•Unbeatable Girlfriend —Pacar yang Tak Terkalahkan•
Clarish Deonal Martin, esper tersembunyi yang dikatakan mewarisi kekuatan dewa. Ia cerdas, licik dan pandai memeras kekayaan orang. Namun ia selalu menganggap dirinya miskin meski uang dalam kartunya bernilai ratusan juta dolar.
Setelah mengenal Elnathan Deminthor, pewaris keluarga sekaligus pemimpin kelompok mafia, hidup gadis itu berubah. Ia membantu Elnathan dalam situasi apa pun, bahkan jika itu adalah konspirasi musuh.
Namun pada saat yang sama, Clarish harus mengorbankan kebebasannya sendiri untuk keluarga Deminthor. Dan tentunya demi Elnathan yang selama ini ia sukai diam-diam.
Akankah keduanya bisa mengatasi semuanya bersama-sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Merah Muda
Beberapa hari kemudian, Elnathan sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Entah pergi ke perusahaan atau ke tempat di mana kelompok mafianya berada.
Sophia bahkan sudah bisa berlari dan menendang, kondisinya baik.
Hari ini, Sophia kedatangan tamu yang menjenguknya. Yang tak lain adalah mantan pacarnya sendiri, Armen Cristopher.
"Kudengar kamu sakit. Aku bahkan tak bisa melihatmu di klub atau di tempat lain. Jadi itu benar? Kupikir kakakmu mengurungmu di rumah."
Sophia sangat marah hingga dia menendang betisnya. Untungnya Armen dengan cepat menghindar. Ekspresi khawatir pria itu berubah menjadi kesal.
"Kenapa kamu tiba-tiba menendangku? Emosimu masih belum berubah sama sekali."
"Terlambat untuk menjenguk orang sakit. Aku sudah sehat!"
"Begitu cepat?"
"Apa maksudmu begitu cepat?"
"Bukan apa-apa." Armen segera menggelengkan kepala. "Ke mana kamu akan pergi sekarang?"
Armen melihat jika Sophia sudah berdandan dan memeriksa barang apa saja yang kurang. Jangan sampai ketika dia tiba di perusahaan, berkas yang diminta kakaknya bawa tertinggal.
"Aku sibuk. Tentu aku pergi ke perusahaan untuk membantu pekerjaan kakakku. Aku tidak seperti kamu, pria malas."
"Pergi ke perusahaan?" Armen merasa heran. "Kenapa kamu tiba-tiba ingin membantu pekerjaan kakakmu? Bukankah kamu bilang jika menjadi wanita kantoran sangat membosankan?"
Saat keduanya berpacaran dulu, Sophia sering berkata jika dirinya tidak akan menjadi wanita kantoran. Dia akan menjalankan bisnisnya sendiri.
Namun setelah lulus universitas, Sophia tampaknya belum menentukan usaha apa yang akan dilakukannya.
"Memang. Tapi bagaimana lagi, kakakku akhir-akhir ini dalam kondisi kurang sehat. Sebagai adik yang baik, aku tentu harus membantunya. Kamu sendiri kenapa datang ke sini? Hanya menjengukku?"
"Itu ...."
Sophia tidak menunggunya selesai bicara. Dia ogah untuk meladeninya jadi buru-buru pergi. Tanpa diduga, Armen mengikutinya. Keduanya bertengkar konyol sepanjang perjalanan karena Armen memberinya tumpangan.
Setibanya di perusahaan, Elnathan bahkan tidak ada di sana. Hanya ada Kendrick yang sibuk.
"Di mana kakakku?" tanyanya.
"Bos pergi mengantarkan mobil untuk nona Clarish." Kendrick melepas kacamata baca nya.
"Apa? Mobil yang mana?"
"Mobil Lamborghini yang dulu rusak dan dijual. Bos menggantinya dengan yang baru."
Armen teringat dengan mobil Lamborghini nya itu. Jadi sudah dijual?
"Mobil itu sudah menemaniku cukup lama, suka dan duka. Sekarang rusak dan dijual. Apakah gadis itu tidak memiliki hati nurani?" Armen agak tidak senang.
Sophia memutar bola matanya. "Mobil rusakmu sudah menjadi barang bekas. Tidak tahu berapa banyak wanita yang telah kamu ajak jalan dengan mobil itu. Bagus untuk dijual."
Armen tidak menimpalinya. Ia sendiri menghitung berapa banyak wanita. Tapi tidak mengingat satu pun dari mereka.
Lain kali, dia tidak akan bertaruh barang-barang dengan gadis itu lagi.
Kemudian, Kendrick sadar jika Armen juga datang bersama Sophia. "Apakah kalian berbaikan?"
Sophia mendengkus. Dia melipat kedua tangannya di dada. "Bagaimana mungkin? Tidak akan pernah!"
"Kamu terlalu langsung," kata Armen.
Armen merasa dia sangat sial akhir-akhir ini. Terutama ketika dia kehilangan banyak uang setelah kalah taruhan dengan Clarish di bar bawah tanah.
