NovelToon NovelToon
Istri Tertukar Tuan Anres

Istri Tertukar Tuan Anres

Status: tamat
Genre:Pengganti / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:180.3k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.


Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

"Abel, sini sama oma." Damita menyorongkan kedua tangan siap memberi pelukan pada Arabella jika anak itu mau mengikuti keinginannya.

Arabela hanya menatap saja, lalu perlahan mendongak pada Elena, meski tak ada kata, tapi tatap mata anak itu seakan bertanya, apa boleh ia mendekati Damita.

"Gak papa, Sayang, kalau mau sama oma," kata Elena yang memang sedang memangku putri cantik Anres itu.

Arabela menggeleng. "Sama mama," ujarnya lirih, bahkan ia segera menyandarkan kepalanya di dada Elena, seakan ingin memberitahukan kalau ia lebih nyaman dengan sang mama saja.

"Ayo, Abel. Sama oma. Kita jalan-jalan ya, beli mainan apa pun yang Abel mau." Damita berusaha membujuk dengan mendekati sang cucu. Tak lupa tangannya mengusap-usap lembut rambut sutra Arabela itu.

Tak ada kata apa pun dari Arabela, kecuali hanya berupa gelengan saja.

"Abel ayo." Damita bahkan sedikit memaksa hendak menggendong Arabela padahal sudah jelas kalau anak itu tidak mau.

"Gak mau." Arabella sedikit merengek.

"Ayo sama, Oma." Sekali lagi Damita menarik tangan Arabela hingga membuat anak itu menangis.

"Nyonya, Abel tidak mau. Tolong jangan memaksa, biar dia tidak menangis," kata Elena pelan pada Damita, tak lupa dengan disertai senyuman.

"Abel itu cucuku, dia lebih pantas bersama denganku, dari pada kamu," lirih Damita, ia sengaja berkata pelan agar Arabela tidak mendengar. Namun, demikian tatapannya mengarah tajam pada wajah Elena.

"Saya tahu, nyonya neneknya Abel. Nyonya lebih pantas bersama dengannya. Tapi, masalahnya sekarang, Abel tidak mau sama nyonya, dia lebih memilih bersama saya, apa di sini saya yang salah," kata Elena seraya mengusap-usap kepala Arabella untuk menenangkan.

"Sudah, Sayang jangan nangis. Abel akan tetap sama mama, dan akan terus sama mama, bukan dengan orang lain," kata Elena. Tak lupa pada kalimat terakhir ia menyunggingkan senyum kemenangan terhadap Damita.

"Orang lain, kau bilang? Dengar ya ..." Damita sudah siap untuk menyemburkan kemarahannya. Entah kalimat berikutnya itu akan berupa makian atau ancaman, atau hinaan untuk Elena, dan sebelum semua itu terjadi, Elena terlebih dahulu memangkas ucapan ibunya Anres tersebut.

"Nyonya ingin mengajak saya bertengkar di depan Abel, rupanya. Apa hal ini baik untuk kejiwaan seorang anak. Saya rasa kalau, Nyonya benar-benar menganggap Abel sebagai cucu, Nyonya tidak akan memaksakan kehendak."

Damita langsung bungkam. Ucapan Elena berhasil membuatnya langsung terdiam. Namun jelas tatap mata Damita terlihat berkilat, menunjukkan kalau ia sedang menyimpan kemarahan.

Elena bukan sengaja memancing kemarahan wanita tersebut, hanya saja ia merasa ada waktunya untuk diam, dan ada waktunya pula untuk tidak boleh diam. Karena Damita sudah jelas-jelas mengibarkan bendera perang, bahkan sejak dari awal perjumpaan. Tak hanya tadi di kamar Anres, wanita itu juga menekan Elena di pantry rumah besar keluarga Tanujaya, di depan para Art yang ada di sana. Peristiwa itu terjadi tak kurang dari satu jam sebelumnya.

kilas Balik Peristiwa Satu Jam Sebelumnya.

-----------‐-------------------------------------

"Bibi Sora, catatan menu sarapan, makan siang dan makan malam untuk Anres, apa masih kau simpan?"

tanya Damita langsung. Bibi Sora adalah kepala bagian dapur keluarga Tanujaya. Ia yang memegang kendali masak memasak di sana, dibantu oleh satu orang Art yang lain.

"Masih, Nyonya."

"Buatkan Anres menu sesuai catatan itu tiap harinya, dalam setiap jam makan. Bibi paham?" Damita menatap tajam wanita paruh baya tersebut.

