NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buah dari hati yang busuk

“Ada apa ini? Kenapa semuanya diam saja?” tanya Yudha, setengah kesal karena tak seorang pun segera menjawab pertanyaannya.

Para tetangga saling berpandangan.

Akhirnya Pak Arya melangkah maju.

“Rumahmu dirampok, Yudha.”

Yudha membelalak seketika.

“Hah?! Dirampok?”

Pak Arya mengangguk pelan.

“Ya. Uang, perhiasan, dan beberapa barang berharga hilang.”

“Ya Tuhan...” gumam Yudha dengan wajah pucat.

Meski terkejut, di dalam hatinya muncul rasa panik yang jauh lebih besar. Ia mulai teringat satu hal yang terlupakan karena terlalu terburu-buru menjalankan rencananya. Ia meninggalkan rumah tanpa menutup pintu.

“Kamu dari mana?” tanya Kinanti.

Suaranya terdengar tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan kekecewaan yang sulit disembunyikan.

“Aku... dari...” Yudha tergagap.

Untuk pertama kalinya, ia kesulitan mencari alasan.

“Kenapa kamu pergi tanpa menutup pintu?” tanya Kinanti lagi. Kali ini nada suaranya terdengar lebih tegas.

Yudha langsung mengangkat kepala.

“Kamu jangan sembarangan menuduh! Mana mungkin aku pergi tanpa menutup pintu?”

“Yudha.”

Pak Arya menatap remaja itu dengan serius.

“Saya sudah memeriksa seluruh pintu dan jendela rumah ini. Tidak ada bekas congkelan ataupun kerusakan. Itu artinya pencuri masuk tanpa melakukan pembobolan.”

Yudha menelan ludah.

“Jadi sangat masuk akal kalau rumah ini memang ditinggalkan dalam keadaan tidak terkunci,” lanjut Pak Arya.

Wajah Yudha mulai menegang.

Namun ia masih berusaha mencari alasan.

“Aku yang pergi duluan. Jadi kalau rumah ini kemasukan pencuri, itu bukan salahku.”

Bu Arum yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.

“Eh, Yudha..Kamu jangan berbohong. Saya lihat sendiri tadi Bu Kinanti yang pergi lebih dulu. Beliau jalan kaki ke arah halte. Setelah itu baru kamu keluar rumah naik motor.”

“Bu Arum nggak usah sok membela dia!” bentak Yudha.

Beberapa warga langsung mengernyit mendengar nada bicaranya.

Namun Bu Arum tetap tenang.

“Saya tidak membela siapa-siapa. Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat.”

Beliau lalu menatap Yudha lurus-lurus.

“Kalau Bu Kinanti yang pergi lebih dulu, berarti kamu orang terakhir yang berada di rumah ini ‘bukan?”

Yudha terdiam.

“Kalau begitu, siapa lagi yang bertanggung jawab mengunci pintu selain kamu?”

“Aku cuma...”

Kalimat itu menggantung di tenggorokannya. Tak ada alasan yang mampu ia ucapkan.

“Saya sudah menghubungi Pak Keenan. Sebentar lagi beliau pulang,” ujar pak Arya.

Mendengar nama ayahnya disebut, wajah Yudha langsung berubah tegang. Baru kemarin ia dimarahi karena terjaring razia pelajar saat membolos sekolah. Hari ini ia harus menghadapi kemarahan yang lebih besar lagi.

Beberapa menit kemudian terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Semua orang menoleh. Keenan turun dari mobil lalu berjalan cepat menuju teras rumah.

“Ada apa ini?” tanyanya bingung.

Rupanya Pak Arya hanya meminta Keenan pulang secepatnya tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Keenan memandang kerumunan warga, lalu menatap Kinanti yang masih terlihat shock.

“Mas...” ucap Kinanti dengan suara bergetar. “Rumah kita dirampok.”

Keenan membeku.

“Di-dirampok? Tapi bagaimana bisa?”

“Ini karena kecerobohan anak Pak Keenan,” sela Bu Arum.

Kening Keenan langsung berkerut.

“Maksud Bu Arum... Yudha?”

“Iya. Dia pergi meninggalkan rumah dalam keadaan pintu tidak terkunci.”

“Bu Arum jangan asal menuduh!”

Yudha langsung membentak.

“Yah, bukan aku yang salah! Tapi dia!”

Dengan penuh emosi, ia menunjuk ke arah Kinanti.Tatapan matanya dipenuhi kebencian.

Kinanti menarik napas panjang, berusaha menahan diri.

“Mas, aku memang pergi keluar untuk membeli sayur dan kebutuhan dapur. Tapi sebelum pergi, aku sempat berpamitan kepada Yudha.”

Ia melirik ke arah remaja itu.

“Meskipun dia tidak menjawab, aku tahu dia ada di dalam kamarnya.”

“Jangan dengarkan dia! Aku yang pergi duluan!” seru Yudha.

“Yudha!” Suara Bu Arum terdengar tegas. “Saya tidak suka ikut campur urusan keluarga orang lain. Tapi dalam hal ini saya harus berkata jujur.”

Wanita paruh baya itu menatap Keenan. “Pak Keenan, saya bersumpah atas nama Allah bahwa apa yang dikatakan Bu Kinanti benar.”

Suasana mendadak hening.

