NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam Bulan Terakhir, Selamanya di Hati

Keesokan harinya, saat sinar matahari baru saja menyelinap masuk ke celah jendela kamar, Kinasih sudah bangun lebih awal. Ia mandi dengan air hangat, merapikan rambutnya, dan berdandan dengan sangat rapi, seolah ingin menampilkan dirinya seindah mungkin untuk suaminya sebelum waktu yang tersisa habis. Setelah itu, ia berjalan ke dapur kecil untuk menyiapkan sarapan kesukaan Kenan, membuat segalanya dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Tak lama kemudian, Kenan terbangun dari tidurnya. Ia bersandar di kepala ranjang, matanya masih setengah terpejam, tapi pandangannya langsung tertuju pada sosok Kinasih yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin. Ia memperhatikan setiap gerakan istrinya itu dengan tatapan yang penuh cinta dan kesedihan, menyimpan setiap detail wajah dan penampilan Kinasih di dalam ingatannya selamanya.

Menyadari bahwa suaminya sedang menatapnya, Kinasih pun menoleh dan tersenyum lebar, senyum yang dipaksakan terlihat ceria, meski di baliknya ada rasa sakit yang tak terkira. Ia mendekat ke ranjang dengan langkah ringan, lalu berbicara dengan nada yang manja dan sangat mesra, seolah tak ada sesuatu yang buruk akan terjadi dan semuanya baik-baik saja.

“Mas… sudah bangun? Sarapannya sudah siap lho, nanti dingin kalau tidak dimakan segera. Ayo cepat mandi dan bersiap, biar kita sarapan bersama dulu sebelum berangkat ke rumah sakit dan kantor,” ucapnya dengan suara yang terdengar lembut dan penuh kasih, seolah mereka adalah pasangan biasa yang bahagia tanpa beban apa pun.

Namun Kenan hanya menanggapi dengan jawaban yang singkat, hanya mengangguk pelan atau menggelengkan kepalanya saja. Ia tak mampu berbicara dengan jelas, karena setiap kata yang ingin diucapkan terasa seperti tersangkut di tenggorokan, dan ia tak ingin suaranya bergetar atau menunjukkan bahwa hatinya sedang hancur. Ia hanya bisa menatap Kinasih dengan tatapan yang penuh rasa sayang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Kinasih yang melihat sikap suaminya itu hanya menghela napas pelan. Ia duduk perlahan di atas pangkuan Kenan, lalu mengangkat wajahnya dan mencium bibir suaminya itu dengan lembut, sesuai kebiasaan mereka yang selalu melakukannya setiap pagi.

Biasanya, Kenan akan langsung menyambut ciuman itu dengan penuh semangat, membalasnya dengan lembut dan penuh cinta. Tapi pagi ini, hal yang berbeda terjadi. Kenan hanya terdiam, tubuhnya tak bergerak sedikit pun, dan air matanya mulai mengalir deras membasahi pipinya tanpa bisa ditahan lagi. Ia menahan napasnya, berusaha menahan tangisannya tapi tak mampu lagi.

Melihat itu, pertahanan yang Kinasih bangun sekuat tenaga langsung runtuh seketika. Ia tak tahan melihat suaminya menangis seperti ini, rasanya hatinya terasa dirobek-robek begitu menyakitkan. Ia langsung memeluk Kenan erat-erat, menekan kepalanya ke dada bidang suaminya itu, dan tangisannya pun meledak sekuat tenaga, melepaskan semua rasa sakit, kecewa, dan cintanya yang tak sempat diungkapkan.

“Mas… kenapa… kenapa menangis? Maafkan Kinasih… maafkan Kinasih ya Mas…” isaknya terisak-isak, tangisannya bergema di dalam pelukan mereka.

Kenan langsung membalas pelukan itu dengan kekuatan sepenuhnya, memeluk Kinasih seerat mungkin seolah tak ingin melepaskannya selamanya. Ia mencium ubun-ubun kepala istrinya itu berulang kali, meneteskan air matanya ke rambut Kinasih, dan tangisannya pun akhirnya pecah juga, terisak-isak di samping telinga istrinya.

“Maafkan Mas… Maafkan Mas, Sayang… Mas tidak mau melakukan ini… tapi Mas tidak punya pilihan…” ucapnya dengan suara yang bergetar hebat, tangisan mereka saling menyatu, melepaskan segala beban dan rasa sakit yang selama ini mereka pendam rapat-rapat.