Yang ditatap hanya mengangguk dengan tatapan tak nyaman.

"Tidak boleh ada siapa pun yang membuatkan makanan untuk Anres, sekalipun itu adalah, yang katanya nyonya di rumah ini," kata Damita lagi dengan penuh penekanan, seraya menatap pada Elena yang memang saat itu ada di tempat yang sama. Istri Anres tersebut sedang mencuci piring bekas sarapan suaminya. Kebiasaan Elena jika ia yang menyiapkan makan untuk Anres, maka ia pula yang mencuci piring bekasnya. Walhasil, karena ucapan nyonya Damita, tatap mata semua Art pun segera tertuju pada Elena.

Elena terlihat santai saja meski merasa mendapat serangan halus dari ucapan Damita.

"Kalian semua paham?" Damita menatap satu demi satu para Art yang berbaris di depannya. Mereka yang ditatap itu sama-sama mengangguk tanpa suara.

"Jika ada yang berani merubah peraturan yang saya buat, siapa pun itu, Bibi Sora laporkan padaku," imbuh Damita di akhir perintahnya.

Bibi Sora hanya bisa mengangguk. Damita pun berbalik badan dan segera melenggang pergi. Namun, baru dua langkah ia berbalik lagi.

"Harus Bibi Sora yang mengantarkan makanan itu ke kamar Anres, tidak boleh yang lain." Wanita yang tak melepaskan tas brandednya dari genggaman itu--seakan ia takut kalau tas mahal tersebut akan dimaling orang-- menambahkan perintahnya.

"Ma'af, Nyonya." Akhirnya bibi Sora pun tampil mengeluarkan suara. "Tidak ada yang diperkenankan oleh tuan Anres untuk masuk ke kamarnya, kecuali tuan Edward dan nyonya Elea."

"Kalau begitu, tunggu sampai tuan Edward datang," putus nyonya Damita. Entah wanita itu sudah menggunakan pikirannya dengan benar setelah menjawab hal tersebut atau tidak. Rupanya karena sangat berambisi untuk menekan Elena, ia sampai tak berpikir panjang. Yang pasti jawaban nyonya Damita itu terdengar sangat lucu di telinga Elena, membuat wanita tersebut diam-diam tersenyum.

"Tapi tuan Edward tidak setiap hari datang, Nyonya. Kalau pun ia datang, jam kedatangannya juga tidak menentu," terang bibi Sora.

"Gak papa, Bi." Elena yang sudah selesai dengan cuciannya segera menengahi. "Peraturan yang dibuat oleh nyonya Damita adalah demi kebaikan tuan Anres. Sesuaikan juga jam makan tuan Anres dengan jadwal kedatangan tuan Edward ke rumah ini."

"Itu artinya jam makan tuan Anres tidak akan teratur, Nyonya Elea, bahkan tuan Edward juga gak pasti datang tiap hari," sahut bibi Sora.

"Gak papa juga. Menurut nyonya Damita itu yang terbaik untuk kesehatan putranya," kata Elena. Dan setelah menitipkan senyuman anggun, wanita cantik bersurai sutra itu segera berlalu meninggalkan pantry. Ia tak peduli apa reaksi nyonya Damita atas ucapannya.

Dan kini, setelah berhasil membatasi lingkup pergerakan Elena di seputar jadwal makan dan masuk ke kamar Anres, Damita juga ingin menjauhkan Arabella dari wanita itu. Namun, karena Damita begitu ber-na-f-su dengan keinginannya, ia lupa untuk merencanakan semuanya terlebih dahulu dengan matang. Hingga pergerakannya cenderung serampangan, dan hal tersebut membuat Elena bisa dengan leluasa memberikan jawaban.

"Kenapa Abel menangis?" Tiba-tiba terdengar suara Anres. Lelaki itu pasti akan keluar dari sarang bila sudah mendengar tangisan putrinya.

"Gak papa kok, Anres." Damita cepat mendahului menjawab sebelum Elena. Tapi, sepertinya Elena juga tak berniat untuk menjawab, wanita itu menunduk menciumi kepala Arabella.

"Aku hanya ingin menggendongnya saja. Dan ternyata dia tidak mau," lanjut Damita.

"Wajar saja. Selama ini kan mami memang tidak dekat dengan Abel," sahut Anres. Jawaban yang terlalu jujur.

"Tapi mami sayang sama Abel, Anres. Dia cucu mami juga." Damita membela diri.

"Abel mau sama mama," isak Arabella mengadu.

