NovelToon NovelToon
FOR NOW & FOREVER

FOR NOW & FOREVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:67.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Yuniar Frida

Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.

Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.

Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.

Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.

Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seranjang

“Om Indla, Tante Tiwi masih sakit ya?” Tanya Jihan seraya mencomot kue kering.

Saat ini, Jihan, Indra dan Arka berada di halaman belakang, area kolam berenang. Jihan dan Arka sibuk bermain dengan mainannya masing-masing, sementara Indra membaca buku. Niatnya bermain game online di ponsel Tiwi, tau-taunya ponsel Tiwi ikut kecemplung di selokan.

Hanya itu-itu saja kegiatan yang ia lakukan minggu ini.

“Iya Jih, Tante Tiwi kakinya masih sakit.”

Arka yang sedang menyusun lego berhenti, “Enggak bisa jalan ya, Om?”

“Bisa, tapi kakinya lagi luka, jadi kalau jalan sakit.” Ujar Indra.

“Kalau gitu Om Indla halus gendong Tante Tiwi sampai sembuh,” titah Jihan.

“Om Indra, orangnya enggak kuatan, Jih, bisa-bisa Tante Tiwi jatuh lagi,” ledek Arka.

Indra terkekeh. “Om orangnya kuat kok, gendong Tante Tiwi gampang, orangnya ringan begitu.”

Arka menaikkan alisnya satu. “Bohong! Aku liat Om tadi mukanya memerah pas gendong Tante Tiwi masuk rumah, itu karna nggak kuat kan?” Todongnya.

Indra menghentikan bacaannya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sampai segitunya Arka memperhatikan. Tapi tuduhan Arka jelas salah. Bukan karena Indra tidak kuat menggendong, bukan juga karena Tiwi keberatan. Tapi kejadian menggendong seorang wanita adalah hal pertama baginya, apalagi ada rasa khawatir dalam dirinya.

“Bukan begitu, Om kan habis lari-lari, capek begitu jadi muka Om masih terasa panas,” elaknya.

Arka hanya mengangguk, memilih melanjutkan kegiatannya.

Ting. Ting. Ting.

Ponsel retak yang terletak di atas meja berbunyi terus. Si pemilik sigap meraihnya.

Pria Mapan (4)

Anda, Resa, Ferel, Steffen

Ferel: Kosong bener.

Steffen: Kayak nggak biasa aja lu.

Ferel: Maksud Bapak?

Steffen: Lu kan emang jomblo, jadi merasa kosong udah biasa lu hadapin.

Resa: Bapak Steffen memang selalu benar.

Ferel: Ngapain lu muncul si Res, gue dipojokan masih liatin lu ya, ingat tempat umum lu!

Resa: ??

Ferel: Lu liat arah jam dua.

Ferel: Halah, sok salting. Cewek yang keberapa tuh?

Resa: Gue nggak kayak Steffen ya, Yura satu-satunya cewek gue!!!!

Steffen: Gue dari tadi cuman nyimak ya, lu jangan bawa-bawa nama gue.

Ferel: Kan emang bener Fen, cewek lu dimana-mana.

Steffen: Ngehujatnya pakai acara bergilir rupanya.

Indra: 😶

Steffen: Kenapa?

Ferel: Galau?

Resa: Pengen jadi duda kayaknya.

Indra: Rel titip jitakan pala ke Resa.

Ferel: Dengan senang hati.

Steffen: Sekali-kali kalau meet ajakin istri lu Ndra, penasaran gue sama dia.

Indra: Sayangnya gue yang nggak mau ngajak, lu kan buaya, sekali liat cewek kayak bini gue, gue yakin mata lo nggak berkedip.

Resa: BENERAN DIJITAK PALA GUE, SAKIT B*GO!!!!

Ferel: Jangan teriak-teriak lu, lu sendiri yang malu.

Resa: Lu jangan kabur, gue bakal balas ya!!!

Indra: Sudah?

Ferel: Sudah.

Steffen: Lu ngomong gitu, gue makin penasaran sama bini lu.

Resa: Gue pernah ketemu.

Ferel: Gue juga. Tapi masih pengen ketemu lagi. Bini orang bikin kangen tiba-tiba 😁

Indra: Lu kalau pulang hati-hati, Ferel.

