Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. "Hubungan"
“Hai.” Sapa orang tersebut dengan senyum dan raut wajah bersalah nya yang semakin membuat perut Rania sakit tak tertahan kan.
“Untuk apa anda kemari?” Rania merubah raut terkejutnya dengan wajah yang begitu dingin, lain halnya dengan perasaan dalam dirinya yang campur aduk.
“Rania, a-aku ingin minta maaf. Aku-“
“Tak ada yang perlu di maafkan, tolong pergi! Jangan mengusik kebahagiaan saya.” Rania mati-matian menahan rasa gugup yang menyelimuti hatinya.
Suara Ranua antara bergetar panik dan sedih, ia kembali diingatkan dengan masa lalu yang selalu ingin ia lupakan.
“Aku mohon, maafkan aku. Setidaknya aku ingin berbicara bukan sebagai orang asing melainkan sebagai kakak dan adik.” Mohon orang itu yang kini berusaha menggapai Rania, sedangkan Rania melihat sengit kearah Keisha, dengan cepat Rania mundur selangkah untuk menghindari pelukan Keisha.
“Pergi!” Keisha tersentak kaget melihat penolakan serta suara Rania yang begitu dingin hingga menusuk ke ulu hatinya.
“Beri aku kesempatan, Rania. Kakak mohon!" Keisha memutihkan air matanya, sedangkan Rania sedikit meluluh karena perkataan Keisha yang memperjelas hubungan kakak beradik di antara mereka.
“Anda punya waktu 15 menit.” Rania masuk ke dalam tanpa menutup pintu, Keisha bernapas lega dan langsung terlihat sumringah mendapati kesempatan yang diberikan oleh Rania. Tak butuh waktu lama, Keisha mengikuti Rania untuk masuk ke dalam lalu menutup pintu.
-
“Apa maksud anda?!” Rania memberi penekanan di setiap katanya, ia tak habis pikir setelah mendengar penjelasan dari Keisha yang mengatakan alasan wanita itu bisa sampai sini.
Sebelumnya Keisha menceritakan bahwa seluruh orang sudah mengetahui kenyataan siapa sebenarnya jati diri Rania, semua orang juga telah mencarinya.
Rania sempat bersedih mendengar kabar meninggalnya Haryo. Namun belum sempat ia menitikkan air mata, perkataan Keisha yang menyebutkan alasannya datang menemui Rania adalah karena Keisha tak sengaja melihat alamat rumah Rania yang ada di meja kerja Vano, serta Keisha yang sempat kelepasan mengatakan bahwa Vano telah mencari tahu segala sesuatu terkait dirinya selama beberapa bulan ini.
“Dia memata-matai ku?!” Kini Rania mulai meninggikan suaranya. Keisha susah payah menelan ludahnya melihat amarah Rania untuk pertama kalinya.
“Aku tidak tahu. Tenangkan dirimu.” Rania hendak meledakan amarahnya namun tendangan dari dalam perutnya menghentikan hal itu. Keisha melirik ke arah perut Rania, rasa bersalah pun menggelitik perasaannya.
“Rania anak itu-“
“Apa ada hal lain yang ingin kau jelaskan?” Rania mulai risih mengetahui arah pandangan juga pertanyaan Keisha yang menjurus pada asal-usul anaknya.
Akhir-akhir ini Rania begitu sensitif terkait hal-hal yang menyangkut putra yang sedang dikandungnya itu.
Keisha yang semakin dihantui rasa bersalah pun ingin membayar hal tersebut, ia berpikir bagaimana cara agar adiknya ini bisa memaafkan dirinya.
“Rania, aku dengar kamu putus kuliah. Bagaimana jika nanti setelah anakmu lahir, kamu lanjutkan kuliahmu, dan untuk anakmu kamu bisa menitipkannya padaku dan pada-“
“Cukup!” Lagi-lagi Rania memotong perkataan Keisha, nadanya tak lagi dengan amarah ataupun bentakan. Namun justru nada tenang yang terselip dalam intrupsi Rania tadi membuat Keisha was-was.
“Kalau kau kemari hanya untuk merebut anakku, lebih baik kau pergi! Dan dengar! Hidupku bukanlah urusanmu. Kau urus saja keluarga kecil dan juga kedua orang tuamu.” Keisha ternganga mendengar kata-kata tenang namun menusuk yang keluar dari mulut Rania.
“Habiskan minumanmu, dan segera angkat kaki dari sini. Saya tidak ingin mengusir tamu terlebih tamu itu adalah istri serta anak dari keluarga terhormat.” Hati Keisha sakit mendengar perkataan tajam Rania, sedangkan Rania dengan segera masuk ke dalam kamar.
