Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.
Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.
Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 Awakening
Beberapa hari berlalu setelah pernikahan mereka.
Arka berjalan gontai menyusuri koridor rumah susun kontrakannya. Hari ini kerjanya cukup melelahkan karena terpacu oleh waktu, dan seluruh persendiannya terasa mau copot. Di tangan kanannya, ada sebuah kantong plastik hitam berisi satu cup mie instan yang ia beli di minimarket bawah. Pikirannya hanya satu: menyeduh mie, makan, lalu tidur.
Ia memutar kunci, mendorong pintu kayu kontrakannya dengan pundak, lalu melepas sepatu boots-nya yang berdebu.
"Selamat datang, Mas," sebuah suara lembut menyambutnya dari arah dalam.
Arka terlonjak kaget, hampir menjatuhkan mie instan di tangannya. Di depannya, Sisil berdiri dengan baju kain sederhana ala gadis rumahan, rambutnya diikat rapi ke belakang.
"Astaga... aku lupa kalau sekarang aku sudah punya istri!" jerit Arka dalam hati. Efek kelelahan membuat otaknya sempat melupakan fakta bahwa ia tidak lagi hidup sendiri.
Mata Arka langsung tertuju pada kantong plastik di tangannya, lalu rasa bersalah menghantamnya. "Sisil! Maaf, maafkan aku! Aku benar-benar lupa dan hanya membeli satu mie instan... Tunggu sebentar, aku akan turun lagi untuk membelikanmu makanan!"
Sisil tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang manis lolos dari bibirnya. "Ti-tidak usah, Mas. Sebenarnya... aku sudah memasak. Kebetulan bahan makanan di dapur masih ada, dan aku sengaja menunggumu pulang agar kita bisa makan bersama."
Arka berkedip heran. "Kamu... bisa memasak?"
Sisil menegakkan bahunya sedikit, ada binar bangga di matanya yang bulat. "Tentu saja. Sejak kecil aku yang bertanggung jawab mengurus dapur. Masak adalah keahlian terbaikku."
Sisil melangkah mendekat, dengan lembut mengambil alih kantong plastik dari tangan Arka. "Mas tidak perlu keluar lagi. Sini..."
"Kamu mau mandi dulu atau langsung makan, Mas?" tanya Sisil kemudian, menatap suaminya dengan perhatian penuh.
"Hmm... mandi dulu sepertinya. Badanku bau keringat," jawab Arka, merasa agak jengah dengan kondisinya yang kotor.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian bersih, Arka menghampiri meja kayu pendek di sudut ruangan. Di atas meja, telah tersaji nasi hangat, tumis sayur sederhana, dan beberapa potong lauk yang aromanya sangat menggugah selera. Arka duduk bersila, berhadapan dengan Sisil yang tersenyum simpul.
"Silakan dimakan, Mas. Maaf kalau rasanya kurang pas, bahannya agak terbatas," ucap Sisil agak ragu.
Arka mengambil sendok, menyuapkan nasi dan lauk itu ke dalam mulutnya. Matanya langsung melebar. "Ini... enak sekali! Sisil, kamu benar-benar jago masak!" puji Arka tulus.
Pipi Sisil bersemu merah, ia tampak sangat lega. "Syukurlah kalau Mas suka. Makan yang banyak, ya."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arka tidak makan dalam keheningan yang dingin. Setiap suapan terasa berbeda. Selama ini, jika ia terlalu lelah, mie instan adalah satu-satunya pelarian. Namun malam ini, ada kehangatan yang menjalar di dadanya.
"Punya seseorang yang memasak untukku... sepertinya bagus juga," bisik Arka dalam hati. Rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya perlahan menguap, digantikan oleh energi baru.
"Terima kasih banyak untuk makanannya, Sisil. Perutku kenyang sekali," ucap Arka sambil menyandarkan punggungnya ke dinding dengan puas.
"Sama-sama, Mas. Kalau Mas suka, aku akan memasak untukmu setiap hari."
"Tentu saja, tolong bantuannya, ya," Arka terkekeh geli. "Besok aku akan berikan uang belanja untukmu."
Malam semakin larut. Suara bising dari luar perlahan mereda. Arka mulai menggelar kasur lantai tipis mereka dan bersiap untuk tidur. Namun, saat ia hendak merebahkan diri, Sisil yang duduk di tepi kasur melontarkan pertanyaan yang membuat jantung Arka berdegup kencang.
"Mas... kamu tidak ingin... melakukannya denganku?"
Arka menelan ludah. Sebagai pria dewasa, ia tahu persis apa arti kalimat itu—kewajiban dan hak biologis dalam pernikahan.
"Tidak perlu sekarang, Sil," jawab Arka selembut mungkin, mencoba menahan gejolak di dadanya.