Steffen: Cantik berarti.

Resa: Cantik, tenang hati pokoknya kalau liat wajahnya.

Farel: Beuuhh, cantik bingitt Steffan.

Indra: Suaminya baca ya, lo jangan omongin bini gue.

Steffan: Jessica sama bini Indra, cantikan mana?

Resa: Gue mundur deh, tanyain sama suamianya noh, masih baca katanya.

Ferel: Lu butuh jawaban gue nggak, Fen? Kalau enggak, gue nggak perlu jawab.

Steffen: Jawab aja, Rel. Gue beneran pasaran.

Resa: Penasaran, Fen. PENASARAN.

Steffan: Nggak usah ngegas, gue sengaja.

Ferel: Pertama gue ketemu sama Jess gue biasa, padahal cantiknya bukan main, lama-lama sama dia juga tetap biasa aja. Gue nggak tertarik. Eh, ketemu sama Tiwi lain, dia cantiknya beda, gue nggak tau dari segimana cantiknya, tapi liat wajahnya adem bener, berada di dekatnya nyaman banget tapi sayang udah punya suami.

Resa: Tungguin aja jandanya, Rel. 😂

Steffen: Kayaknya beneran, soalnya Ferel ngetik panjang lebar.

Ferel: Lu jangan ngompor, Res, gue ngomong gitu apa adanya gue sebagai seorang lelaki. Kampret lo Steffen!

Resa: Indra dari tadi cuman read doang, kayaknya pertanyaan Steffen berat.

______

“Kalian mainnya di sini ya?”

Sontak ketiga orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing itu menoleh ke arah pintu.

Indra bergegas bangkit, melupakan sesuatu yang terasa aneh di hatinya.

“Kata dokter tadi jangan banyak gerak dulu.” Indra tanpa permisi langsung menggendong Tiwi yang berangkulan pada Bibi Arsi, seorang pembantu rumah tangga.

“Bosan di kamar, Ndra, lagian kesininya pakai lift kok.”

Indra meletakkan pelan Tiwi di atas sofa.

“Tapi lain kali kalau sedang butuh, jangan ragu panggil aku.”

Tiwi manggut-manggut. “Iya, iya.”

Tiwi menoleh pada dua bocah yang sekarang memperhatikannya. “Kok liatinnya gitu?” Tanyanya lembut.

Jihan beranjak mendekati sofa. “Tante Tiwi pasti enggak melasa enak ya, Jihan juga pelnah sakit, enggak enak banget.”

Tiwi tersenyum hangat, memperbaiki anak rambut Jihan yang berantakan. “Tante enakan kok, yang sakit cuma kakinya.”

“Tapi, nggak bisa kemana-mana, Tante Tiwi.”

Tiwi tersenyum. “Enggak kenapa kok, lagian kan ada Jihan, kalau Tante ada butuh, Jihan bisa bantuin. Jihan mau kan?”

Jihan mengangguk semangat. “Mau Tante.”

“Kalau Arka bagaimana?”

Arka ikut mengangguk. “Mau dong, Tante.”

“Kakinya udah dikasih salep?” Indra duduk di samping Tiwi.

“Iya, udah.”

Jihan kembali duduk melanjutkan acara bermainnya.

“Enggak mandi?” Indra kembali bertanya.

Tiwi menggeleng. “Enggak, seharian aku di kamar terus. Enggak gerah juga.”

“Tapi..” Indra menggantungkan ucapannya.

Tiwi lantas menoleh. “Tapi apa? Aku bau?”

Dengan tidak berdosanya, Indra langsung mendekatkan wajahnya ke area leher Tiwi, mengendus-ngendus.

“Harum.”

“I-iya.”

“Kok gugup?” Indra terkekeh pelan.

Tiwi tidak menjawab, ia memalingkan pandangannya. Ia yakin di wajahnya ada semburat kemerahan. Jantungnya saja sudah berdetak dua kali cepat.

“Tante Tiwi?” Panggil Arka.

“Iya?”

“Kapan sih punya dedeknya, aku bosan main sendirian Tante, pengen punya teman.”

Tiwi dan Indra dibuat melotot.

