Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Tikus di Dalam Sangkar
Jam di dashboard mobil menunjukkan 00:03.
Udara malam menusuk kulit, tapi keringat dingin Nabila justru membasahi punggungnya. Di pangkuannya, tas berisi flashdisk itu ia peluk seperti nyawa. Galen menyetir dengan satu tangan dan tangan satunya masih sesekali menyentuh bahu Nabila memastikan gadis itu tetap sadar.
"Kamu gemetar," ucap Galen pelan
"Aku... takut," Jawab Nabila jujur
"Tadi di lorong, kalau satpam itu buka pintunya 2 detik lebih cepat..." Lanjut Nabila
"Ssst… jangan diucapin" Potong Galen cepat
"Kita selamat, itu yang penting dan sisanya kita hadapi bareng" Lanjut Galen
Mobil berhenti di depan apartemen kecil Nabila di daerah kumuh, yang jauh dari gedung pencakar langit. Kontras banget sama dunia Teriaz, sebelum turun, Nabila menoleh
"Galen... makasih, Kalau bukan karena kamu, aku udah di kantor polisi sekarang atau lebih buruk” Ucap Nabila dan di balas tersenyum tipis oleh Galen
"Jangan berterima kasih dulu, perang kita baru mulai. Besok, kita harus temuin Bu Ratna" Jawab Galen
"Bu Ratna?" Tanya Nabila bingung
"Iya, dia satu-satunya orang yang berani ngetik surat-surat kotor paman Bram tapi juga satu-satunya yang nangis tiap habis lembur. Dia punya anak sakit, makanya dia diam saja, Kita kasih dia jalan keluar" Jawab Galen membuat Nabila mengangguk mengerti
Tapi sebelum dia buka pintu, ponsel Galen bergetar dan nama ARVIN TERIAZ tertera di ponselnya
Arvin {Kak, esok jam 9 pagi ada rapat mendadak. Semua kepala divisi beserta karyawan baru wajib hadir, karena ada 'pengumuman penting} setelah membaca itu tangan Galen mengepal di setir
"Itu bukan rapat," Gumamnya Galen
"Itu interogasi massal" Lanjut Galen membuat Nabila menutup mata
*****
Ke esokkan paginya …
Pukul 08:30 di ruang Ballroom lantai 5 Teriaz Group, seluruh karyawan berdiri berjejer kisaran 200 orang, udara dingin AC bercampur keringat gugup. Di depan, duduk Bram Teriaz dengan wajah datar seperti patung. Di sampingnya, Arvin bersandar di kursi, memutar pulpen dengan santai. Senyumnya tidak sampai ke mata.
"Selamat pagi," Suara Arvin menggema lewat mic
"Maaf ganggu waktu kalian, tapi semalam ada tikus yang masuk ke gudang makanan kita" Lanjut Arvin membuat tawa kecil beberapa direktur.
Tapi karyawan bawah menunduk, nggak berani napas.
"Kami kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu data, bukti, dan kepercayaan" Ucap Arvin berdiri dengan jasnya mahal, tapi auranya beracun.
"Jadi, mulai hari ini, kami akan lakukan 'penyaringan internal'. Satu-satu"
Layar besar di belakangnya menyala, menampilkan rekaman CCTV buram ada sesosok perempuan dengan hoodie, masuk ke ruang arsip jam 22:17. Jantung Nabila yang berdiri di barisan paling belakang serasa jatuh ke lantai.
"Yang merasa dirinya ada di video ini, silakan maju" kata Arvin sambil tersenyum manis
"Atau... kita panggil satu-satu aja ya? Biar adil"
Satu jam pertama berjalan, nama para karyawan di panggil satu-persatu untuk diinterogasi 5 menit di atas panggung di depan semua orang. Ada yang nangis, ada yang pingsan dan Galen berdiri di samping panggung, sebagai dokter jaga tapi matanya nggak lepas dari Nabila. Giliran ke-198 yaitu giliran Nabila Azzahra.
"Silakan maju, Nona," kata MC
Langkah Nabila berat, 200 pasang mata menatapnya sambil bisik-bisik. Saat Nabila naik ke panggung, lampu sorot menyilaukan. Arvin menatapnya dari atas ke bawah dengan lambat
"Nabila Azzahra bagian administrasi Data yang masuk 3 minggu lalu, orangnya jarang berbicara, ranjin dan begitu sempurna" Arvin membaca dari map lalu dia mendekat membuat jarak mereka 30cm, Nabila bisa mencium wangi parfum mahal yang membuatnya mual.
