NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Di ruang tamu yang berada di sisi timur kediaman utama keluarga Wirajaya, atmosfer yang tercipta begitu bertolak belakang dengan kemewahan di sekelilingnya. Kilauan lampu kristal memancarkan cahaya hangat, tetapi tak mampu menyamarkan udara angkuh yang memenuhi ruangan. Di balik kemegahan interior dan perabot mahal, tersimpan tatapan penuh superioritas serta sikap yang membuat siapa pun merasa tidak benar-benar diterima.

Zahra Pramudita Mahatma duduk dengan sikap tenang di atas sofa panjang berlapis kain mewah. Gaun elegan yang dikenakannya berpendar lembut saat terkena sorot lampu kristal. Sesekali, pandangannya meluncur ke arah pintu masuk, seolah berharap sosok yang dinantinya segera muncul. Bibirnya tetap menyunggingkan senyum tipis demi menjaga wibawa, tetapi sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak mampu disamarkan.

Di sudut ruangan, Dafa Mahatma terlihat semakin gelisah. Ujung-ujung jarinya berulang kali mengetuk permukaan meja marmer dengan ritme yang tak beraturan, mencerminkan kesabaran yang mulai menipis. Rahangnya mengeras, sementara raut wajahnya dipenuhi amarah yang terus berusaha ia tahan agar tidak meledak di hadapan semua orang.

"Sudah hampir dua jam kita menunggu, tapi Rayan belum juga datang. Apa dia sengaja ingin mempermalukan kita seperti ini?" ucapnya dengan nada tajam, amarahnya tak lagi bisa disembunyikan.

Aurora Mahatma mengusap pelan punggung tangan suaminya, berusaha meredakan amarah yang mulai memuncak. Meski gerakannya tampak menenangkan, nada bicaranya tetap menyiratkan sindiran halus yang sulit diabaikan.

"Tenangkan dirimu dulu, Dafa," ucap Aurora lembut. "Mungkin Rayan memang memiliki keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Lagi pula, kita sedang menjadi tamu di rumah ini. Jangan sampai sikap kita justru meninggalkan kesan yang tidak baik."

Dafa mengembuskan napas panjang dengan kasar, jelas menunjukkan kekesalan yang semakin sulit ia kendalikan.

"Memberi kesan buruk?" Dafa terkekeh sinis. "Yang sedang mencoreng nama baik justru keluarga Wirajaya. Aku sudah berkali-kali mengingatkan Zayan agar Rayan segera mengambil keputusan. Hubungan ini bukan sekadar urusan kerja sama, tetapi juga menyangkut harga diri dan martabat keluarga Mahatma."

Zahra menggigit bibir bawahnya pelan sebelum menundukkan kepala. Dadanya dipenuhi gejolak yang sulit ia tenangkan. Ia sangat menyadari bahwa rencana pernikahan itu tidak pernah lahir dari cinta, melainkan dari ambisi besar kedua orang tuanya. Namun, setiap kali nama Rayan Wirajaya terlintas di benaknya, jantungnya selalu berdetak lebih cepat. Ada rasa kagum yang diam-diam tumbuh, obsesi yang perlahan mengakar, sekaligus tekanan besar yang terus menghimpit batinnya.

"Pa..." suara Zahra terdengar lirih, disertai keraguan yang jelas. "Mungkin Kak Rayan memang sedang terhalang urusan penting. Kurasa kita sebaiknya tidak terburu-buru meluapkan emosi sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."

Dafa memalingkan wajahnya ke arah sang putri. Tatapannya tajam dan penuh tekanan, seolah menuntut Zahra untuk memahami bahwa persoalan itu tidak boleh dianggap remeh.

"Zahra, ingat baik-baik apa yang Papa katakan," ujar Dafa dengan nada tegas. "Semua yang Papa perjuangkan ini demi masa depanmu. Jika kelak kau menjadi istri pewaris Wirajaya Corp, hidupmu akan berada di posisi yang diimpikan banyak orang. Jadi, jangan pernah melupakan tujuan besar itu."

