Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: RIAN MENAWARKAN BANTUAN TANPA TAHU SIAPAKU
Beberapa hari setelah pesta itu, proyek pembangunan mulai memasuki tahap krusial. Cuaca yang tak menentu sempat menghambat pengiriman bahan bangunan utama, membuat jadwal kerja terancam molor. Rian sibuk berkoordinasi sana-sini, berusaha sekuat tenaga agar tidak ada kesalahan yang bisa membuat Nadia kecewa—meski ia tahu, kecewa yang dirasakan wanita itu mungkin sudah terlanjur dalam.
Siang itu, saat Rian sedang memeriksa tumpukan berkas di kantor sementara lokasi proyek, telepon berdering. Kabar buruk datang: pemasok semen yang menjadi andalan tiba-tiba membatalkan pengiriman sepihak karena ada pihak lain yang menawar harga lebih tinggi. Tanpa pasokan itu, pekerjaan akan terhenti total, dan denda keterlambatan harus ditanggung sepenuhnya oleh pihak kontraktor—yakni perusahaannya.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis Rian. Ia mencoba menghubungi pemasok lain, namun stok di gudang-gudang terdekat semuanya sudah dipesan penuh untuk proyek lain. Pikirannya kalut. Jika ia melapor ke Nadia dengan keadaan begini, ia takut wanita itu akan makin yakin bahwa ia memang tidak mampu—bahwa keputusan bekerja sama dengannya adalah sebuah kesalahan.
Tanpa sadar, langkah kakinya membawanya kembali ke gedung pusat Grup Arka. Ia berdiri ragu di depan pintu ruangan kerja Nadia, tak berani mengetuk. Namun pintu itu terbuka perlahan, dan Pak Haris muncul dengan senyum sopan.
"Tuan Rian? Silakan masuk, Nona Nadia sedang meninjau laporan stok bahan bangunan."
Rian masuk dengan perasaan makin gelisah. Nadia duduk di balik meja, menatap layar komputer dengan tenang. Wajahnya tak menunjukkan sedikit pun tanda khawatir.
"Ada kendala?" tanyanya tanpa menoleh dulu.
"Saya... saya minta maaf, Ibu," ucap Rian tertunduk, "Pemasok semen kita membatalkan janji. Saya sudah mencoba menghubungi tempat lain, tapi semuanya penuh. Saya takut proyek ini akan terlambat."
Nadia baru mengangkat wajahnya, menatap Rian yang tampak lelah dan putus asa. "Itu sudah menjadi tanggung jawab Anda, Tuan Rian. Tapi Grup Arka tidak akan membiarkan mitranya jatuh hanya karena ulah pihak yang tidak bertanggung jawab."
Ia mengambil telepon di mejanya, menekan beberapa tombol, lalu berbicara singkat dengan nada tegas namun tenang. "Kirimkan stok semen cadangan dari gudang pusat ke lokasi proyek kawasan timur. Segera. Dan hubungi pengawas proyek, beri tahu mereka pengiriman akan tiba sore ini."
Setelah menutup telepon, ia menatap Rian yang masih terpaku tak percaya. "Stok cadangan selalu ada untuk mengantisipasi hal tak terduga. Itu yang diajarkan ayahku: jangan pernah berjalan tanpa perlindungan yang cukup."
Rian menatapnya takjub sekaligus malu. "Saya... saya tidak tahu Ibu sudah menyiapkan semuanya. Saya kira saya akan menghancurkan kesempatan ini."
"Kesempatan tidak hancur hanya karena satu kendala," jawab Nadia pelan. "Kesempatan hancur jika Anda berhenti berusaha sebelum mencarinya jalan keluar."
Melihat Nadia begitu tenang dan sigap, rasa ingin membantu pun muncul di hati Rian. Ia ingin melakukan sesuatu—apa saja—untuk membalas kebaikan ini, sekaligus membuktikan bahwa ia tidak selemah yang dulu ia tunjukkan.
"Kalau begitu... izinkan saya membantu mengurus pengiriman itu," ucapnya tulus. "Atau kalau Ibu butuh bantuan lain—apa saja—saya siap membantu tanpa pamrih. Saya tahu saya banyak kekurangan, tapi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa diandalkan."
Nadia terdiam sejenak, menatap pria yang kini menawarkan bantuan seolah ia adalah orang asing yang ingin berbuat baik. Dulu, saat ia butuh dukungan dan pengertian, pria ini justru berbalik pergi. Kini saat ia berdiri tegak dengan kekuasaannya sendiri, Rian datang menawarkan bantuan yang sebenarnya tidak ia butuhkan—namun yang menyakitkan adalah, ia melakukannya tanpa sadar bahwa dulu dialah yang seharusnya menjadi pendukung setianya.
"Saya hargai niat baik Anda, Tuan Rian," ucap Nadia pelan, suaranya sedikit melembut namun tetap menjaga jarak. "Namun urusan logistik ini sudah ditangani tim khusus. Simpan tenaga dan usaha Anda untuk menyelesaikan proyek ini dengan baik. Itu sudah menjadi bantuan terbesar yang bisa Anda berikan kepada saya."
Rian mengangguk pasrah, namun di hatinya ia berjanji: ia akan melakukan apa saja agar Nadia melihat ketulusannya—meski ia belum sadar sepenuhnya, bahwa wanita yang kini ingin ia bantu, adalah wanita yang dulu pernah ia hancurkan hatinya sendiri.
(Lanjut ke Bab 14?)