"Kamu lembur semalam?" Tanya Arvin tiba-tiba
"Tidak, Pak" Jawab Nabila suaranya stabil, karena dia sudah latihan ini 100x di depan kaca
"Saya pulang jam 6" Lanjut Nabila
"Oh ya ? Padahal CCTV parkiran menangkap mobil ini keluar jam 00:10" Ujar Arvin memutar layar.
Mobil Galen yang Platnya ketutup, tapi Nabila tahu itu mobil Galen membuat darah Nabila dingin. Dia tahu Galen di sisi panggung sudah maju selangkah, siap menyela. Tapi Nabila lebih cepat.
"Oh itu, Pak," kata Nabila, menunduk.
"Saya... saya antar kakak saya, Pak. Dia satpam di gedung sebelah, motornya mogok. Saya pinjam mobil teman dan teman saya itu bekerjanya di klinik dokter Galen" Lanjut Nabila membuat semua mata menoleh ke Galen begitu juga dengan Arvin menyipit
"Galen?" Tanya Arvin tidak mengerti, Galen maju dengan tenang, wajahnya datar, professional
"Benar, saya yang pinjamkan mobil ke adik Nabila. Dia bantu saya antar obat ke pasien rawat jalan semalam dan ada bukti catatannya di klinik" Jawab Galen lalu dia menyerahkan selembar kertas palsu
Keheningan 3 detik yang terasa 3 tahun, Arvin menatap Nabila lalu Galen lalu kembali ke Nabila. Arvin tersenyum, senyuman yang paling Nabila takutkan.
"Kerja bagus, peduli sama keluarga" Kata Arvin
"Kamu boleh kembali ke tempat" Lanjut Arvin
“Terima kasih, pak” Jawab Nabila membungkuk dan turun.
Kakinya lemas dan saat dia lewat di belakang Arvin, dia mendengar bisikan pelan tepat di telinganya.
"Aku belum selesai sama kamu, Nona Nabila"
*****
Malamnya pada pukul 21:00 di rumah Bu Ratna, rumah petak kecil di pinggir rel, bertcat biru langit berpadu dengan putih. Di dalam, seorang anak 7 tahun terbaring dengan selang oksigen lalu Bu Ratna membuka pintu dan dia sangat kaget lihat Galen dan Nabila.
"Saya... saya nggak bisa, Dok," kata Bu Ratna langsung.
"Saya punya anak" Lanjut Nabila langsung berlutut bukan di depan bu Ratna, tapi di depan anak itu
"Tante nggak mau nyakitin Ibu," kata Nabila lirih
"Tante cuma mau keadilan, supaya nggak ada lagi anak lain yang kayak kakak Tante. Yang dirusak, terus dibuang" Lanjut Nabila
Nabila mengeluarkan flashdisk
"Di sini ada bukti, bukti yang bisa bikin Ibu dapat uang pensiun 10x lipat. Bukti yang bisa masukin orang-orang yang bikin Ibu ngetik surat kotor itu ke penjara." Ucap Galen membuat bu Ratna menangis, tangannya gemetar pegang flashdisk.
"Kalau aku... kalau aku ngomong..." Ucap Bu Ranta terbata-bata
"Kami yang lindungi Ibu" Potong Galen tegas
"Mulai malam ini, saya jamin ibu beserta anak ibu akan baik-baik saja" Lanjut Galen membuat Bu Ratna menatap anakny lalu menatap Nabila.
"Baik, saya bicara tapi kalian harus janji nama anak saya jangan disebut." Jawab Bu Ratna, Nabila mengangguk dengan air matanya jatuh juga
"Janji” Ujar Nabila dan Galen
*****
Kantor Teriaz di jam yang sama, Arvin melempar gelas ke dinding.
"BOHONG! Itu bohong semua!" Teriak Arvin
"Dokter sok suci itu pasti bantu dia!, dan perempuan itu... matanya. Matanya sama kayak korban yang dulu!" Lanjut Arvin sedangkan Bram duduk diam sambil merokok.
"Sudah, jangan teriak," Kata Bram dingin.
"Kalau dia tikusnya, biarkan dia jalan. Biar dia kumpulin semua tikus lain, nanti kita bakar satu sarang."Lanjut Bram lalu menekan tombol intercom.
"Siapkan tim 24 jam, awasi Nabila Azzahra dan Galen Teriaz dan angan sampai lepas." Titah Bram membuat Arvin tersenyum.
Kali ini senyumnya benar-benar sampai ke mata. Mata pemburu.
"Lama nggak main kejar-kejaran," Gumam Arvin
"Aku kangen" Lanjut Arvin