Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA TERUNGKAP
selama beberapa Minggu ini,entahlah, perasaanku sedang tidak enak,sulit tidur,hingga mas dharma memutuskan datang setiap ada kesempatan,ia Menghiburku,Menemaniku ketika aku hanya ingin diam seribu bahasa.
beberapa kali ia rela membatalkan urusan pekerjaan demi memastikan aku tidak sendirian,semakin sering Dharma bersamaku, semakin banyak pula mata yang mulai memperhatikan hubungan kami.
Rahasia yang selama ini tersimpan rapat perlahan mulai retak.
Suatu sore, ketika Dharma sedang berada di rumahku, telepon genggamnya berdering berkali-kali,Nama yang muncul di layar membuat wajahnya berubah.
"Kenapa, Mas?" tanyaku.
Dharma tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandangi layar ponselnya.
"Itu anak Mas."
Aku terdiam."Angkat saja."
Dharma menghela napas panjang,Lalu menerima panggilan itu,Aku tidak bisa mendengar seluruh percakapan mereka,Namun dari ekspresi wajahnya, aku tahu sesuatu sedang terjadi.
"Siapa bilang begitu?" tanya Dharma tegas.
Beberapa detik kemudian wajahnya semakin serius.
"Tunggu Papa pulang. Kita bicara baik-baik."
Telepon pun berakhir,Jantungku mulai berdebar.
"Ada apa?"tanyaku ingin tau, Dharma menatapku.
"Mereka mulai tahu."
Aku langsung membeku,Dunia seolah berhenti sesaat,Selama bertahun-tahun kami berusaha menjaga semuanya tetap tenang,Namun ternyata tidak ada rahasia yang bisa disimpan selamanya.
Malam itu Dharma pulang ke rumah keluarganya,Sepanjang malam aku tidak bisa tidur,Pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Bagaimana reaksi mereka?Apakah semua yang telah kami bangun akan runtuh begitu saja?
Pukul sebelas malam,Pukul satu dini hari,pukul tiga pagi,Aku masih terjaga,Hingga akhirnya teleponku berdering,Nama Dharma muncul di layar.
Dengan tangan gemetar aku mengangkatnya.
"Mas?"
Di seberang sana terdengar suara napas berat.
"Mereka tahu semuanya."ujar dharma.
Apa yang terjadi?"tanyaku kembali.
Dharma terdiam beberapa saat.
"Luna menunjukan fotoku ku dengan mas dharma di salah satu mall sedang bergandengan tangan."
Luna adalah anak perempuan Dharma,Selama ini ia sangat dekat dengan ayahnya,Dan kini gadis itu mengetahui kenyataan yang selama ini disembunyikan.
"gimana Mas?
"Luna Marah sekali."ujar dharma dengan lirih.
Meski tidak pernah bertemu dekat dengannya, aku bisa membayangkan perasaannya,Bagaimanapun juga, dari sudut pandangnya, aku adalah perempuan yang hadir dan mengubah kehidupan keluarganya.
"Aku minta maaf, Mas." ujar tika bersandar.
"Kamu tidak salah."
Namun kalimat itu tidak mampu mengurangi rasa bersalah yang memenuhi dadaku.
esok harinya situasi semakin rumit,Selama bertahun-tahun Istrinya memang merasakan perubahan pada suaminya,Sering pulang terlambat,Lebih banyak bepergian,baju baru mas dharma,penampilan lebih Tapi mas dharma, Parfume yang selalu ia pakai setiap hari.Banyak hal yang terasa berbeda.
Ketika seluruh kepingan rahasia terbuka,Menurut cerita Dharma, istrinya tidak berteriak,Tidak mengamuk,Tidak melempar barang seperti yang sering terjadi dalam drama televisi,Ia hanya duduk diam,Sangat diam,Kemudian bertanya satu hal.
"Sejak kapan?"
Pertanyaan sederhana yang tidak mampu dijawab dengan mudah,Karena setiap jawaban akan melukai,Setiap kata akan meninggalkan luka baru.
Dan tidak ada jawaban yang bisa memperbaiki keadaan.
Beberapa hari berikutnya menjadi hari-hari paling berat dalam hidup kami,Telepon Dharma tidak pernah berhenti berdering,Anak-anaknya bergantian menghubungi,Saudara-saudaranya mulai ikut campur,Bahkan beberapa teman dekat keluarga juga mengetahui kabar tersebut.
