"Tolong! Tolong!"
Jeritan dari seorang wanita membuat Khasafa yang sedang membidik suatu gambar di atas batu besar, di tengah-tengah sungai mendadak diam. Hingga ia melihat seorang gadis terjatuh tepat di depan mata.
Byurr
"Astaghfirullah... Mati apa hidup itu orang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Abang mau kemana lagi? Semalam pulang larut hari ini sudah mau pergi lagi?" tanya Salsabila yang kini memperhatikan Shafa yang sedang berkemas di dalam kamar pria itu.
"Abang mau kerja lah, ya kali mau main. Semalam urusan sudah beres jadi ini beda lagi. Jangan kemana-mana nanti nyasar! Abang mau kerja dulu!" pamit Shafa.
"Tapi Abang, Hachie nggak mau akh di rumah sendirian. Tante Kaira katanya pulangnya sore. Nanti aku bete nggak ada temannya. Ikut ya Bang, janji nggak ganggu. Siapa tau nanti aku ingat sesuatu. Gimana?" tanya Salsabila yang membuat Shafa berpikir.
"Tapi outdoor loh, ntar loe gosong gue nggak mau tanggung jawab."
"Kalau sudah ketemu sama Mamah Papah nanti aku minta beliin cream pemutih wajah. Nggak masalah tenang aja! Yang penting aku ikut dulu, gimana? Boleh ya, Bang?" Rayuan Salsabila dengan tatapan puppy eyes membuat Shafa menghela nafas dalam lalu mengangguk mengiyakan.
"Nggak perlu juga harus minta sama Nyokap Bokap loe, gue mampu kalau cuma beliin loe skincare. Cuma masalahnya kan gue nggak tau merek apa. Kalau nggak pake aja noh deterjen Bibi di dapur. Baju aja jadi putih apa lagi muka loe yang udah glowing. Makin keset kayak cucian piring."
"Ikh muka aku disamain sama baju dan perabot dapur. Awas jatuh cinta sama aku! Berasa pacaran sama piring makan nanti."
"Serah loe! Cepetan gue udah ditungguin klien!"
"Iya," sahut Salsabila yang kemudian berlari keluar kamar menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Girang sekali karena hari ini bisa melihat lagi dunia luar. Bisa ikut Shafa kerja juga jadi tak jenuh sendirian di rumah.
"Naik mobil, Abang? Kenapa nggak naik motor aja? Seru tau, Bang." Salsabila meraih kunci motor yang tergantung di kumpulan khusus kunci. Agaknya ia sudah hafal sekali. Membuat Shafa lagi-lagi mengalah dan mengembalikan kunci mobilnya ke tempat semula.
"Ayo!"
"Yes! Naik motor," seru Salsabila. Gadis itu yang sebelumnya selalu tak mendapatkan izin menaiki motor oleh orang tuanya karena alasan keselamatan begitu senang saat bisa menaiki motor dengan Shafa.
"Pakai helmnya!" titah Shafa lalu dianggukki oleh Salsabila. Gadis itu pun diam saat Shafa memasangkan helm. Jarak keduanya yang cukup dekat kembali membuat jantung Salsabila berdebar kencang, bahkan hembusan nafas Shafa membuat Salsabila menahan nafas.
"Nafas! Engap pingsan aja!" celetuk Shafa saat dia melirik wajah Salsabila. Semburat di wajah gadis itu terlihat tetapi betapa lucunya saat ditegur Salsabila justru meringis menatapnya.
Shafa pun menarik diri. Sejenak memperhatikan wajah Salsabila lalu menaiki motornya. "Naik!" perintah Shafa membuat Salsabila buru-buru mengangguk dan menaiki motor itu.
"Pegangan! Awas jangan sampai dilepas kalau belum sampai tujuan. Gue agak ngebut nich."
"Ngebutnya Abang seperti orang normalnya. Nggak masalah, aku nggak akan lepas kok. Suka ya aku peluk-peluk begini?" ledek Salsabila. Meskipun grogi dekat dengan Shafa tetapi melihat pria itu sewot menjadi hiburan tersendiri bagi Salsabila.
"Iya suka, suka ngeselin!" celetuk Shafa tetapi tangannya justru menarik lengan Salsabila agar semakin erat.
Mereka segera berangkat tanpa tau jika di luar pagar sudah ada satu mobil yang sejak tadi mengintai dan kini membuntuti keduanya.
