NovelToon NovelToon
Udin Jagoan Bapak

Udin Jagoan Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik Kelas / Misteri / TKP / Thriller
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.

.........

“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”

Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.

..........

Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.

Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?

'UDIN JAGOAN BAPAK'

So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PHK

Suara televisi di kantin pabrik terdengar pecah. Bukan karena pengeras suaranya rusak, melainkan karena para karyawan sudah tidak peduli lagi dengan volumenya.

—...Aksi unjuk rasa buruh di depan gedung DPR kembali berujung ricuh. Massa menuntut pembatalan Undang-Undang Ketenagakerjaan terbaru yang dinilai merugikan pekerja. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada pagi ini menembus angka Rp17.300, level terlemah sejak krisis moneter 1998...—

Udin menyesap kopi yang sudah dingin di gelas plastiknya. Rasanya pahit, sama pahitnya dengan pengumuman yang tertempel di papan informasi sejak pukul tujuh pagi. Selembar kertas HVS putih dengan tulisan cetak tebal.

DAFTAR KARYAWAN YANG DIRUMAHKAN PT. MAJU MUNDUR

Dirumahkan. Istilah yang digunakan perusahaan agar pemutusan hubungan kerja tidak terdengar terlalu kejam saat memutus nasib seseorang.

Dengan tangan gemetar, Udin mencari namanya pada deretan daftar itu. Nomor satu hingga nomor sepuluh tidak ada namanya. Nomor sebelas, nama teman satu timnya, Mamat. Lalu nomor dua belas...

Udin, staf Gudang, 24 Tahun.

Dunia terasa sunyi sesaat. Suara berita di televisi, suara denting panci dari dapur kantin, dan suara isak tangis beberapa karyawan mendadak terdengar jauh. Yang terdengar jelas hanya detak jantung Udin sendiri yang berdegup kencang seperti suara mesin stempel pada akhir bulan.

“Sukurin,” bisik seseorang dari arah belakang. Udin tidak perlu menoleh untuk mengetahui pemiliknya. Itu Coki, staf bagian kendali mutu yang sejak dahulu tidak menyukainya karena Udin dinilai lebih cepat mendapat promosi. “Anak koruptor juga kena PHK. Itu sudah sepantasnya."

"Hus! Hati-hati kalau bicara, kudengar Bapaknya mati bunuh diri!" ejek temannya coki.

"Bukan bunuh diri, tapi masuk ke mesin produksi!" ledek yang lain.

"Sudah-sudah, bagaimanapun itu, intinya si koruptor udah mati!" ujar Coki.

"Ya, dan kudengar rohnya gentayangan minta tumbal!"

"Sudah, cukup, jangan diomongin lagi, ntar anaknya nyusul gantung diri, kita yang kena kasus!" gertak coki agar teman-temannya diam.

Udin mengepalkan kedua tangannya. Kata 'koruptor' itu sudah seperti cap yang melekat di dahinya sejak ia berusia tujuh tahun. Sejak hari ketika dua orang polisi dan satu perwakilan perusahaan datang ke rumah kontrakan mereka. Mereka memberi kabar bahwa ayahnya, Budi Hartono, Kepala Pabrik Makanan Ringan Anak, meninggal dunia akibat kecelakaan kerja.

Kecelakaan kerja. Itu versi yang tercatat secara resmi.

Versi yang tidak dimuat di surat kabar adalah, Pak Budi meninggal karena kelalaiannya sendiri saat bekerja lembur malam hari. Ia mengoperasikan mesin penggiling di bawah pengaruh minuman keras. Tidak hanya itu, ia juga terbukti menggelapkan uang lembur dua belas orang bawahannya serta melakukan tindak korupsi dana tanggung jawab sosial perusahaan untuk membeli sebidang tanah di kampung halamannya. Karena dinyatakan bersalah, pihak keluarga tidak menerima santunan kematian. Mereka justru diminta mengembalikan dana yang telah digunakan Pak Budi untuk memperbaiki atap rumah.

Udin masih ingat dengan jelas peristiwa itu. Ibunya, Bu Lastri, jatuh pingsan di ruang tamu. Adiknya, Dina, yang saat itu masih berusia satu tahun, menangis keras. Sementara Udin yang berusia tujuh tahun hanya bisa diam sambil memandangi foto ayahnya di dinding yang kemudian diturunkan oleh petugas sebagai barang bukti.

Sejak hari itu, nama Budi Hartono serta nama Udin, identik dengan aib.

Telepon genggam di saku celana Udin bergetar. Di layar tertera panggilan dari 'ibu'. Udin menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.

“Din, kamu sudah gajian, belum? Spp Dina... uang kontrakan juga ditagih Pak RT, kita nunggak dua bulan...” Suara ibunya terdengar parau.

Udin memejamkan mata. “Sudah, Bu. Aman. Bulan ini gajiku penuh, cukup buat bayar kontrakan sama uang sekolah Dina. Ibu sama Dina tenang saja, biar aku yang ngurus, nanti."

Itu bohong. Gaji terakhir pun kemungkinan hanya tersisa setengah. Uang pesangon dari PHK tidak akan cukup untuk menutup utang. Namun, apa lagi yang bisa ia katakan? Udin tak ingin membuat ibunya khawatir.

“Ya wes,, Le. Ibu percaya kamu. Kamu satu-satunya harapan Ibu sama Dina...”

Sambungan telepon terputus. Udin tiba-tiba merasa mual. "Satu-satunya harapan, kata ibu." gumamnya getir. Harapan itu kosong karena namanya baru saja tercantum dalam daftar karyawan yang dirumahkan.

“PERHATIAN KEPADA SELURUH KARYAWAN!”