“Saya melihat sendiri beliau keluar rumah lebih dulu. Bahkan kami sempat mengobrol beberapa menit di depan rumah. Setelah Bu Kinanti pergi, baru Yudha keluar menggunakan motor.”

Keenan perlahan mengalihkan pandangannya kepada putra sulungnya. Tatapan tajam itu membuat Yudha semakin merasa terpojok. Dadanya berdebar tidak karuan. Ia berharap ayahnya tidak lagi mengajukan pertanyaan.

Beberapa detik kemudian, Keenan mengalihkan perhatian kepada para warga yang masih berkumpul di halaman rumah.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya. Masalah ini akan saya selesaikan sendiri. Silakan kembali ke rumah masing-masing,” ucapnya dengan tenang.

Para tetangga mengangguk memahami. Satu per satu mereka membubarkan diri. Bagaimanapun, Keenan berusaha menjaga perasaan putranya. Ia tidak ingin mempermalukan Yudha di hadapan banyak orang.

Setelah suasana kembali sepi, Keenan meminta Yudha dan Kinanti masuk ke dalam rumah. Begitu pintu tertutup, pria itu menatap Yudha lekat-lekat.

“Kamu pergi ke mana?” tanyanya.

“Ehm... aku...” Yudha tergagap.

“Kamu pergi ke mana?” ulang Keenan dengan nada lebih tegas.

“Aku cuma pergi sebentar buat beli pulsa.”

“Mana handphone-mu.”

Yudha menelan ludah.

“Buat apa, Yah?”

“Berikan handphone-mu.”

Nada suara Keenan masih terdengar datar, tetapi justru itulah yang membuat Yudha semakin gugup.

“Aduh, gimana ini?” batinnya panik. “Chat sama pembeli handphone itu belum aku hapus.”

Dengan tangan gemetar, Yudha menyerahkan ponselnya. Keenan mulai memeriksa pesan singkat, lalu riwayat transaksi. Namun, tidak ada bukti pembelian pulsa seperti yang dikatakan Yudha.

Ia lalu membuka aplikasi WhatsApp. Tak lama kemudian matanya tertumbuk pada percakapan dengan seseorang yang membahas penjualan sebuah handphone.

“Kamu menjual handphone?” tanyanya.

Yudha terdiam.

“Untuk apa uangnya?”

“Ehm…”

“Ayah tanya, uangnya buat apa?”

“Buat... buat jajan,” jawab Yudha asal.

“Apa uang jajan yang ayah berikan selama ini kurang?”

Yudha kembali menunduk tanpa jawaban.

Keenan menghembuskan napas panjang. Ia memilih mengakhiri percakapan itu dan berjalan menuju kamar utama. Begitu pintu dibuka, ia langsung mengucapkan istighfar.

“Astaghfirullahaladzim…”

Isi lemari berantakan, laci-laci terbuka. Beberapa berkas berserakan di lantai. Uang tunai, laptop, jam tangan, serta perhiasan peninggalan almarhumah Ratih telah lenyap tanpa jejak.

Untuk beberapa saat, Keenan hanya berdiri memandangi kondisi kamar itu.

“Mas...” suara Kinanti terdengar lirih di belakangnya.

Wanita itu menundukkan kepala penuh rasa bersalah.

“Aku minta maaf. Kalau tadi aku tidak pergi berbelanja, mungkin semua ini tidak akan terjadi.”

Keenan menoleh lalu menatap istrinya dengan lembut.

“Kamu tidak salah, jadi tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi, Mas...”

“Tidak ada seorang pun yang mampu menghindari musibah jika Allah sudah menghendakinya. Mas justru bersyukur kamu dan Yudha tidak ada di rumah saat kejadian. Kita tidak pernah tahu seperti apa pelakunya. Bisa saja mereka membawa senjata tajam dan melukai kalian. Bagi mas, kalian berdua lebih berharga daripada semua harta yang hilang.”

Mata Kinanti mulai berkaca-kaca.

“Tapi perhiasan dan barang-barang itu...”

Keenan menggeleng pelan.

“Sama seperti nyawa, harta hanyalah titipan. Kapan pun pemilik sejatinya mengambil kembali titipan itu, kita harus ikhlas.”

Ucapan sederhana itu membuat dada Kinanti terasa hangat. Di tengah musibah seperti ini, suaminya masih mampu bersikap tenang dan bijaksana. Rasa kagumnya kepada Keenan semakin bertambah.

“Sudahlah, sekarang kita rapikan dulu semuanya, ”ujar Keenan sambil tersenyum tipis.

“Mas tidak mau melapor ke polisi?”

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Mungkin orang yang mengambilnya sedang berada dalam kesulitan dan membutuhkan banyak uang.”

Kinanti terdiam. Ia tahu bukan karena Keenan tidak peduli pada kerugian yang dialami. Pria itu hanya memilih untuk tidak membiarkan kemarahan menguasai hatinya.

Sementara itu, dari luar kamar, Yudha yang diam-diam menguping tampak gelisah.

“Ayah kok nggak keluar-keluar sih?”

Ia melirik jam dinding.

“Jangan-jangan ayah nggak balik ke kantor lagi. Kalau dia tetap di rumah, rencanaku bisa gagal total.”

Kecemasan mulai menggerogoti pikirannya. Rencana yang semalam ia susun bersama Tiara membutuhkan rumah dalam keadaan sepi. Dan sekarang, semua berjalan jauh dari yang ia harapkan.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!