Zahra membalas dengan anggukan pelan. Meski wajahnya tetap tampak tenang, ada beban yang menyesakkan dadanya, seolah setiap persetujuan yang ia berikan semakin mengubur keinginannya sendiri.

Di saat suasana masih diselimuti ketegangan, suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari sepanjang koridor. Tak lama kemudian, seorang pelayan memasuki ruangan dan menundukkan tubuhnya dengan penuh hormat di hadapan para tamu.

"Mohon maaf, Tuan, Nyonya, Nona," ucap pelayan itu dengan hormat. "Tuan Zayan dan Nyonya Salsabila masih berada dalam pembicaraan penting. Beliau berpesan agar Anda sekalian bersedia menunggu beberapa saat lagi."

Dafa kembali mengembuskan napas kasar. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih keras, memperlihatkan bahwa kesabarannya benar-benar telah berada di ujung batas.

"Cukup menunggu saja? Kesabaran kami sudah diuji sejak tadi. Berapa lama lagi kami harus menunggu seperti ini?" bentak Dafa, suaranya menggema di seluruh ruangan.

Zahra mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha meredam kegelisahan yang terus mengusik hatinya. Pandangannya tak lepas dari pintu yang masih tertutup rapat, menyimpan harapan tipis bahwa Rayan akan muncul kapan saja. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia sadar kemungkinan itu semakin kecil. Bisa jadi, pria itu memang tidak pernah berniat menampakkan diri di hadapan mereka.

*****

Tak lama kemudian, pintu ruang tamu perlahan terbuka. Zayan Wirajaya menjadi orang pertama yang melangkah masuk dengan sikap tenang dan berwibawa. Di belakangnya, Salsabila mengikuti langkah sang suami. Penampilannya tetap anggun seperti biasa, tetapi garis-garis tegas di wajahnya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang masih membebani pikirannya.

Dalam sekejap, perhatian seluruh orang di ruangan beralih kepada keduanya. Dafa Mahatma langsung bangkit dari duduknya. Rahangnya mengeras, sementara raut wajahnya memancarkan kemarahan yang nyaris meluap, meski masih ia kendalikan demi menjaga etika di hadapan tuan rumah.

"Zayan," panggil Dafa dengan suara rendah namun sarat tekanan. "Apakah seperti ini cara keluarga Wirajaya menghormati tamu yang diundang? Kami sudah menanti cukup lama, tetapi tak seorang pun memberi penjelasan yang layak."

Zayan sama sekali tidak terusik oleh nada bicara Dafa. Dengan langkah yang tenang dan penuh keyakinan, ia menghampiri kursi utama. Namun, alih-alih segera mengambil tempat duduk, ia berhenti dan menatap Dafa lurus-lurus. Sorot matanya begitu berwibawa hingga suasana di dalam ruangan seakan membeku, membuat tak seorang pun berani memecah keheningan.

"Dafa," ujar Zayan dengan nada tenang yang tetap memancarkan wibawa. "Kau mengenalku cukup lama untuk tahu bahwa aku tidak pernah berniat meremehkan tamu yang datang ke rumahku. Namun, mengenai keputusan dan tindakan Rayan, ada batas yang tidak bisa kuatur sepenuhnya."

Rahang Dafa mengatup rapat hingga garis-garis tegas di wajahnya semakin kentara. Ia berusaha menahan gejolak amarah yang terus mendesak untuk meledak.

"Rayan sudah seharusnya memahami apa itu tanggung jawab," ujar Dafa dengan nada tegas. "Kami datang ke sini bukan untuk membuang waktu. Rencana yang sedang kita bicarakan menyangkut masa depan kedua keluarga sekaligus arah kerja sama perusahaan. Jika Rayan masih belum mampu melihat pentingnya hal itu, maka ada sesuatu yang harus segera dibenahi."