Aku memilih menjauh,Aku tidak ingin menjadi alasan pertengkaran yang lebih besar.
Namun suatu malam Dharma datang ke rumahku,Wajahnya tampak jauh lebih tua dari biasanya,Seolah dalam beberapa hari saja beban hidupnya bertambah bertahun-tahun.
"Aku capek."
Kalimat itu membuat hatiku lemas,Selama ini Dharma selalu terlihat kuat,Namun malam itu aku melihat sisi lain dirinya,Sisi seorang pria yang sedang kehilangan arah.
Aku menuangkan teh hangat untuknya,Lalu duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa kalau capek."
Dharma tersenyum pahit.
"Mereka semua membenciku sekarang."
Aku menggeleng
"Tidak mas,Mereka marah,Itu berbeda.
Dharma menatapku.
Mereka berhak marah,Aku tidak bisa menyangkalnya,Karena memang benar dan kenyataan itu tidak bisa diabaikan.
Beberapa minggu kemudian, Luna meminta bertemu denganku,Permintaan itu membuatku tidak bisa tidur semalaman,Aku tahu pertemuan itu tidak akan mudah,Namun aku juga tahu aku tidak bisa terus bersembunyi.
Maka pada hari yang ditentukan, aku datang ke sebuah kafe kecil,Luna sudah duduk di sana,Wajahnya cantik,Mirip Dharma,Tetapi sorot matanya dipenuhi kekecewaan,Aku duduk perlahan di hadapannya,Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Sampai akhirnya Luna membuka suara.
"Jadi semua nya benar Tante?
Aku mengangguk pelan."Iya."
Gadis itu tersenyum tipis,Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Papa sangat mencintai Tante ya?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam,Aku tidak tahu jawaban apa yang tepat.
"semuanya sudah terluka.
Kalimat itu menghantamku tepat di dada,Karena itulah kenyataannya.
Aku menunduk.
"Tante minta maaf. "ujarku merasa malu.
"Untuk semua yang terjadi.
"Luna menatapku cukup lama.
Kemudian matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku kecewa sama Papa,"
Air matanya jatuh.
Pertemuan itu tidak langsung memperbaiki keadaan,tapi setidaknya menjadi awal dari sebuah percakapan.Awal dari keberanian untuk menghadapi kenyataan.
Hari-hari berikutnya masih penuh ketegangan,Masih ada pertanyaan yang belum terjawab,perlahan semua pihak mulai menyadari satu hal,Tidak ada yang bisa mengubah masa lalu,Yang bisa dilakukan hanyalah menentukan bagaimana melangkah ke depan.
di tengah badai itu, aku dan mas Dharma sedang duduk berdampingan suatu malam,memandangi langit yang gelap.
"Kalau bisa mengulang waktu, apa kamu akan mengubah semuanya?" tanya Dharma.
Aku terdiam lama,Lalu menggeleng.
"Aku hanya berharap tidak ada lagi hati yang harus terluka."
Dharma menggenggam tanganku,kami memahami bahwa ujian terbesar bukanlah mempertahankan cinta,Melainkan menghadapi konsekuensi dari setiap pilihan yang pernah kami ambil.
Perjalanan kami masih panjang,Belum tentu mudah,Belum tentu diterima semua orang,tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
_________________________________________________
Siang itu, mas dharma pulang cepat,Seperti biasa, ia memaksakan senyum agar aku tidak khawatir,Namun aku mengenalnya terlalu baik,Ada beban besar yang sedang ia sembunyikan,Dharma duduk diam cukup lama.
"Ada apa?" tanyaku pelan.
Dharma menghela napas panjang.
"Tadi aku bicara dengan anak-anak."ujar dharma.
"Lalu?"
"Mereka minta aku memilih."
Aku langsung membeku,Satu kata itu yang selama ini paling kutakuti,Dharma tersenyum pahit.
"Mereka bilang aku tidak bisa terus menjalani dua kehidupan sekaligus."
Air mataku mulai menggenang,Karena jauh di dalam hati, aku tahu mereka tidak sepenuhnya salah.
Malam itu kami duduk dalam diam,Untuk pertama kalinya sejak bersama Dharma, aku merasakan ketakutan yang begitu besar,Aku mencintainya,Sangat mencintainya,aku juga tahu ada banyak orang yang mencintainya selain aku.
