Seorang wanita muda sengaja menyembunyikannya identitasnya, ia bernama YULIANA ALANA, ia ingin menyelidiki kematian orang tuanya menurutnya tidak wajar, ia ingin mengambil perusahaan papanya yang diambil Pamannya setelah kematian orang tuanya, segala rintangan ia hadapi saat ingin mengambil kembali perubahan orang tuanya
Setelah ia menyelidiki ia menemukan bukti yang mengarah pada kemungkinan bahwa kematian orang tuanya adalah ulah dari keluarga besar sang ayah.
Semua anggota keluarga besar mengakui kesalahannya dan menerima konsekuensi.
YULIANA ALANA mengambil kembali kendali atas perusahaan dan mengembalikan kehormatan keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Wisnu melihat Alvin pulang bersama Queen, ia membuntuti mereka, di persimpangan jalan Queen dan Alvin berpisah karena penasaran di mana rumah Queen Wisnu mengikuti Queen sampai kerumah kosong.
"Ini rumahnya sepertinya rumah ini tidak ada penghuninya ternyata sekretaris itu tinggal disini, kok aku merasa aneh ya," kata Wisnu. Lalu Wisnu mengintai Queen dari jendela ia terkejut melihat Queen membuka semua penyamarannya.
Praaang!
Terdengar suara benda jatuh dari luar, Queen segera memeriksanya, Wisnu tidak sengaja menjatuhkan pot bunga yang sudah tidak terpakai, sontak Wisnu terkejut, karena takut ketahuan Wisnu pergi dari tempat itu, tapi Queen sempat melihatnya Queen segera berlari mengejar Wisnu, sementara Wisnu terus berlari kencang.
Melihat Queen sudah dekat Wisnu mengeluarkan pistolnya lalu menembak Queen.
Doorr!
Aaauuu!
Queen terjatuh karena kakinya tertembak. Wisnu kembali ingin menembak Queen dengan sigap Queen mengelak, Wisnu berulang laki menembak Queen tapi tidak kena, karena peluru Pistolnya sudah habis Wisnu pergi dari tempat itu.
Queen terpaksa pergi dari rumah kosong, ia mencari kos-kosan kecil untuk tempatnya tinggal, walau kakinya kena tembak ia berusaha berjalan seperti biasanya agar orang tidak tau ia kena tembak.
Wisnu pulang ke kontrakannya, sesampainya di kontrakan Wisnu segera mencari Fani.
"Ada berita apa hari ini?" tanya Fani.
"Tadi aku mengikuti sekretaris baru Wijaya, ternyata ia menyamar wajah aslinya sangat cantik," kata Wisnu memberitahu.
"Kok aku merasa ada yang aneh ya, biasanya perempuan ingin menunjukan wajah cantiknya di depan orang lain, kenapa dia malah menyembunyikan apa ada tujuan dia masuk kantor itu?" kata Fani bertanya-tanya.
"Aku juga merasa seperti itu, karena dia tinggal di rumah seperti tidak berpenghuni," jawab Wisnu.
"Kamu harus menyelidiki siapa sekretaris baru itu," ujar Fani.
"Iya, tapi aku takut dia sudah sempat lihat wajahku karena kami sempat bertarung kakinya sempat ku tembak aku yakin besok dia tidak bisa pergi ke kantor," kata Wisnu.
"Kamu jangan takut kalau dia masuk kerja, kamu ancam saja dia, kalau dia buka mulut rahasianya menyamar kamu bongkar," kata Fani memberi ide.
"Iya juga ya, aku juga akan ancam dia untuk tidak membongkar rahasia korupsi diriku di perusahaan," kata Wisnu.
"Iya, pasti dia tidak ada pilihan lain selain setuju, mulai besok kamu cari tau apa tujuannya menyamar!" kata Fani.
"Iya," jawab Wisnu.
**
Queen sudah menemukan kos kosan kecil untuk tempat tinggalnya, saat ini ia sudah berada di dalam kos-kosan ia mengeluarkan peluru pakai pisau.
Aauu!
Rintih Queen saat ia mengeluarkan peluru dari kakinya, setelah itu ia meminum obat yang ia beli tadi saat perjalanan mencari kos kosan, setelah selesai minum obat ia tidur.
Pagi harinya Queen tetap pergi kerja, karena ia tidak mau di pecat dari kantor Grand Alana gara gara ia libur. Ia tetap berjalan seperti biasa kalau di keramaian.
"Aku harus berhati-hati kepada Wisnu, ia sudah tau kalau aku menyamar bagaimana kalau dia memberitahu kepada paman Wijaya," gumam Queen.
Sedangkan Wisnu terkejut melihat Queen masuk kantor, apalagi melihat Queen tetap berjalan seperti biasanya.