Berjam-jam lama mereka saling memeluk dan menangis, berbagi segala perasaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Di tengah keheningan kamar yang sunyi, hanya ada suara tangisan mereka yang saling menyatu, menjadi bukti bahwa cinta mereka sangat dalam, tapi dipisahkan oleh keadaan yang tak bisa mereka lawan.

Setelah cukup lama meluapkan segala kesedihan itu, perlahan-lahan tangis mereka pun mereda. Kinasih mengangkat wajahnya, lalu mengulurkan tangannya dengan lembut untuk menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi Kenan, jemarinya bergerak perlahan dan penuh kasih sayang.

Ia menatap lekat mata suaminya itu, lalu berbicara dengan suara yang lembut namun tegas, seolah meyakinkan dirinya sendiri juga:

“Sudah, Mas… jangan menangis lagi. Mulai hari ini sampai enam bulan ke depan, Kinasih tak mau lagi melihat Mas menangis. Selama waktu yang tersisa ini, biarkan kita mengisinya hanya dengan cinta, kebahagiaan, dan tawa saja. Biarkan setiap detiknya menjadi kenangan terindah yang takkan pernah kita lupakan.”

Kenan hanya bisa mengangguk perlahan, hatinya terasa makin terenyuh melihat ketabahan istrinya itu. Ia mengangkat kedua tangannya, menangkup lembut kedua pipi Kinasih, menatap wajah itu seolah ingin menghafal setiap lekuk dan keindahannya selamanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Kinasih dengan lembut, penuh rasa sayang yang meluap-luap.

Ciuman itu dimulai dengan kelembutan yang luar biasa, membawa segala rasa cinta, rindu, dan kesedihan yang terpendam. Kinasih pun langsung membalasnya dengan sepenuh hati, melingkarkan tangannya erat di leher Kenan, mendekapkan tubuhnya makin rapat. Semakin lama, ciuman itu terasa makin dalam, makin membara, seolah mereka ingin menyalurkan seluruh perasaan yang tak sanggup diucapkan lewat kata-kata.

Kenan menuntun gerakan itu dengan lembut namun penuh gairah, membenamkan diri sepenuhnya dalam kehangatan tubuh istrinya. Tak ada lagi kesedihan, tak ada lagi rasa takut, hanya ada mereka berdua, cinta mereka, dan waktu yang ingin mereka nikmati sebaik mungkin selagi masih bisa bersama.

Setelah mereka selesai sarapan dan semuanya sudah siap, Kenan mengajak Kinasih berangkat menuju rumah sakit. Sesampainya di lobi gedung rumah sakit yang ramai namun terasa hangat, Kenan berhenti sejenak dan memandang istrinya dengan tatapan yang penuh cinta dan kelembutan.

Ia mendekatkan wajahnya, lalu mencium lembut kening Kinasih terlebih dahulu, diikuti dengan ciuman yang lebih lama dan penuh makna di bibir istrinya itu. Kinasih membalas setiap sentuhan itu dengan rasa sayang yang tak terhingga, lalu ia mengangkat tangan kanan Kenan dan mencium punggung tangan suaminya itu dengan penuh hormat dan kasih.

“Nanti sore Mas jemput ya, kita pulang ke apartemen saja. Mulai hari ini dan sampai waktu yang tersisa habis, Kinasih tinggal di sana bersama Mas saja. Di sana kita bisa bebas berbagi waktu dan kebahagiaan seperti yang kita inginkan,” ucap Kenan dengan suara lembut, mengusap lembut pipi Kinasih.

Kinasih mengangguk pasti, senyum manis yang tulus terukir di bibirnya, senyum yang benar-benar terlihat bahagia dan penuh harapan, berbeda dari senyum-senyum paksaan sebelumnya. “Baik, Mas. Kinasih tunggu ya. Sampai sore nanti, jangan lupa,” jawabnya dengan nada manja, matanya bersinar cerah seolah seluruh rasa sedih yang ada di hatinya kini sudah tergantikan oleh kebahagiaan yang mereka bangun bersama.

Kenan tersenyum melihat senyum istrinya itu, lalu mencium keningnya sekali lagi sebelum melepaskan pelukan dan membiarkan Kinasih melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah yang ringan dan penuh semangat. Ia berdiri di tempat itu sampai sosok istrinya menghilang dari pandangannya, hatinya terasa lebih ringan dan penuh harapan seperti yang diinginkan Kinasih.