"Sudah cukup, Dafa,"

Ucapan Dafa terhenti ketika suara Salsabila menyela. Nada bicaranya terdengar tegas dan tajam, tetapi tetap terjaga dalam batas kesopanan. Ia melangkah ke depan dengan anggun, lalu mengarahkan pandangannya kepada Dafa. Sorot matanya memancarkan kewibawaan seorang perempuan yang telah lama menjadi penjaga martabat dan kehormatan keluarganya.

"Rayan adalah putraku," ujar Salsabila dengan nada mantap. "Jika malam ini ia memilih belum datang, aku percaya ia memiliki alasan yang tidak bisa diabaikan. Sebelum menjatuhkan penilaian, alangkah baiknya jika kita memberi ruang untuk memahami keadaannya, bukan hanya membiarkan emosi mengambil alih."

Sejak awal Aurora Mahatma hanya memilih menjadi pengamat. Namun, akhirnya ia membuka suara. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tampak ramah di permukaan, tetapi nada yang terselip di balik ucapannya sarat dengan sindiran yang halus namun menusuk.

"Salsabila, kami memahami bahwa setiap orang bisa memiliki urusan yang mendesak," ucap Aurora dengan senyum tipis. "Namun, dalam dunia bisnis, kepastian jauh lebih berharga daripada alasan. Kami hanya ingin memperoleh jawaban yang jelas. Apakah Rayan masih memiliki komitmen untuk meneruskan hubungan yang telah direncanakan ini, atau justru memilih jalan yang berbeda?"

Zahra hanya terdiam di sudut sofa dengan kepala tertunduk. Semburat merah memenuhi wajahnya, bukan karena rasa bahagia, melainkan oleh malu yang perlahan menggerogoti harga dirinya. Ia merasa terjebak di antara ambisi besar kedua orang tuanya dan kewajiban menjaga hubungan baik dengan keluarga Wirajaya, seolah apa pun yang dilakukannya akan tetap menempatkannya dalam posisi yang sulit.

Zayan akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kursi, membiarkan punggungnya bersandar lelah. Embusan napas panjang lolos dari bibirnya, seolah mencoba mengurangi beban yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Tatapannya menerawang ke depan, sementara rahangnya mengeras, menandakan masih banyak hal yang berkecamuk di dalam benaknya.

"Aku paham bagaimana sifat Rayan. Kalau sudah punya pendirian, dia memang tidak mudah digoyahkan. Tapi bagaimanapun juga, dia tetap anakku. Aku yakin dia akan menentukan pilihannya saat waktunya tepat. Jadi, tidak perlu terlalu mencemaskan hal itu. Dafa, biarkan aku yang berbicara langsung dengannya."

Dafa memandangnya beberapa saat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Raut wajahnya masih menyiratkan keberatan, tetapi pada akhirnya ia mengembuskan napas berat dan kembali menjatuhkan diri ke kursinya. Gerakannya tegas, seolah masih menyimpan rasa kesal yang belum benar-benar mereda.

"Aku juga berharap semuanya berjalan seperti yang kamu katakan, Zayan. Yang paling aku khawatirkan adalah jika sikap keras kepala Rayan justru berujung mencoreng kehormatan keluarga kita. Jangan sampai nama baik yang sudah dibangun selama ini dipertaruhkan hanya karena keputusannya."

Suasana kembali tenggelam dalam keheningan. Zahra hanya mampu meremas jemarinya sendiri, berusaha menenangkan kegelisahan yang terus mengusik dadanya. Berbagai pertanyaan berputar di benaknya. Benarkah Rayan memang tidak menginginkan hubungan itu, atau justru ada alasan lain yang sengaja ia simpan rapat dan belum ingin diketahui siapa pun?

*****

Rumah baru itu menghadirkan suasana yang jauh berbeda dari kediaman utama keluarga Wirajaya. Kemewahan yang mencolok dan atmosfer penuh tekanan nyaris tak terasa di sana. Tak ada pajangan mahal yang mendominasi ruangan, tak terdengar percakapan serius tentang urusan bisnis. Yang mengisi setiap sudut rumah hanyalah kehangatan sederhana, lahir dari kebersamaan Alya dan Fariz, membuat tempat itu terasa lebih hidup dan menenangkan.