"Kenapa dia baik baik saja? Apa dia tidak merasa sakit, apa aku salah lihat semalam kalau dia kena tembak? Tidak mungkin karena aku lihat kakinya berdarah, ini sungguh aneh," kata Wisnu dalam hati. sambil memperhatikan Queen dari kejauhan.
**
Sedangkan Wijaya saat ini sedang di ruangan Putra.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Wijaya.
"Ini Pak, hasil lab nya," jawab Putra sambil memberikan kertas kepada Wijaya. Wijaya menerimanya lalu membaca dengan teliti.
"Semalam aku ketiduran karena kelelahan, bukan karena obat tidur," kata Wijaya.
"Iya, Pak," jawab Putra.
"Ya sudah aku ke ruanganku dulu," kata Wijaya.
"Iya, Pak, seharusnya bapak tidak perlu datang keruangan saya bapak panggil saja saya seperti biasa, saya yang datang keruangan bapak," kata Putra.
"Aku terlalu bersemangat ingin tau jadi aku yang datang," kata Wijaya. Lalu ia keluar dari ruangan Putra, saat ia berjalan di depan ruangan Queen ia memperhatikan Queen.
"Kenapa wajah Dea kelihatan pucat ya, apa Dea saat ini sedang sakit?"gumam Wijaya. Karena penasaran Wijaya masuk keruangan Queen.
"Kamu baik baik saja? Kenapa mukamu pucat?" tanya Wijaya.
Sontak Queen terkejut melihat Wijaya sudah ada di depannya.
"Saya kurang enak badan Pak," jawab Queen.
"Seharusnya kalau kamu sakit tidak usah kerja," ujar Wijaya.
"Saya tidak enak kalau ijin tidak masuk kerja karena saya baru masuk," jawab Queen.
"Ya sudah kamu pulang berobat dulu, kalau kamu sudah sembuh baru masuk kerja," kata Wijaya.
"Terimakasih Pak, kalau begitu saya permisi," kata Queen.
"Iya," jawab Wijaya singkat. Lalu Wijaya pergi keruangannya sedangkan Queen pulang.
Saat ini Wisnu baru selesai mengerjakan pekerjaannya.
"Ini laporan yang akan di serahkan hari ini sudah selesai, nanti saja lanjut kerja, aku keruangan Queen dulu," gumam Wisnu. Lalu ia keluar dari ruangannya menuju ruangan Queen. Tapi sesampainya ia di sana Queen tidak ada di ruangannya.
"Kemana dia, apa dia saat ini di ruangan pak Wijaya ya, aku tunggu saja disini," gumam Wisnu sambil memperhatikan Ruangan Queen.
Karena penasaran Wisnu memeriksa meja Queen apa ada petunjuk yang bisa ia dapat di meja Queen. Ia sibuk memeriksa berkas berkas di meja Queen. Tiba tiba ada suara orang menghentikan dirinya.
"Sedang apa bapak di sini? Jangan sembarangan masuk keruangan orang lain tanpa ijin orangnya apa lagi memeriksa berkas di meja itu!" kata Alvin dengan suara tinggi.
Tangan Wisnu terkepal kuat menahan amarahnya kepada Alvin.
"Maaf saya sedang ada perlu dengan sekretaris Dea," jawab Wisnu menjelaskan.
"Kalau ada perlu dengan Dea bapak bisa datang lagi setelah Dea sudah ada di sini, apa bapak tidak punya pekerjaan harus menunggu Dea lama di sini?" tanya Alvin dengan nada marah.
"Kalau begitu saya permisi dulu," kata Wisnu. Lalu ia keluar dari ruangan Queen tanpa mendengar jawaban Alvin.
"Mencurigakan sekali dia, apa yang di lakukan ya di ruangan ini? Lalu kemana kakak Queen apa pergi bersama papa keluar ya," gumam Alvin.
Lalu Alvi mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Queen.
"Assalamualaikum ada apa Vin?" tanya Queen dengan suara lemahnya.
"Dimana kakak, aku saat ini di ruangan kakak, tadi saat aku sampai di ruangan kakak Wisnu sedang memeriksa berkas di meja kakak," kata Alvin mengadu.
Queen terkejut mendengar perkataan Alvin.
"Apa maunya Wisnu ya, apa dia mau mengancam diriku? aku harus cari cara agar ia bisa keluar dari kantor, karena dia ancaman untukku, sepertinya ia juga bukan orang baik," kata Queen dalam hati.
"Kenapa kakak diam saja?" tanya Alvin. Menyadarkan Queen.
"Kakak tidak enak badan, karena itu kakak tidak jadi kerja," jawab Queen.
"Ya sudah istirahat saja dulu," kata Alvin. Lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Dasar sialan belum di jawab sudah di matikan," gumam Queen.
nikmatilah api yg km nyalakan ke Fani, bs merembet kemana mana
sngt menghibur🙏🤗
Ending yg bahagia.. 👍👍☺️
semangat terus berkarya k Yun.. ✊🤗