Sisil menunduk, meremas selimut. "Kenapa? Apa... aku kurang menarik di matamu?"
"Bukan begitu," Arka bergeser mendekat, memegang tangan Sisil. "Aku hanya tidak ingin kamu merasa terpaksa melakukannya."
"Aku tidak terpaksa, Mas. Aku benar-benar ingin melayanimu sebagai seorang istri..." Sisil mendongak, matanya berkaca-kaca. "Atau... Mas memang tidak menganggapku sebagai istrimu?"
"Tentu saja tidak! Kamu jelas istriku. Aku hanya—"
Kalimat Arka terputus di tenggorokan. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Sisil membuka kancing baju tidurnya. Kain tipis itu merosot, menampilkan pundak yang indah dan kulit putih mulus yang kontras dengan pencahayaan kamar yang remang. Pilihan pakaian dalam yang dikenakannya mempertegas lekuk tubuhnya yang menawan.
Sisil menatap langsung ke netra Arka, napasnya sedikit memburu karena gugup. "Kalau begitu... buktikan kalau aku memang istrimu, Mas. Tandai aku."
Rasionalitas Arka runtuh seketika. Hormon dan naluri kelelakiannya mengambil alih. Dengan satu gerakan cepat, Arka memosisikan dirinya di atas Sisil, mengukung tubuh mungil gadis itu di atas kasur lantai mereka.
Sisil memekik kecil, terkejut dengan kegesitan suaminya. Wajahnya kini memerah sempurna hingga ke telinga. Ia menyembunyikan wajahnya di jemari tangannya, berbisik lirih, "Tapi... pelan-pelan ya, Mas... Ini pengalaman pertamaku."
Malam itu, di dalam kamar kontrakan yang sempit, sekat di antara dua manusia yang awalnya asing itu runtuh sepenuhnya dalam kehangatan penyatuan mereka.
Beberapa jam kemudian.
Sisa-sisa "pertempuran" panjang tertinggal di atas kasur yang berantakan. Sisil telah tertidur pulas dengan napas yang teratur, tubuhnya terbungkus rapat oleh selimut hangat. Kepala gadis itu berbantalkan lengan Arka.
Arka sendiri masih terjaga, menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk antara lelah dan bahagia. Namun, saat ia menoleh untuk mengecup puncak kepala istrinya, sebuah kilatan cahaya keemasan tiba-tiba muncul di depan matanya.
Ting!
Sebuah layar semi-transparan mengambang di udara, memancarkan teks yang membuat napas Arka tercekat.
[Selamat! Anda telah mendapatkan seorang Istri yang sangat setia!]
"Apa... apa-apaan ini?!" bisik Arka, matanya membelalak tak percaya. Itu adalah Status Window. Layar yang selama puluhan tahun tidak pernah memedulikannya, yang biasanya hanya menunjukkan status sampah dirinya.
Teks di dalam layar itu dengan cepat bergulir, memunculkan baris-baris notifikasi baru yang berpendar terang.
[Efek Status Pernikahan Aktif: Seluruh Stat Kemampuan Dasar Anda Mengalami Peningkatan Drastis!]
[Anda Mendapatkan Hadiah Awakening Utama: Skill 'Dimensional Breach' & Elemen 'Lightning'.]
[Fitur Shop Telah Terbuka: 'Toko Istri' Kini Tersedia! Kalahkan monster untuk mengumpulkan poin dan membeli apapun yang dijual!]
Jantung Arka berpacu gila-gilaan. Awakening. Setelah 24 tahun hidup sebagai manusia biasa yang tidak berguna, ia akhirnya bangkit. Dan jenis kekuatan yang didapatkannya... Cukup tidak masuk akal karena aktif setelah ia menikah.
Sebuah baris teks terakhir muncul di bagian paling bawah layar, berkedip pelan.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan keuntungan dan meningkatkan kekuatan anda!]
Arka menatap layar itu, lalu beralih menatap wajah tidur Sisil yang tampak damai dan polos dalam pelukannya. Senyum tipis perlahan terukir di bibir pemuda itu.
"Inikah yang orang-orang bilang... rezeki dan berkah datang setelah menikah?" gumam Arka lirih.
Berkat gadis yang dibuang ini, berkat istri yang kini sah menjadi miliknya, Arka bukan lagi seorang kuli bangunan biasa. Ia telah awakening dan bisa memperbaiki nasibnya.
Arka mendekatkan wajahnya, mengepalkan janji di dalam hati sembari mendaratkan kecupan lembut di pipi Sisil.
"Aku berjanji... Aku pasti akan membahagiakanmu. Kamu adalah kartu keberuntunganku."
Bersambung..
like+ bunga🌹✍️
kalo berkenan mmpir y thor😉
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/