Keisha ingin menahannya akan tetapi kakinya begitu lemas. Jauh sebelum ini Keisha sudah menyiapkan mental untuk bertemu Rania, ia yakin pasti akan ada penolakan dan Keisha sudah siap akan hal itu.
Namun setelah mengalaminya langsung, Keisha seakan dihempas dengan keras ke dasar jurang.
-
Rania mencoba menetralkan amarah serta degup jantungnya yang menggila, ia bahkan tak percaya bisa berkata begitu tajam dan berani tanpa kegugupan.
“Yang tadi itu mamah, nak?” Rania berbicara pada perutnya yang menggelembung.
“Ya ampun, mama engga nyangka.” Rania menggelengkan kepala lalu menepuk kedua pipinya, bayi yang dikandungnya menendang membuat Rania meringis.
“Kamu nendang terus. Keluarnya kapan?” Rania tertawa diiringi ringisan karena tendangan dalam perutnya semakin kencang dan sakit.
“Lagi cari posisi, ya? Yang tenang dong, nak. Ini perut mama jangan dipakai berenang.” Rania mengelus perutnya dengan sayang, tak lama setelah itu anaknya pun tenang dan tak lagi menendang.
“Sampai kapan pun, kamu anak mama. Engga papa kalau mama engga jadi sarjana, tapi anak mama harus hidup dengan baik! Dan mama ingin dampingi kamu di saat-saat seperti itu.” Rania masih setia mengelus perutnya hingga rasa kantuk menghampiri, sejenak ia lupa akan Keisha.
-
“Dari mana kamu?” Keisha terkejut sesaat setelah menutup pintu kamar, Vano sudah menyambutnya dengan pertanyaan dan kilatan mata tajamnya.
“A-anu. Aku-” Keisha merutuki kegagapan nya yang akhir-akhir ini selalu datang tiba-tiba. Vano mengangkat sebelah alisnya, dihampirinya Keisha yang masih setia berdiri di pintu.
“Hei, kok malah diam?” Vani meraih dagu Keisha, ia tak lagi terkejut mendapati Keisha yang suka menangis sejak kahamilannya mulai mencapai 7 bulan.
“Kok kamu menangis?” Keisha semakin sesenggukan saat Vano membawanya dalam pelukan, Vano tersenyum maklum dan bingung. Dibelainya surai panjang Keisha.
“Mau makan sesuatu? Jus jagung? Semur hiu?” Vano terkekeh mengingat menu makanan atau minuman yang diidamkan Keisha beberapa waktu lalu.
Keisha sedikit tertawa lalu mencubit perut Vano hingga membuat suaminya itu mengaduh kesakitan.
Keisha berjalan menuju kasur sambil memeluk Vano, sedangkan Vano mengeratkan pelukannya sambil membimbing Keisha yang kandungannya masih di katakan lemah oleh dokter. Dengan pelan Vano membantu Keisha memposisikan diri di atas kasur.
“Van.” Panggil Keisha yang kini sudah berbaring.
“Mau apa?” Tanya Vano yang di balas gelengan oleh Keisha.
“Mau kamu.” Vano tersentak kaget, sebenarnya sudah beberapa kali ia melakukan hubungan suami istri dengan Keisha, hal itu sebagai bentuk penghormatan Vano pada istrinya itu.
Namun hingga kini terkadang ada rasa bersalah yang mendatanginya setelah melakukan hal tersebut bersama Keisha.
“Kamu, yakin?” Tanya Vano memastikan.
‘Aku belum siap kehilangan kamu, Van. Aku harap aku bisa melaksanakan tugas aku sebagai istri dengan baik. Setidaknya sebelum saat itu datang.’ Batin Keisha, Vano lun mulai melepaskan pakaian Keisha begitu lun pakaiannya setelah mendapati anggukan serta senyuman tulus Keisha.
Merekapun melakukannya meski pikiran mereka terpaku oleh hal lain. Vano dengan lembut dan hati-hati melakukan tugasnya dan memberi nafkah batin bagi Keisha.
Setelah mereka selesai melakukannya, Vano memeluk Keisha yang memunggunginya lalu terlelap setelahnya.
Sedangkan Keisha yang tak lagi merasakan usapan lembut di rambutnya pun terbangun, ia menangis dalam diam.
‘Maaf. Maaf'. Keisha tak memperdulikan matanya yang akan membengkak setelah ini, rasa bersalahnya semakin besar. Namun ia tidak bisa menghentikan egonya akan Vano untuk hal ini.
Keisha berpikir ia akan segera pergi dari kehidupan Vano maupun Rania tak lama setelah ini. Akan tetapi Keisha tidak bisa memastikan kapan itu terjadi.
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..