"Biarkan Abel sama mamanya, Mam. Kalau Mami memaksa itu hanya akan membuatnya kesal," kata Anres yang membuat Damita tak punya kata lagi untuk dijadikan jawaban.

🥀🥀🥀🥀

"Siapa yang membawamu masuk ke rumah ini?" Langkah Elena yang hendak naik ke lantai atas terhenti di tangga pertama, karena mendapat pertanyaan demikian dari nyonya Damita.

Elena hanya menghela napas. Saat ini ia merasa lelah dan ingin beristirahat. Setelah memastikan Arabella lelap dalam tidurnya, wanita itu segera menuju ke kamarnya di lantai atas untuk terbang berlayar ke pulau mimpi. Tentu saja ia merasa malas untuk meladeni Damita yang pasti kembali ingin mengajaknya berdebat.

"Maaf, Nyonya. Ini sudah lewat dari waktunya jam malam, saya akan segera tidur."

Di rumah besar Tanujaya itu memang memberlakukan jam malam. Di atas pukul 21 tidak boleh lagi ada yang berkeliaran di luar kamar, termasuk para Art. Jika para majikan membutuhkan sesuatu di atas jam tersebut maka mereka harus melakukannya sendiri. Tapi, peraturan ini mulai berlaku, sejak Anres kehilangan penglihatannya.

"Aku tanya siapa yang membawamu masuk ke rumah ini, dan menyamar menjadi Elea," tegas Damita lagi.

"Tidak ada yang membawaku. Aku datang sendiri ke rumah ini, karena ini rumah suami dan anakku," sahut Elena dibuat setegas mungkin.

Damita langsung tersenyum mencebik. "Rumah suami dan anak, kau bilang. Jangan mimpi! Aku tahu kau bukan Elea."

🥀🥀🥀🥀

Hai Kakak2 tersayang..Sudah bab 21 ya ..

Boleh kasih tantangan gak.

kalau di bab ini mendapat 10 komentar, sore nanti aku akan up bab baru. Gimana?

1
Deuis Lina
kak naj ,,,
Deuis Lina: ya aku baca ulang istri tertukar tuan anres,,tapi aku penasaran sama lanjutan Kalam cinta untuk nafsa hehehe
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
waduh kejedot tembok pasti sakit banget yaaakkkk
Micke Rouli Tua Sitompul
alea datang
YuWie
benar, semakin banyak manusia yg mengedepankan akal tapi mengabaikan hukum Tuhan. Aku sampai bayangkan, besokkk kedepannya 20 atàu 30tahun kedepan ketika anak2ku menjadi ibu akan semakin seperti apaaaaa kehidupan ini. Yg salah jadi terlihat benar dan semakin merajalela
YuWie
ahhh..untunglah klo edward tidak terlibat.
YuWie
lahhh edward tau semua...
YuWie
hedewwww..kakehan misteri...genre detektif kali ya..gak ada romantis nya blas
YuWie
polisi wae bingung, apalagi aku...suspect baru
YuWie
motif nya apa Damita..harta lagi, kurang banyaknya bagiannya
YuWie
owww, begituuu alurnya
Zahwa Putri Bunda
tetep.semangat terus untuk berkarya kak Najwa..aku suka sama cerita novel² kak Najwa...,💪🏻💪🏻👍🏻👍🏻💞
Isti Qomah
ini Edward Wiliam bkn si kak,,
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
Mommy elle
makasih Najwa akhirnya cerita ini diselesaikan juga. memang tulisannya Najwa selalu memuat konflik yg berat tp di situ juga sebenarnya menariknya. karena seberat apapun konfliknya, penyelesaiannya selalu sangat memikat. semangat terus berkarya 💪💪💪
Liza Arjanto: baguuuusss ceritanya. sarat kesan moral. Trims author
total 2 replies
Deuis Lina
tapi nunggu lanjutannya anaknya mas damares atau babang erald kok d lanjutin kak nazwa
Najwa Aini: Iya, Kak. Mau dilanjutin juga
total 1 replies
Deuis Lina
keren pokonya endingnya,,
Najwa Aini: Matur Nuwwun kak
total 1 replies
andriya
ku tunggu karya selanjutnya kak Naj...
semangat ya...
Najwa Aini: Makasih ya Kak.
Karya baru udah ada..Hadir ya..
aku tunggu lhoo
total 1 replies
Deeha
bagus mrnarik ceritanya
kurnia rahayu
Luar biasa
Zahwa Putri Bunda
itulah tokoh² kak Najwa yg selalu mengedepankan sifat² yg positif pada tokoh utamanya....
HANAMI DEWATI
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!