Anak-anaknya,Keluarganya,Orang-orang yang telah hadir jauh sebelum aku mengenalnya.
"Tika."
Aku menoleh.Dharma menggenggam tanganku.
"Jangan berpikir macam-macam."
Aku tersenyum tipis,Aku menunduk.
"Mungkin selama ini aku terlalu egois, mas.
Dharma langsung menggeleng.
"Jangan bilang begitu."
"Tapi kenyataannya memang begitu.
jawabku memotong pembicaraan.
"ku selalu fokus sama kebahagiaanku sendiri."
Suasana kembali hening,aku telah mengucapkan apa yang selama ini kusimpan sendiri,ternyata rasanya jauh lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan.
Hari-hari berikutnya aku mulai menjaga jarak,Bukan karena cintaku berkurang,Justru karena cintaku terlalu besar,Aku ingin memberi Dharma ruang untuk menyelesaikan masalahnya.
Aku tidak lagi menelepon setiap malam,Tidak lagi meminta waktunya,Tidak lagi mengeluh saat ia sibuk,Dharma tidak menyadari perubahan itu,Namun lama-kelamaan ia mulai bertanya.
"Kamu marah?"
Aku menggeleng.
"Lalu kenapa menjauh?"
Aku tersenyum.
"Aku cuma sedang belajar,aku lagi belajar untuk tidak bergantung pada orang lain untuk bahagia."
Dharma terdiam,aku tahu ia memahami maksudku,Di tengah situasi yang rumit itu, kabar lain datang.
Novel keduaku resmi diterbitkan,Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mulai memiliki penghasilan yang cukup stabil dari menulis.
Aku mulai diundang ke berbagai acara literasi,Bertemu banyak pembaca.
Mengenal dunia yang selama ini hanya kulihat dari jauh,Kesibukan itu sedikit demi sedikit membantuku bangkit dari kesedihan,Aku kembali menemukan diriku sendiri,Perempuan yang dulu pernah hilang karena terlalu sibuk memikirkan orang lain.
Suatu malam setelah acara peluncuran buku, aku pulang dengan perasaan lelah namun bahagia,Saat membuka pintu rumah, kulihat Dharma sudah menunggu di teras.
Ia membawa sebuket bunga,
"Selamat."
Aku tersenyum."Terima kasih."
"Kamu hebat."
Aku tertawa kecil.
"Baru juga dua buku."balasku tenang.
"Tapi perjalananmu luar biasa."
Aku memandangi pria di hadapanku,Pria yang selama ini selalu percaya padaku bahkan ketika aku meragukan diriku sendiri,Dan saat itu, hatiku semakin sakit,aku mulai menyadari satu hal,Mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya.
_________________________________________________
Beberapa minggu kemudian, sebuah pertemuan keluarga besar kembali diadakan,Kali ini bukan untuk merayakan apa pun,Melainkan untuk mencari jalan keluar,Dharma meminta aku datang,Awalnya aku menolak,Namun akhirnya aku mengiyakan,Karena aku tahu tidak mungkin terus menghindar.
Hari itu suasana terasa berbeda,Tidak ada senyum hangat,Tidak ada percakapan santai,Semua wajah terlihat tegang,Anak-anak Dharma hadir,Istrinya juga hadir,Begitu pula saudara-saudaranya,Aku merasa seperti terdakwa yang sedang menunggu putusan,mungkin memang begitulah kenyataannya.
Beberapa orang berbicara,Beberapa menangis.
Beberapa meluapkan kemarahan yang selama ini dipendam,Aku hanya diam mendengarkan.
Tidak membela diri,Tidak menyalahkan siapa pun.
Karena aku tahu setiap orang memiliki alasan untuk terluka.Hingga akhirnya Mbak Asti berbicara,Suaranya tenang,Namun cukup membuat seluruh ruangan hening.
"Kita semua sedang terluka."
Semua menunduk.
"Tapi jangan sampai luka membuat kita kehilangan hati nurani."
Aku melihat Luna mulai menangis,Sementara adiknya memalingkan wajah.
mbak Asti melanjutkan.
"Kesalahan sudah terjadi."Tapi tidak ada manfaatnya jika kita terus hidup dalam kebencian."