Suara Bu Ani, Kepala Bagian Sumber Daya Manusia, terdengar lantang melalui pengeras suara. Seluruh kepala menoleh ke arahnya. Bu Ani berdiri di atas meja dengan wajah kaku. Di sampingnya, dua orang satpam memegang lembaran kertas.

“Sebagaimana yang telah kalian lihat, pihak manajemen terpaksa melakukan perumahan karyawan tahap pertama sebanyak lima puluh orang. Hal ini merupakan dampak dari kondisi ekonomi global yang tidak stabil, penurunan daya beli masyarakat, serta efisiensi perusahaan. Bagi nama yang saya sebutkan, silakan menuju ke ruang SDM sekarang untuk pengurusan administrasi. Bagi yang namanya tidak disebutkan, selamat, Anda masih bekerja. Untuk sementara waktu.”

Suasana seketika berubah ricuh. Ada yang langsung bersujud syukur, ada pula yang seketika marah. Mamat yang berada di nomor urut sebelas melempar helm proyeknya ke lantai. “Kurang ajar! Anak saya mau makan apa, Bu?!”

Bu Ani mulai membacakan nama. “Nomor satu, Junaedi... Nomor dua, Sutinah...”

Setiap nama yang disebut terasa seperti godam yang menghantam. Sedangkan Udin hanya bisa diam menunggu waktu yang terasa berjalan sangat lambat.

“...Nomor sebelas, Mamat... Nomor dua belas...”

Bu Ani menghentikan ucapannya sejenak. Matanya bertatapan dengan mata Udin. Tampak ada rasa iba di sana, tetapi segera ia sembunyikan.

“Udin Jasuke.”

Sah. Dengan ini, Udin Jasuke, dua puluh empat tahun, anak mantan kepala pabrik yang terjerat kasus korupsi, resmi menjadi pengangguran.

Udin tidak menunggu perintah kedua kali. Ia berjalan menuju mejanya di bagian gudang. Meja kayu yang catnya sudah mengelupas. Di dalam lacinya hanya terdapat botol minum, pengisi daya telepon genggam, dan sebuah bingkai foto kecil yang ia sembunyikan di bagian paling belakang. Foto ayahnya. Pak Budi mengenakan seragam kepala pabrik, tersenyum lebar, sambil merangkul Udin kecil yang berusia lima tahun.

Udin mengambil foto tersebut. Ia hendak memasukkannya ke dalam tas. Namun, ketika dibalik, terdapat tulisan tangan ayahnya menggunakan spidol yang tintanya sudah pudar.

—Untuk Jagoan Bapak, Udin. Maafkan Bapak, Din. Suatu saat kamu akan tahu bahwa Bapak tidak bersalah.—

Jantung Udin seakan berhenti berdetak. Ia tidak pernah melihat tulisan itu sebelumnya. Atau mungkin ia yang tidak pernah menyadarinya?

“Bapak tidak bersalah?” Udin bergumam pelan. "Tidak mungkin. Putusan pengadilan sudah jelas, pemberitaan di surat kabar juga jelas. Seluruh orang juga jelas mengatakannya kalau bapak seorang koruptor!" pupusnya kemudian.

Dengan kasar, ia memasukkan foto itu ke dalam tas ranselnya.

Hujan turun dengan deras ketika Udin melangkah keluar dari gerbang pabrik. Langit gelap meskipun baru pukul empat sore, seolah turut berduka atas nasibnya.

Di seberang jalan, tepat di depan gedung baru pabrik yang mangkrak karena dananya dikorupsi oleh kontraktor, berdiri seorang nenek tua seorang diri. Ia kebasahan. Pakaiannya bagus, tetapi sudah kotor terkena cipratan air. Nenek itu tampak kebingungan, menoleh ke kanan dan ke kiri, tangannya gemetar memegang sebuah tongkat berukir. Dari penampilannya, jelas dia bukan nenek biasa.

Udin berniat untuk tidak peduli. Hidupnya saja sudah rumit. Tapi, nenek itu tiba-tiba berbicara. Suaranya samar tertutup derasnya hujan, tetapi terdengar sangat jelas di telinga Udin.

“Budi Hartono... Kamu di mana, Nak? Ini sudah jam lembur. Jangan di dekat mesin nomor tiga, berbahaya... Budi...”

Langkah Udin terhenti di tengah jalan. Sebuah sepeda motor hampir menyerempetnya, tapi Udin terpaku pada hal lain.

"Budi... Hartono?" batinnya mengulang.

Nama itu. Nama yang selama tujuh belas tahun hanya tertera di batu nisan dan menjadi bahan pergunjingan para tetangga. Nama yang membuat Udin dan Dina tidak memiliki teman bermain pada masa kecil.

Nenek itu menoleh ke arah Udin. Tatapan matanya kosong, tetapi bibirnya tersenyum.

“Kamu Budi, ya? Akhirnya pulang kerja, Nak. Ibu menunggu dari tadi...”

Udin menggigil. Bukan karena guyuran hujan, melainkan karena ia merasa baru saja dipanggil pulang oleh masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

"Siapa dia?" lirihnya gemetar.

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
menangkap
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dah puyeng tuh, bukti udah jelas 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pembohong 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yah tamat dong filmnya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
anggota tim
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kemudian membuka
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
agenda hari ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sebagai senior
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pelaku kejahatan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jawab kompak
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kalian berdua
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semangaaaaaaat 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Nah kan, untunglah pak Budi punya catatan nya 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kemudian
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
meremas kemudi itu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih pk ngancam segala 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yg bener 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mungkin ada ruangan khusus yg tersembunyi 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berarti kemarin pura" kan 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!