Di kamar anak, Alya duduk tenang di sisi ranjang sambil mengalunkan lagu nina bobo dengan suara yang nyaris berbisik. Fariz kecil perlahan terhanyut ke alam mimpi. Jemari mungilnya masih mencengkeram ujung pakaian Alya, seakan enggan melepaskan sosok yang membuatnya merasa aman. Sesekali bibir kecil itu bergerak menggumam dengan cadel dalam tidurnya, menghadirkan senyum lembut di wajah Alya. Pemandangan sederhana itu memenuhi dadanya dengan rasa haru dan kehangatan yang sulit diungkapkan.

"Pejamkan matamu, Nak. Mama akan tetap menemanimu," bisik Alya penuh kasih. Jemarinya mengusap lembut rambut halus Fariz, menghadirkan belaian yang menenangkan hingga anak kecil itu semakin terlelap dalam dekapan mimpi.

Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Rayan berdiri tanpa bersuara. Tatapannya terpaku pada sosok Alya yang membelai Fariz dengan penuh kelembutan. Wajah perempuan itu memancarkan kasih yang begitu tulus, sementara Fariz tertidur pulas dalam dekapan rasa aman. Pemandangan sederhana itu diam-diam mengusik hati Rayan. Dadanya dipenuhi kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, menghadirkan ketenangan yang menenteramkan sekaligus rasa ingin melindungi. Namun, di balik perasaan itu, terselip ketakutan yang samar takut jika suatu hari kebersamaan yang baru mulai ia hargai harus kembali terlepas dari genggamannya.

Tangan yang selama ini begitu mantap mengendalikan arah perusahaan kini hanya mampu mencengkeram erat gagang pintu. Jemarinya mengeras, seolah mencari pegangan untuk menenangkan gejolak yang perlahan memenuhi dadanya sesuatu yang bahkan tak mampu ia kuasai dengan ketegasan yang selama ini menjadi ciri khasnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rayan merasakan arti sebuah rumah yang sesungguhnya. Bukan karena kemegahan bangunannya atau kemewahan yang dimilikinya, melainkan karena kehangatan yang memenuhi setiap sudutnya. Di tempat itu, ia akhirnya menemukan rasa pulang yang selama ini tak pernah benar-benar ia miliki.

Rayan mengembuskan napas panjang sebelum perlahan mendorong pintu hingga kembali tertutup rapat tanpa menimbulkan suara. Ia memilih membiarkan Alya dan Fariz menikmati malam yang damai, tanpa menyadari kehadirannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu ketenangan itu hanyalah jeda sementara. Cepat atau lambat, keluarga Wirajaya dan keluarga Mahatma akan kembali menagih kepastian atas keputusan yang selama ini terus ia tunda.

*****

Sementara itu, di kediaman utama, suasana

belum juga mencair. Ruang tamu masih diselimuti hawa tegang, seolah percakapan yang baru saja berakhir meninggalkan beban yang belum terselesaikan. Tak seorang pun benar-benar merasa tenang, karena semua menyadari bahwa persoalan itu masih jauh dari kata usai.

Zayan tetap duduk dengan sikap tenang, punggungnya bersandar santai di kursi. Namun, sorot matanya yang tajam terus mengarah kepada Dafa, mengamatinya tanpa berkedip, seolah berusaha membaca setiap emosi dan maksud yang tersimpan di balik raut wajah pria itu.

"Dafa, aku sudah memintamu untuk bersabar. Rayan selalu mengambil keputusan dengan caranya sendiri. Semakin dia ditekan, semakin sulit dia menerima keinginan orang lain. Dia bukan laki-laki yang bisa dipaksa mengikuti kehendak siapa pun."

Dafa mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Tangannya perlahan mengepal di atas permukaan meja hingga buku-buku jarinya memutih, menjadi isyarat betapa besar amarah yang sedang ia tahan agar tidak meledak di hadapan semua orang.

