Tidak bertanggung jawab kalau baper, nangis, berkata kasar terus senyum-senyum sendiri.
Jika perlu cek tensi sebelum membaca.
Happy reading ❤️
Tujuan mulia dan tulus yang Khanaya berikan di salah artikan oleh sahabatnya.
Semua sudah terjadi, bukan sekali! Tapi tak terhitung kebaikannya, menjaga anak serta mengurus suami sang sahabat sudah dilakukan Khanaya bertahun-tahun. Tulus tapi diragukan.
Pria yang merasa terabaikan mulai melihat pada Khanaya.
Jatuh hati pada sahabat Istrinya.
Lantas siapa yang layak di salahkan?
Hati Huston?
Ataukah Qilla yang secara tidak langsung mendorong Khanaya masuk dan membuat suami serta anaknya nyaman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang.
Saat itu, Qilla lupa. Kalau ego seorang lelaki, adalah harga diri yang tidak bisa di tawar.
Dia lupa masalah rumah tangganya berawal dari keegoisannya. Merasa paling benar dan juga menyakini cinta suaminya tak akan pernah berubah.
Lupa ada maha membolak-balikkan hati manusia.
Seharusnya dia membersamai mereka bukan menghabiskan waktu untuk bekerja. Sama-sama membenahi, bukan malah menyalahkan satu pihak.
Kodrat seorang istri, menerima kekurangan suami. Bukan mengeluh. Jika suami melakukan kesalahan, tugas istri mengingatkan. Bukan menghakimi.
Dan, Qilla telah kehilangan kesempatan itu
Huston berbah.
Dan kini mereka bukan lagi sepasang suami istri.
Senyum Qilla mengembang. Bersama titik bening. Pikirannya berkelana, mengingat selama ini lupa akan rasa syukur.
Dalam diam, Qilla terisak. Bahunya terguncang, dadanya terasa sakit.
Dia belum bisa melupakan Huston. Mantan terbaik yang pernah ia sia-siakan.
Ketika merenung dia menyalahkan diri sendiri, tapi ketika bertemu dengan sang mantan sahabat. Dia berkhianat pada dirinya sendiri.
Menyalahkan wanita tulus itu. Melimpahkan kesalahannya pada sang sahabat. Harusnya dia tahu sudah banyak yang di korbankan Khanaya untuk rumah tangganya dulu.
*******
"Kakak baik-baik saja, kan?" pertanyaan Tirani ketika mengunjungi Khanaya.
Khanaya mengangguk dengan senyum simpul. Cukup di hadapan Tuhan dia mengadu keluh kesah.
"Huston sudah memberi kabar?"
"Ya, Ma." mengingat satu minggu yang lalu lelaki yang berstatus sebagai seorang suami itu mengirimkan pesan kepadanya memberi tahu jika dia sudah lending.
Hanya itu dan hanya sebatas itu. Tidak lebih.
Senyum Tirani merekah.
"Papa ada kirim pesan buat kamu?"
Iya, orang tuanya melarang Khanaya KB.
"Kasian Huston kak, kakak tau Huston tidak benar-benar memiliki seorang anak."
Apa mamanya lupa? Bahwa Khanaya sendiri masih gadis? Maksudnya sebelum menikah dengan duda Huston.
Lagian Khanaya sadar usianya sudah pantas untuk memiliki anak, dia tidak akan menundanya. Tapi hasilnya kembali lagi pada yang Di atas.
Sudah satu mingguan Huston pergi, apa kabar hati Khanaya?
Jawabannya, baik. Masih baik hingga kini. Meski ada setitik sepi karena kini tidak ada lagi yang harus disiapkan sarapan dan perlengkapan kerja. Sejauh itu masih aman dan sejahtera.
*******
Khanaya masih di restoran saat melihat kedatangan Dewi.
Hubungan Khanaya dengan Dewi jauh lebih baik ketimbang pada Qilla. Sejak menikah dengan Huston Khanaya kerap mendapat kunjungan dari ibu suaminya itu.
"Nanti sore katanya Huston datang. Kamu buat apa buat nyambut suamimu, Kay?"
Huston datang?
"Kay?"
"Ouh, itu..."
"Jangan-jangan kamu tidak tidak tahu jika suamimu akan pulang malam ini?"
Tepat sekali.
Helaan napas berat keluar dari bibir wanita paruh baya itu.
"Setidaknya meskipun tidak mencintainya kamu harus memperhatikan suamimu."
Khanaya menatap ibu suaminya.
"Iya, Ibu. Terimakasih sudah mengingatkan."
Satu yang disukai oleh Dewi dari Khanaya. Dia terlihat tegas tapi sangat sabar menghadapi cerewet sikapnya. Jika di rasa perlu. Dijawab, jika tidak. Cukup diam. Tidak ada kalimat sepatah pun dari Khanaya yang menyinggung hatinya.
"Ibu sudah makan siang?"
"Belum."
"Naik ke atas mau? Ku buatkan makanan sehat untuk Ibu."
Alih-alih memanggil mommy kayak Huston. Khanaya memanggilnya Ibu.
Sebenarnya Dewi sedang merasa senang bisa mendapatkan perhatian dari Khanaya. Tidak pernah mengatakan keperduliannya, tapi wanita itu suka mengungkapkan hal itu dengan tindakan.
"Mari."
Nah, kan!
Tangannya di gandeng oleh sang menantu, di tuntun lembut menaiki anak tangga.
Semua orang tua mengharapkan sebuah perhatian dari anak-anaknya. Begitu juga dengan Dewi.
*******
Tepat jam 8 malam Huston datang.
Capek dan ingin langsung istirahat. Itu yang diucapkan Huston pada Dewi saat menawarinya makan malam.
Dewi di jemput supir jam setengah 9 dan saat ibu Huston sudah pulang, Khanaya menyusul suaminya.
"Aku lapar." kata Huston.
Cukup tenang.
Seperti sikapnya selama ini.
Khanaya berdiri meletakkan koper di samping lemari.
"Rambutmu kamu warnai lagi?"
Khanaya menggeleng. Dari jutaan tanya kenapa Huston pilih menanyakan warna rambutnya? Bahkan si pemilik rambut tidak ditanya kabarnya.
Ada desiran kasar tak kasat mereguk dalam sanubari.
"Apa efek rindu yang menggebu sehingga segala sesuatu yang ada padamu terasa baru ku lihat."
Bicara apa sih suami Khanaya ini?
"Kalau kamu tidak nyaman, aku akan pergi lagi. Pergi untuk membuatmu rindu."
Khanaya mengerjap. Sungguh ini aneh.
klo khanaya menuruti kata orang tua dan pergi sejauh manapun...bila mereka berjodoh,pasti bersatu juga..
serahkan semua pada yg punya hidup...
saranku...mantqpkan hati..tinggalkan sahabat ga ada akhlakmu itu..biarkan dia selesaikan mslhnya sendiri...wanita egois sprti qilla tdk layak menjadi sahabatmu