“Eh? Kan ada Jihan, mainnya bisa sama Jihan.” Jawab Tiwi.

Arka menggeleng lesu. “Bukan Tante, yang laki-laki. Jihan mainnya boneka begitu, aku maunya laki-laki.”

“Jihan juga pengennya adek kayak Jihan, bisa main belbie-belbie-an.” Timpal Jihan kegirangan.

“Laki-laki dulu.” Protes Arka.

“Pelempuan kayak Jihan pokoknya.” Ujar Jihan tidak mau kalah.

“Laki-laki!”

Jihan bersedekap. “No, no, pelempuan.”

Indra berdehem keras membuat dua bocah yang sedang berdebat itu menoleh.

“Minta sana sama Ayah, Bunda kalian.” Ujarnya.

“Udah, tapi disuruh minta ke Tante Tiwi dulu,” jujur Arka.

“Hah?” Pekik Tiwi.

“Aku serius Tante, kata Ayah, Tante Tiwi cepet punyanya.” Ujar Arka.

Indra mendengus kesal. Lagi-lagi Aldo meracuni otak polos anaknya.

“Tunggu adek dari Bunda Yuna aja, bentar lagi adeknya datang.” Tiwi beralasan.

“Tapi Tante Tiwi harus punya juga, dari Bunda Yuna satu, Tante Tiwi juga satu, ya?” Ujar Arka memohon.

“I-iyaa.” Kata Tiwi pasrah, sementara Arka sudah bersorak riang.

“Beneran mau?” Bisik Indra menggoda.

Tiwi lagi-lagi memalingkan wajah, Indra terkekeh pelan.

***

“Tiwi, kakinya sakit?” Adhitama bertanya setelah menyelesaikan makan malamnya. Seharian ia tidak berada di rumah, sehingga baru mengetahui keadaan menantunya.

“Lumayan, Dad.” Jawab Tiwi ikut menyelesaikan makannya.

“Lain kali hati-hati, Nak. Untung lagi tidak hamil.”

Uhuk, uhuk.

Indra dan Aldo tersedak bersamaan.

“Daddy,” panggil Aldo sebal setelah meminum air pemberian Clarissa, istrinya.

“Kenapa?” Tanya Adhitama pura-pura tidak tau.

“Daddy kalau ngomong suka sekali bikin orang tersedak,” celetuk Aldo.

“Kamu aja makannya nggak hati-hati, yang lain biasa-biasa aja,” ujarnya membela diri.

“Bukan cuma aku ya Dad, Indra juga begitu.” Aldo menunjuk Indra lewat dagunya.

“Indra terkejut, kamu ngapain ikutan, lagian Daddy ngomongnya sama Tiwi, bukan sama kamu.”

Aldo merungut kesal, tidak berbicara lagi.

“Aku selesai. Tiwi ayo ke kamar.” Ujar Indra datar membantu Tiwi berdiri, lantas menggendongnya meninggalkan meja makan.

“Tiwi, tekan tombolnya,” titah Indra saat mereka berdiri di depan lift.

Tak berseleng lama, pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam. Tiwi kembali menekan tombol menuju lantai tujuan.

“Kenapa?”

Tiwi langsung membuang muka ketika tertangkap basah memperhatikan wajah datar Indra dari bawah.

“Turunin aja, Ndra, aku berat pasti kan?”

“Standar, lagian udah mau sampai.”

Tepat saat Indra menyelesaikan ucapannya, pintu lift terbuka. Mereka sampai di lantai tiga.

Indra keluar dari sana, berbelok ke kiri menuju kamarnya.

Indra meletakkan Tiwi di atas kasur, membaringkannya, juga menyelimutinya.

“Tidur,” ujarnya.

Tiwi tidak membantah, matanya terus mengikuti pergerakan Indra yang sudah menjauh menuju sofa untuk tidur di sana.

“Indra?” Panggil Tiwi.

Indra yang sudah mengambil ancang-ancang untuk berbaring, menghentikan niatnya. Ia menoleh ke arah pemilik suara yang memanggil namanya.

“Minta tolong dong, izinin ke atasan aku, hp aku rusak soalnya, laptop aku juga lupa di kantor. Bisa kan?” Tanyanya.