Ini diketahui oleh orang tuanya, lalu menyita kartu dan membekukan beberapa akun keuangannya. Biarkanlah dia miskin selama waktu yang tidak ditentukan.
Kedua orang tuanya bahkan tidak peduli apakah dia kelaparan atau tidak. Jika dia ingin makan, maka pulang dan pelayan menyiapkannya. Namun untuk makan di luar, hanya ada beberapa dolar saja.
Terakhir kali, Armen mengeluarkan sisa uang tunainya untuk membeli bahan bakar mobil. Sangat boros. Ia tahu sekarang bahwa hidup tanpa uang itu sulit.
"Adakah lowongan pekerjaan di perusahaan? Aku ingin melamar pekerjaan," katanya.
Baik Sophia mau pun Kendrick langsung menatapnya dengan heran. Sangat tidak percaya dan tidak mungkin playboy sekelas Armen tiba-tiba begitu rajin untuk bekerja.
"Pekerjaan? Apakah kamu dihukum oleh orang tuamu lagi?" Sophia menebak.
"Benar. Bukankah itu karena kalah taruhan sebelumnya?"
Armen tahu jika dirinya pasti akan dicurigai menghancurkan perusahaan orang ketika datang untuk bekerja.
"Apakah kamu mahir bermain game?" tanya Kendrick.
"Tentu saja." Armen mengangguk enteng.
Sophia mendengkus. "Kamu mungkin tidak tahu. Pria ini, selain pandai bermain wanita, ia juga pandai bermain game. Bahkan hampir tidak ada waktu untuk berkencan."
Tolong jangan terlalu berterus terang, batin Armen.
"Kalau begitu bagus. Kebetulan, perusahaan membutuhkan seorang penguji game online yang akan kami rilis dalam waktu dekat. Ini merupakan game survival. Apakah kamu tertarik?"
"Tentu saja, selama gajinya lumayan."
"Baiklah. Ayo ikut denganku."
Kendrick tidak khawatir jika Armen akan membocorkan rahasia game baru mereka. Lagi pula, reputasi keluarga Cristopher ada di tempat. Mereka juga tidak berada di bidang perusahaan yang sama.
Pembuatan game ini hanyalah kesibukan di waktu luang ketika Elnathan tidak sibuk di kelompok mafianya.
Ada satu ruangan khusus di kantor Elnathan yang dikhususkan untuk percobaan game. Entah itu menguji karakter dalam game, senjata serta sejenisnya yang berhubungan dengan survival. Termasuk menguji keefektifan barang yang didapat.
Ketika Armen memuat isi game, ia melihat daftar teratas dari orang-orang yang telah mencobanya.
"Siapa pemilik akun Holy Esper ini?" tanyanya.
"Tentu saja itu adalah milik Clare kesayanganku. Bukankah hebat?"
Apakah gadis itu benar-benar unggul juga dalam game online? Lihat total skor yang didapatnya sebagai salah satu penguji game. Dari level awal hingga menjadi pemimpin di dalam game, Clarish memimpin.
Ini pemain kelas UR!
Sial! Apakah gadis itu dewa pembunuh sejati?
Tiba-tiba saja Armen menggigil diam-diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Clarish tidak tahu jika Armen mengetahui betapa mahirnya dia dalam bermain gim. Saat ini ia sedang memandangi mobil Lamborghini berwarna merah muda mencolok di depannya. Dia tak bisa berkata-kata.
Elnathan lah yang mengantarkan mobil ini ke tempatnya.
"Tuan muda, kenapa memberikan mobil ini padaku?" tanyanya heran.
"Anggap saja kompensasi karena mobil hasil taruhanmu rusak sebelumnya. Apakah kamu tidak suka?" Elnathan mengerutkan kening.
Clarish terdiam sejenak. "Aku tidak suka warnanya."
"Warna ini cocok untuk para gadis sepertimu."
Maaf, tapi aku benci merah muda.
Melihat Clarish sama sekali tidak bersemangat dengan mobil itu, Elnathan tidak ragu menyerahkan kunci pada anak buahnya.
"Karena kamu tidak mau, aku akan membawanya kembali. Anggap saja mobil ini tidak pernah ada."
Mendengar jika mobilnya akan diambil kembali, Clarish sangat enggan. Ini mobil sungguhan, bukan mainan. Uang datang ke pintu, kenapa dia harus menolaknya.
"Jangan, jangan. Aku menyukainya, aku menyukainya. Berikan kuncinya padaku," katanya cepat.
Elnathan pun menyerahkan kunci mobil padanya dengan ekspresi puas.
"Kalau begitu, aku akan menitipkan Sophia padamu di masa depan. Jika butuh sesuatu, katakan saja. Jika dalam masalah, ingatlah untuk menghubungiku."
"Aku mengerti.
"Sudahkah kamu mempertimbangkanku sebagai pria simpananmu?" tanyanya.
Mampir juga donk di novel aku "Mengejar cinta sang idola"