"Aku bukan anak haram.. hiks.. hiks''
teriak seorang gadis kecil seraya mengusap air matanya yang terus mengalir.
" Tata anak haram..anaak haram.. gak punya ayah.''
ledek beberapa anak-anak terus meneriaki gadis kecil itu dengan kata-kata anak haram.
'' aku punya ayah..hiks..hiks,'' gadis kecil itu terus menangis.
" Dimana coba ? kau itu tak punya ayah, ibu kamu kan pe*l**r,"
teriak seorang gadis memakai baju berwarna biru.
Tata Dwi Lestari seorang gadis yang harus mengalami kehidupan yang pahit akibat profesi ibunya sebagai wanita penghibur. Dimana hal itu membuat dirinya dicap anak haram oleh orang-orang disekitarnya dan mengalami kehidupan pahit serta psikis yang tidak mudah percaya pada orang lain.
Bagaimana perjuangan Tata dalam menghadapi semua cobaan hidupnya ??
apa dia akan ikut masuk dunia gelap seperti ibunya, atau dia akan mengubah pandangan setiap orang tentang dirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apapun itu jangan jauh lagi
" Kenapa bisa gue lupa hal sebesar ini? ****** deh, kayaknya gue bakal seumur hidup ditangan dia gara-gara gak mampu bayar hutang." Gumam Tata dalam hatinya. Wajahnya masih pucat pasi, mulutnya masih diam membisu.
" Apa lo sudah lupa cewek tarzan?" Gretak Adith kembali. Tata menghembuskan napasnya dengan berat lalu berkata.
" Apa mau lo sebenarnya? Kenapa lo mau nolongin gue kalo lo cuma mau jebak gue?" Ucap Tata dengan getir. Dari wajah tampannya Adhit menyunggingkan senyuman kecilnya sebelum berkata.
" Gue cuma mau lo kerja sama gue doank."
" Gue gak mau jadi model." Jawab Tata penuh ketegasan.
" Lo gak harus jadi model cewek tarzan, gue kan pernah menawarkan lo mau jadi staf kantor apa jadi artis." Jawab Adhit masih tersenyum lebar.
Tata terdiam, dia pikir niat Adhit tidak mungkin sesederhana itu. " Mana mungkin cuma supaya gue kerja sama dia, dia harus menggelontorkan uang sebanyak itu buat gue, tapi kalo gue gak nerima permintaan dia dari mana gue bisa bayar semua uang itu." Lama Tata hanyut dalam pikirannya, hingga membuat Adhit berpikir bahwa Tata pasti akan menyetujui tawarannya.
" Echem, gimana ?" Celetuk Adhit membuyarkan pikiran Tata.
"Be...berapa jumlah uang yang udah lo pake ?" Ucapannya terbata.
" O iya apa lo yakin?" Tanya Adhit.
" Iya" Dengan penuh keyakinan Tata menganggukan kepalanya.
" Karena lo begitu penasaran maka dengan senang hati gue akan ngasih tahu lo." Adhit mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya pada Tata.
Tubuh Tata seketika lemas melihat jumlah angka yang tertulis dalam kertas itu. Dengan bibir yang masih gemetar Tata mencoba untuk berkata.
" A..apa lo gak salah hitung? Bagaimana bisa jumlahnya hampir dua ratus juta?" Wajahnya masih tak berpaling dari kertas itu.
" Cewek tarzan, lo tau berapa kali gue nolongin lo?" Tata menggelengkan kepalanya tak ingat.
" Dari petama nolongin lo saat malam itu, gue juga ngeluarin jumlah uang yang tak sedikit, jadi sekarang gimana cara lo bayar semua uang gue?" Adhit tersenyum puas melihat Tata yang begitu tak berdaya. Dalam pikirannya ia telah sukses besar untuk membuat Tata tetap bersama dirinya. Sedangkan Tata kini merasa dunia nya telah suram membayangkan seumur hidupnya akan dihabiskan hanya untuk membayar hutang dan balas budi pada seorang Adhit.
" Gue pasti bakal bayar hutang-hutang ini, tapi sebelumnya gue mau nanya sama lo." Tata menatap wajah Adhit dengan tatapan yang penuh. Melihat ekspresi Tata yang terlihat sudah berubah Adhit menganggukan kepalanya mengiyakan untuk pertanyaan Tata.
"Lo ini sebenarnya siapa sih, gue pikir lo bukan seorang fotografer?" Adhit mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Tata. " Kenapa lo pikir seperti itu?"
Tata menarik napas dalam dan berkata dengan nada lebih tinggi. " Gue gak percaya semua itu! Dari mana lo bisa punya uang sebanyak ini coba? dan juga gimana lo dengan semudah itu menawarkan pekerjaan yang bervariasi, dan satu lagi kenapa lo mau mengeluarkan uang sebanyak ini buat gue? Dan ..dan kenapa lo mau nolong kalo sebenernya lo cuma mau buat gue terkekang dalam dunia dan kehendak lo?" Suara Tata begitu meluap-luap ia bahkan sudah tidak peduli bahwa dia berada di lingkungan rumah sakit dan saat ini diperhatikan oleh beberapa orang yang berada disana.