“Emang bosnya siapa? Bilang aja siapa namanya, biar aku hubungi.” Indra berjalan menuju nakas, tempat ponselnya sedang mengisi daya.

“Pak Satya Devano, taukan?”

Indra mengangguk, kembali menuju sofa. Ia berkutik dengan ponsel retaknya.

“Besok kalau pulang dari kantor, beliin aku hp ya?”

Indra menoleh dengan ekspresi datar.

“Tenang aja, pakai uangku kok, kamu kan pelit orangnya,” gerutu Tiwi.

“Besok aku beliin,” katanya sebelum kembali sibuk pada ponselnya.

Satu menit ke depan, Indra meletakkan ponselnya di meja, bersiap kembali untuk berbaring.

“Sudah?”

“Iya.”

“Indra?” Lagi-lagi niat Indra yang ingin berbaring gagal.

“Kenapa? Butuh sesuatu?” Tanyanya lembut.

Tiwi menepuk tempat kosong di sebelahnya. “Tidurnya sini, barengan.”

Indra reflek melotot.

“Biasa aja dong mukanya,” kekeh Tiwi pelan.

“Ngomong apa sih itu barusan, nggak dengar,” ujar Indra masih tidak percaya.

Tiwi tersenyum. Sudah saatnya ia dan Indra tidur bersama. Ia sudah yakin dengan hatinya. Kalau tidak ada yang memulai, tidak akan pernah terjadi sesuatu diantara keduanya. Dan Tiwi yakin, Indra sudah menunggu lama akan hal itu.

“Kamu tidur di sini.” Ulang Tiwi

“Ba-barengan?”

Tiwi lagi-lagi terkekeh dengan ekspresi Indra yang masih terkejut.

“Iya, sini.”

Bibir Indra berkedut menahan senyum. “Yakin?”

“Iyalah, sini, kitakan suami-istri, sudah selayaknya.”

“Dih, jangan-jangan prank?”

Tiwi berdecih. “Ya sudah kalau tidak mau.”

Tidak ada yang ingin melewatkan kesempatan, begitu juga Indra. Dengan perasaan bahagia, dan senyum yang sudah tidak dapat ia tahan, kakinya bergegas melengkah naik ke atas ranjang.

Tiwi yang belum menutup mata, hanya tersenyum sambil mengganggukkan kepala, memberi keyakinan kepada Indra agar segera merebahkan tubuhnya.

Mulai malam ini, hasrat yang sudah lama terpendam rapi dari keduanya akhirnya terpenuhi. Meski belum seutuhnya, tapi ini sudah merupakan langkah menuju seutuhnya, sesempurna hubungan suami-istri di luar sana.

Indra dengan perasaan yang juga diam-diam bersemayam dalam dirinya sangat berbahagia, tidur dengan alas yang sama sudah masuk dalam daftar keinginannya. Semoga saja, kedepannya ia dan Tiwi benar-benar menjadi suami-istri seutuhnya, yang saling mencintai, hingga keduanya tidak mampu lagi untuk sekedar bertukar kata.

_______

tbc.

1
nanaarmd🌻
kok gak ada ya?
Nanay Dachliawati
ko saya cari ninayaa ga ada
Nanay Dachliawati
ko blm up
Anik Rohman
kapan up lagi kak
Zhulayykha Anniza
lnjuut...
Rere~
seneng deh kakak otor kalok up cerita ni
Fitriyah Azsahrah
buat dong kisah tiffany dan ferrel...atau tiffany ama stefen...😁
ninayaa: Soon..
total 1 replies
Rere~
aku suka somay, Yura
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe
Rere~
semoga besok bisa up lagi
Rere~
next kak semamgats
Rere~
Maklumin aja lah bang Aldo, Indra kan baru jatuh cinta tuh jadi ya gitu hahaha😂
Rere~
next kak
Zhulayykha Anniza
lanjuuutt.....
Zhulayykha Anniza
lanjuut...
Rere~
next thor
Rere~
akhirnya up juga😚
Anik Rohman
kapan up lagi kak..
Rere~
next thor semangats, awal baca part ini dag dig dug, pas diakhir seneng deh baca keuwuan mereka😂
Rere~
next kak
Mini Sarbini
akhirnya...lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!