"Kalau Rayan terus bersikeras dengan pendiriannya, bagaimana nasib kesepakatan yang sudah kita bangun? Kamu tahu sendiri kerja sama ini bukan sekadar urusan keluarga. Penggabungan kedua perusahaan akan membuka peluang besar di pasar internasional. Keluarga Mahatma sudah mempertaruhkan banyak hal demi mewujudkannya. Kalau pada akhirnya Rayan tetap menolak, menurutmu bagaimana para pelaku bisnis akan memandang komitmen kita?"

Salsabila angkat bicara sebelum suasana semakin memanas. Nada suaranya terdengar lembut dan tetap berkelas, tetapi setiap kata yang keluar mengandung tekanan halus yang sulit diabaikan, membuat semua orang kembali memusatkan perhatian kepadanya.

"Dafa, jangan salah mengartikan keadaan. Tidak ada yang mengatakan kami menentang kerja sama atau merger ini. Namun, menjadikan pernikahan Rayan dengan putrimu sebagai bagian dari kesepakatan bisnis adalah persoalan yang berbeda. Pernikahan bukan sekadar perjanjian yang bisa dibuat demi keuntungan perusahaan."

Aurora hanya mengulas senyum tipis yang penuh makna. Ia sedikit memajukan tubuhnya, menunjukkan sikap seolah tengah bersiap melontarkan sesuatu yang lebih tajam dari sebelumnya.

"Oh, Salsabila. Kamu berbicara seolah-olah keluargamu berada di posisi untuk menentukan segalanya. Padahal kamu tahu betul, tanpa kerja sama ini, Wirajaya Corp juga akan menghadapi tekanan besar. Jadi jangan bertindak seakan-akan kalian tidak membutuhkan siapa pun."

Nayla yang sejak tadi memilih diam akhirnya membuka suara. Nada bicaranya terdengar lembut, tetapi ketegasan dalam setiap ucapannya membuat ruangan itu seketika kembali memperhatikannya.

"Keluarga Wirajaya tidak akan runtuh hanya karena satu kesepakatan bisnis berakhir. Dan satu hal yang perlu kalian pahami, Kak Rayan bukan seseorang yang bisa dijadikan alat tukar demi kepentingan siapa pun. Jadi, jangan pernah membicarakannya seolah-olah dia hanyalah bagian dari sebuah transaksi."

Perkataan Nayla seketika membuat wajah Dafa memanas. Pria itu tampak hendak menyela dengan bantahan tajam, tetapi sebelum satu kata pun keluar, Zayan lebih dulu mengangkat tangannya. Gerakan sederhana itu menjadi tanda agar semua orang berhenti memperpanjang perdebatan.

"Sudah, cukup sampai di sini untuk malam ini. Tidak ada gunanya kita terus memperdebatkan hal yang sama. Besok aku akan menemui Rayan dan berbicara langsung dengannya. Biarkan semuanya jelas dari dia sendiri."

Perlahan suasana di ruangan itu mulai mereda, meski bara perdebatan masih terasa menggantung di udara. Dafa mengembuskan napas kasar dengan raut wajah penuh kekecewaan, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan langkah yang menunjukkan kekesalan yang belum sepenuhnya hilang.

"Baiklah, aku akan menunggu keputusanmu. Tapi jangan lupa, Zayan, keluarga Mahatma tidak bisa terus berada dalam ketidakpastian seperti ini. Kami tidak punya waktu untuk hal-hal yang berlarut-larut. Jika pada akhirnya semuanya gagal, jangan letakkan kesalahan itu kepada kami."

Dengan langkah yang penuh tekanan, Dafa akhirnya meninggalkan ruangan itu. Aurora menyusul di belakangnya dengan senyum tipis yang masih tersungging di wajah, seolah menyembunyikan pikirannya sendiri. Sementara itu, Zahra berjalan paling akhir. Wajahnya tampak kehilangan warna, dipenuhi kegundahan yang semakin sulit ia sembunyikan.

1
May Satibi Satibi
suka
elief
suka karya nya thor. ceritanya 👍👍
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!