Shafa tak sadar jika ada yang sengaja mengikuti, hingga keduanya sampai di lokasi. Mereka turun dan kembali Shafa membukakan helm Salsabila tetapi saat Shafa meletakkan kembali helmnya di motor. Tiba-tiba ada yang menarik tangan Salsabila hingga gadis itu menjerit.
"Akh!"
Sontak Shafa menoleh ke arah Salsabila dan orang yang tiba-tiba mendekati mereka. Dia melihat Salsabila memberontak dengan kening yang sudah bertumpuk keringat. Terlihat juga ketakutan yang mendera dari kedua mata Salsabila.
"Lepas! Abang tolong!" teriak Salsabila membuat Shafa bergegas menarik tubuh Sabil hingga kedua tangan gadis itu dalam genggaman dua orang yang sama-sama mempertahankannya.
"Salsabila ini aku! Kamu harus pulang!" ucap pria yang ada di sisi kanan Salsabila. Ya pria itu adalah Gilang. Kekasih Salsabila dulu yang begitu yakin jika gadis yang ia cari keberadaannya ini dan kini sudah ada di hadapannya adalah benar kekasihnya yang jatuh di sungai.
Sejak terakhir melihat Salsabila, Gilang mencari keberadaan gadis itu mati-matian. Sampai dimana dia menemukan rumah Shafa setelah melihat plat nomor di cctv jalan. Kehilangan jejak Sabil mendorong Gilang untuk berpikir keras hingga memutuskan kembali ke toko roti tempat dimana dia melihat gadis itu. Gilang mencari informasi di sana hingga mendapatkan jejak mereka.
"Loe siapa berani pegang dia?" tanya Shafa yang entah mengapa tak suka melihat tangan Salsabila dicengkeram kuat. Namun dia tak mau gegabah. Shafa ingin menanyakan dulu siapa pria itu. Shafa berpikir jernih, siapa tau benar pria itu memang mengenali Salsabila.
"Gue cowoknya, bahkan gue tunangannya dan pernikahan kita gagal karena dia hilang. Sekarang lepasin dia biar gue bawa pulang cewek gue," jawab Gilang pada Shafa dengan lantang.
Shafa terdiam mencerna perkataan Gilang. Jika dipikir ada benarnya memang Salsabila hilang dan saat ini gadis itu belum mengingat.
Shafa menoleh ke arah Salsabila, fokusnya pada kedua mata gadis itu yang begitu merah dan terlihat ada ketakutan yang tak wajar. Ketakutan yang sama saat Salsabila melihat mobilnya.
"Neng," panggil Shafa dengan lembut. Terlihat tubuh Salsabila bergetar, tangannya pun berkeringat dan wajahnya memucat.
"Abang, aku takut!" ucapnya lirih dengan suara yang hampir hilang.
Bugh
Shafa menendang tangan Gilang hingga genggaman tangan pria itu pada Salsabila terlepas. Dengan cepat Shafa menarik tangan Salsabila lalu menyembunyikan gadis itu di belakang tubuhnya.
"Kurang ajar! Loe nggak ada hak buat rebut dia dari gue! Sabil ini Mas Gilang. Apa kamu lupa? Kamu nggak ingat siapa aku?" tanya Gilang yang mulai curiga dengan kondisi Salsabila dan hal itu semakin menguatkan jika ia tak salah orang.
Namun Salsabila justru memeluk Shafa. Kedua tangan Sabil mencengkeram kedua sisi jaket Shafa saat bayangan akan perlakuan Gilang datang dan semakin kuat di pikirannya.
Kashafa pun bisa merasakan ketakutan Salsabila yang semakin kuat. Shafa merasakan kedua sudut jaketnya semakin tertarik. Membuat emosi terpancing.
"Jika loe tau siapa dia, seharusnya loe datang bawa bukti, karena gue nggak akan kasih dia begitu aja sama loe yang nggak jelas dari mana asalnya," sahut Shafa dengan tegas.
Gilang berdecih dan tersenyum miring mendengar perkataan dari Shafa. Dia merogoh ponselnya lalu membuka galeri yang masih tersimpan banyak foto Salsabila.
"Ini kalau loe nggak percaya!" Gilang memberikan satu foto yang mana adalah foto saat mereka bertunangan dulu. Tak hanya satu, bahkan beberapa foto lainnya yang memperlihatkan kebersamaan keduanya.
"Sekarang loe udah tau siapa dia, dan gue nggak bohong apa lagi berniat bawa kabur. Keduanya orang tuanya mencari. Sekarang serahkan Salsabila! Gue harus cepat bawa dia pulang karena gue akan meneruskan pernikahan kami yang gagal!"