Adhit berdehem ia sadar situasi saat ini sungguh tidak baik baginya untuk menjelaskan semuanya kepada Tata, jika ia mengatakan sekarang ada kemungkinan Tata akan bertambah emosi karena kebohongannya dan niatnya yang mungkin tidak mudah diterima oleh Tata. Adhit melihat sorotan mata penuh cibiran yang memperhatikan keduanya dari para penonton tidak resmi disana.
" Lo gak usah berpikir tentang itu saat ini, yang penting sekarang lo pikir baik-baik pekerjaan macam apa yang cocok sama diri lo" Ucap Adhit melangkah pergi meninggalkan Tata yang masih berdiri mematung disana. Baru beberapa langkah kakinya menjauh Adhit berbalik dan berkata. " Gue tunggu sampai besok, dan siapkan diri lo baik-baik!"
Tata memandang punggung pria itu yang sudah mulai menjauh dengan perasaan penuh emosi.
" Hey mbk! Lain kali kalo sama pacar sendiri jangan galak-galak loh, awas banyak tukang nikung." Ucap seorang wanita pada Tata dan berlalu begitu saja. Tata sadar bahwa saat ini ia telah menjadi pusat perhatian beberapa orang disana.
# Sunrise entertainment
Seperti seorang pisikopat yang begitu terobsesi pada sesuatu. Adhit sudah menekankan dalam dirinya bahwa setelah apa yang terjadi beberapa tahun silam, saat menemukan Tata ia tidak akan pernah melepaskan dirinya dan menepati janji pada dirinya bahwa ia tidak akan menikah dan jatuh hati pada wanita selain gadis penolong itu atau Tata. " Maaf jika cara gue akan membuat lo sedikit tidak suka, tapi gue bener gak mau lo jauh." Ucap Adhit dalam benaknya.
Rapat pun usai, dengan hasil kerja sama yang sangat menguntungkan bagi Sunrise Entartainment. Sang CEO itu kini telah kembali pada ruangannya untuk memeriksa beberapa yang telah disepakati bersama kolega nya.
" Yoo..! Lihat betapa sibuknyan CEO kita ini sampai tak sempat datang bermain bersama kawan-kawannya." Ejek seorang pria yang baru saja memasuki ruangan Adhit bersama temannya . Adhit masih tak bergeming dan fokus pada berkas-berkas dihadapannya.
" Apa sekarang segala hal gue harus lapor sama lo." Ucap Adhit datar, yang disambut tawaan dari kedua sahabatnya yaitu Ken dan Willy.
" Kemana aja lo bro? Gue denger dua hari yang lalu ke hotel milik Willy?" Tanya Ken.
Adhit berdehem mengingat kejadian satpam itu. " Iya." Ucapnya singkat tanpa menoleh kedua sahabatnya yang telah duduk di sofa.
" Siapa wanita yang lo bawa ?" Kini giliran Willy yang sendari tadi diam berbicara. Adhit tidak langsung menjawab pertanyaan mereka, ia merapikan dokumen-dokumen itu terlebih dahulu dan beranjak dari kursi kebesarannya menuju jendela besar yang ada disana dan terdiam. Matanya menatap jauh melihat kota metropolitan yang amat sibuk.
" Lo kenapa Dhit ?" Ucap Ken.
" Huft, kalian ingat alasan gue nolak setiap wanita dan cerita tentang gadis penolong gue?" Suaranya begitu berat seakan ada kesedihan dalam pikirannya.
" Ya ingat lo pernah cerita sama kita, tunggu Dhit! Apa gadis itu sudah ketemu?" Ken dan Willy begitu antusias menunggu jawaban dari Adhit.
Adhit berjalan menuju salah satu sofa dan duduk disana.
" Gue udah berhasil nemuin dia, tapi...!" Suara Adhit berhenti.
" Apa masalahnya Dhit? Bukannya ini adalah hal yang sangat lo harapkan?" Willy menatap sahabatnya itu lekat-lekat, ia sadar bahwa ditemukannya gadis yang membuat Adhit mencarinya begitu lama ada suatu hal yang membuat Adhit bersedih.
" Gue rasa sulit banget buat dia berada di samping gue, dia kayaknya benci banget sama gue, padahal udah banyak hal gue lakukan supaya dia tertarik sama gue." Adhit menunduk lunglai.
" Apa sekarang seorang Adhit berubah menjadi seorang pesimis? Lo punya segalanya, lo punya segalanya Dhit pepet terus dan jangan sampai lo kasih kesempatan dia buat mikirin hal selain lo, meski awalnya dia gak suka nanti lama-kelamaan dia bakal suka." Ucap Willy dengan tangannya meroggoh pada kantung miliknya dan mengambil sebungkus rokok.
Adhit mengangguk paham, ia tersenyum lebar kemudian memgambil ponsel miliknya untuk menghubungi asistennya Danu.
" Danu perintahkan seseorang untuk membuatkan 3 gelas jus dan antarkan ke ruangan gue."
----------------
**to be continued
-----------------
Hey para readers yang budiman! terimakasih masih setia di novel author, dan jangan lupa berikan like, komen, vote, serta rate kalian buat author ya.. Karena kalian adalah motivasi author untuk berkarya💕💕**
mentang2 byk duit, seolah2..........
hehehe
bukannya Tata udah rau kalau Adit itu CEO dan juga kan Tata juga dah sempat jadi karyawannya Adit?
Kok jadi kesannya di bab ini Tata masih nyangka Adit fotografer?