang—tenang, lembut, anak pemilik pesantren kenapa harus buat Bita? Buat Mbak Safira aja, Pa! Aku udah punya pacar."
"Tsabita! Jaga bicaramu!" bentak Papa, wajahnya kembali memerah karena kelancangan putrinya yang mengarang cerita.
"Lho, Bita serius, Pa. Kasihan kan Gus-nya kalau dapet istri kayak Bita yang hobinya pulang subuh pakai pakaian terbuka. Jelas-jelas Mbak Safira yang dari dulu pengen dapet jodoh kayak begitu," lanjut Bita dengan nada meremehkan yang memicu kekesalan, sengaja memancing reaksi orang tuanya agar membatalkan perjodohan gila ini.
"Papa tidak peduli kamu punya pacar atau tidak. Putus dengan dia besok pagi!" keputusan Papa tidak bisa diganggu gugat. "Bulan depan, kamu tetap akan menikah dengan Ibra. Mau tidak mau, suka tidak suka. Kalau kamu menolak, seluruh hakmu sebagai anak di rumah ini akan dicabut, dan Papa sendiri yang akan mengeluarkanmu dari rumah ini."
Papa berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruang tamu dengan langkah gusar, diikuti oleh Mama yang masih terus mengusap air matanya dengan tisu.
Kini, di ruangan yang luas itu, hanya tersisa Bita dan Safira. Bita menatap kakaknya yang masih terpaku di sofa. Safira menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya.
Bita mengembuskan napas pendek, mengencangkan pegangan pada kardigannya. Ia berbalik membelakangi Safira, melangkah menuju kamarnya di lantai atas dengan langkah mantap, meskipun di dalam hatinya tengah berkecamuk hebat akibat keputusan sepihak Papanya.
Gus Ibra Al Zayn, batin Bita sambil mengepalkan tangan erat-erat saat menaiki anak tangga. Gue gak tahu seberapa hebatnya lo sampai bisa bikin Mbak gue Tapi yang jelas, lo udah bikin hidup gue berantakan bahkan sebelum kita ketemu.