Ruangan kembali sunyi,sejak masalah ini muncul, seseorang berbicara bukan untuk menyalahkan,Melainkan untuk mencari jalan damai.
Malam setelah pertemuan itu, aku berjalan sendirian di halaman rumah,Langit mendung,Angin berembus pelan,Aku menatap bintang-bintang yang tersebar di langit,tanpa sadar air mataku jatuh.
"Tika."
Aku menoleh.
Dharma berdiri di belakangku.
"Kamu menangis?"
Aku menghapus air mata.
"Tidak."jawabku mencoba tenang.
"Kamu tidak pandai berbohong."
Aku tertawa kecil,Dharma mendekat.
"Kamu menyesal?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam lama,Sangat lama,Lalu aku menggeleng pelan.
"Aku menyesali luka yang terjadi,Tapi aku tidak menyesal pernah mencintai mas dharma.
Kami berdiri dalam diam.Dua manusia yang dipertemukan oleh takdir,Namun kini harus menghadapi konsekuensi dari setiap pilihan yang pernah mereka ambil.
malam itu aku sadar,Perjalanan kami belum berakhir,Mungkin masih akan ada banyak air mata,Masih akan ada banyak penolakan,masih akan ada banyak ujian,satu hal telah berubah, ku tidak lagi bergantung pada hasil akhirnya,aku belajar bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki,Kadang cinta adalah keberanian untuk menerima kenyataan, meski kenyataan itu tidak selalu sesuai dengan harapan.
di bawah langit malam yang sunyi, aku menatap Dharma untuk waktu yang lama,tanpa kami sadari, sebuah keputusan besar sedang menunggu di depan,Keputusan yang akan mengubah hidup kami, dan hidup seluruh keluarga, untuk selamanya.
"Aku tidak muda lagi, Tik."
Aku mengangguk pelan.
"Aku juga tidak muda."balasku
Suasana kembali hening.
"apa mungkin Aku harus memperbaiki semuanya."
Dharma menggenggam tanganku,Aku menatapnya.
"Aku tidak pernah menyesal bertemu kamu."
Kalimat itu justru membuat hatiku semakin sakit.
"Aku juga."Suaraku nyaris tidak terdengar.
Dharma menunduk,kulihat matanya berkaca-kaca.
"Aku lelah melihat semua orang terluka,aku tahu ia mengatakan kebenaran,Anak-anaknya terluka.
Istrinya terluka,Keluarganya terluka,Bahkan aku sendiri juga terluka, ami semua sedang menanggung akibat dari pilihan yang pernah dibuat,kini seseorang harus mengambil keputusan.
"Apa yang kamu inginkan, Mas?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Dharma terdiam lama.
"Aku ingin semua baik-baik saja."Dharma memejamkan mata.
."Aku ingin bersamamu,"Tapi aku juga tidak bisa menghapus kenyataan bahwa aku seorang ayah."
Aku mengangguk,Karena aku memahami itu,Selama ini aku mencintai Dharma karena hatinya yang bertanggung jawab,Karena kepeduliannya.
kami berbicara selama berjam-jam,Tentang masa lalu,Tentang semua kenangan yang pernah kami lewati,Tentang kebahagiaan kecil yang pernah kami miliki,tentang mimpi-mimpi yang dulu ingin kami wujudkan bersama,Sesekali kami tertawa,Sesekali menangis.
semakin lama aku mendengarkan, semakin aku sadar bahwa cinta kami memang nyata,Sangat nyata,aku akhirnya mengambil keputusan yang paling berat dalam hidupku.
"Mas."Terima kasih,Untuk semua yang pernah kamu lakukan,Bahkan kalau waktu bisa diulang, mungkin aku tetap akan jatuh cinta."
"Aku ingin kamu pulang mas"
Kalimat itu membuat Dharma membeku.
"Pulang ke keluargamu.
"tatapku pada mas dharma.
"Biarkan aku bicara."balas dharma mencoba menjelaskan.
"aku tidak ingin cinta ini menjadi alasan anak-anak mas dika kehilangan ayah."
Dharma menunduk, malam itu juga kami berpisah bukan karena berhenti mencintai,justru karena terlalu mencintai.
Hidup memang tidak seindah novel,Tidak semua kisah berakhir dengan dua orang berjalan menuju matahari terbenam,aku melepaskan orang yang paling kucintai, yah aku harus!
_________________________________________________