Sore hari pun tiba, langit berubah menjadi semburat jingga keemasan yang indah. Sesuai janjinya, Kenan sudah menunggu tepat di depan pintu keluar rumah sakit, matanya langsung bersinar begitu melihat sosok Kinasih keluar dengan langkah ringan. Begitu bertemu, mereka hanya perlu saling pandang sebentar, lalu senyum bahagia pun terukir di wajah keduanya.

Mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju apartemen mewah milik Kenan, tempat yang akan menjadi rumah mereka selama enam bulan ke depan. Sesampainya di sana, suasana yang tadinya hening seketika berubah ceria begitu mereka melangkah masuk. Candaan dan tawa yang sudah lama tak terdengar itu kembali memenuhi setiap sudut ruangan, menghapus semua kesedihan dan kesunyian yang sempat menyelimuti hati mereka.

Kini Kinasih terlihat jauh lebih manja dari biasanya. Ia tak mau lepas sedikit pun dari pelukan suaminya. Setiap kali Kenan berjalan, ia selalu membuntuti di belakang sambil memegang pinggang atau lengan Kenan erat-erat. Saat Kenan duduk, ia langsung melompat naik dan duduk di pangkuan suaminya, melingkarkan kedua kakinya erat di pinggang Kenan dan memeluk lehernya seolah takkan pernah mau melepaskannya.

“Mas… jangan pergi ke mana-mana ya… tetap di sini saja sama Kinasih,” bisiknya dengan suara lembut dan manja, menempelkan wajahnya di dada bidang Kenan sambil mendengarkan detak jantung suaminya itu.

Kenan hanya tertawa kecil, membalas pelukan itu seerat mungkin sambil sesekali mencubit lembut pipi Kinasih. “Iya, Sayang… Mas tidak ke mana-mana. Mas di sini selamanya buat Kinasih. Selama kita masih bersama, takkan pernah Mas biarkan Kinasih merasa sendirian sedetik pun,” jawabnya lembut, menikmati setiap detik kebersamaan ini sepenuh hati.

Di sana, tak ada lagi perjodohan, tak ada lagi rasa takut berpisah, tak ada lagi air mata. Hanya ada tawa, kehangatan, dan cinta yang meluap-luap, menjadikan setiap momen terasa sangat berharga, seolah waktu berjalan lebih lambat untuk mereka berdua.

Sore hari pun tiba, langit berubah menjadi semburat jingga keemasan yang indah. Sesuai janjinya, Kenan sudah menunggu tepat di depan pintu keluar rumah sakit, matanya langsung bersinar begitu melihat sosok Kinasih keluar dengan langkah ringan. Begitu bertemu, mereka hanya perlu saling pandang sebentar, lalu senyum bahagia pun terukir di wajah keduanya.

Mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju apartemen mewah milik Kenan, tempat yang akan menjadi rumah mereka selama enam bulan ke depan. Sesampainya di sana, suasana yang tadinya hening seketika berubah ceria begitu mereka melangkah masuk. Candaan dan tawa yang sudah lama tak terdengar itu kembali memenuhi setiap sudut ruangan, menghapus semua kesedihan dan kesunyian yang sempat menyelimuti hati mereka.

Kini Kinasih terlihat jauh lebih manja dari biasanya, tak mau lepas sedikit pun dari pelukan suaminya. Begitu Kenan baru saja meletakkan kunci di meja, ia sudah langsung memeluk pinggang Kenan dari belakang, menempelkan seluruh tubuhnya erat di punggung suaminya sambil mendengus manja.

“Mas… akhirnya kita sampai juga… Kinasih nggak mau pisah lagi sama Mas sedetik pun mulai sekarang,” bisiknya dengan suara lembut dan merdu, memutar wajahnya mencium leher Kenan berulang kali.

Kenan pun membalasnya sambil tersenyum lebar, memutar badannya lalu mengangkat tubuh Kinasih mendekapnya erat-erat hingga gadis itu melingkarkan kakinya di pinggangnya. “Iyaaah sayangku… Mas juga nggak sanggup lepas dari kamu sedikit pun. Kamu ini racun yang paling manis buat hati Mas, nggak akan bisa sembuh selamanya,” jawab Kenan lembut sambil mencium pipi, kelopak mata, sampai ke ujung bibir Kinasih.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!